Nama: Pramoedya Ananta Toer
Lahir: Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925
Isteri: Maemunah Thamrin
Pendidikan:
SD Institut Boedi Oetomo (IBO), Blora
Radio Vakschool 3 selama 6 bulan, Surabaya
Kelas Stenografi, Chuo Sangi-In, satu tahun, Jakarta
Kelas dan Seminar Perekonomian dan Sosiologi oleh Drs. Mohammad Hatta, Maruto Nitimihardjo
Taman Dewasa: Sekolah ini ditutup oleh Jepang, 1942-1943
Sekolah Tinggi Islam: Kelas Filosofi dan Sosiologi, Jakarta
Pekerjaan:
Juru ketik di Kantor Berita Domei, Jakarta, 1942-1944
Instruktur kelas stenografi di Domei
Editor Japanese-Chinese War Chronicle di
Domei
Reporter dan Editor untuk Majalah Sadar, Jakarta, 1947
Editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka, Jakarta, 1951- 1952
Editor rubrik budaya di Surat Kabar Lentera, Bintang Timur, Jakarta, 1962-1965
Fakultas Sastra Universitas Res Publica (sekarang Trisakti), Jakarta, 1962-1965
Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai, 1964-1965
Prestasi dan Penghargaan
1951: First prize from Balai Pustaka for Perburuan (The Fugitive)
1953: Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional for Cerita dari Blora (Tales from Blora)
1964: Yamin Foundation Award for Cerita dari Jakarta (Tales form Jakarta) - declined by writer
1978: Adopted member of the Netherland Center - During Buru exile
1982: Honorary Life Member of the International P.E.N. Australia Center, Australia
1982: Honorary member of the P.E.N. Center, Sweden
1987: Honorary member of
the P.E.N. American Center, USA
1988: Freedom to Write Award from P.E.N. America
1989: Deutschsweizeriches P.E.N member, Zentrum, Switzerland
1989: The Fund for Free _expression_ Award, New York, USA
1992: International P.E.N English Center Award, Great Britain
1995: Stichting Wertheim Award, Netherland
1995: Ramon Magsaysay Award, Philliphine
1995: Nobel Prize for Literature nomination (Pramoedya has been nominated constantly since 1981.)
1999: Honorary Doctoral Degree from University of Michigan, Ann Arbor
2000: Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres Republic of France.
2000: Fukuoka Asian Culture Grand Prize, Fukuoka, Japan.
Buku:
Fiksi:
Krandji-Bekasi Djatuh, 1947
Perburuan, 1950
Keluarga Gerilya, 1950
Subuh, 1950
Pertjikan Revolusi, 1950
Mereka Jang
Dilumpuhkan (Bag 1 dan 2), 1951
Bukan Pasar Malam, 1951
Di Tepi Kali Bekasi, 1951
Dia Yang Menyerah, 1951
Tjerita Dari Blora, 1952
Gulat di Djakarta, 1953
Midah Si Manis Bergigi Emas, 1954
Korupsi, 1954
Tjerita Tjalon Arang, 1957
Suatu Peristiwa di Banten Selatan, 1958
Tjerita Dari Djakarta, 1957
Bumi Manusia - HM, 1980
Anak Semua Bangsa - HM,1980
Tempo Doeloe, (ed.) - HM, 1982
Jejak Langkah - HM, 1985
Gadis Pantai - HM,1987
Hikayat Siti Mariah, (ed.) - HM,1987
Rumah Kaca - HM, 1988
Arus Balik - HM, 1995
Arok Dedes - HM, 1999
Mangir - KPG, 1999
Larasati: Sebuah Roman Revolusi - HM, 2000
Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer - KPG, 2001
Cerita Dari Digul - KPG,
2001
Non-Fiksi:
Hoakiau di Indonesia, 1960
Panggil Aku Kartini Saja I & II, 1962
Sang Pemula � HM, 1985, biografi Tirto Adhi Soerjo
Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) - HM, 1995
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I, Lentera, 1995
Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II, Lentera, 1997
Kronik Revolusi Indonesia, Bag 1,2,3. 1 & 2: KPG, 1999 - 3: KPG, 2001
Karya Terjemahan ke Bahasa Indonesia
Lode Zielens, Bunda, Mengapa Kami Hidup? (Moeder, waarom leven wij?), 1947
Frits van Raalte, 1946
J.Veth, 1943
John Steinbeck, Tikus dan Manusia (Of Mice and Men), 1950
Leo Tolstoi, Kembali pada Tjinta dan Kasihmu (Return to Your Love and
Affection), 1951
Leo Tolstoi, Perdjalanan Ziarah jang Aneh (Strange Pilgrimage), 1954
Mikhail Sholokhov, Kisah Seorang Pradjurit Sovjet (The Fate of a Man),
1956
Maxim Gorki, Ibunda (Mother), 1958
Ho Ching-chih & Ting Yi, Dewi Uban (The White-haired Girl), 1958
Alexander Kuprin, Asmara dari Russia (Love from Russia), 1959
Boris Polewoi, Kisah Manusia Sejati (A Story about a Real Man)
Blaise Pascal, Buah Renungan (Pensees)
Kristoferus
Albert Schweitzer
Cerita Pendek
Karena korek api. Minggoe Merdeka, 6.1, (1947): 6.
Kemana?? Pantja Raja, 5.2, (47): 141-2.
Si Pandir. Pantja Raja,
11-12.2, (47): 405-7.
Kawanku sesel. Mimbar Indonesia, 40.3, (49): 17-19.
Kemelut. Mimbar Indonesia, 14.3, (49): 17-8, 22.
Lemari antik. Mimbar Indonesia, 43-44.3, (49): 18-9.
Masa. Mimbar Indonesia, 39.3, (49): 17-20.
Anak haram. Daya, 5-6.2, (50): 98-101.
Antara laut dan keringat. Siasat, 164, 165.4, (50): 8; 6.
Blora. Indonesia, 1.2, (50): 53-64.
Bukan pasar malam. Indonesia, 6.1, (50): 23-55.
Cahaya telah padam. Siasat, 179-180.4, (50): 18-9.
Demam. Mimbar Indonesia, 32.4, (50): 26-29.
Dia yang menyerah. Poedjangga Baroe, 11-12.11, (50): 245-286.
Fajar
merah. Gema Suasana, 1.3, (50): 81-96.
Hadiah kawin. Spektra, 42.1; 1.2, 3.2, (50): 27-31; 27-30; 27-30.
Hidup yang tak diharapkan. Siasat, 188 sd 193.4, (50): passim.
Inem. Mimbar Indonesia, 15.4, (50): 19-20.
Jongos + babu. Mimbar Indonesia, 2, 3.4, (50): 17-8; 17-8.
Keluarga yang ajaib. Gema Suasana, 5.3, (50): 440-8.
Kenang-kenangan pada kawan. Mimbar Indonesia, 9.4, (50): 20-1.
Lemari buku. Mimbar Indonesia, 48.4, (50): 20-1.
Mencari anak hilang. Daya, 2.2, (50):
42-4, 48.
Pelarian yang tak dicari. Mutiara, 16.2, (50): 10-1, 14-9.
Sebuah surat. Spektra, 14.2, (50): 25-30.
Berita dari Kebayoran. Mimbar Indonesia, 11.5, (51): 20-1, 26.
Idulfitri mendapat ilham. Indonesia, 6.2, (51): 17-29.
Kemudian lahirlah dia. Mimbar Indonesia, 8, 9.5, (51): 20-2; 20-2.
Yang sudah hilang. Zenith, 2.1, (51): 112-128.
Kampungku. Mimbar Indonesia, 30.6, (52): 20-1, 24, 26.
Sepku. Waktu, 5.6, (52): 7-8.
Kapal gersang. Zenith, 9.3, (53): 550-6.
Keguguran calon dramawan. Zenith, 11.3, (53): 659-71.
Tentang emansipasi buaya. Zenith, 12.3, (53): 722-30.
Kalil, si opas kantor. Kisah, 3.2, (54): 85-90.
Korupsi. Indonesia, 4.5, (54): 165-245.
Perjalanan. Mimbar Indonesia, 13.8, (54): 20-3.
Suatu pojok di suatu dunia. Prosa, 1.1, (55): 5-7.
Arya Damar. Star Weekly, 551.11, (56): 18-9.
Biangkeladi. Roman, 6.3, (56): 16-8.
Darah Pajajaran. Star Weekly, 546.11, (56): 26-7.
Djaka Tarub. Star
Weekly, 562.11, (56): 15-6.
Gambir. Aneka, 3,4,5.7, (56): 12-3; 12-3, 20; 12-3, 19.
Jalan yang amat panjang. Kisah, 7-8.4, (56): 13-5.
Kecapi. Kisah, 2.4, (56): 4-5.
Kesempatan yang kesekian. Zaman baru, 5, (56): 13-8.
Ki Ageng Pengging. Star Weekly, 570.11, (56): 26-7.
Lembaga. Roman, 5.3, (56): 7-8.
Makhluk di belakang rumah. Kontjo, 5.2, (56): 20-1, 33.
Mbah Ronggo dan setan-setannya. Star Weekly, 541.11, (56): 26-8.
Nyonya dokter hewan Suharko. Roman, 9.3, (56): 4-6.
Pelukis Purbangkara. Star Weekly, 549.11, (56): 26-7.
Raden Patah dan Raden Husen. Star Weekly, 555, 556.11, (56): 38-41; 25-7.
Sekali di bulan purnama. Roman, 7.3, (56): 12-4.
Suatu kerajaan yang runtuh karena rajukan permaisuri. Star Weekly, 544.11, (56): 26-7, 35.
Sunyi-senyap di siang hidup. Indonesia, 6.7, (56): 255-268.
Tanpa kemudian. Roman, 3.3, (56): 6-7, 11.
"Djakarta," Almanak Seni 1957, Djakarta: Badan Musjawarat Kebudajaan Nasional, 1956.
Kasimun yang seorang. Roman, 8.4, (57): 8-10.
Keluarga Mbah Lono Jangkung. Roman, 12.4, (57): 22-6, 42.
Shamrock Hotel 315. Roman, 10.4, (57): 5-6.
Yang cantik dan yang sakit. Pantjawarna, 120.9, (57): 16-7.
Dia yang tidak muncul. Star Weekly, 659.13, (58): 7-9.
Yang pesta dan yang tewas. Zaman Baru, 21-22, (58): 6.
Paman Martil. Jang Tak Terpadamkan (kumpulan tjerita pendek)
menjambut ulang tahun ke-45 PKI. Pg. 5-27
Puisi
Antara kita. Siasat, 103.2, (49):
9.
Anak tumpah darah. Indonesia, 12.2, (51): 20.
Kutukan diri. Indonesia, 12.2, (51): 19-20.
Pramoedya Ananta Toer
Dihargai Dunia Dipenjara Negeri Sendiri
Ia bagaikan potret seorang nabi, yang dihargai oleh bangsa lain
tetapi dibenci di negerinya sendiri. Pramoedya Ananta Toer, seorang
pengarang yang pantas menjadi calon pemenang Nobel. Ia telah
menghasilkan belasan buku baik kumpulan cerpen maupun novel. Kenyang
dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia
banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman
revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan
Soekarno, maupun era
pemerintahan Soeharto.
Di zaman revolusi kemerdekaan ia dipenjara di Bukit Duri Jakarta
(1947-1949), dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan
Soekarno karena buku Hoakiau di Indonesia, yang menentang peraturan
yang mendiskriminasi keturunan Tionghoa.
Setelah pecah G30S-PKI, Pramoedya yang anggota Lembaga Kebudayaan
Rakyat - onderbouw Partai Komunis Indonesia - ditangkap dan dibuang
ke Pulau Buru sampai tahun 1979. Siksaan dan kekerasan adalah bagian
hari-harinya di tahanan dan terpaksa kehilangan sebagian
pendengarannya, karena kepalanya dihajar popor bedil.
Setelah bebas pun, Pramoedya dijadikan tahanan rumah dan masih
menjalani wajib lapor setiap minggu di instansi militer. Meskipun ia
sudah `bebas', hak-hak sipilnya terus dibrangus, dan buku-bukunya
banyak yang dilarang
beredar terutama di era Soeharto. Pemerintah
telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya, pendengarannya,
papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.
Ia dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925 oleh seorang ibu
yang memberikan pengaruh kuat dalam pertumbuhannya sebagai individu.
Pramoedya mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam bukunya
teinspirasi oleh ibunya. Karakter kuat seorang perempuan dalam
karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, "seorang pribadi yang tak
ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu
sedikitpun'. Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia
melihat "revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan �
ibunya. Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah
karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya
masih berumur 17
tahun.
Setelah ibunya meninggal, Pramoedya dan adiknya meninggalkan rumah
keluarga lalu menetap di Jakarta. Pramoedya masuk ke Radio Vakschool,
di sini ia dilatih menjadi operator radio yang ia ikuti hingga
selesai, namun ketika Jepang datang menduduki, ia tidak pernah
menerima sertifikat kelulusannya. Pramoedya bersekolah hingga kelas 2
di Taman Dewasa, sambil bekerja di Kantor Berita Jepang Domei. Ia
belajar mengetik lalu bekerja sebagai stenografer, lalu jurnalis.
Ketika tentara Indonesia berperang melawan koloni Belanda, tahun 1945
ia bergabung dengan para nasionalis, bekerja di sebuah radio dan
membuat sebuah majalah berbahasa Indonesia sebelum ia akhirnya
ditangkap dan ditahan oleh Belanda tahun 1947. Ia menulis novel
pertamanya, Perburuan (1950), selama dua tahun di penjara
Belanda
(1947-1949).
Setelah Indonesia merdeka, tahun 1949, Pramoedya menghasilkan
beberapa novel dan cerita singkat yang membangun reputasinya. Novel
Keluarga Gerilya (1950) menceritakan sejarah tentang konsekuensi
tragis dari menduanya simpati politik dalam keluarga Jawa selama
revolusi melawan pemerintahan Belanda.
Cerita-cerita singkat yang dikumpulkan dalam Subuh (1950) dan
Pertjikan Revolusi (1950) ditulis semasa revolusi, sementara Tjerita
dari Blora (1952) menggambarkan kehidupan daerah Jawa ketika Belanda
masih memerintah. Sketsa dalam Tjerita dari Djakarta (1957) menelaah
ketegangan dan ketidakadilan yang Pramoedya rasakan dalam masyarakat
Indonesia setelah merdeka. Dalam karya-karya awalnya ini, Pramoedya
mengembangkan gaya prosa yang kaya akan bahasa Jawa sehari-hari dan
gambar-gambar dari budaya
Jawa Klasik.
Di awal tahun 50-an, ia bekerja sebagai editor di Departemen
Literatur Modern Balai Pustaka. Di akhir tahun 1950, Pramoedya
bersimpati kepada PKI, dan setelah tahun 1958 ia ditentang karena
tulisan-tulisan dan kritik kulturalnya yang berpandangan kiri. Tahun
1962, ia dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat yang disponsori oleh
PKI yang kemudian dicap sebagai organisasi "onderbow" atau "mantel" PKI.
Di Lekra ia menjadi anggota pleno lalu diangkat menjadi wakil ketua
Lembaga Sastra, dan menjadi salah seorang pendiri Akademi Multatuli,
semua disponsori oleh LEKRA. Pramoedya
mengaku bangga mendapat
kehormatan seperti itu, meskipun sekiranya Lekra memang benar
merupakan organisasi mantel PKI.
Kemudian terjadi peristiwa rasial anti-Tionghoa semasa Indonesia
telah merdeka, formal oleh negara, dalam bentuk PP 10 -1960. Buku
Hoakiau di Indonesia yang diluncurkan sekarang ini, pertama
diterbitkan oleh Bintang Press, 1960, merupakan reaksi atas PP 10
tersebut. Peraturan Pemerintah nomor 10 ini kemudian berbuntut
panjang dengan terjadinya tindakan rasial di Jawa Barat pada 1963,
yang dilakukan oleh militer Angkatan Darat. Karena buku ini
pula ia
dijebloskan lagi ke penjara di zaman pemerintahan Soekarno.
Setelah keluar dari penjara karena soal Hoakiau itu, Profesor Tjan
Tjun Sin memintanya "mengajar" di Fakultas Sastra Universitas Res
Publica milik Baperki, yang sekarang diubah namanya menjadi
Universitas Trisaksi yang kini bukan lagi milik Baperki. Ajakan ini
sempat membuatnya merasa tidak enak karena SMP saja ia tidak lulus
dan belum punya pengalaman dalam mengajar. Meskipun begitu, Pramoedya
mengaku menggunakan caranya sendiri. Setiap mahasiswa ia wajibkan
mempelajari satu tahun koran, sejak awal abad ini. Setiap tahun ada
sekitar 28 mahasiswa yang ia beri tugas itu,
sehingga Perpustakaan
Nasional menjadi penuh dengan mahasiswanya.
Dari para mahasiswa-mahasiswi yang sebagian terbesar WNI keturunan
Tionghoa, ia menerima sejumlah informasi tentang perlakuan pihak
militer terhadap keluarga mereka yang tinggal di Jawa Barat. Ternyata
rasialisme formal ini ditempa oleh beberapa orang dari kalangan elit
OrBa untuk meranjau hubungan antara RI dengan RRC, yang jelas, sadar
atau tidak, menjadi sempalan perang-dingin yang menguntungkan pihak Barat.
Di tahun 1965-an, Suharto memimpin setelah mengambil alih
pemerintahan yang didukung oleh Amerika yang tidak suka Sukarno
bersekutu dengan Cina. Mengikuti cara Amerika, Suharto mulai
membersihkan komunis dan semua orang yang berafiliasi dengan komunis.
Suharto memerintahkan hukuman massal, tekanan masal dan memulai Rezim
Orde Baru yang dikuasai oleh
militer. Akibatnya, ia ikut dipenjara
setelah kudeta yang dilakukan komunis tahun 1965.
Meskipun Pramoedya tidak pernah menjadi anggota PKI, ia dipenjara
selama 15 tahun karena beberapa alasan: pertama, karena dukungannya
kepada Sukarno, kedua, karena kritikannya terhadap pemerintahan
Soekarno, khususnya ketika tahun 1959 dikeluarkan dekrit yang
menyatakan tidak diperbolehkannya pedagang Cina untuk melakukan
bisnis di beberapa daerah. Ketiga, karena artikelnya yang dikumpulkan
menjadi sebuah buku berjudul HoaKiau di Indonesia. Dalam buku ini, ia
mengkritik cara tentara dalam menangani masalah yang berkaitan dengan
etnis Tionghoa. Pemerintah membuat skenario `asimilasi budaya' dengan
menghapus budaya Cina. Sekolah-sekolah Cina ditutup, buku-buku Cina
dibredel, dan perayaan tahun Baru Cina dilarang.
Pada masa awal di penjara, ia diijinkan untuk mengunjungi keluarga
dan diberikan hak-hak tertentu sebagai tahanan. Di masa ini, ia dan
teman penjaranya diberikan berbagai pekerjaan yang berat. Hasil
tulisan-tulisannya diambil darinya, dimusnahkan atau hilang. Tanpa
pena dan kertas, ia mengarang berbagai cerita kepada teman penjaranya
di malam hari untuk mendorong semangat juang mereka.
Pada tahun 1972, saat di penjara, Pramoedya "terpaksa" diperbolehkan
oleh rezim Soeharto untuk tetap menulis di penjara. Setelah akhirnya
memperoleh pena dan kertas, Pramoedya bisa menulis kembali apalagi
ada tahanan lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama dalam penjara
(1965-1979) ia menulis 4 rangkaian novel sejarah yang kemudian
semakin mengukuhkan reputasinya.
Dua di antaranya adalah Bumi Manusia (1980) dan Anak Semua Bangsa
(1980), mendapat perhatian dan kritikan setelah diterbitkan, dan
pemerintah membredelnya, dua volume lainnya dari tetralogi ini,
Jejak
Langkah dan Rumah Kaca terpaksa dipublikasikan di luar negeri.
Karya ini menggambarkan secara komprehensif tentang masyarakat Jawa
ketika Belanda masih memerintah di awal abad 20. Sebagai perbandingan
dengan karya awalnya, karya terakhirnya ini ditulis dengan gaya
bahasa naratif yang sederhana. Sementara itu, enam buku lainnya
disita oleh pemerintah dan hilang untuk selamanya.
Beberapa tahun setelah dibebaskan tahun 1969, Pramoedya dijadikan
tahanan rumah dan harus
melapor setiap minggu kepada militer.
Pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya,
pendengarannya, papernya, rumahnya dan tulisan-tulisannya.
Sebenarnya semenjak tahun 1960-an, minatnya yang besar pada sejarah
membuatnya suka mengumpulkan berbagai artikel atau tulisan dari
berbagai koran yang kemudian diklipping-nya.
Kini belasan bukunya sudah diterjemahkan lebih dari 30 puluh bahasa
termasuk Belanda, Jerman, Jepang, Rusia dan Inggris. Karena
prestasinya inilah ia dianggap sebagai orang yang paling berpengaruh
di Asia (selain Iwan Fals dari Indonesia) versi majalah Time dan
telah memperoleh berrbagai penghargaan seperti PEN Freedom-to-Write
Award, Wertheim Award dari Belanda, serta Ramon Magsaysay Award
(dinilai dengan brilyan menonjolkan kebangkitan dan pengalaman
moderen rakyat
Indonesia).
Novel-novel sejarah yang dibuat oleh Pramoedya mengungkap sejarah
yang tidak tercatat dalam buku-buku sejarah, yang kebanyakan jauh
dari kenyataan. Seperti Nelson Mandela, ia menolak untuk memaafkan
pemerintah yang telah mengambil banyak hal dalam kehidupannya. Ia
khawatir bila ia mudah memaafkan, sejarah akan segera dilupakan. Ia
menekankan pentingnya mengetahui sejarah seseorang sehingga orang
lain tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun-tahun yang akan
datang.
Pramoedya juga menyukai karya sastrawan lain seperti Leo Tolstoy,
Anton Chekov, atau John Steinbeck. Kekagumannya pada gaya bercerita
Steinbeck yang detail juga mempengaruhinya dalam menulis. Namun,
Pramoedya tidak suka dengan karya Ernest Hemingway, yang dianggapnya
tidak manusiawi.
Selain membuat novel, ternyata Pramoedya, pengagum peraih Nobel,
Gunter Grass ini, pernah juga menyusun syair-syair puisi. "Tapi saya
sudah mulai bosan dengan perasaan," kata anak Kepala Sekolah
Instituut Boedi Oetomo, Blora. Karena itu, dia hanya membuat novel
yang rasional, dan sama sekali tak menyukai sastra yang bergaya
irasional.
Kini, Pram di usianya yang ke 78 tahun mengaku sudah makin kepayahan.
Mencangkul yang dulu bisa dia lakukan enam hingga delapan jam hanya
bisa dua jam saja. Bahkan pernah, selama dua tahun, Pram sama sekali
tidak bisa mengangkat benda apa pun. Itu mulai dia sadari saat hujan
datang, ketika dia masih mencangkul di kebun. Dia hanya ingin
bersunyi-sunyi di kediamannya, beternak dan berkebun sembari
mengenang masa lalunya di Blora, di daerah bagian kelompok masyarakat
Samin yang dikenal antiperaturan kolonialis.
Dia bahkan sudah tidak menulis novel lagi dan hanya sekali-sekali
menulis essai. Dalam hidupnya di tengah-tengah sebuah bangsa yang
terdiri dari berbagai suku, agama, dan kelas, Pramoedya masih
meneruskan perjuangannya menuntut tidak hanya kebebasan menulis
tetapi juga kebebasan membaca. Sekarang buku-bukunya tidak lagi
dibredel, dan dapat dilihat di rak-rak buku setiap toko buku dan
perpustakaan di seluruh Indonesia.
***
Tokoh Indonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia), Atur
Lorielcide Paniroy, dari berbagai sumber.
disajikan oleh, Lambertus Lusi Hurek
Do You Yahoo!?
Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

