Membangun Gerakan Demokrasi Berbasis Korban
"Pergerakan" di Indonesia merupakan kata yang penuh romantika revolusioner, bahkan menjadi rumah perjuangan pembebasan rakyat yang tak lapuk. Tak henti-hentinya para pejuang dan aktivis pergerakan itu sendiri menghidupi dan mengembangkannya menjadi dunia yang terus-menerus harus dijalani, ditengok, dan dirindukan. Tak heran, orang-orang yang hidup dalam dunia ini pun mendapatkan sebutan sebagaimana golongan-golongan lain (baca: kaum santri dan kaum abangan) sebagai kaum pergerakan.
KAUM pergerakan tak dapat disangkal telah mendapat tempat di hati rakyat Indonesia. Beberapa organisasi pun masih bertahan (pun di bawah Orde Baru yang anti terhadap istilah progresif) memakai istilah pergerakan, seperti Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Pemuda Kerakyatan (GPK), Gerakan Pemuda 27 Juli (GP 27 Juli), bahkan Gerakan Pemuda Kabah (GPK).
Sejarah kaum pergerakan yang baik dalam melawan penindasan rakyat membuat orang-orang pergerakan zaman sekarang pun tetap dapat membanggakan diri sebagai pejuang dan pelanjut angkatan-angkatan sebelumnya. Angkatan-angkatan sebelumnya dengan baik telah digambarkan Takashi Shiraisi dalam bukunya yang berjudul Jaman Bergerak dengan tokoh sentral Haji Misbach, seorang pendekar Muslim yang taat, tapi juga tak tabu dengan ilmu komunisme dalam melawan kolonialisme, di samping juga digambarkan individu menarik antikolonialisme yang mistik: Mangun Atmaja dengan Sarekat Abangannya yang ateis.
Lebih jauh, Ben Anderson mencatat Zaman Doenia Bergerak ini, yakni akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, memang telah melahirkan anak-anak emas pergerakan. Mereka adalah Bung Karno, Tan Malaka, juga Kwee Thiam Tjing ("pengarang Indonesia jang luar biasa, bisa djadi, djagoan proza Melaju jang terhebat sesudah Pramoedya Ananta Toer").
Bisa dikatakan bahwa ketiga orang ini "semuanja mendjadi anggota angkatan kedua dari manusia2 jang dengan penuh kesadaran melawan kolonialisme dan imperialisme di kawasan Asia, bersama dengan Ho Chi Minh (lahir 1890), Ketua Mao (1893), dan Jawaharlal Nehru (1889). Mereka mengikuti djejak langkah angkatan perintis jang diwakili oleh Jose' Rizal (1861), Sun Yat-sen (1866), Mahatma Gandhi (1869), serta Tirto Adhi Soerjo (1880)" (baca: Ben Anderson, Kata Pengantar, dalam Indonesia Dalem Api dan Bara, Tjamboek Berdoeri, ELKASA, 2004; 4-5, 40).
KINI, di tengah-tengah kita, pasca-Orde Baru, telah diluncurkan buku Mereka yang Hilang dan Mereka yang Ditinggalkan, Potret Penghilangan Paksa di Indonesia.
Seberapa pentingkah buku ini untuk rakyat Indonesia yang masih dalam situasi krisis ekonomi dan politik? Yaitu situasi yang masih bergerak: entah ke arah penghancuran takdir krisis kapitalisme atau justru menyelamatkannya dari penghancuran total?
Setidaknya-tidaknya buku ini penting untuk dibaca kaum pergerakan dan orang-orang yang ingin terjun ke kancah pergerakan karena beberapa alasan.
Pertama, sedikitnya buku ini sanggup menggambarkan hidup dan dunia kaum pergerakan di bawah Orde Baru yang militeristik dan kapitalistik Dengan demikian, menggambarkan kelanjutan riwayat kaum pergerakan dari Jaman Doenia Bergerak sampai Orde Baru: sebuah cerita yang tak putus dalam pahit getir dan bahagia kaum pergerakan melawan tirani kolonialisme dan imperialisme di Indonesia.
Pada halaman 17-94 dari buku ini, pembaca dapat mengerti bagaimana Herman Hendrawan alias Sadli, Bima Petrus Anugerah, Wiji Thukul, Suyat, dan Gilang dibesarkan, belajar, dan sampai akhirnya dapat mempunyai kesadaran berlawanan dengan tirani. Kesadaran ini pun dikomunikasikan dengan orangtua sebagai pilihan hidup dan cita-cita.
"Herman nggak bisa pulang karena masih banyak agenda. Herman sudah memilih untuk hidup di gerakan. Negara ini butuh putra-putranya untuk menyelamatkannya dari krisis ekonomi politik yang parah. Herman siap menjadi barisan pelopor guna mendorong bangsa ini seperti yang dicita-citakan. Ma'af kalau mengecewakan harapan ayah dan ibu. Herman minta keluarga di rumah memaklumi" (halaman 21).
Kesadaran mereka pun tak dibuang begitu saja ketika aparatus represif negara mengejar mereka. Justru mereka semakin diteguhkan bahwa jalan hidup melawan tirani adalah benar.
Kedua, buku ini memberikan problem baru bagaimana mengartikan dan memaknai korban dalam makna pergerakan kaum sadar perjuangan berikut risiko-risikonya sebagaimana telah dimiliki dan dialami kaum pergerakan, seperti Haji Misbach, Mangun Atmojo, dan Bung Karno. Sebelum pemberontakan modern yang berskala nasional di tahun 1926, semenjak pemerintahan kolonialisme Belanda melakukan pembuangan (baca: juga pembunuhan dan penghilangan) terhadap para pemberontak (Diponegoro, misalnya), kaum pergerakan pun sadar bahwa melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda pasti akan berisiko dibuang, dibunuh, dan dibui.
Karena itu, kaum pergerakan pun mewanti-wanti, bahkan mengibarkan tinggi-tinggi panji-panji moral kaum pergerakan dalam melawan kolonialisme, agar selalu siap dengan 3B, yakni Bunuh, Bui, Buang. Pemerintah kolonialis Belanda sendiri pasca-Pemberontakan 1926 melakukan pembuangan besar-besaran dan membikin kamp konsentrasi Digul di Papua. Jadi, tak seperti yang digambarkan MM Billah bahwa penghilangan paksa secara sistematik telah dimulai sejak tahun 1965 (halaman 8).
MEMANG, dalam sejarah pergerakan rakyat Indonesia, pola 3B itu kembali menguat di masa Orde Baru seakan tanpa interupsi selama 32 tahun kekuasaannya dengan motif yang berbeda-beda tapi satu tujuan, yakni mempertahankan kekuasaan: mulai dari Peristiwa 1965-1966, Kasus Petrus (penembakan misterius tahun 1983-1984) dengan sasaran pelaku tindakan kriminal, Peristiwa Tanjung Priok, Talang Sari, Kasus DOM (Daerah Operasi Militer) di Aceh dan Papua, Kasus 27 Juli 1996, dan Kasus PRD (halaman 8-11).
Soalnya adalah dari mana akar budaya dan politik Bunuh, Bui Buang, termasuk culik-menculik seperti ini bersumber dan berasal? Lantas bagaimana menghapuskannya? Sebelum para penjajah datang, rakyat Indonesia (baca: Nusantara) juga tak lepas dari politik seperti ini, bahkan kita mengenal kerajaan Darmawangsa yang kesohor itu pun mengalami pralaya alias tumpas-kelor.
Jadi, kaum pergerakan di bawah Orde Baru pun telah diberi kesempatan yang luas untuk mempelajari kejinya pemerintahan Orde Baru: tak hanya di tahun 1965, tetapi juga di Timor Timur (yang sekarang berdiri sendiri sebagai negara merdeka), Papua, Aceh, bahkan para pendukung Mega dalam peristiwa 27 Juli 1996. Belum terhitung perampasan-perampasan tanah petani dengan dalih pembangunan, seperti Kedung Ombo.
Memahami mereka, kaum pergerakan, cuma sebagai korban tentu menenggelamkan aspek kesadaran kaum pergerakan yang memang sengaja membangun gerakan ini dengan sadar untuk menghancurkan tembok tirani sebagaimana puisi Wiji Thukul: Bunga dan Tembok yang terkenal itu: . Dalam keyakinan kami; di mana pun tirani harus tumbang! (halaman 62).
Empati dan simpati tentu ada tempatnya sebagaimana semua orang menghargai kesetiaan, kejujuran, konsistensi, dan militansi. Itu pun masih ada batas-batasnya, sementara yang dibutuhkan untuk sebuah gerakan yang sadar berlandaskan ilmu tentu saja adalah orang-orang yang sadar semassal mungkin sehingga tak ada lagi yang harus dikorbankan atau menjadi korban. Kaum pergerakan adalah orang-orang yang berlawan aktif bukan pasif.
Ketiga, bagaimana membangun gerakan demokratik berbasis korban dalam hal ini korban pemerintahan antidemokrasi (baca juga: militeristik). Kesadaran akan penindasan memang bisa lewat pintu mana saja.
Dari paparan beberapa aktivis Partai Rakyat Demokratik yang diculik itu kita bisa melihat Herman Hendrawan tumbuh dari tradisi politik keluarga yang Soekarnois (halaman 20); Bimo Petrus tumbuh dari keluarga demokratis dan religius (halaman 50); Wiji Thukul tumbuh dari permukiman kumuh dengan orangtua yang miskin (halaman 60); Suyat tumbuh dari keluarga sederhana dengan usaha ekonomi keluarga yang kecil-kecilan, membuat tempe; sedangkan Gilang alias Leonardus Nugroho Iskandar tumbuh dari kerja mengamen dan perkenalannya dengan para aktivis mahasiswa (halaman 88).
Dari mereka yang ditinggalkan, kita bisa melihat kesadaran akan adanya monster penindas melalui pintu kasih sayang kepada anak-anak tercinta, simpati dan empati sebagaimana dukungan Ibu Misiati kepada Bimo Petrus, anaknya: "Ibu bisa memahami cita-citamu. Ibu bangga. Ibu tidak malu. Semoga perjuangan dan pengorbananmu tidak sia-sia" (halaman 54).
Demikian juga Nurhasanah atau Ibu Nung, ibu dari Yadin Muhidin yang hilang saat Jakarta rusuh, Mei 1998 berharap: "Kalau memang anak saya diculik, saya minta keadilan yang seadil-adilnya. Selain kejelasan nasib anak saya, pelakunya juga ditindak".
Lalu Pak Paimin, ayahanda Suyat: "Kalau mati di mana kuburannya, kalau masih hidup, segera kembalikan" (halaman 154).
Dengan empati dan simpati inilah gerakan menegakkan demokrasi, keadilan, dan HAM, menghapus tindak penghilangan paksa dan menghukum para pelanggar HAM dapat diperluas. Walau demikian, kaum pergerakan yang sadar tentu tak sekadar berlandaskan ini. Ia menuntut lebih. Jiwa-jiwa yang resah dan membela haruslah menjadi gerakan yang ilmiah yang didasarkan pada ilmu pengetahuan. Tentu, ini menjadi PR bagi kaum pergerakan di Indonesia untuk menjadikan simpati dan empati pada "korban" ini menjadi gerakan massal dan meluas dalam arti lain menjadi gerakan rakyat sampai perjuangan menegakkan HAM pun menjadi kepentingan perjuangan kaum buruh, petani, dan kaum miskin kota serta rakyat tertindas umumnya. Demikian juga sebaliknya.
Terakhir, kehadiran buku ini akan semakin memberi gambaran gerakan demokrasi di Indonesia sekarang dan ke depan. Ia juga menjadi tantangan bagi pemerintahan sekarang untuk menuntaskannya. Namun, buku ini juga menegaskan pada kaum pergerakan angkatan sesudah 1998 agar tak lengah: ... bahwa gerakan demokratik di Indonesia belum selesai dan masih menyisakan pekerjaan rumah yang tak sedikit bahkan hati-hati! Hantu bernama 3B itu masih bisa bangkit dari kuburnya.
AJ Susmana Pengurus Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP PRD)
From: "Wilson Praxis"
Date: Mon, 20 Jun 2005 11:17:47 +0700
Subject: AJ Susmana -Membangun Gerakan Demokrasi Berbasis Korban
Subject: AJ Susmana -Membangun Gerakan Demokrasi Berbasis Korban
Yahoo! Messenger NEW - crystal clear PC to PC calling worldwide with voicemail
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

