MELURUSKAN SEJARAH SELAYAKNYA DENGAN CARA LURUS
Oleh: Z. AFIF
Rekan-rekan Hong Li, JJ. Kusni, Ibrahim Isa, Umar Said,
(1) Adanya perdebatan atau polemik tentang Sukarno tentu hal yang
baik, kalau ia bersendikan maksud baik dan benar. Keinginan
meluruskan sejarah yang selama Rezim Militer Fasis Suharto
berkuasa telah dijungkir-balikkan, memang usaha yang patut
didukung. Tetapi, untuk mencapai tujuan meluruskan itu, juga sudah
selayaknya dengan cara, metode, langgam yang lurus pula. Artinya
harus ilmiah, tidak berat sebelah, objektif, adil. Tegasnya, dari
hasil
itu orang akan mendapat pelajaran yang berharga dan menjadikannya
khazanah yang membimbing ke arah cara berfikir sehat.
(2) Melihat Sukarno - Bung Karno, harus melihat, pertama sebagai
seorang manusia biasa; kedua, sebagai seorang manusia pejuang
anti- penjajahan, anti - ketidakadilan, pencinta kemerdekaan dan
perdamaian, seorang yang berusaha mempersatukan berbagai etnisk
di kepulauan Nusantara. Jika ini boleh dibulatkan, Sukarno sebagai
pemimpin pergerakan perjuangan rakyat.
(3) Melihat Sukarno sebagai Presiden, Pemimpin Negara, Pangti
Angkatan Bersenjata. Masa ini telah dihasilkannya: Manipol; Dekon;
UUPA; UUPBH.
(4) Melihat Sukarno sebagai pemikir, penggagas untuk cita-cita
yang selalu dikumandangkannya: menciptakan masyarakat yang adil,
makmur, gemahrimah lohjenawi. Dari segi ini telah dihasilkannya
karya-karya yang monumental:
Pertama, Indonesia Menggugat;
Kedua, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme;
Ketiga, Pancasila.
Itulah materi dasar yang harus dicermati, dikaji, dianalisis, ditapis
secara dialektis, sehingga dapat ditemukan segi positif dan
negatifnya,
segi kelebihan dan kekurangannya, segi menguntungkan dan segi
merugikan (baik bagi masyarakat/rakyat maupun bagi diri Sukarno
sendiri), segi hasil dan gagalnya.
Ada satu masalah yang perlu ditelaah, yaitu, mengapa Sukarno
menyerahkan kepada tentara pengurusan ekonomi. Perusahaan-
perusahaan Belanda yang diambil alih diserahkannya kepada TNI-AD
pengurusannya. Pertamina juga dipercayakan kepada TNI-AD.
Pengadaan dan pendistribusian bahan pokok kebutuhan masyarakat
juga diserahkannya kepada TNI-AD, yang dipegang oleh PT Berdikari
yang dikeloni Suhardiman. Koperasipun diberikan kepada TNI AD
pengurusannya, yang mereka dirikan Kosgoro yang dipimpin Jenderal
Isman. Kemudian Komando Tertinggi Urusan Ekonomi (KOTOE) juga
di tangan militer. Yang menyebabkan terhalangnya pelaksanaan UUPA
dan UUPBH juga militer. Matinya kapten Sudjono di Sumatra Timur
adalah karena soal tanah yang dipertahankan oleh para penggarapnya.
Masalah Aceh, Papua Barat, Ambon, Kalimantan bagi TNI AD
pertama-tama bukan mencegah disintegrasi wilayah NKRI,
melainkan kepentingan ekonomi dan finansilnya. Pendeknya,
kepentingan bisnis yang utama dan terutama bagi TNI AD.
Mungkin saja saya salah, kalau saya katakan bahwa itulah basis
ekonomi TNI AD yang menjadi kekuatan penyangganya, sehingga
dengan sekali pukul PKI hancur, Sukarno tumbang dan Rezim
Orba Militer Fasis AD berdiri. Ini faktor internalnya, sedangkan
faktor eksternalnya bantuan dan sokongan imperialisme AS
melalui CIAnya.
Sebagai aktivis gerakan pelajar dan kebudayaan untuk mengadakan
kegiatan dan pertunjukkan, dulu saya sering harus berhubungan
dengan instansi militer seperti KMKB dan berbagai macam Badan
Kerjasama Militer di Medan dan kemudian duduk dalam macam-
macam badan dan panitia di Jakarta yang dipimpin militer. Saya
merasakan sekali bahwa pada masa 1950-an dan 1960-an peranan
militer sudah mendominasi sipil, lebih-lebih dengan adanya SOB.
Saya teringat Bapak M. Ali Hanafiah, dari Bengkulu, ketika Sukarno
dibuang kesana, beliau dan isteri beliau (adik sastrawan Sanusi
dan ArmijnPane) menjadi guru Taman Siswa di sana. Pada suatu
hari di Stockholm, Pak Ali Hanafiah mengatakan, bahwa kelemahan
Bung Karno adalah terlalu memikirkan "macht" (kekuasaan). Karena
itu ia mudah terperangkap dalam sanjungan. Adalah militer yang
menjadikannya Presiden seumur hidup sebagai perisai menghadapi
"bahaya" PKI.
Saya sebenarnya tidak mau terlibat dalam debat atau polemik tentang
Sukarno ini. Karena, seperti kata Hong Li, ini bukan jurusan saya.
Saya tidak punya ilmu untuk masuk ke dalam kancah yang pelik itu.
Saya pun tidak cermat mengikuti tulisan-tulisan yang berhubungan
dengan itu di dalam media internet dan media cetak.
Sebagai penutup, saya mendukung pertanyaan atau persoalan yang
diajukan kedua rekan dekat saya, masing-masing sastrawan dan
musikus: JJ. Kusni dan Hong Li. Bagi saya cukup menarik sikap
Ikranegara dalam soal Manikebu. Sedangkan penandatangan
Manikebu lainnya seperti Arief Budiman, Gunawan Mohamad dan
alm. Satyagraha Hurip sudah melakukan peninjauan kembali atas
Manikebu yang diotaki Wiratmo Sukito sebagai agen militer dalam
tubuh sastrawan dan seniman. Ajip Rosidi sudah menulis juga
bagaimana militer AD mendalangi KKPSI (Konferensi Karyawan
Pengarang Seluruh Indonesia).
Stockholm, Sweden, 8-11-2002.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/