Selamat Pagi, Pak Gubernur!


Oleh Wahyu Dramastuti

SELAMAT pagi, Pak Gubernur! Mudah-mudahan pagi ini
Anda sedang membaca cerita pendek saya sambil minum
teh hangat di tengah kebun rindang dan rumput yang
menghijau. Ini penting, supaya hati ini senantiasa
hangat tapi pikiran tetap dingin. Ah.… maaf, Pak
Gubernur, saya hanya ingin menyampaikan isi hati
secara tulus.

Cerita ini tentang penjual ketoprak langganan saya,
Kojak namanya. Cukup panggil Kojak, karena kepalanya
lonjong tapi rambut plontos, hidungnya seperti hidung
betet. Persis seperti ”Kojak” Telly Savalas yang
terkenal di era 1970-an, saat saya dan teman-teman
berebut kursi untuk menonton televisi di rumah
tetangga.

Itulah makanya orang-orang satu RW memanggilnya Kojak,
meski nama sesungguhnya Karyo Slamet. Cuma, tubuh
Kojak tidak setinggi dan segagah ”Kojak” yang
sesungguhnya, karena tubuh sang Kojak yang satu ini
pendek dan gempal. Perutnya menonjol keluar, tapi ini
justru memudahkan orang-orang dari kejauhan untuk
langsung tahu bahwa Kojak sedang menjajakan
dagangannya.
Kojak selalu mangkal di Gang Beceng, RT 09/RW 11.
Biasanya ia melewati rumah saya sekitar jam 6 sore,
persis saat saya sedang menyirami tanaman di halaman
rumah. Ia mendorong gerobak tuanya pelan-pelan.
Krieeet…. krieeet…. suara gerobaknya berderik-derik,
membuat saya geregetan jika tidak menengok. Biasanya
saya memandangi Kojak sampai menghilang di balik
tembok Gang Beceng. Pantatnya yang terbungkus celana
gombrong terlihat terguncang-guncang. Menggelikan.

Gang Beceng dipilihnya sebagai tempat untuk berjualan
karena letaknya persis di bawah tiang listrik,
sehingga tak perlu menyantol setrum secara ilegal.
Penerangan listrik juga memungkinkan Kojak untuk
mencuci piring dan gelas bekas hingga bersih.

Tepatnya, gerobak Kojak diparkir di sebuah gang
berbentuk tusuk sate, sehingga setiap orang yang duduk
di bangku kayu di sisi gerobaknya bisa memandang ke
segala penjuru. Mau ke arah depan, ke arah kiri atau
kanan. Tapi repotnya, kalau ada mobil yang lewat, maka
lutut dan kaki terpaksa ditekuk, kalau tidak mau
disenggol oleh moncong mobil. Kerepotan masih
bertambah jika ada bajaj atau sepeda motor yang lewat
sambil menggeber-geber gas, uuuhh…. hidung harus
ditutup rapat-rapat.

Meski sering dibuat jengkel oleh ulah pengendara
sepeda motor atau mobil, saya selalu menyempatkan diri
mampir ke gerobak Kojak. Ketopraknya memang lezat.
Tentu yang namanya ketoprak bahan bakunya sama: ada
kacang tanah, gula merah, bawang putih, tahu goreng,
kecambah, ketupat, bihun, lalu ditambah kecap manis
dan kerupuk. Tetapi ketoprak Kojak lebih istimewa.
Bawangnya diulek bulat utuh dan kacangnya tidak
dicampuri tepung.
Kojak memang selalu memilih bahan baku yang terbaik.
Ia punya prinsip tidak mau bekerja asal-asalan; asal
jadi, asal dapat untung. Mungkin resep itulah yang
membuat dagangan Kojak selalu laris manis antara jam
6.30 petang sampai jam 11 malam. Tentang resepnya itu,
Kojak pernah bercerita pada saya, ”Kalau mau dapat
langganan banyak harus memuaskan, jangan malah
nguriki, mumpung lagi payu terus urik (mumpung sedang
laku lantas curang).”

Itulah mungkin yang membuat pelanggan Kojak datang
dari segala tempat, tidak hanya warga RT 09/RW 11 Gang
Beceng, tapi juga dari Kecamatan Palagan yang jaraknya
30 kilometer. Sepulang dari kantor, mereka rela antre
bersama para pembantu rumah tangga yang disuruh
majikannya untuk membelikan ketoprak.

Sebungkus ketoprak harganya Rp 5.000. Pernah pada
suatu hari saya menyodorkan uang Rp 10.000 lalu
langsung pergi tanpa teringat akan uang kembalian.
Namun 1,5 bulan kemudian ketika saya membeli ketoprak
lagi, Kojak mengembalikan uang saya yang Rp 5.000 itu.
Saya terkejut bukan main. Ketika saya bertanya mengapa
ia masih teringat akan uang kembalian Rp 5.000 itu,
Kojak menjawab dengan tenang, ”Dik, barang yang bukan
milik kita harus dikembalikan kepada yang berhak”.

Mendengar jawaban itu, saya menarik napas panjang.
Seketika malam itu terasa sangat indah.
Bintang-bintang yang menggantung di langit tampak
berkilauan, rembulan pun ikut tersenyum. Sudah sangat
lama saya merindukan ucapan seperti Kojak itu. Sudah
sangat lama saya tidak mendengar nasihat seperti itu
dari pejabat pemerintah.

***
Bapak Gubernur, pada suatu sore saya kehilangan Kojak.
Sudah dua minggu lamanya dia tidak berjualan ketoprak.
Saya bertanya kepada semua tetangga, tetapi tak ada
yang bisa menjawab. Semua mengatakan tidak tahu.
Sejujurnya, saya tidak hanya kangen dengan bumbu
kacang ulekan Kojak, tapi juga kangen ucapannya yang
selalu menyejukkan hati. Setiap katanya senantiasa
membesarkan hati dan membangkitkan optimisme, meski
tidak dibuat-buat supaya memperoleh pujian.

Setelah satu bulan diliputi pertanyaan, akhirnya saya
bertemu Kojak lagi di Gang Beceng. Seperti biasanya,
raut wajahnya terlihat cerah, pipinya yang tambun
semakin membundar tatkala mengembang. Maka saya tak
percaya ketika diberi tahu bahwa Kojak baru saja
kehilangan anak. Anaknya yang nomor 1 meninggal dunia
di jalan raya ketika sedang naik sepeda motor.
Ironisnya, dia tewas bukan karena tabrakan, tetapi
karena terlalu banyak mengisap asap knalpot. Menurut
dokter, penyakit asmanya kambuh pada saat tertekan
asap timbal.

Sesungguhnya, Kojak sangat bersedih hati, tetapi ia
tidak mau terus larut dalam kesedihan. Bahkan dengan
tegar dia bercerita bahwa baru dua bulan lalu si anak
nomor 1 dikreditkan sepeda motor. Pada awalnya Kojak
tidak mau membelikan sepeda motor mengingat situasi
jalanan sudah penuh dijejali mobil dan sepeda motor,
sampai-sampai pejalan kaki kesulitan menyeberang.
Tetapi mengingat anak nomor 1 baru saja lulus SMA dan
merengek minta dibelikan sepeda motor, akhirnya Kojak
membelikannya sebagai hadiah lulus SMA. Saat saya
tanya tentang musibah itu, Kojak justru menenangkan
hati saya. ”Namanya juga musibah, Dik,” katanya dengan
nada datar. Sama sekali tak terlihat ada kemarahan di
wajahnya, meski anaknya menjadi korban kebijakan
pemerintah membuka keran impor kendaraan bermotor.
Hari berganti hari, sampai akhirnya tiga bulan
berikutnya, Kojak kembali tidak berdagang. Saya
mencari-cari ke mana gerangan penjual ketoprak yang
lembut hati itu. Sampai akhirnya sebuah kabar buruk
kembali menyambar telinga saya. Ternyata anak Kojak
yang nomor 2 tewas terjatuh dari kereta api listrik.
Menurut cerita beberapa tetangga, suatu siang si anak
berdesak-desakan di dalam kereta api saat berangkat
menuju sekolah. Seperti biasanya, ia tidak pernah
mendapatkan tempat duduk, tetapi juga tidak pernah
ikut-ikutan duduk di atas atap kereta. Kojak selalu
menasihati anak-anaknya agar tetap bersikap santun
meski tidak diperlakukan secara manusiawi. Tetapi
siang itu anak nomor 2 terlempar keluar, gara-gara
kereta api menabrak sebuah mikrolet yang sedang
melewati lintasan kereta api tanpa palang pintu.

Setelah itu, baru sebulan berikutnya saya melihat
Kojak kembali berdagang. Wajahnya terlihat kuyu
walaupun tetap berusaha tersenyum. ”Namanya juga
musibah, Dik,” begitu kata Kojak saat saya
memperhatikan wajahnya. Air mukanya tetap tenang,
tidak terlihat ada kemurkaan, walaupun ia sadar kalau
anaknya mati gara-gara pemerintah tidak memperhatikan
masalah transportasi untuk rakyat kecil.

Setelah dua minggu berdagang, lagi-lagi saya
kehilangan Kojak. Ia absen selama 2 bulan, membuat
saya penasaran. Mudah-mudahan tidak ada musibah lagi,
begitu setiap kali saya memanjatkan doa. Tetapi
rupanya doa saya belum dikabulkan oleh Yang Mahakuasa.
Kabar buruk kembali menggelegar bagaikan petir. Kali
ini nasib naas menimpa anaknya yang nomor 3. Ia tewas
di dalam metromini setelah berkelahi dengan penodong.
Penjahat mengira si anak nomor 3 membawa banyak uang
karena tidak mau menyerahkan tasnya, padahal di dalam
tas hanya ada ijazah SMP yang baru saja diambilnya
dari sekolah.

Sudah sejak lama anak nomor 3 bercerita bahwa ulah
pencopet di kendaraan umum semakin nekat. Tetapi Kojak
tidak bisa berbuat apa-apa karena sadar aparat yang
dilapori tidak akan berbuat banyak, atau kalau mengadu
malah dipungut uang formulir pengaduan. Maka kepada
anak-anaknya ia hanya berpesan agar hati-hati. ”Kalau
kalian memang benar, harus membela diri. Tetapi kalau
salah harus meminta maaf dan jangan mengulanginya
lagi,” demikian pesan Kojak kepada anak-anaknya.
Hari-hari berikutnya keadaan sudah normal kembali.
Kojak berjualan, dan saya kembali mendapatkan
ketenangan lewat cerita-ceritanya yang menyejukkan
hati. Rupanya musibah demi musibah yang datang
beruntun justru membuatnya semakin bijaksana. Lelaki
tua itu menjadi kian memahami arti kehidupan dan
kematian, bahwa mati bisa terjadi kapan saja, di mana
saja dan dengan cara apa saja. Ia berpesan agar sisa
hidup ini dimanfaatkan untuk kebaikan agar saya siap
mati sewaktu-waktu.

Pesan Kojak tentang kematian membangkitkan kesadaran
saya. Betapa tidak, ia menyuruh saya untuk
membayangkan seandainya esok pagi saya mati mendadak
padahal saya adalah koruptor, pernah membunuh orang,
dan sering membohongi rakyat dengan pembangunan
kosmetik yang hanya indah di luar tetapi bopeng-bopeng
di dalam.

***
Kojak, Kojak. Petuahmu selalu kurindukan. Tetapi
lagi-lagi nasib buruk menimpamu. Pak RT yang sedang
berjalan menuju pos ronda dan melintasi saya bercerita
bahwa lima hari lalu anaknya yang nomor 4 tewas
tenggelam saat banjir melanda rumahnya, padahal rumah
Kojak berada di tengah kota Jakarta. Anak nomor 4 itu
masih berumur 1,5 tahun, terlepas dari gendongan
ibunya saat berusaha menyelamatkan diri.

Menurut Pak RT, Kojak tidak habis pikir mengapa di
tengah kota besar ada banjir padahal rumahnya tidak
terletak di bantaran kali melainkan di belakang
gedung-gedung pencakar langit. Kojak juga tidak
mengerti mengapa sarannya tidak pernah digubris oleh
Pak Lurah, agar tumpukan sampah yang tersangkut di
sungai dekat rumahnya segera diangkat ke darat untuk
dipindahkan ke tempat pembuangan akhir (TPA), padahal
ia rutin membayar iuran sampah dan kebersihan. Ia juga
heran melihat orang-orang membuang sampah sembarangan
termasuk yang mengendarai mobil pribadi. ”Hujan turun
15 menit saja jalanan sudah tergenang air lalu
banjir,” demikian keluh-kesah Kojak.

Dia teringat tatkala masih hidup di pedesaan, setiap
pohon berfungsi sebagai penyerap air dan penahan
erosi. Maka ia heran bukan kepalang ketika melihat
taman-taman indah di tengah kota dan di pinggiran kota
diubah menjadi tembok supermal. Dia tidak tahu yang
namanya komisi. Ia hanya tahu bahwa setiap keuntungan
harus diperoleh secara wajar tanpa mengorbankan orang
lain.
Cerita tentang kedukaan Kojak dengan cepat menyebar
dari mulut ke mulut, dari tingkat RT, RW, kelurahan,
hingga kecamatan. Semua orang menjadi merasa iba dan
berlomba-lomba untuk memberi bantuan bagi Kojak.
Karena simpatisan begitu banyak, akhirnya Pak RT
mengkoordinasi sumbangan itu. Tetapi Kojak sendiri
tidak pernah tahu kalau dirinya mendapat banyak
sumbangan.

Kemudian suatu ketika, secara kebetulan saya kembali
mendapati Kojak sedang mengulek bumbu ketoprak.
Pembelinya antre berdiri bermeter-meter. Ada yang
memang sudah tidak sabar mencicipi masakan Kojak, tapi
ada juga yang hanya ingin ngerumpi, syukur-syukur
mendengar cerita langsung dari Kojak. Tetapi Kojak
sekarang sudah berubah menjadi pendiam, tidak lagi
banyak bicara.

Selanjutnya hari berganti hari, bulan berganti bulan,
awan gelap belum juga berlalu dari kehidupan Kojak.
Kedukaan masih rajin menyambanginya, sampai suatu
ketika Pak RT mengabarkan bahwa Sumiyati, istri Kojak,
tewas terbakar bersama kiosnya di Pasar Lincak.
Berbeda dengan kabar duka sebelumnya di mana Kojak
masih tegar, kali ini dia sangat shock. Kebakaran itu
mengingatkan memorinya bahwa beberapa tahun lalu
pemerintah daerah bertekad menyulap Pasar Lincak
menjadi mal. Sudah berkali-kali Kojak meminta kepada
pengurus Pasar Lincak agar pedagang kecil tidak
digusur atau diperlakukan seenaknya. Tetapi rupanya,
permintaan Kojak tidak pernah didengarkan oleh siapa
pun.
Tiga minggu setelah kabar tentang kematian Sumiyati,
saya berjumpa lagi dengan Kojak. Saya gembira
melihatnya telah tertawa kembali.

Dia duduk sambil menatap air mancur di pusat kota.
Saya tak berani mengusik keasyikannya. Lama saya
memperhatikan, sepuluh menit, setengah jam, satu jam.
Ternyata Kojak tertawa, lalu tertawa lagi, sendirian….
***

http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/0625/bud1.html 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 




JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat: 
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia 
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!" 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/jaker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke