SUKENCROT

Ku menjadi teringatkan nostalgia biasa sewaktu masih kecil dulu 
tinggal di kampung Rumah Kuda di kota kecil itu ketika jam sepuluhan 
pagi di rumah hanya bersama Yu Sugiyem. Kakak pergi sekolah, bapak-
ibu kerja dan sekolahku sendiri masuk siang, aku suka benar 
mendengarkan siaran radio dari sebuah stasiun radio pemerintah 
daerah yang sekarang sudah dibeli oleh boss swasta, bisa jadi 
terkaya di kotaku dan pada pilkada kemarin pun terpilih menjadi 
wakil walikota tapi kenyataan di lapangan, dialah walikota yang 
sebenarnya, sebab walikotanya sendiri adalah seorang kader karbitan 
partai yang tak bisa apa-apa selain jadi boneka. Acara yang 
kumaksudkan adalah (titip) Salam Dangdut yang khas dalam arti 
kebanyakan pengirim dan yang dikirimi adalah ku membayangkan sebagai 
kalangan jelata sebangsa pembantu rumah tangga menor, muda-mudi 
kampung Pabrik Tahu yang miskin, gadis-gadis penunggu kios sepanjang 
jalan Burgeran, tukang pos (masih bersepeda) dan seputaran itulah.
Dan lantas pada saat-saat tertentu yang tiada terduga, misalnya 
serampung rancaknya lagu top hit `Jeki' dari mBak Rita Sugiarto, pun 
mengalunlah lagu instrumentalia tunggal berupa suara trumpet seperti 
yang dilantunkan pada adegan-adegan di film tentang penguburan 
seorang serdadu negara Goliat yang gugur dalam operasi pendudukan 
negara kecil (tak selalu Daud juga sih) demi menegakkan demokrasi 
namun di luar film sebenarnya cuma bisnis pasar bebas, sebagai 
pahlawan.
Orang-orang yang mendengar akan serentak tanpa komando terdiam 
menyimak, bahkan kesannya suasana pun menjadi ngelangut, sebab 
kemudian penyiar idola yang berjuluk `Kak Ahmad' itu akan membacakan 
secara begitu khidmatnya; "Telah meninggal dengan tenang �" Lantas 
pun berikutnya aku pun teringat pula suatu kali, celetukan dari 
seorang tukang batu pada temannya yang sedang mengerjakan kamar 
mandi dari rumah Bu Dhe Muhyarom di belakang rumah kami, demi 
mendengar `Warta Lelayu' tersebut, yaitu semacam guyonan rendahan 
yang namun sengaja atau tidak, dalam sudut pandang tertentu adalah 
menguakkan sesuatu ironi-tragis di balik peristiwa-peristiwa 
kematian harian � Yang jelas suatu ketika akan memperistiwai matinya 
masing-masing kita pula tanpa kecuali.
Demikianlah : "Telah meninggal dengan keroncalan � Ha Ha Ha !"
#
Menurutku, mengingat akar soal, peristiwa, gejala dan cerita dalam 
bangunan kenyataan adalah total sistim kekuasaan (baca : penguasaan, 
kontrol dan rekayasa dengan modus pencaplokan, pematuhan dan bahkan 
pelenyapan ... bagi yang membangkang) � maka jelas terhadap segala 
fakta akan selalu bisa dan harus ditarik perhubungan asal-muasalnya, 
yang adalah tak lain dari politik kepentingan subyektif, baik dalam 
konteks penciptaan fakta maupun pemaknaan fakta. Maka pula fakta dan 
atau makna fakta sebagai sebuah implikasi politik kepentingan 
selalu - langsung / tak langsung - berkorelasi dengan 
penyelenggaraan kepentingan kekuasaan. Termasuk maka; kematian, yang 
dengan demikian selalu bisa diterjemahkan dalam konteks politiknya, 
sebagai penyejajaran terhadap paham takdir.
#
"BLEKETOG ! BLEKETOG !"
"KRIYEG ! KRIYEG !"
"CEPROTSSS !!!"
Kereta api senja eksekutif-spesial lima ratus ribu perak melindaskan 
roda-roda besinya, sekaligus sekian banyak gerbong besinya, 
sekaligus semua besi-besinya, bahkan sekaligus semua penumpangnya 
pada tubuh kerempeng Sukencrot hingga menjadi dua. Dan para 
penumpang klas eksekutif-spesial itu sama sekali tak terganggu tidur 
eksekutif-spesial-nya oleh gerinjal-gerinjal laksana `sanca 
mencaplok sapi' di bidang transportasi moderen itu. Malahan 
pelindasan itu boleh jadi pun masuklah dalam mimpi mereka sebagai 
gelinjang-gelinjang sensual laksana dansa salsa gaya pesta unjuk-
keglamouran para eksekutif-spesial di salah sebuah acara televisi 
yang dibawakan oleh seorang komentator politik dandi dan keren yang 
banting setir jadi selebritis-presenter-entertainer. Tak seorang pun 
yang tahu ... 
Sampai pagi-pagi ketika Mbok Tumi mau buang hajat, di mana wc 
gantung umum itu menjorok ringkih-reyot di pinggir kali seberang rel 
yang melintas di belakang gubuknya; didapati dengan mata kepalanya 
sendiri : bagian bawah tubuh Sukencrot, berantakan. Dan sejarak 
duapuluhan meter lebih ke Timur : bagian atas tubuh Sukencrot, 
berantakan.
Mengenai usus yang terburai, lepotan dan genangan darah mengental di 
mana-mana, daging-daging serta tulang-tulang yang semuanya bau 
anyir, reka-rekalah sendiri gambaran visuilnya. Aku sudah muntah 
untuk ketiga kalinya saat membayangkan. Namun yang lebih pokok bahwa 
lebih dari onggokan, uh � (hoeeek !) � pemandangan mengerikan itu 
yang bagaimanapun tinggal hanya benda mati saja, ada sebuah 
kenyataan yang selalu hidup dan mengatasinya, yang lebih tinggi 
lagi, yang juga mengkait kesemuanya hal-hal, menjalinkannya dalam 
suatu hubungan yang meskipun rumit dan kompleks, namun secara 
langsung, dengan peristiwa tragis itu, tragedi kemanusiaan itu. 
Infrastruktur dan suprastruktur kematian itu.
Yaitu konteks sebab-musabab perkaranya kematian manusia, ideologi 
kematian manusia. Hidup adalah segalanya, setidaknya pasti ada 
sekelumitan atau bahkan porsi terbesar dari hidup yang diyakini 
sebagai segala-galanya. Maka; mati - yang mungkin menutup peluang 
untuk mengalami `kesegala-galaan' itu, atau memutusnya, atau 
melampuskan ingatan tentangnya, atau mengosongkan kesadaran 
tentangnya - jadi bukanlah barang suatu yang remeh. Jadi harus 
dicari penyebabnya. Biang keladinya. Konteksnya. Lalu mau dari mana 
kita mulai bagian kontek-kontekan tersebut ?
#
Keterlaluan benar molornya. Ternyata pukul sebelas siang barulah 
para kontek (baca politisi) memulai acara persidangan pesanan 
mendadak yang diselenggarakan di Gedung Pertemuan Kontek-Kontek. 
Seharusnya acara sudah dimulai pukul sembilan tadi. Namun rupa-
rupanya yang dua jam itu dipakai untuk mengadakan lobi-lobi terbatas 
dalam konteks saling pendekatan. Penyesuaian kepentingan lintas 
konteks, demi menunjang kelancaran, katakanlah proses demokrasi, 
namun barang tentu konteksnya adalah `demokrasi kita'. 
Selain itu memang ternyata situasi di luar gedung sempat sangat 
mencemaskan dan mengancam untuk pelangsungannya sidang secara 
tentram. Bagaimana tidak, ribuan massa jalanan melakukan 
demonstrasi, bahkan jauh-jauh sejak setelah subuh. Mereka menuntut 
agar sidang diadakan di jalanan dengan melibatkan seluruh elemen 
jalanan. Selain itu massa menghendaki supaya dilakukan dulu 
pengamanan dan pembersihan terhadap praktek-praktek politik uang 
oleh para politisi. Kata mereka, kota akan dikeoskan total jika 
tuntutan mereka tak dipenuhi. 
Namun dengan dukungan moral dari berbagai kelompok mobilisasi 
masyarakat pecinta jalan, berbagai asosiasi, koalisi, aliansi 
pengguna jalan dan gerakan nasional tertib di jalan, serta atas 
restu dari presiden yang direkomendir oleh Dewan Politisi dan 
mendapat lampu hijau dari konteks internasional, maka militer pun 
mengambil tindakan tegas dan keras. 
Tepat pukul sepuluh, ketika massa demonstran jalanan sedang rehat 
ngopi sambil menikmati makanan kecil, penyerbuan dilakukan secara 
serentak, dengan kekuatan penuh satu brigade anti huru-hara lengkap 
plus bantuan dari kepolisian, petugas keamanan dan ketertiban kota, 
satuan pengamanan, satuan tugas, preman, dan massa demonstran 
tandingan bayaran. Lebih dari itu, sesungguhnyalah merupakan operasi 
militer besar-besaran.
Maka yang terjadi jelas bukan perang, melainkan ajang bulan-bulanan. 
Massa demonstran jalanan digempur dari darat, laut dan udara seperti 
sebuah filem kolosal tentang penggempuran sebuah kota yang dikuasai 
milisi pro kemerdekaan oleh bala tentara penjajah. Jadi orang-orang 
sipil jalanan itu mana bisa memberikan perlawanan yang berarti. 
Ketapel, botol air mineral, batu, bambu cabutan pagar, bilah besi 
hanya skala pelajar dan mahasiswa saja. Bom molotov ? Bagai cubitan 
geli di punggung panser baja saja. 
Dalam tempo tak sampai sejam, namun sudah menggelimpangkan sekian 
banyaknya massa demonstran jalanan, memecahkan kaca-kaca, 
meringsekkan mobil-mobil, menumbangkan tiang-tiang, mengobarkan apa 
saja, massa demonstran jalanan pun akhirnya menyerah tanpa syarat. 
Lalu disuruh pulang dengan tertib. Untuk mengambil hati, mereka 
boleh gratis naik truk-truk zeni. 
Dan seiring dengan situasi yang kembali terkendali, lobi-lobi kecil 
pun telah usai pula. Amplop-amplop rahasia telah merata. Memorandum 
Of Understanding-Memorandum Of Understanding bawah meja telah 
tercapai. Skenario-skenario telah dibikin. Sandiwara-sandiwara sudah 
siap, plus adegan dagelan-dagelannya. Maka jam sebelas sidang bisa 
dimulai. 
Sebagaimanapun pertentangannya di dalam suatu demokrasi, harus tidak 
menjurus pada konflik panas, seakan kawan-lawan, berhadap-hadapan 
frontal. Itu keluar dari koridor semangat guyub-kekeluargaan. Tidak 
kondusif, tidak sejuk, mengganggu harmoni orkestra yang memainkan 
komposisi musyawarah dan mufakat yang berpedoman pada aransemen 
beserta partiturnya yang sudah ditetapkan. Bukannya sidang itu 
memang sidang demokrasi ? Jadi, begitu dimulai, persidangan sudah 
langsung masuk sessi pembacaan kesimpulan beserta penyetujuan agenda 
pelaksanaan. Total aklamasi. 
Tetapi tentu, seperti jamaknya forum-forum banyak orang yang membuka 
kesempatan akan adanya tahap `permainan awal' berbau-bau tertutup 
dan rahasia, maka selalu saja buntutnya mencuatlah interupsi yang 
menggoyang kesepakatan. Baik motifnya rekayasa sepak bola, motif 
asal ramai, motif asal kacau, motif radikal nekad, maupun motif 
intermeso hiburan. Namun judulnya sama : "INI SIDANG APA ?"
Ya, ini bahkan sidang apa-apaan ?! Mekanismenya tidak demokratis. 
Verbalnya sok populis, isinya sok sense of crisis, esensinya 
oportunis habis. Malahan, konspiratif. Peserta sidang yang 
terhormatnya tidak jelas, siapa sebenarnya mereka. Kalau termasuk 
golongan A, kenapa mengatas-namakan golongan B. Kalau termasuk 
golongan C, kenapa mengatas-namakan golongan D. Kalau tidak 
golonganisme, kenapa menggolongkan diri ? Kenapa terjadi dominasi 
dan penindasan pendapat dan setuja-setuju saja ? Kenapa 
mempersidangkan aspirasi-aspirasi yang membumbung tidak membumi ? 
Bukankah hal-hal membumbung itu aspirasi golongan tinggi yang enggan 
menengok ke bawah ? Dan hal-hal membumi itu aspirasi golongan bawah 
yang silau untuk mendongak ke atas ? Jadi ini semua adalah 
persidangannya golongan atas yang mempersidangkan aspirasi golongan 
atas namun mengatas-namakan golongan bawah dan mempolitiki golongan 
bawah untuk menanggung beban total biaya multi dimensional demi 
permufakatan kompromis win-win solution antar kontek-kontek golongan 
atas ??!! Barang tentu artinya juga membiayai interupsi-interupsi 
itu, yang daya seruaknya dengan menunggangi secara tak bertanggung 
jawab terhadap kekuatan dari isu-isu golongan bawah.
"INTERUPSI !"
#
Histeria Mbok Tumi yang terdengar menyayat memilukan bergeletar 
melejit ke angkasa, merobek-robek kenetralan hati pagi terang tanah. 
Seraya demikian, dibanting-bantingnya pula tubuhnya sendiri, 
berguling-gulingan, mencakar-cakar mukanya sendiri, menjambak-jambak 
rambutnya sendiri sedemikian kalapnya. Orang-orang sekitar yang 
sudah berkerumun dan berusaha menenangkan, dikibas dan disepak 
sekenanya.
"Ya Auwloh, KENCROOOT !"
"KENCROOOT !!!"
Teriakan panjang yang parau itu menyembur berhamburan, lari menyetan 
sepanjang rel, jatuh menggelundung, lari lagi, disongsong sebuah 
kereta lagi yang lewat. BLAMH ! Lalu terpental seperti kulit pisang, 
melintir salto, nyeplos masuk kali, gelagapan dan dengan kalang-
kabut berenang sebisanya, mengobrak-abrik segala plastik, kaleng, 
sisa-sisa bahan makanan, bangkai tikus, busa deterjen, apotas, 
baksil TCD dan gumpal-gumpal tinja. Di situ bertemu dengan arus 
bawah, lalu memusar-musar, lalu seperti geyser menyemprot ke atas, 
mengotori awan putih hingga jadi mendung, berlepotan pada sekujur 
matahari, menyiprati muka tuhan, menggenangi sorga, dialirkan ke 
selokan-selokan dan akhirnya mengucur kembali ke bumi sebagai hujan 
duka. Hujan itu mengguyur kuyup sekujur tubuh Mbok Tumi yang sudah 
terkapar lunglai bermata nanap, awut-awutan, nyaris telanjang.
"Hujan Duka !" 
"Hujan Dukaaa !!!"
Kerumunan orang semakin banyak. Berdesak-desakan. Riuh-rendah. 
Mereka adalah segenap para penghuni liar daerah pinggiran rel 
sekitar situ. Masing-masing pada saling berbisik, saling berceloteh, 
saling berteriak, mempercakapkan peristiwa hujan duka pagi-pagi itu.
"Aku tak percaya, kalau ini kecelakaan biasa !"
Demikian tiba-tiba seseorang itu menyeletuk, namun langsung diikuti 
dengan ekspresinya yang merasa kelepasan omong. Ia mencoba 
menghindar dari tatapan-tatapan yang mencari-cari. Maka langsung 
tambah ramailah suasana. Mata-mata mengarah pada orang itu. Yang 
belum tahu, repot melongok-longok; siapa tadi yang bilang itu ? Apa 
maksudnya ? Semuanya jadi penuh penasaran dengan celetukan itu. 
Kecelakaan yang tidak biasa ? Ada hubungannya dengan sesuatu yang 
luar biasa ? Apa itu ? Atau � Pembunuhan ? Tetapi di sini pembunuhan 
adalah hal biasa saja. Ulah makhluk halus ? Itu juga biasa di sini. 
Pertanda-pertanda gaib ? Kode buntut ? Semua sudah pernah. Sulit. 
Hal luar biasa memang banyak. Tetapi di sini terlalu banyak hal luar 
biasa yang sudah jadi biasa. Jadi yang tidak biasa itu seperti apa ? 
Sedang yang biasa-biasa saja di sini kalau bagi orang bukan daerah 
sini pasti akan sangat luar biasa, kalau tidak mentakjubkan, ya 
mengenaskan atau menggiriskan. Jadi orang dari mana itu tadi ? 
Sampai punya sesuatu yang luar biasa. Luar biasa benar ia �
"Bung ini siapa ? Dan apa maksudmu dengan 'kecelakaan yang tidak 
biasa' ?"
"Aku ini hanyalah seorang penyusup biasa. Maksud omonganku tadi; 
bisa jadi ini kecelakaan yang disengaja �"
"Wah, itu biasa �"
"Tapi ini untuk suatu tujuan tertentu �"
"Yaaa, masih biasa itu �"
"Yaaa, itu sih biasa di sini �"
"Iya, iya � biasa saja �"
"Malah dimana-mana juga begitu Bung �"
"Tapi yang ini lain saodara-saodara. Pernah dengar, apa itu namanya 
konspi � ra � si �"
"Apa ? Kontrasepsi ?"
"Eh, bukan. Sambal trasi ya ?"
"Bukan. Bukan kondom, bukan sapi, bukan seksi, bukan demokrasi. KON, 
SPI, RA, SI ! Korpri � eh, maksud saya KONSPIRASI � Ka O En Sepi Ra 
Si ! KONSEPIRASI,  Saodara �"
"Ya, ya, di sini memang  tak ada yang korpri Bung Penyusup. Nonpri 
sih ada, tapi kita sudah sama-sama. Jelasnya saja ! Awas kalo sara !"
"Ya, ya. Jelasnya saja ! Dan jangan sara !"
Ia lalu menyeruak dari tengah kerumunan. Berdiri di atas reruntuhan 
buk, menyapukan pandangannya pada orang banyak. Dengan gaya campuran 
beberapa pemimpin yang mashur, tangan kanannya dilambaikan sebagai 
isarat agar semuanya tenang. Setelah riuh-rendah itu berangsur-
angsur tenang, dua tangannya ia tautkan di belakang. Mulailah ia 
berbicara, tentang hal-hal yang menggugah daya kritis.
#
Mega Proyek ini sudah dibahas anggota Dewan Politisi Komisi Z sejak 
beberapa tahun anggaran kemarin. Pada prinsipnya, eksekutif, dewan 
politisi serta masyarakat perbisnisan sudah (pasti) sangat setuju 
dengan proposal yang disodorkan korporasi multi nasional bidang 
prasarana dan sarana wilayah kota moderen : KOTA HEBAT Corp.; 
mengenai rencana pembangunan jaringan subway dan jalan lingkar 
kereta api seantero metropol bersistim ultra moderen. Namun yang 
lalu-lalu masih terganjal oleh debat panjang mengenai prioritas 
pembangunan; atau pertumbuhankah, atau pemerataankah ? Alot. 
Apalagi, pemerintahan yang waktu itu baru naik setelah pemilu yang 
dimenangi golongan pembaharu, masih sedang berhangat-hangat 
mengobral janji-janji pembaharuan populernya. 
Sekarang naga-naganya ketika sudah diperkirakan bahwa orang banyak 
mulai tak demam pemerintahan baru dan era baru dan kembali dengan 
kerutinan lamanya; menyuntuki beratnya hidup dan susahnya 
penghidupan secara `ntrimo ing pandum' biar juga dibikin kalang-
kabut pembaruan macam apapun oleh ahli-ahli reformasi negri, 
proposal itu akan gol. 
Sebenarnya jika dicermati terutama secara paham kepentingan 
masyarakat banyak, tawaran mereka hanya menguntungkan investor 
belaka. Memang negara memperoleh sedikit dari pajak, sekian persen 
keuntungan, sekian uang kontrak serta gombal-gombal iming-iming 
beracun semacam penyerapan tenaga kerja (budak upah), penggemblengan 
insinyur (klas dua), efisiensi jangka panjang (yang diserobot 
krisis), infrastruktur pertumbuhan (fasilitas relokasi), transfer 
tekhnologi (kadaluwarsa), perjanjian alih kelola (tinggal ampasnya). 
Tapi yang selebihnya; adalah monopoli, eksploitasi, pencaplokan oleh 
korporasi multi nasional KOTA HEBAT Corp. Dan juga apa pajaknya itu 
dijamin untuk penyelenggaraan kesejahteraan umum ? Apalagi 
menghubung-hubungkannya dengan tuntutan dan prasarat penyongsongan 
jaman maju global moderen.
Global, gombal, global, gombal � Memanglah pergesekan dan pergosokan 
global tak bisa dielakkan. Benar. Namun ini belum merupakan 
pernyataan gagasan secara etik, masih bersifat laporan fakta saja. 
Belum ada idea(L)nya. Belum ada 'bagaimana baiknya'. Jadi, bagaimana 
itu ? Jika globalisasi yang dimaksud adalah yang di-setting dalam 
sistim dunia yang sudut pandangnya adalah; keniscayaan perkembangan 
ekonomi industri arus utama mengimplikasikan pengorbanan yang 
efektif dan efisien sebagai konsekuensi logis dari eskalasinya 
sendiri. Dan karena eskalasi itu adalah 'raison d'etre' dari ekonomi 
arus utama ini, maka berburu korban adalah modus survivalnya. 
Berburu ! Sampai ke mana-mana. Lintas negara. Itulah mereka ; 
korporasi multi nasional, atau orang-orang kaya trendi menyebutnya; 
globalisasi. Sedang padahal demi bagaimana baiknya pembangunan tak 
seharusnya menelan korban golongan yang satu untuk suksesnya 
golongan yang lain, bahkan orang satu untuk orang lain ... 
Maka jelas proposal proyek dari KOTA HEBAT Corp. harus ditolak 
mentah-mentah. Jika tak ingin negri ini, atau setepatnya golongan 
mayoritas negri ini, lebih menjurus lagi, orang-orang miskin negri 
ini, cuma jadi mangsa. Jika sungguh-sungguh tak ingin �
#
Sidang anggota Dewan Politisi Komisi Z pun selesailah dengan sukses 
berkat pendekatan menejemen bisnis demokrasi. Artinya semua kelompok 
kepentingan yang punya kartu bargaining khusus dan atau gertakan 
mobilisasi dan atau setidak-tidaknya punya kiat penjilatan, 
memperoleh jatah ekonomi politik. Maka tercapailah kata mufakat. 
Bahwa proposal KOTA HEBAT Corp. diterima.
Yang tak sepakat hanyalah segelintir saja. Mereka itu dari jenisnya 
pahlawan kesiangan, penyambung-penyambung lidah, pejuang kesepian, 
idealis frustasi, kenylenehan eksistensial. Pesakitan dan 
penyimpangan kemapanan. Biasa. Hanya bagaikan kafilah menggonggong, 
anjing-anjing tetap berlalu. Mudah saja dibereskan. Dengan 'recall', 
mutasi, pemecatan, paksaan untuk mundur dengan suka-rela, 'character 
assasination', bahkan pembunuhan, atau cukup disumpal dengan uang 
ekstra, atau dengan tak diapa-apakan. 
Selanjutnya pun dibahaslah mengenai aspek-aspek sensitif dari 
langkah pertama pada tahap pertama dari rencana bagian pertama. Ini 
merupakan satu bagian yang paling krusial, karena jika tidak hati-
hati dan tidak beres, sangat mungkin sekali akan menimbulkan gejolak 
yang jika antisipasinya meleset, sangat mungkin sekali akan 
membesar, meletus dan meluas. Perisiwa "Industrial Estate Massacre" 
tujuh tahun lalu adalah pelajaran pahit yang sangat berharga 
mengenai potensi gelegak arus bawah sebab kepentingan orang banyak 
yang terancam oleh kepentingan, katanya, pembangunan, tapi 
kenyataannya hanya kata bergincu dari kepentingan orang sedikit.
Jadi harus matang betul strateginya untuk membersihkan daerah 
sepanjang jalur kereta api dalam kota. Mengingat berapa ratus, 
bahkan ribu hektar jika ditotal, dan berapa puluh ribu orang yang 
tinggal di situ, dan seperti apa hidup mereka sudah terjepit. Dan 
last but not least; bakal seperti apa mereka jika hidup mereka yang 
sudah terjepit tambah kejepit-jepit lagi ! Apalagi jika mereka 
sampai bisa berpikir bahwa `kejepit' itu maksudnya tak 
lain, `dijepit'.
#
Malam itu sebuah jip masuk lewat gerbang belakang, khusus tamu non 
protokoler, langsung menuju parkiran dalam, khusus untuk orang-orang 
tertentu. Belum lagi turun, seorang semacam opas sudah mendekat dan 
begitu paham siapa yang datang langsung menghenpon opas bagian 
dalam. Sebentar kemudian opas luar itu memberi isyarat untuk masuk 
ke dalam. Brengos sudah ditunggu Pak Walikota di bungalow khusus 
untuk laporan-laporan khusus. Di bawah lampu gantung yang menyorot 
ungu remang, dua oknum itu bercakap-cakap secara serius, perlahan 
dan sangat rahasia.
"Sudah cukup apa masih lagi Pak ?"
"Tergantung pengaruhnya. Besok aku akan turun memberi penerangan 
penerangan. Kamu tunggu saja instruksi berikutnya"
"Siap Pak. Tapi �"
"Kenapa ?"
"Mbok jangan banyak-banyak Pak tumbalnya, kan perasaan juga sih saya 
�"
"Memang kenapa ? Duit segitu kurang ? Belum lagi kalau proyek sudah 
jalan. Dan jika nanti aku jadi Gubernur � sebut saja mau kecipratan 
berapa. Gubernur Ngos ! Jadi kuperingatkan kamu, jangan sampai 
melunak ! Kere-kere itu kesenangan kalau dilunaki. Biar sadar, 
mereka itu tak ada gunanya bagi kota ini. Ingat pula Ngos, meski 
tidak resmi, tapi kontrak sudah kau teken. Kamu adalah komandan 
lapangan untuk wilayah kita ! Ngerti !"
#
Malam itu Brengos pulang dari rumah Pak Wali dengan hati yang galau-
bimbang. Riwayatnya sebagai jagoan memang berlumuran darah. Hatinya 
sudah jadi tawar melihat darah. Rasa dosa bahkan bisa dikunyah-
kunyahnya sebagai pengantar mabok. Dan segala kekejian dingin itu 
sudah jadi perjalanan hidupnya sejak masih setengah umur dari yang 
sekarang. 
Namun camkan satu hal ! Selama itu jadi bajingan, tak sekali saja ia 
menjahati orang kecil. Dan pantang beraksi macam maling, di saat 
orang tidur. Perampokan, pemerasan, pembunuhan, itu yang dilakukan. 
Dan siapa sasarannya ? Merampoki orang kaya, memeras orang kaya, 
jadi pembunuh bayaran yang menerima order dari orang kaya dalam 
rangka persaingan bisnis antar orang kaya, juga order pembunuhan 
politik, yang nota bene politikus itu adalah orang-orang kaya juga. 
Bahkan Brengos juga aktif membina bandit-bandit teri yang suka 
beraksi di pasar, penipu picisan, copet bis kota, tukang palak kaki 
lima, agar meningkat kalibernya, tak hanya bisa menambah susah orang-
orang yang sudah susah hidupnya. 
Di samping itu sudah berapa ratus anak yang disunatkan olehnya. 
Berapa banyak pengangguran diberinya modal usaha. Berapa banyak anak 
asuhnya. Berapa banyak masjid, gereja, pura yang dibantu 
pembangunannya. Begitulah watak kepencolengan Brengos selama ini. 
Namun sejak dua tahunan lalu, tak sampai malah, sejak ia didekati 
oleh salah sebuah partai politik besar dengan iming-iming jabatan 
penting di partai tingkat pusat dan pada gilirannya, anggota dewan 
tingkat pusat, ternyata Brengos berubah drastis. Sejak kemudian ia 
suka nongkrong di kantor partai. Dan kemudian bahkan lebih banyak 
tidur di kantor partai. Dan pergi ke mana-mana, urusan partai. Dan � 
Tak pernah beraksi lagi. Sejak itu Brengos tak lagi seperti dulu. 
Ah � hanya dalam tempo dua tahun, malah tak sampai. Ada yang 
terlupakan. Atau sengaja dilupakan. Atau mungkin bukan masalah 
antara lupa dan ingat, melainkan peduli atau peduli setan saja. 
Karena ada sesuatu yang lebih bisa membikin kepala menoleh. Entah 
itu daya tarik, entah itu paksaan, entah itu pikiran baru dari mana 
yang masuk diam-diam dan diiyakan seperti orang tak sadar. Brengos 
terperanjat saat ada suara bisikan memanggilnya dari celah-celah 
keremangan di pinggir jalan. Itu aku. 
Tapi bagaimanapun di seluruh pembuluh darahnya memang sudah paten 
yang mengalir adalah nyali jagoan. Ia langsung mengerem jipnya, 
meloncat, menghampiri, tanpa mengeluarkan clurit, apalagi pistolnya. 
Dan begitu tahu ternyata itu aku, ia mengumpat dan menarikku ke 
tempat terang. Tak hentinya ia berkata-kata dan menepuk-nepukku. Ya, 
ini adalah pertemuan dua orang kawan lama. Kawan dalam tanda petik 
tentu saja. 
Terakhir kami masih jalan bersama dalam pelancaran aksi perampokan 
salah sebuah bank paling papan atas milik salah satu keluarga paling 
kaya di negri ini, yang seperti aksi-aksi sebelumnya, (jelas) belum 
atau tak bakal terbongkar. Itu aksi kami yang terbesar.  Dan memang 
telah kami putuskan menjadi aksi terakhir komplotan kami, untuk 
selanjutnya kami akan membubarkan diri dan menyusun hidup baru kami 
masing-masing.
Seratus milyar kami gasak. Sesudahnya, setelah pembagian hasil 
secara adil dan merata, kami semua pun berpencar ke mana-mana. Aku 
sendiri lalu melanglang buana menjadi anggota jaringan internasional 
teroris anti pemapanan ketidak-adilan yang giat melakukan aksi-aksi 
pengeboman di seantero dunia terhadap pusat-pusat kekuasaan jahat 
politik dan ekonomi dunia. Memang demikian itu cita-citaku sejak 
kecil; super hero pembela keadilan.
Pas kebetulan aku harus menjalankan `misi' di negri ini, lima tahun 
setelah perpisahan dulu, yaitu sekarang ini, aku harus menemuinya. 
Tujuanku menemuinya adalah membawa pesan bersama dari semua kawan-
kawan ex gerombolan, untuk mengingatkan akan sepak-terjangnya dewasa 
ini, yang sudah mengarah penindasan terhadap kaum kecil. Ya, 
penindasan terhadap mereka; golongan yang sepanjang riwayat 
komplotan kami punya tempat tersendiri. Tempat yang tinggi dan 
terhormat. 
Jika tak bisa menyarankan dengan cara perkawanan, terpaksa akan 
kulakukan dengan cara permusuhan. Demikian kutandaskan pada Bang 
Brengos, meski ia bisa disebut seniorku, bahkan mentorku. Bang 
Brengos diam. Aku paham sekali membedakan diamnya yang cuma diam 
atau diam yang menggelegak. Aku juga paham sekali akan situasi-
situasi di mana Bang Brengos terlanda tarik-menarik antara dua kutub 
yang berlawanan. Itu kelebihanku, maka juga dulu aku punya tugas 
ekstra untuk menangani kejiwaan kawan-kawan. 
#
Mobil dijalankan dengan kecepatan sedang, menuju pinggiran kota. 
Mengikuti jalur rel kereta api sampai sekitar lima kilometer. Pada 
sebuah perlintasan kami menikung ke kiri namun tidak terus. Kalau 
terus tetap mengikuti jalan raya adalah arah menuju gerbang tol, ke 
luar kota. Sedang kami berbelok lagi ke kiri. Lalu ke kanan. Dan 
berhenti di depan bekas bong cina. Bong itu menempel pada tanggul 
setinggi tiga meter. Ada jalan setapaknya dan kami naik, lalu 
menyusuri tanggul itu ke Selatan. 
Sunyi. Hanya suara langkah kami yang menyaruki kerakal, dengan 
tegang. Kereta lewat memecah kediaman. Meskipun sudah di pinggiran, 
secara reflek kami lebih minggir lagi dari rel. Lalu kediaman lagi 
berkelebat-kelebat dengan halus, berat serta meraba-raba kuduk kami, 
yang berdiri berhadap-hadapan secara mekangkang. Dan pandangan kami 
sama-sama saling tembus-menembus; seperti pijar kecil di tengah 
kepekatan. Tajam. Sangat tajam.
#
"BLEKETOG ! BLEKETOG !" 
"KRIYEG ! KRIYEG !" 
"CEPROTSSS !!!"
Tak seorangpun yang tahu � Sampai pagi-pagi ketika Mbok Tumi, biasa, 
mau buang hajat, di mana wc gantung umum itu menjorok ringkih dan 
reyot di pinggir kali seberang rel yang melintas di belakang 
gubuknya, didapati dengan mata-kepalanya sendiri � Hampir persis 
dengan pemandangan subuh seminggu lalu. Namun perempuan tua itu 
telah berbeda. Ia tak menjerit-jerit parau dan kalap. Ia malah 
berteriak kegirangan, menubruknya seraya mengelu-elukan dan 
menciumi. Tak peduli muka dan sekujur tubuhnya jadi merah semua. 
"Ya Auwloooh � Sukencrot anakku !"
"Kapan datang Nak ?!"
"Kemana saja engkau ?!"
"Wah � Makin ganteng saja engkau !"
"Hoi ! Hoooiii !!! Kencrot datang ! Kencrot dataaang !!!"
Orang-orang penghuni liar sepanjang rel sekitar situ cepat saja 
telah berduyun-duyun menyemut; berkerumun mengelilingi Mbok Tumi 
yang `ndeprok' mendekapi sesosok mayat yang setepatnya tak terlalu 
macam sesosok lagi, melainkan semacam `prethelan-prethelan' belaka. 
Namun tak ada keramaian simpang-siur komentar yang riuh-rendah, 
melainkan justru amat-amat sunyi. Mereka bengong. Terpana. Bingung. 
Heran. 
Tatap-tatap mereka terpusat menuju pada pemandangan yang demikian 
mengenaskan itu, namun sekaligus juga tatap-tatap itu menembusi ke 
sesuatu yang lain, yang lebih jauh dan lebih dalam lagi � semacam 
sesuatu kengerian yang tak kasat mata. Mereka antara percaya dan tak 
percaya pada apa yang mereka lihat. Sesungguhnyalah mereka secara 
serentak dirayapi oleh suasana was-was pada apa yang mereka lihat 
(di balik apa yang mereka lihat).
Dari ekspresi wajah-wajah yang berbeda-beda modelnya namun sama 
artinya itu, seakan mereka sedang menghadapi sesuatu yang sangat 
luar biasa yang ada di balik semacam tabir biasa. Tak jelas benar. 
Hanya `was-was' sebagai penjelasan agak mendekati. Dan seiring 
dengan `was-was', ada aliran tegangan yang merambat dari orang satu 
ke orang lainnya dengan perantaraan tanah dan udara; kode-kode 
kejiwaan � artinya kurang-lebih : ancaman.
Dan ketika tak dinyana turun hujan pagi-pagi, orang-orang pun 
berendengen pergi secara membisu. Tetap dan makin sunyi sekali. 
Namun terus dicabik-cabik oleh kegilaan Mbok Tumi.

- selesai -

mukracklasta











JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat: 
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia 
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!" 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jaker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke