Tetap Menulis di Usia 82 Tahun
Berikut
di bawah ini adalah kiriman dari
Sdr Yuli Ahmada, tentang pengalaman seorang Sukarnois yang bekerja di Angkatan
Laut. Sesudah terjadi G30S ia ditangkap dan kemudian dipenjarakan dan di Pulau
Buru- kan. Sesudah dibebaskan, dalam usianya yang lanjut, ia melewatkan sisa
hidupnya dengan banyak menulis. Tulisan ini dikirim kepada [EMAIL PROTECTED] dalam rangka
menyambut seruan untuk berpartisipasi dalam mengisi rubrik « 40 tahun
peristiwa 65 » dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak.
CERMIN AIR
Oleh:
Yuli Ahmada
Yushak
Edgar Satoehoe, 81, mantan tahanan politik (tapol) selama 12 tahun, menerbitkan
memoarnya di Belanda, April 2004. Bagaimana latar kehidupan warga Bendul Merisi
itu?
NAMA
panggilannya cukup Satoehoe. Ia lahir di Batu, Malang, April 1923.
Tanggalnya lupa, kata Satoehoe kepada
saya di rumahnya, Jl Bendul Merisi Selatan, Surabaya, Jumat
(4/6/2004). Bapak empat anak itu berbaring di ranjang bertikar rotan tak
jauh dari Ilmu, nama anjingnya, yang dirantai di pagar rumah. Ranjangnya berada
di samping rumah yang umumnya untuk garasi. Di sisi kanan ranjang, tertata rapi
buku-buku tentang sejarah dunia, sastra, ensiklopedi, hingga buku masyhur
War and Peace karangan penulis Rusia,
Leo Tolstoy.
Ada juga otobiografi Bung Karno sebagaimana dituturkan kepada Cindy Adams versi bahasa Inggris. Mayoritas bukunya berbahasa asing; Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman. Hingga kini, ia memang fasih bercakap dan menulis dalam empat bahasa asing itu. Satoehoe suka berkaos oblong dan bercelana seputih rambutnya. Sabuk kulit kuno selebar lima jari senantiasa melingkari pinggangnya yang ceking.
Ya
hanya ini yang saya punya, katanya. Tapi, dari garasi rumah seorang anaknya
itulah, pria keturunan patih Kadipaten Trenggalek di akhir abad 18 ini berbicara
kepada publik Belanda. Memoar ini saya tulis sendiri (dalam bahasa Belanda)
tapi ada pembenahan sedikit, kata Satoehoe. Ia lantas menunjukkan buku
bersampul kuning setebal 200 halaman. Judulnya, De Waterspiegel: Memoires
van een Indonesier. Arti literalnya, Cermin Air: Memoar Seorang Warga
Indonesia. Buku itu diberi kata pengantar oleh Frank Neijndorff, warga
keturunan Belanda-Yahudi- Eurasia yang bermukim lama di Surabaya tapi sekarang
di Belanda.
Saya
belum pernah bertemu Frank, akunya. Frank pernah menelepon dan menyebutkan honor dan royalti yang akan diterima tapi
Satoehoe tak peduli. Ia hanya ingin eksistensinya diakui. Kisah paling tragis
dalam memoar itu tentu seputar penahanan sementara Satoehoe selama 12 tahun
(1965-1977) mulai dari Penjara Kalisosok, Nusakambangan hingga Pulau Buru.
Perkaranya dalam pelanggaran pidana politik tidak memerlukan penahanan
sementara lebih lanjut, demikian bunyi pertimbangan dalam surat perintah
pembebasannya tertanggal 27 Desember 1977. Surat itu diteken Kolonel CPM R Doddy
Widodo ST atas nama Pelaksana Khusus Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban Daerah Jatim. Lalu, atas sangkaan apa ia ditahan? Lho, ya tanyakan
saja kepada yang bikin! sergahnya.
Satoehoe ingin menerbitkan lagi memoarnya
dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Dia minta pertimbangan Omar Dani, teman
sekelasnya semasa SLTA di Jogjakarta. Sejarah mencatat, Laksamana Madya Udara
Omar Dani adalah Menteri/Panglima AU zaman Bung Karno. Setelah dipenjara selama
29 tahun 4 bulan dan bebas pada 17 Agustus 1995, Omar Dani juga bikin buku pada
2001 yang peluncurannya dihadiri Megawati Soekarnoputri, kala itu wakil
presiden. Saya kirim surat ke Omar Dani. Saya ingatkan kesukaannya beli kopi di
Jogja. Dia tentu ingat, wong dia juga sering menanyakan kabar saya, ungkap
Satoehoe.
Wy
willen van Kaliurang een militaire stad maken!"
"Kita
mau membangun kota militer di Kaliurang"
Begitulah
ucapan Kapten Soeharto kepada Letnan Yushak Edgar Satoehoe di tahun 1946. Saat
itu, mereka bertemu di rumah tokoh Masyumi, Dr Soekiman, di Kaliurang,
Jogjakarta. Si letnan tak menanggapi ide gila si kapten karena saat itu serdadu
Belanda bertebaran di Kaliurang. Sejarah mencatat, ide gila itu jadi kenyataan
tatkala Kapten Soeharto akhirnya jadi presiden Indonesia selama tiga dekade.
"Tapi, militaire stad (kota militer) itu lama-lama menjadi militaire staat,
negara militer," kata Satoehoe. Ia menerangkan, Soeharto bisa berbahasa Belanda.
Satoehoe
merasa ingat betul kutipan di atas tadi sehingga lancar saja ketika saya minta
menuliskan ulang di buku catatan saya. Kala itu, Satoehoe di Jogjakarta sebagai
serdadu muda yang ikut melawan Agresi Militer I Belanda --aksi yang juga memicu
unjuk rasa aktivis antiperang di Amsterdam-. Sembilan belas tahun setelah
peristiwa itu, Indonesia berdarah-darah akibat pergesekan ideologi. Para
jenderal TNI-AD dibantai pada dini hari 30 September 1965.
Soeharto
yang tak lagi kapten tampil sebagai protagonis. Antagonisnya, semua hal berbau
kiri atau PKI. Soeharto dalam pidato publiknya, mengatakan, "Kesabaran Angkatan
Darat ada batasnya. Mendengar hal itu, Satoehoe mencium gelagat tak beres
mengingat kenekatan Soeharto di Kaliurang tahun 1946 tadi.
Atas
perintah Soeharto, jam malam diberlakukan di mana-mana. Tapi, Satoehoe yang
tinggal di Jl Lesti 18, Surabaya, tak menggubris. "Saya malah mengadakan open
house, semua orang berkumpul siang dan malam," kenangnya. Tujuannya, menunjukkan
perlawanan politik sekaligus menyatakan tetap setia pada Bung Karno. "Saya bukan
PKI, saya individual yang mendukung Nasakom (nasionalis-agama-komunis)," kata
Satoehoe.
Status
sosial Satoehoe zaman itu cukup terpandang meski tak aktif dalam organisasi
apapun. Ia juga punya karir bagus sebagai Kepala Dinas Tata Laksana Umum
Penataran Komando Angkatan Laut (Konatal). Tapi, akibat open house tadi,
Satoehoe diciduk tanpa surat penangkapan. Sesudah itu, karirnya hancur dan
keluarganya kelabakan. Istrinya baru tahu Satoehoe masih hidup setelah beberapa
tahun kemudian. Selama dalam penjara, teror paling kejam adalah minimnya ransum:
hanya nasi delapan sendok kecil per hari. "Saya bersyukur bisa survive
sampai seperti sekarang ini," katanya. Setelah bebas 1997, Satoehoe jadi
penerjemah di sebuah perusahaan di Kalimantan, termasuk menerjemahkan buku asing
ke bahasa Indonesia. Antara lain yang sekarang digarap tentang Voltaire, pemikir
besar dunia.
Pada
2002 lalu, Satoehoe menyurati PT PAL yang dianggapnya sebagai kelanjutan
Konatal. Inti surat, meminta namanya direhabilitasi karena Konatal dulu memecat
setelah dirinya ditahan. "Sampai sekarang tidak ada tanggapan," kata pengagum
bekas Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur ini.
Pada
usia senja ini --lahir 1923 atau empat bulan lebih tua daripada Ny Tien
Soeharto-- Satoehoe tetap menunggu peradaban makin beradab. Dari ranjangnya yang
bertikar rotan, Satoehoe kembali berbisik, "Saya hanya menulis sejarah mikro,
sejarah saya sendiri. Saya seniman yang melukis, tidak pada kanvas tapi pada
pengalaman hidup."
(Tulisan
ini pernah dimuat dalam
Harian Surya
8-9 Juni 2004.)
* *
*
Tetap Menulis
di Usia 82 Tahun
Surat kabar The Jakarta Post edisi
Minggu 24 Juli 2005 semestinya dapat dibaca Yushak Edgar Satoehoe di hari Minggu
itu pula. Namun, entah mengapa, si tukang koran baru mengantar ke rumahnya di
Jl Bendul Merisi Selatan, Surabaya,
sehari sesudahnya. Satoehoe lalu membuka halaman demi halaman surat kabar
berbahasa Inggris itu. Sesekali ia
membikin betul letak kacamatanya. Ukuran huruf koran itu teramat lembut bagi
mata telanjang Satoehoe yang kini berusia 82 tahun, lahir di Kota Batu, April
1923.
Ia lalu melepas kacamatanya setelah
yakin nama dan karyanya tak dimuat
di koran itu. "Saya kirim ini belum lama. Saya sengaja minta dimuat untuk edisi
Minggu," katanya, menunjukkan paper berjudul The Prisoner of Kalisosok kepada Surya,
Senin (25/7/2005). Paper itu berisi tentang kisahnya selama menghuni penjara
Kalisosok, bertahun-tahun tanpa peradilan kecuali stigma bahwa dia berhaluan
komunis. Kalisosok hanya salah satu penjara yang ia cicipi selama 12 tahun. Ia
pernah menjajal Nusakambangan dan Pulau Buru.
Satoehoe hanya bagian dari sedikit
orang yang mampu mengingat
peristiwa kelam lantas menuliskannya, tidak dalam bahasa Indonesia. Pada
April 2004 lalu, bukunya berjudul De Waterspiegel: Memoires van een Indonesier
yang berarti Cermin Air: Memoar Seorang Indonesia diterbitkan di Belanda.
Satoehoe sendiri yang menuliskannya
dalam bahasa Belanda. Ia memang menguasai dengan baik bahasa Belanda, Inggris,
Jerman dan Prancis. "Saya merasa lebih bisa mengungkapkan dalam bahasa
Belanda daripada Indonesia,"
akunya. Itu sebabnya, Satoehoe juga menulis artikel untuk The Jakarta Post.
Aktivitas menulis itu bukan semata
demi eksistensi tapi juga demi ongkos hidup. Bukankah punya anak cucu? "Ya, tapi
saya tidak boleh tergantung. Mereka sukses kan bukan sebagian besar karena saya,
wong saya meninggalkan mereka sampai 12 tahun (di penjara)," tukasnya. Honor
tulisannya tidak melimpah tapi lebih dari cukup untuk Satoehoe untuk sekadar
membeli susu berkalsium atau berlangganan koran, di samping memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari.
Selain menulis buku dan artikel untuk koran, Satoehoe punya kesibukan lain. "Ini, saya diminta wartawan kenalan anak angkat saya, untuk menerjemahkan buku tentang rekayasa gen," katanya. Lalu ditunjukkannya sebuah fotokopi buku berbahasa Inggris dan hasil terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Hasil terjemahannya bagus meski tulisan tangannya agak sulit dibaca bila tidak terbiasa. "Tapi kalau ada istilah-istilah teknis, saya lewati," katanya. Menulis dan terus menulis. Itulah yang kini dilakukan seorang bekas Kepala Dinas Tata Laksana Umum Penataran Komando Angkatan Laut
(Konatal) itu di hari tuanya. (yuli ahmada)
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
| Culture | Indonesia | Juli |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

