80 Tahun Pramoedya
Pengibar Panji Keadilan

             
Sabtu, 05 Februari 2005 NASIONAL - Pramoedya Ananta Toer - SM/dok  
          
      "MAKSUD saya, tentu saja, tulisan saya itu memberi kekuatan kepada pembaca saya untuk tetap berpihak kepada yang benar, kepada yang adil, kepada yang indah."

      Itulah ucapan Pramoedya Ananta Toer (dalam A Teeuw, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer, 1997: 379). Kini, kebenaran ucapan Pram itu lagi-lagi memperoleh "pengukuhan" dengan penerbitan buku Apsanti Djokosujatno, Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer (2004), dan Eka Budianta, Mendengar Pramoedya (2004).

      Pram lahir di Blora, 6 Februari 1925, sebagai anak sulung M Toer. Sang ayah adalah tokoh politik dan aktivis sosial terkemuka, Kepala Sekolah Institut Boedi Oetomo, pengganti Dokter Soetomo yang pindah ke Surabaya.

      Pram telah menghasilkan puluhan karya dari puisi, cerpen, novel, risalah sejarah, kronik, esai, kesaksian, sampai karya terjemahan.

      Karya dia antara lain Perburuan (1950), Tikus dan Manusia (John Steinbeck, 1950), Di Tepi Kali Bekasi (1951), Bukan Pasar Malam (1951), Tjerita dari Blora (1952), Koroepsi (1954), dan Ibunda (Maxim Gorki, 1958). Karya-karya Pram senantiasa menguarkan keberpihakan pada yang benar, adil, dan indah.

      Benar, adil, dan indah? Adakah sesuatu yang salah pada ketiga kata itu? Di ranah politik, dalam perspektif berbeda, yang benar, yang adil, dan yang indah ternyata dianggap subversif.

      Tak aneh bila ketidakadilan, ketidakbenaran, dan ketidakindahan jusru menelikung kehidupan Pram.

      Pada masa kolonial, dia dibui karena keberpihakan pada kemerdekaan bangsa ini. 
Pada tahun 1961 dia dipenjara, setelah menulis buku Hoakiau di Indonesia (1960): wujud keberpihakan pada kebenaran sejarah dan keadilan bagi kelompok minoritas.

      Rezim Soeharto pun membekap kebebasan Pram berbelas tahun (Penjara Salemba, 13 Oktober 1965-Juli 1969; Nusakambangan, Juli 1969-16 Agustus 1969; Pulau Buru, Agustus 1969-12 November 1979; Magelang/Banyumanik, November-Desember 1979) karena aktivitasnya sebagai orang kedua di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang dianggap onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

      Namun justru di Buru, di pulau pengasingan itu, Pram menghasilkan karya pemuncak, antara lain tetralogi Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988), serta Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1 (1995) & 2 (1997). Begitu terbit, buku-buku itu segera dilarang beredar oleh pemerintahan Orde Baru.

      Meski terus teraniaya, Pram tak lelah berjuang melawan ketidakadilan, berkarya melalui bidang penulisan (sastra). "Kengototan" suami Maemunah Thamrin, kemenakan pahlawan nasional Mohammad Husni Thamrin, itu membuahkan banyak penghargaan.

      Berkali-kali dia diunggulkan untuk menerima Nobel kesusastraan. Berkali-kali pula bapak sembilan anak itu menerima anugerah, sebutlah antara lain Freedom to Write Award dari PEN American Center (1988), Anugerah The Fund for Free _expression_, AS (1989), Wertheim Award, Belanda (1995), Ramon Magsaysay Award, Filipina (1995), Partai Rakyat Demokratik Award (1996), Unesco Madanjeet Singh Prize (1996), doctor of humane letters dari University of Michigan, AS (1999), Chanceller's Distinguished Honor Award dari University of California, Berkeley, AS (1999), Chevalier de l'Ordre des Arts et des Letters dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prancis (1999), New York Foundation for the Arts Award, AS (2000), dan Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang (2000).

      Minggu, 6 Februari 2005, besok 80 tahun sudah usia Pram. Dan dia masih tak lelah-lelah juga mengibarkan panji keadilan, kebenaran, dan keindahan lewat karya dan perbuatan. Selamat, Pram, selamat ulang tahun! (Gunawan Budi Susanto-81) 
    


ALL-NEW Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [email protected] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke