[Undangan Praktek Konsultasi] Pendidikan Formal, Perlukah?
Pendidikan Formal, Perlukah? Oleh: Audifax ...but the book always burn and the story take its turn and leaves a broken man. --dikutip dari lagu So Fine Guns NRoses-- Pendidikan formal seolah menjadi mitos bagi kesuksesan karir. Selepas SMU, banyak orang berusaha melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, apa yang mereka peroleh di perguruan tinggi ?. Mereka dicetak untuk menjadi makhluk yang hanya bergulat mengejar angka dan diperlakukan tak lebih dari sekedar angka. Selepas mereka mendapatkan gelar sarjana dan menjalani ritual wisuda, ternyata mereka masih menghadapi permasalahan ketidaksiapan memasuki dunia kerja. Sebuah dunia di mana realita mengambil alih semua teori yang pernah diajarkan. Ivan Illich mengatakan bahwa sekolah dengan segala sistem dan keteraturan yang diciptakan di dalamnya, membuat kita tidak mampu membedakan proses dari substansi. Begitu kedua hal ini proses dan substansidicampuradukkan, muncul logika baru: semakin banyak pengajaran semakin baik hasilnya; atau, menambah materi pengetahuan akan menjamin keberhasilan. Akibatnya, murid menyamakan begitu saja pengajaran dengan belajar, naik kelas dengan pendidikan, ijazah dengan kemampuan, dan kefasihan berceloteh dengan kemampuan mengungkapkan sesuatu yang baru. Kita dibiasakan untuk menerima pelayanan, bukannya nilai. Ketidakmampuan membedakan antara proses dan substansi membuat banyak mahasiswa kehilangan kepekaan atau daya kritis terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Tidak ada kejelian untuk melihat ketidakberesan pada suatu fenomena atau keberanian untuk mengatakan pemikiran yang berbeda dari apa yang telah ditetapkan sebagai kebenaran oleh pemegang otoritas. Mahasiswa diajar hanya untuk menerima suatu hasil tapi bukan berproses untuk memperoleh suatu hasil, mendengar tapi bukan memahami, mengingat tapi bukan menerapkan. Itulah yang membuat begitu banyak mahasiswa yang kesulitan ketika mengerjakan skripsi, karena mereka mengalami kesulitan mengintegrasikan apa yang telah dipelajari untuk kemudian diterapkan dalam pembuatan skripsinya. Ini sejalan dengan keluhan dari perusahaan-perusahaan yang melihat bahwa begitu banyak lulusan perguruan tinggi yang belum siap pakai di dunia kerja. Di perguruan tinggi, mahasiswa diajar bahwa kegiatan belajar yang bernilai adalah hasil kehadiran di sekolah; bahwa nilai belajar meningkat bersamaan dengan jumlah masukan; dan akhirnya bahwa nilai ini dapat diukur dan didokumentasikan oleh angka dalam KHS dan sertifikat kelulusan. Pengalihan tanggung jawab dari diri manusia ke lembaga ini menunjukkan adanya kemunduran sosial, terutama kalau hal ini diterima sebagai sebuah kewajiban. Nilai-nilai yang telah dilembagakan serta ditanamkan dalam diri mahasiswa merupakan nilai yang sifatnya kuantitatif. Perguruan tinggi mereduksi predikat maha-siswa dan segala kebernilaian sebagai manusia ke dalam angka-angka; dan mahasiswa pun mendapat perlakuan tak lebih dari angka-angka. Mahasiswa dengan IPK yang rendah akan dikonstruksi memiliki kebernilaian yang lebih rendah dibanding mahasiswa yang lebih tinggi IPK-nya. Padahal kebernilaian hidup serta perkembangan pribadi seseorang tidak dapat direduksi begitu saja dalam angka. Kehadiran, bukan kebernilaian Di bawah pengawasan dosen yang penuh kuasa, beberapa tatanan nilai dilebur menjadi satu. Pembedaan antara moralitas, legalitas, dan harga diri menjadi absurd dan perlahan lenyap. Aturan absensi yang mengharuskan murid hadir di kelas menyebabkan kelas menjadi rahim magis. Dari rahim inilah secara periodik anak dilahirkan setelah menyelesaikan kehadirannya di kelas. Dosen pun menempatkan diri sebagai mesias yang menggembalakan mahasiswa dalam ritual kepatuhan yang tidak bisa dilanggar. Mahasiswa hanya berkembang sebatas memenuhi tolok ukur dan berada dalam batasan yang dikehendaki. Mengabaikan begitu saja pengalaman-pengalaman berharga yang dialami dalam hidup yang tidak bisa dikuantifikasi. Bagi sekolah, apa yang tidak bisa diukur menjadi hal yang tidak penting untuk diperhitungkan. Kreativitas menjadi sebatas jargon, karena pada faktanya kita hanya diajar untuk menghargai hal yang telah dikerjakan atau yang menurut ukuran para pendidik bisa dikerjakan. Ideologi ini disebarkan di ruang-ruang perkuliahan melalui penaklukan moral dan intelektual, serupa dengan penjelasan Antonio Gramsci mengenai hegemoni. Pembentukan opini publik, yang dalam hal ini segenap sivitas akademika merupakan hal yang sentral dalam prinsip hegemoni. Dosen maupun kepala jurusan, menjadi institusi-institusi yang berperan luas dalam menyebarkan hegemoni ideologi. Prinsip hegemoni, dengan demikian, dibangun di atas sebuah landasan yang terbentuk antara kelompok berkuasa dan kelompok yang dikuasai. Seorang rekan saya di Fakultas Psikologi dari sebuah Universitas Swasta Ternama di Surabaya, mengatakan pada saya bahwa dirinya dan sejumlah mahasiswa merasa dimanfaatkan oleh fakultas ketika wakil dekan meminta mereka untuk lulus cepat agar Fakultas tersebut memenuhi target jumlah mahasiswa cum laude. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa sebenarnya sudah direduksi hanya menjadi sekedar angka-angka dan ritual kuliah sudah menjadi alat bagi pihak pemegang otoritas untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Ruang-ruang untuk tumbuh dengan berdasar kesadaran diri telah tercerabut demi kepentingan-kepentingan penguasa. Sekolah: sebuah ritual pemasaran Ritual penyelenggaraan sekolah itu sendiri merupakan suatu kurikulum terselubung. Bahkan guru-guru terbaik sekalipun tidak melindungi muridnya dari kenyataan ini. Sekolah adalah sebuah arena permainan yang menyaring melalui tatanan, selanjutnya hanya orang-orang yang pada tahap sebelumnya dari permainan ini telah terbukti tidak menimbulkan resiko bagi sistem yang telah mapan, yang akan mampu bertahan. Pada akhirnya, hasil kurikulum adalah sebundel makna yang telah direncanakan, sepaket nilai, suatu komoditas. Ini dipakai sebagai dasar untuk membenarkan besarnya biaya produksi kurikulum. Mahasiswa sebagai konsumen diajar untuk menyesuaikan keinginan mereka dengan nilai yang dapat dipasarkan. Maka mereka dikondisikan untuk merasa bersalah jika tidak berperilaku sebagaimana diprediksi oleh penelitian konsumen dengan memperoleh angka rapor dan sertifikat yang akan menempatkan mereka pada kategori pekerjaan yang telah diramalkan untuk mereka. Mahasiswa hanya mengejar angka (kuantitas) dan bukan kualitas. Lulus cepat, IPK tinggi, atau predikat yang marketable seperti : cum laude, summa cum laude. Demikian pula pihak sekolah, mereka hanya mengejar angka kelulusan karena pencapaian target jumlah kelulusan dalam angka tertentu akan memberi kontribusi bagi akreditasi, legitimasi yang menjadi ukuran seberapa marketable produk pendidikan yang dihasilkan. Saya pribadi prihatin ketika seorang dosen dari perguruan tinggi swasta ternama di Surabayayang selain mengajar kebetulan juga menjabat dekan!dengan bangganya mengatakan bahwa dirinya membimbing skripsi dari 67 mahasiswa. Pertanyaan yang timbul, seberapa ukuran kualitas dari mahasiswa tersebut dapat dipertanggungjawabkan? Seberapa penelitian skripsinya memang benar-benar bermanfaat dan bukan hanya sekedar ritual kelulusan? Fenomena ini menjawab pertanyaan mengapa lulusan S-1 cenderung tidak siap pakai di dunia kerja. Ini karena mereka sama sekali tidak pernah belajar meningkatkan kualitas. Di masa perkuliahan mereka tidak lebih dari sekedar entitas yang terjebak dalam