=================
U N D A N G A N
=================
 
Membangun Keindonesiaan
Yang Merangkul dan Mendengarkan
 
Sarasehan Hari Ulang Tahun Kemerdekan RI ke-60:
 
Tempat: Di Aula Kedutaan Besar Republik Indonesia
Alamat: Tobias Asserlaan 8, 2517 KC  Den Haag,
Waktu/Tanggal: Sabtu 6 Agustus 2005, Pukul 11.00 – 18.00
 
MERENUNGKAN KEINDONESIAAN KITA
Keindonesiaan seperti apa yang tumbuh di dalam jiwa dan hati kita sekarang ini? Sudah sesuai dengan kebutuhan kita bersamakah keindonesiaan yang selama ini kita bangun? Apa artinya Indonesia dan keindonesiaan bagi kita semua dalam konteks krisis politik dan ekonomi serta agresi ekonomi global sekarang ini? Citra dan kenyataan yang mewataki Indonesia seperti apa yang kita sedang bangun? Bangga atau tidak, kita sudah dikenal sebagai bangsa korup, sarang teroris, tak menghargai HAM dan gemar 'amuk'. Juga di dalam 'rumah' kita. Dalam hal agama dan etnisitas, yang mayoritas masih menindas minoritas. Atas nama ilahi atau kepribumian, kita menindas yang lemah. Atas nama kebencian pada komunisme, jutaan saudara kita dipariakan. Atas nama nasionalisme, kita menginjak-injak hasrat damai dan keadilan di Aceh dan Papua. Ini membuat kita menjadi bangsa yang dilecehkan. "Indonesia is a country in despair", kata seorang Indonesianis asal Belanda.
            Keindonesiaan itu adalah identitas dan citra apa, mengapa, dari mana dan bagaimana hati dan jiwa kita mengenali dan merangkai kumpulan anasir besar-kecil yang berserak: watak-watak bertentangan, kekuatan-kekuatan tercecer dan cita-cita jamak nan gamang dari Indonesia. Diinginkan atau tidak, ia terus beringsut dan berubah. Sosok dan isinya, bergantung pada struktur dan alur kuasa ruang dan waktu, tetapi utamanya pada persetubuhan wacana pemikiran dan tindakan kolektif kita di dalam meng-Indonesia. Oleh karenanya keindonesiaan itu tak bisa dan tak pernah selesai. Ia perlu terus diperkuat dan diperbaharui. Jika kita menganggapnya selesai, dia membeku dan memberhala. Kita membutuhkan keindonesiaan itu untuk pengakuan dan pijakan. Juga cermin dan jati diri. Dengan itu pula kita semua merasa memiliki 'rumah' dan 'halaman' dan menjadi bagian dari keindonesiaan yang kita bisa bangun bersama. Ini soal pathos "jiwa dan hati", kata Otto Bauer. Ernst Renan mengatakannya dengan cara lain; c'est le désir d'être ensemble, "keinginan untuk hidup bersama".
            Siapa yang bertanggung jawab membangun keindonesiaan itu dan bagaimana kita mewujudkannya dalam keseharian kita?
            Keindonesiaan tidak hanya bergantung pada tafsir sejarawan tentang kapan dan bagaimana Indonesia merdeka dan mengada. Tidak juga hanya pada pemimpin besarnya tentang utopia adil dan makmur. Tidak juga hanya pada pemimpin agama-agama yang mendiktekan kebenaran 'mutlak' Indonesiawi. Apalagi hanya pada sekumpulan serdadu yang melihat keindonesiaan dari kekuasaan dan senjata. Lebih jauh dari itu, keindonesiaan bergantung pada setiap pihak dari kita. Ia semestinya menjadi proyek terbuka untuk ditawar dan dipintal bersama agar kian merangkul agar setiap kita merasa memiliki saham di dalamnya. Baik oleh yang di pusat kuasa maupun yang di pinggiran. Baik oleh minoritas maupun mayoritas. Baik oleh yang berkata-kata besar maupun yang bungkam. Dengan demikian mimpi dan kerja-kerja kita semua menjadi kekuatan sinergis, berbeda-sekaligus-sejalan, dalam keindonesiaan yang lebih terhormat dan mendengarkan.
            Disadari atau tidak, dalam konteks membangun keindonesiaan inilah upaya pemberantasan korupsi yang sedang berlangsung dan pidato Presiden Yudhoyono pada Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Waisak baru lalu ditempatkan. Citra dan kenyataan sebagai bangsa yang korup sedang dilawan. "Jangan menjadi bangsa yang pemalas," katanya. Presiden pasti tidak menginginkan hari kebangkitan itu menjadi hari kebangkrutan. Begitu pula dengan pernyataan retorisnya, pada hari besar keagamaan itu, "Mengapa bangsa yang rajin sembahyang ritual ini juga rajin melakukan korupsi?" Beliau, juga sebagian besar dari kita, pasti tidak menginginkan hari keagamaan akhirnya menjadi hari kemunafikan. Di kesempatan lain beliau juga mengatakan "jangan menjadi bangsa pemarah dan suka kekerasan." Ini menyadarkan kita bahwa kita sudah lama tidak menjadi bangsa yang pendamai dan toleran. Pemerintah pada sisi ini sebenarnya juga sedang mengoreksi keindonesiaannya sendiri. Begitu pula, kita.
            Tapi semua ini tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah dan harus menjadi agenda dan gerak maju bagi seluruh anasir dan kekuatan berserak Indonesia. Pertanyaan dan renungan baru menyangkut keindonesiaan kita perlu diajukan terus menerus. Dan soal itulah yang akan menjadi fokus sarasehan dalam rangka peringatan 60 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini.
 
SARASEHAN
Sarasehan ini bukanlah seperti seminar pada umumnya di mana pembicara menyajikan paparannya tentang suatu hal dan masyarakat mendengarkan. Pembicara yang diharapkan aktif adalah para peserta yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Di depan atau di tengah, akan hadir fasilitator yang mengolah lalu lintas percakapan. Yang diharapkan bukanlah paparan ilmiah yang menjadi rujukan bagi semua orang. Sebaliknya yang diharapkan adalah semua konstruk pikiran, baik sederhana maupun kompleks yang muncul dari berbagai lapisan. Setiap peserta diharapkan menyampaikan pandangannya tentang keindonesiaan sesuai dengan kapasitas, latar belakang pengalaman dan identitas sosial masing-masing.
 
TUJUAN
Sarasehan ini diharapkan memunculkan gagasan keindonesiaan yang beragam. Berbagai lapisan masyarakat akan saling berbagi untuk menyantuni pengalaman dan pandangan keindonesiaan masing-masing, merenungkannya dan memperbaharuinya dalam kehidupan sehari-hari.
 
PENYELENGGARA:
Panitia Sarasehan 17 Agustus 2005
Ketua: Sri Margana (Leiden)
Sekretaris: Gogol Rusyanadi (Amsterdam) , Arief Tahsin (Woerden)
Bendahara: Sardjio Mintardjo (Leiden)
Acara: Helena (Leiden-Den Haag), Sudarmoko (Leiden), Heri Latief (Amsterdam)
Pembantu Umum: Muridan S. Widjojo (Leiden)
Dokumentasi: Marek Ave (Leiden), Pinta mawi (Almere), Reinhad. S (Den Haag)
Konsumsi: Esther.S, Esther Lumanauw (Utrecht)
Penyedia Sarana: Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Drs. Muhajir, MA. (KBRI)
 
LEMBAGA PENDUKUNG:
Indonesia Media, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Belanda, Perhimpunan Dokumentasi Indonesia, PPI Belanda, PPI Den Haag, PPI Leiden, PPI Mastricht, Sastra Pembebasan, Stichting Asia Studies (SAS), Stichting Indonesia Sejahtera (SIS), Yayasan Sapu Lidi,
 
FASILISATOR:
Agung Tri (Aktivis Perempuan, Aktivis Jaringan Kerja Budaya)
Martin van Bruinessen (Profesor, Universitas Utrecht)
Irwansyah (Mahasiswa I.S.S. Den Haag, Aktivis Politik Ekonomi)
 
PEMBICARA:
Masyarakat Indonesia yang bermukim di Belanda dari berbagai lapisan dan kelompok tanpa kecuali. Anda semua diharapkan kehadirannya dan bersedia menyampaikan pikiran dan renungan Anda tentang keindonesiaan kita.
 
SUSUNAN ACARA:
 
11.00  Pembukaan
         Ketua Panitia Sri Margana
 
11.15  Sepatah kata dari Dubes RI
          Duta Besar R.I Untuk Belanda Mohammad Jusuf
 
11.25  Mimbar Sastra (Awalan)
          Pembacaan Puisi
 
11.40  Sarasehan
          sesi ke 1 Fasilitator dan Peserta :
          Agung Tri, M van Bruijnesen, Irwansyah dan Hadirin
 
13.00  I S T I R A H A T 
 
14.00  Keindonesiaan kita 
          sesi ke 2  Fasilitator dan Peserta :
          Agung Tri, M van Bruijnesen, Irwansyah dan Hadirin
 
16.30 Mimbar Budaya
         Musik dan Nyanyi Indrawan Kamis dkk (Rika, Dus, Lussy Peilow, dkk).
 
16.50  Keindonesiaan kita 
          sesi ke 3 (Pameran Buku sekitar revolusi kemerdekaan 1945) 
          Gung Tri, M van Bruijnesen, Irwansyah
 
Pesan dan Kesan Sarasehan Keindonesiaan (Akhiran)
 
17.10  Acara bebas & Penutup
          Musik Kultur dan Budaya
          Helena.S, Sri Margana
 
KATA MEREKA TENTANG KEINDONESIAAN:
 
Francisca Fangidei, Angkatan 45, Mantan Aktivis Pemuda Sosialis Indonesia.
Saya 'bukan' orang Indonesia karena pendidikan yang disuntikkan kepada saya adalah kebudayaan Belanda. Itu pertumbuhan saya dari kecil sampai revolusi. Bahkan menyebut kata Indonesia saja tidak boleh. Itu sebutan komunis, itu di rumah. Ketika keluar rumah, di Surabaya saya melihat pemuda dengan bambu runcing, ada bendera merah-putihnya. Di situ keindonesiaan saya tergugah tapi itu hanya emosionil, sebenarnya apa itu, saya belum sadar. Ketika saya menjadi orang Indonesia saya baru mengerti. Saya keluar masuk penjara, harus berpisah dengan keluarga, dan harus berkorban. Itu adalah dari generasi saya, manis dan pahitnya, bahkan banyak pahitnya. Pada masa itulah keindonesiaan saya terbangun dengan kesadaran yang saya hadapi, di situlah saya lebih cinta dengan Indonesia , di situlah keindonesiaan saya sepanjang situasi up and down bagi Indonesia.
 
Mohamad Aboe Soedjak, Angkatan 60-an, Anggota dan mantan ketua PPI di Rumania 1960-1965.
Saya rasa dari setiap generasi ada keinginan atau terbangun dengan sendirinya, seperti pada generasi saya (pada saya) tidak ada itu terbangun oleh bung Karno atau dengan bambu runcing, sebab begitu saya membuka mata dan mengerti tidak ada perasaan dijajah Belanda, tidak ada dijajah Jepang dan tidak merasa rendah diri, yang ada melawan untuk kemerdekaan, saya membawa bambu runcing waktu masih kecil, cita-citanya cuman "nyate Belanda". Ngomong bahasa Belanda malu, sedangkan kalau bicara Belanda dianggap jongos Belanda. Kemerdekaan adalah didikan kita jadi kita bangga sebagai bangsa Indonesia.
Di luar negeri sewaktu saya menjadi mahasiswa, bangsa Indonesia itu dipuji-puji. Sewaktu akan ke luar negeri ada suatu pesan kepada kita semua bahwa kita harus tidak boleh memalukan bangsa.
Saya harus berani berjuang dan berkorban untuk rakyat Indonesia , itu bukan omong kosong karena keindonesiaan itu sudah terbangun di diri kita, sudah ada pada kita.
 
Muridan S. Widjojo, Generasi 90-an, Mahasiswa Program Doktoral Bidang Sejarah, Universitas Leiden. 
Sewaktu saya masih kuliah di UI akhir dasawarsa 80-an, saya dibuat secara politis 'marah' pertama-tama oleh penggusuran tanah rakyat di depan kampus UI. Setelah itu perasaan keindonesiaan saya seperti tumbuh menguat. Keindonesiaan pada masa saya tumbuh karena kegelisahan atas terjadinya penangkapan dan kesewenang-wenangan terhadap rakyat kecil. Aparat negara Orde Baru sangat kebal hukum waktu itu. Keindonesiaan saya juga tumbuh karena tidak terima dengan adanya diskriminasi terhadap keturunan Cina, minoritas etnis dan agama lainnya, dan juga terutama diskriminasi terhadap warga Indonesia yang dituduh terlibat atau memiliki hubungan keluarga dengan PKI. Keindonesiaan saya terpaksa tumbuh oleh berbagai soal politik dan memaksa saya menyediakan energi lebih besar untuknya, untuk keindonesiaan yang lebih merangkul dan mendengarkan.
 
Panitia Sarasehan Hari Kemerdekaan RI ke 60:
Alamat: Korenbloemlaan 59 2343 VB Oegstgeest
Tel: +31.071.5171920
     +31.071.5228209
HP: +31.617412517 (Margana)
    +31.654934754 (Arief)
Fax: +31.071.5171920
 


Start your day with Yahoo! - make it your home page

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke