Siapa Reider?
Upaya damai antara
Bersamaan dengan itu, pihak
Tentara Neugara Atjeh (TNA) dipermulaan darurat hanya menghadapi pasukan TNI dari kesatuan-kesatuan biasa yang pengetahuan tempurnya dangkal. Ini nampak kita lihat, setiap pertempuran yang terjadi antara TNI-TNA, banyak anggota TNI yang jadi korban. Sedangkan TNA santai-santai saja. Walau demikian, TNI tetap memburu GAM-TNA di mana saja berada, termasuk di gunung.
Di antara pasukan tersebut, ada yang bertindak sebagai tim pemukul juga sebagai tim kerangka. Namun, kerja sama antara tim-tim tersebut tidak koordinatif, sehingga menyebabkan saling terjadi kontak tembak antara sesamanya. Memang hal ini ditutupi demi gengsi kedisiplinan prajurit. Selama enam bulan, tim pemukul dari TNI diperecayai pada Batalyon 432/ Kostrad dan Batalyon 315/ Siliwangi bertindak sebagai kerangkanya. Kerjasama ini tidak membuahkan hasil sama sekali. Masih banyak lain kesatuan TNI yang bertugas di Aceh, ini hanya obyektif di Pidie saja yang penulis amati.
Evaluasi demi evaluasi dilakukan,
Catatan mencatat, ratusan anggota TNI terluka tembak dalam pertempuran dengan TNA di permulaan darurat, ratusan lainnya juga tewas. Kalangan TNA juga mengalami kehilangan puluhan pasukannya, angka korban detail tidak bisa dipastikan karena tidak terekspost. Yang jelas, korban banyak berjatuhan di kalangan sipil.
Datang Reider, rakyat diblender
Usai sudah episode pertama darurat militer di Aceh pada
Banyak orang takut dengan nama Reider, di mata masyarakat Reider tersebut adalah suatu unit militer yang sangat-sangat ahli di
Penulis melihat bahwa, Reider adalah satu unit force TNI yang memang terlatih dan mempunyai keahlian tinggi, dalam kesatuan Reider telah terwakili oleh berbagai kesatuan TNI yang ada. Tak boleh dinafikan, kelengahannya di lapangan juga tinggi, walau tentara dilatih untuk cepat.
Kehadiran Reider ke Aceh mengagetkan rakyat Aceh dan menuntut TNA untuk gegas melakukan evaluasi gerilyanya dalam menghadapi andalan
Reider, suatu unit tentara yang jalan kakinya bisa diacung jempol, operasinya ke gunung tak pernah mengeluh seperti pasukan lain, dalam satu bulan mereka sanggup bertahan sampai 25 hari di gunung dengan perbekalan logistiknya satu anser per pasukan. Kedatangan Reider membuat kesatuan TNI lain gerah, termasuk tim Satuan Gabungan Intelijen (SGI). Hal ini dipicu oleh, kemampuan tempur mereka dan cara-cara melakukan pengepungan terhadap TNA, strategisnya membuat TNI YON 315/ Siliwangi dan YON 742/ Kostrad terusir dari teritorial tugasnya. Apalagi mottonya, �kejar gempur, pukul dan kubur serta pantang mundur�.
Reider di Pidie tidak mempunyai pos tetap di perkampungan penduduk, mereka hanya ngumpul di induk batalyon yang telah ditentukan, seperti Reider 600 di Cubo, Bandar Baru, Reider 400 di Blang Keudah, Tiro, Reider 200 di Geumpang, dan di beberapa kecamatan lain. Pos induk mereka kebanyakan diambil dari fasilitas umum, seperti komplek pondok pesantren dan gedung sekolah. Jumlah Reider di Pidie sebanyak 7 batalyon (7000 personil), belum termasuk kesatuan TNI dari unit lain.
Peralatan perang mereka memang berbeda dengan pasukan lain, peralatan deteksi yang mereka miliki bisa menjangkau jarak keberadaan TNA dengan posisinya. Alat penunjuk arah, car serta sandi yang digunakannya membuat musuhnya kocar-kacir. Ini sangat sensitif.
Keahlian mencari jejaknya bisa diakui, kecepatan dan kejelian juga mengkombinasikan simpati atasan terhadap mereka, sehingga mereka tetap dipertahankan di Aceh sampai darurat sipil tahap ke dua berakhir pada Mei 2005 mendatang.
Di sisi lain, Reider tidak mempunyai keahlian dalam menentukan exact location TNA, buruan mereka terputus di tengah jalan, hingga keuntungannya tidak ada. Katakanlah, tak seorang pucuk pimpinan militer TNA yang berhasil dilumpuhkan apalagi ditewaskan. Pada hal mereka dilengkapi fasilitas cukup dan modern. Anti gerilya mereka masih teracak, dan masih mudah dijangkau oleh TNA secara jarak jauh.
Dari keahlian dan peralatan tempur yang dimiliki Reider tetap saja tidak mampu membuat TNA patah akar. Kita mengakuinya, tapi Reider tidak berani dalam skala kecil mengepung TNA dan TNA mampu mempertahankan serta memukul mundur Reider di lapangan.
Ekses dari kehadiran Reider ke Aceh banyak masyarakat yang diblender, semua pemuda dan sipil yang ditengarai sebagai anggota dan simpati GAM-TNA tidak sungkan-sungkan mereka eksekusi dalam berbagai cara seperti, menembak mati, menggantungkan korban serta menyetrum, tak ubahnya ala DOM pertama.
Kejahatan pertama Reider di Pidie adalah membakar serta menghancurkan beberapa rumah tokoh GAM seperti rumah Abu Razak (Komandan Operasi TNA se-Aceh) di Kampung Amud, Teupin Raya, Geulumpang Minyeuk, Pidie, termasuk rumah Biro Penerangan GAM, Kepala Bentara Militer (PM) GAM, juga rumah salah seorang anggota Majlis Negara GAM (Tgk. Muslimin).
Berbagai sikap kejahatan Reider nampak dilihat publik, termasuk sikap kapitalismenya. Misalkan, Reider memaksa masyarakat di berbagai kecamatan di Pidie untuk setiap sopir angkutan pasir diwajibkan bayar untuk mereka 20 % per mobil. Masyarakata dijadikan budak mereka, apa lagi saat ini uang lauk-pauk TNI telah ditiadakan. Semua ini merupakan pembenaran TNI saja di lapangan. Ini bukanlah DOM (Dilakukan Oknum Militer) melainkan instruksi langsung institusinya di atas.
Menjelang Pertemuan Helsinky
Suatu pernyataan ngaor dari Reider terdengar saat pertemuan antara Indonesia dengan GAM akan dilangsungkan di Helsinky, Finlandia pada akhir Januari 2005 lalu adalah, �Reider dikirim ke Aceh hanya satu tujuan yaitu, mencari dan membunuh GAM-TNA serta merampas senjatanya, Reider tidak menerima perintah dari otoriter politik di Jakarta, Reider punya komando sendiri di lapangan, persetan dengan perundingan damai, jika pemerintah berunding dengan GAM maka pemerintah telah menyerah ke GAM dan pengkhianat�.
Pernyataan ini diamini oleh KSAD TNI Jendral Rymizard Ryacudu, dalam kesempatan itu juga Ryacudu memberi kesempatan bagi Reider khususnya dan umumnya untuk pasukan TNI lain saat itu untuk berbisnis di Aceh, termasuk memonopoli hasil tanaman masyarakat juga penebangan kayu liar (illegal longing). Hal ini dinyatakan kembali KSAD saat kunjungan tugasnya ke Aceh pada Oktober 2004.
Untuk menunjang kerja Reider saat ini Jakarta menugaskan TNI YON 114/ Kostrad, YON 115/ Kostrad, YON 732 dan 742/ Makasar ke Aceh sebagai pasukan kerangka mereka. Reider tidak sanggup dengan kekuatannya yang ada untuk menggepur TNA di Aceh yang didasari taktik gerilya.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam II D No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
Peoples Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"

