Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera buat semua saudara-saudari yang hadir dalam acara launching pengurus baru Partai Rakyat Demokratik (PRD)

 

Lama saya tau PRD, baik dari Koran, radio, Internet, TV dsb. Sekarangpun ketika saya sedang berada dalam besarnya hutan Pidie, sayapun masih mendengar nama PRD sekalipun sayup-sayup.Pertama-tama saya atas nama Juru bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pidie dan seluruh bangsa Aceh mengucapkan selamat dan sukses atas pelantikan pengurus baru Partai Rakyat Demokratik. Semoga dengan kepengurusan baru akan melahirkan semangat baru dan spirit baru dalam mengemban perjuangan untuk menegakkan demokrasi di negara anda.

 

Kita dibesarkan oleh penghianatan-penghianatan. Mulai penghianatan yang dilakukan Soekarnoe, sampai penghianatan yang dilakukan oleh SBY-Kalla hari ini. Tapi itu tidak membuat kami berhenti memperjuangkan cita-cita kemerdekaan kami, begitu juga dengan PRD penghianatan ini tidak membuat PRD berhenti di tengah jalan, dan masih bisa bersuara lantang sampai hari ini. Kita adalah bagian yang sama, kalau PRD ingin membebaskan ketertindasan rakyat miskin Indonesia, maka GAM ingin membebaskan rakyat miskin Aceh, dan satu-satunya jalan menurut kami adalah memisahkan diri dari Indonesia. PRD juga telah banyak membantu perjuangan Aceh, mulai dari dukungan PRD terhadap Referendum di Aceh, sampai kampanye pencabutan darurat militer dan darurat sipil di Aceh.

 

Kami bangsa Aceh sangat berkeyakinan bahwa demokrasi di Aceh akan menjadi indikator bagi tegaknya demokrasi di Indonesia. Maka kami bangsa Aceh berkeyakinan bahwa perjuangan bangsa Aceh pasti sama dengan perjuangan PRD, sehingga keadaan ini kami ibaratkan bagaikan dua perahu di samudra luas yang menghadapi satu pembajak laut yang sama, yaitu kediktatoran pemerintahan Kolonialis-Imperialis Susilo Bambang Yodhoyono dan Yusuf Kalla.

 

Keadaan Aceh sekarang benar-benar sangat memprihatinkan apalagi pasca bencana tsunami. Kemiskinan dan kekerasan masih terus berlanjut, korban-korban masih terus berjatuhan, dan tsunami bukan menghentikan TNI/Polri untuk melakukan kekerasan di Aceh. Bencana tsunami yang telah mengakibatkan hancurnya infrastruktur dan supra struktur bangsa Aceh, bahkan telah melahirkan krisis sosial yang begitu besar. Hal inilah yang membuat pimpinan kami satu hari setelah bencana tsunami menyerukan gencatan senjata sepihak dan mengajak pemerintah Indonesia untuk melakukan hal yang sama dan kembali melakukan perundingan.

 

Tujuan dari gencatan senjata sepihak yang kami lakukan adalah untuk melancarkan bantuan kemanusiaan bagi bangsa Aceh yang diberikan oleh seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Untuk itu kami dari pihak GAM mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan tersebut, dan dari siapapun. Disini juga perlu kami tegaskan bahwa kami tidak memilih-milih dalam menerima bantuan, baik itu dari negara muslim maupun dari negara non muslim, karena bantuan kemanusiaan tidak memisahkan sekat-sekat agama dan paham politik. Tetapi perlu juga kami tegaskan bahwa bagi mereka yang datang ke Aceh dengan maksud untuk menciptakan konflik SARA sebaiknya tidak berlama-lama di Aceh, karena bangsa Aceh tidak akan mentoleril isu-isu SARA.

 

Tepat pada tanggal 28 Januari 2005, pimpinan kami yang berada di pengasingan mengadakan perundingan pertama dengan pihak pemerintah Indonesia setelah gagalnya petemuan Tokyo atau gagalnya CoHA. Pertemuan tersebut difasilitasi oleh CMI, walaupun masih bersifat informal, tetapi kami tetap menekankan untuk sementara tidak dulu membicarakan masalah politik, tetapi lebih fokus untuk persoalan gencatan senjata yang di monitoring oleh pihak asing dan persoalan rekonstruksi Aceh pasca bencana.

 

Tetapi pemerintah Indonesia terus mengkehendaki untuk memasuki dalam wilayah politis yang menurut kami tidak bisa diselesaikan dalam satu dua kali pertemuan. Karena bagi kami perundingan tidak bisa dilihat sebagai proses instan untuk menghasilkan kepuasan segera bagi pihak-pihak yang berunding, tetapi perundingan adalah proses berkelanjutan dan simultan dalam mencari perdamaian. Apalagi persoalan bangsa Aceh bukan persoalan yang muncul kemarin sore tetapi persoalan bangsa Aceh merupakan persoalan yang sudah lama yaitu sejak tahun 1976.

 

Dalam perundingan kedua yang masih bersifat informal, kami telah menyisihkan tuntutan merdeka agar kata perdamaian tersepakati, namun pemerintah masih terus memaksa kami untuk menerima otonomi khusus. Tawaran tersebut kami respon dengan tawaran balik pemerintahan sendiri (Self Government). Karena pertemuan kedua belum ada kesepakatan yang mengikat atau masih bersifat informal, tetapi sekali lagi kami tegaskan bahwa kami tetap komitmen dengan gencatan senjata sepihak agar bantuan untuk rakyat Aceh bisa tersalurkan, sekalipun upaya provokasi terus dilakukan, baik pasukan legal TNI/Polri maupun inteligen Indonesia

 

 

Tetapi kami yakin masyarakat internasional sudah mengerti hal itu dan kami kira tidak perlu kami klarifikasi lagi, tetapi disini perlu kami tegaskan bagi kami perdamaian pasca bencana tsunami menjadi sangat penting, sehingga perlu kami tegaskan bahwa kami tetap melakukan gencatan senjata sepihak.

Kepada PRD kami mengharapkan untuk terus tetap bertahan dalam membebaskan ketertindasan rakyat miskin Indonesia. Kita pasti akan kehilangan kawan, tapi itulah perjuangan yang sesungguhnya.

 

Dari lebatnya hutan Pidie, sekali lagi selamat buat PRD, selamat buat Dita Sari dan kawan-kawan.

 

Daerah Meudaelat Wilayah Pidie

 

Suhadi Sulaiman

Juru bicara GAM Wilayah Pidie

 


Do you Yahoo!?
Make Yahoo! your home page

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke