Date: Thu, 04 Aug 2005 10:10:01 +0700
From: "Bentara Budaya Jakarta" <[EMAIL PROTECTED]>
To: Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: GUNTHER UECKER DI BENTARA BUDAYA JKT!!!
From: "Bentara Budaya Jakarta" <[EMAIL PROTECTED]>
To: Mira Wijaya Kusuma <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: GUNTHER UECKER DI BENTARA BUDAYA JKT!!!
Goethe-Institut Jakarta bekerjasama dengan Bentara Budaya Jakarta, Ifa
(Institut fur Auslandsbeziehungen), Visual Arts dan Perhimpunan Alumni
Jerman mengundang Anda untuk datang di acara pembukaan pameran karya:
GUNTHER UECKER
Eroffnung der Ausstellung in Anwesenheit des Kunstlers
Waktu:
Jumat/Freitag, 5 Agustus 2005
19.30 WIB
Bentara Budaya Jakarta
Jl.Palmerah Selatan No.17
Jakarta 10270
(021)5483008,5490666, ext.7911-13
PAMERAN AKAN DIHADIRI OLEH SENIMANNYA
Diskusi Panel/Podiumsdiskussion:
Sabtu/Samstag, 6 Agustus 2005
11.00 WIB
Tema/Thema: Battlefield Body
Pembicara/Sprecher:Gunther Uecker & Nirwan Dewanto
Moderator: Enin Supriyanto
Di Bentara Budaya Jakarta
Artist Talk (Hanya untuk undangan/Nur auf Einladung):
Minggu/Sonntag, 7 Agustus 2005
14.00 WIB
GARUDA
Jl.Pondok Gede Raya 40, persimpangan Taman Mini
Pondok Gede, Jakarta Timur
Pameran akan berlangsung sampai dengan tgl 21 Agustus 2005 mulai pukul
10.00-18.00
Die Austellung dauert bis zum 21 Agustus 2005 10-18.00 uhr
Günther Uecker di Jakarta
Tema saya ialah "Kehidupan dan Kematian", demikian tutur Günther Uecker
mengenai karya seninya. Dalam pengertian inilah karya-karya dalam
pameran "Manusia yang Teraniaya" : 14 alat pemuas" ini berada. Uecker
bereaksi terhadap "Luka manusia oleh manusia", lebih tepatnya kekerasan
terhadap orang asing di Jerman. Mencontoh fase-fase penyaliban Kristus,
Uecker mengembangkan 14 karya plastik dengan judul seperti "Jalan
hambatan", "Air mata putih", Tungku", "Kilang Penderitaan". Di dalam
lukisan-lukisan peringatannya yang dibuat dari papan kayu, kain linen,
paku, batu, debu, pasir dan kertas-kertas bertulis ini dia
mengungkapkan visi hidup dan kerinduannya dan mencoba menyingkapkan
kekuatan batiniah manusia: Agresifitas, luka dan kerusakan-kerusakan
diperhadapkan dengan mimik yang penuh damai. Uecker: "Inilah ungkapan
protes, pendirian dan kegelisahan saya, boleh dikata ini adalah potret
seorang seniman di Jerman".
Pembahasan tema seperti ini pasti sangatlah berguna untuk Indonesia,
karena ladang pembantaian tubuh dan penyalahgunaan manusia merupakan
bagian sedih sejarah Indonesia abad 20 yang tak terselesaikan.
"Tubuh, penderitaan dan seni" akan menjadi topik diskusi panel dengan
Günther Uecker pada tanggal 6 Agustus. Tanggal 7 Agustus bertempat di
Galeri pematung Dolorosa Sinaga, yang juga membahas tema tubuh, vanita
dan hak azasi manusia dalam karya-karyanya, akan diadakan artist talk,
yang akan dihadiri oleh seniman-seniman penting dari Bandung,
Yogyakarta dan Jakarta.
Tentang sang seniman:
Setelah hampir 50 tahun kehadirannya di pentas seni internasional,
Günther Uecker, kelahiran Mecklenburg tahun 1930 tidak hanya seorang
seniman yang paling sukses, namun juga paling dicintai dimasa sesudah
perang di Jerman. Secara rutin dia mendapat penghargaan internasional.
Nama Uecker tidak dapat dipisahkan dengan grup avangard legendaris
ZERO. Dengan peralihan yang radikal dari melukis di atas papan ke
objek-objek yang berpaku Uecker berhasil menemukan tujuan-tujuan
artistiknya dengan media yang sesuai. Ia telah tiga kali ikut ambil
bagian pada Documenta di Kassel. 1971 ia mewakili Jerman di Biennale
Venedig. 1988 dia mengatur retrospeksi-retrospeksi besar di Zentralen
Künstlerhaus Moskow, 1992 di museum abad ke 20 Wina dan 1993 di Hypo-
Kunsthalle, Munich. Uecker mendesain banyak gambar-gambar panggung
untuk Bayreuth, Stuttgart dan Berlin. Sangat mengesankan adalah sebuah
ruang kebaktian di Berliner Reichstag yang baru, yang didekorasi oleh
Uecker. Sebuah penghargaan seni termasyhur, Kaiserring der Stadt Goslar
(Cincin Kaiser dari kota Goslar), diperolehnya pada 1983. Uecker adalah
anggota ordo "Pour le Mérite".
Sehubungan dengan ulang tahun Uecker ke-75 tahun ini, Berlin, satu kota
yang sedang mencari peran barunya dalam mendamaikan Timur-Barat, telah
memberikan penghargaan khusus untuk karya seniman terbesar di seluruh
Jerman ini dengan mengadakan pameran "Günther Uecker - Zwanzig Kapitel"
dalam rangka Festival Berlin.
Günther Uecker hidup dan bekerja di Düsseldorf.
Kami nantikan kedatangan Anda!
Salam,
Bentara Budaya Jakarta
(Institut fur Auslandsbeziehungen), Visual Arts dan Perhimpunan Alumni
Jerman mengundang Anda untuk datang di acara pembukaan pameran karya:
GUNTHER UECKER
Eroffnung der Ausstellung in Anwesenheit des Kunstlers
Waktu:
Jumat/Freitag, 5 Agustus 2005
19.30 WIB
Bentara Budaya Jakarta
Jl.Palmerah Selatan No.17
Jakarta 10270
(021)5483008,5490666, ext.7911-13
PAMERAN AKAN DIHADIRI OLEH SENIMANNYA
Diskusi Panel/Podiumsdiskussion:
Sabtu/Samstag, 6 Agustus 2005
11.00 WIB
Tema/Thema: Battlefield Body
Pembicara/Sprecher:Gunther Uecker & Nirwan Dewanto
Moderator: Enin Supriyanto
Di Bentara Budaya Jakarta
Artist Talk (Hanya untuk undangan/Nur auf Einladung):
Minggu/Sonntag, 7 Agustus 2005
14.00 WIB
GARUDA
Jl.Pondok Gede Raya 40, persimpangan Taman Mini
Pondok Gede, Jakarta Timur
Pameran akan berlangsung sampai dengan tgl 21 Agustus 2005 mulai pukul
10.00-18.00
Die Austellung dauert bis zum 21 Agustus 2005 10-18.00 uhr
Günther Uecker di Jakarta
Tema saya ialah "Kehidupan dan Kematian", demikian tutur Günther Uecker
mengenai karya seninya. Dalam pengertian inilah karya-karya dalam
pameran "Manusia yang Teraniaya" : 14 alat pemuas" ini berada. Uecker
bereaksi terhadap "Luka manusia oleh manusia", lebih tepatnya kekerasan
terhadap orang asing di Jerman. Mencontoh fase-fase penyaliban Kristus,
Uecker mengembangkan 14 karya plastik dengan judul seperti "Jalan
hambatan", "Air mata putih", Tungku", "Kilang Penderitaan". Di dalam
lukisan-lukisan peringatannya yang dibuat dari papan kayu, kain linen,
paku, batu, debu, pasir dan kertas-kertas bertulis ini dia
mengungkapkan visi hidup dan kerinduannya dan mencoba menyingkapkan
kekuatan batiniah manusia: Agresifitas, luka dan kerusakan-kerusakan
diperhadapkan dengan mimik yang penuh damai. Uecker: "Inilah ungkapan
protes, pendirian dan kegelisahan saya, boleh dikata ini adalah potret
seorang seniman di Jerman".
Pembahasan tema seperti ini pasti sangatlah berguna untuk Indonesia,
karena ladang pembantaian tubuh dan penyalahgunaan manusia merupakan
bagian sedih sejarah Indonesia abad 20 yang tak terselesaikan.
"Tubuh, penderitaan dan seni" akan menjadi topik diskusi panel dengan
Günther Uecker pada tanggal 6 Agustus. Tanggal 7 Agustus bertempat di
Galeri pematung Dolorosa Sinaga, yang juga membahas tema tubuh, vanita
dan hak azasi manusia dalam karya-karyanya, akan diadakan artist talk,
yang akan dihadiri oleh seniman-seniman penting dari Bandung,
Yogyakarta dan Jakarta.
Tentang sang seniman:
Setelah hampir 50 tahun kehadirannya di pentas seni internasional,
Günther Uecker, kelahiran Mecklenburg tahun 1930 tidak hanya seorang
seniman yang paling sukses, namun juga paling dicintai dimasa sesudah
perang di Jerman. Secara rutin dia mendapat penghargaan internasional.
Nama Uecker tidak dapat dipisahkan dengan grup avangard legendaris
ZERO. Dengan peralihan yang radikal dari melukis di atas papan ke
objek-objek yang berpaku Uecker berhasil menemukan tujuan-tujuan
artistiknya dengan media yang sesuai. Ia telah tiga kali ikut ambil
bagian pada Documenta di Kassel. 1971 ia mewakili Jerman di Biennale
Venedig. 1988 dia mengatur retrospeksi-retrospeksi besar di Zentralen
Künstlerhaus Moskow, 1992 di museum abad ke 20 Wina dan 1993 di Hypo-
Kunsthalle, Munich. Uecker mendesain banyak gambar-gambar panggung
untuk Bayreuth, Stuttgart dan Berlin. Sangat mengesankan adalah sebuah
ruang kebaktian di Berliner Reichstag yang baru, yang didekorasi oleh
Uecker. Sebuah penghargaan seni termasyhur, Kaiserring der Stadt Goslar
(Cincin Kaiser dari kota Goslar), diperolehnya pada 1983. Uecker adalah
anggota ordo "Pour le Mérite".
Sehubungan dengan ulang tahun Uecker ke-75 tahun ini, Berlin, satu kota
yang sedang mencari peran barunya dalam mendamaikan Timur-Barat, telah
memberikan penghargaan khusus untuk karya seniman terbesar di seluruh
Jerman ini dengan mengadakan pameran "Günther Uecker - Zwanzig Kapitel"
dalam rangka Festival Berlin.
Günther Uecker hidup dan bekerja di Düsseldorf.
Kami nantikan kedatangan Anda!
Salam,
Bentara Budaya Jakarta
Start your day with Yahoo! - make it your home page
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
SPONSORED LINKS
| Culture | Indonesia | Juli |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