angka. Ketika terjun di masyarakat pun mereka hanya mengejar kategori-kategori pekerjaan yang dapat mengembalikan angka yang telah dikeluarkan olehnya semasa sekolah. Ketika untuk waktu yang lama dia gagal menemukan sebuah tempat kerja yang setimpal dengan angka yang dikeluarkan untuk pendidikan fornalnya, maka situasi ini akan membawanya pada suatu depresi. Refleksi Perguruan Tinggi tak ubahnya sebuah arena perjudian. Kesempatan-kesempatan boleh jadi sangat tipis, namun setiap pemain menembak untuk hadiah yang sama. Pada kondisi ini, layaknya dunia judi, orang yang lebih menguasai modal yang pada akhirnya menang. Sementara di sisi lain, penyelenggara pendidikan memancing naluri berjudi, dengan mengiklankan janji-janji tanpa menyebutkan rintangan-rintangan seraya menutupi kebusukan serta kelemahan institusinya. Ketika individu masuk menjadi warga civitas akademika di sebuah perguruan tinggi, maka mulailah mereka terjebak dalam arus keseharian yang mematikan esensinya sebagai manusia. Mereka hanya menjadi angka dan tak lebih dari angka. Hanya kesadaran untuk menegakkan kendali manusia atas lingkungannya yang mampu merubah keadaan ini. Kemampuan membedakan antara real-value dan pseudo-value yang ditawarkan oleh para pendidik adalah hal yang penting. Esensi pendidikan mestinya diletakkan di atas pondasi kebutuhan naluriah manusia yang selalu ingin mengetahui dan berusaha lebih baik melalui suatu perolehan pengetahuan. NB Penulis akan memberikan layanan konsultasi untuk tema sejenis pada hari Sabtu,27 Agustus 2005 dalam acara Seni Metafisika dan Konsultasi ; Tarot, Konseling dan Penyembuhan. Silahkan baca undangan selengkapnya yang kami lampirkan di dalam email ini. ____________________________________________________ * Peneliti; Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA) Surabaya Undangan Umum & Pers Seni Metafisika dan Konsultasi ; Tarot, Konseling dan Penyembuhan =============================================================== N O T E : 1. Untuk Pers yang Meliput (Wartawan Majalah, Koran, Tabloid, TV, dsb...) Konsultasi & Wawancara GRATIS !!! Wajib mencantumkan/menyebutkan nama lengkap praktisi ybs. di dalam liputan anda dan nama paguyuban [EMAIL PROTECTED] 2. Spanduk yang akan kami gunakan dalam stand acara bertuliskan:Seni Metafisika ; Tarot dan Penyembuhan mohon maaf kami belum membuat spanduk yang baru. 3. Praktisi yang tampil merupakan member dari paguyuban [EMAIL PROTECTED] dan APMI:: Asosiasi Praktisi Metafisika di Internet (asosiasi tidak resmi dan tidak berbadan hukum). Kami secara rutin mengadakan acara sejenis +/- sekali dalam sebulan, informasi acara disebarluaskan melalui [EMAIL PROTECTED] http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join 4. Update Informasi acara, Klik: http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/10549 7x24 Hours Costumer Service Representative Vincent Liong * Vincent Liong's Mobile: (62)813-1679-5160 * Leonardo Rimba's Mobile: (62)818-183-615 * Rizki Pradanas Flexi: (62-21)7055-2394 Phone&Fax: (62)21-5482193,5348567,5348546 Address: Jl. Ametis IV blok:G no:22 Permata Hijau, Jakarta Selatan 12210 Indonesia. =============================================================== Acara ini merupakan bagian dari acara: Festival Kesenian Kota Tua dan Pecinan Bakti Sosial dilakukan oleh praktisi Metafisika dan ahli Konsultasi kami dengan metode-nya ala masing-masing. Pengunjung / calon pasien dipersilahkan untuk memilih praktisi pilihannya secara bebas. Pengunjung juga boleh sepuasnya berkonsultasi dengan lebih dari satu praktisi berbeda asalkan bersedia mengantri dan mau membayar biaya konsultasi. Biaya 1x konsultasi: Rp.25.000,-/ 10 menit/ 3 pertanyaan ;dibayarkan secara langsung kepada praktisi. Tujuan acara ini adalah Bakti Sosial; Di luar acara ini para praktisi kami memasang tarif yang jauh lebih tinggi daripada tarif di acara ini. Dalam acara ini, praktisi-praktisi kami akan memberikan layanan konsultasi dalam bahasa: * Bahasa Indonesia * Bahasa Inggris * Bahasa Jepang * Bahasa Prancis Hari/tanggal: Sabtu/ 27 Agustus 2005 Waktu: pukul 9:00 (Pagi) s/d pukul 17:00 (Sore) Tempat: Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Jl. Fatahillah No. 1, Jakbar. (Depan Stasiun KA Kota) (Bagi yang naik Busway bisa turun di halte Stasiun Jakarta Kota.) Dalam acara ini praktisi yang sudah conform akan praktek diantaranya: - Seni Metafisika- * Drs. Leonardo Rimba, MBA Ramal Tarot dan Introduction untuk penyembuhan Kecanduan Narkoba Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. * Liong Vincent Christian Konseling dan penyembuhan untuk anak bermasalah, Konsultasi pencaharian solusi dan spiritual healing (untuk fisik dan non fisik) & Tarot Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. * Rizki Pradana Tebak-tebakan Nasib dengan atau tanpa Tarot, Spiritual Konseling & Motivator Solusi Mandiri. Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia dan Prancis. * Mr. Byron Black (Bule Texas warga negara Kanada) Melihat sebuah wajah secara langsung atau melalui foto dan memperoleh informasi tentang pemilik wajah tersebut yang tidak bisa terlihat begitu saja oleh orang lain; termasuk disini info tentang: * Kesehatan tubuh dan pikiran. Kredibilitas dalam bisnis * Kedekatan tempat dan niat * Keinginan dan potensi sebagai pasangan romantis Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia, Jepang dan Inggris. * Ratna Hidayati (redaktur Koran Tokoh group Bali Post) Ramal Tarot & Motivator Solusi Mandiri. Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. * Yoddy Hendrawan Penyembuhan dengan tenaga dalam. Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia. * Nyai Wiwi Khusus konsultasi problema perCINTAan anda. Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia dan Jepang. -Seni Konsultasi Mencari Solusi- * Audifax,S.Psi. (Ilmuan Psikologi (S1)) Konsultasi Pendidikan, Perkembangan & Motivator Solusi Mandiri. Melayani konsultasi dalam bahasa Indonesia. * Ferre Templar (Mahasiswa Psikologi) * Evan (Mahasiswa Psikologi) >> dan lain-lain (Nama Praktisi akan menyusul dalam pengumuman kami selanjutnya ) Program ini dipersembahkan oleh: Asosiasi Praktisi Metafisika di Internet (APMI) & Paguyuban Vincent Liong http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join Informasi lebih lanjut hubungi: 7x24 Hours Costumer Service Representative Vincent Liong * Vincent Liong's Mobile: (62)813-1679-5160 * Leonardo Rimba's Mobile: (62)818-183-615 * Rizki Pradanas Flexi: (62-21)7055-2394 Phone&Fax: (62)21-5482193,5348567,5348546 Address: Jl. Ametis IV blok:G no:22 Permata Hijau, Jakarta Selatan 12210 Indonesia L A M P I R A N Surat Perjanjian Kami yang berpartisipasi dalam acara ini: * Drs. Leonardo Rimba, MBA * Liong Vincent Christian * Rizki Pradana * Audifax,S.Psi. * Ferre Templar * Evan Berjanji, bahwa: 1. Kami tidak akan menggunakan istilah-istilah Psikologi yang telah menjadi hak cipta dari lembaga pendidikan dan praktisi Psikologi di tanah air. 2. Meskipun beberapa diantara kami adalah mahasiswa Psikologi, hami berjanji bahwa kami tidak akan menggunakan segala macam ilmupengetahuan yang kami pelajari selama kami berada di fakultas Psikologi dalam praktek dan konseling ini, karena hal itu melanggar HUKUM yang berlaku di Indonesia. 3. Kami melakukan praktek tidak sebagai Psikolog. Kami adalah dukun, paranormal, konsultan yang memberikan layanan konsultasi mencari solusi dengan penjelasan-penjelasan menggunakan logika yang sederhana dan rasional disesuaikan dengan pemahaman pasien kami, dimana pekerjaan kami ini tidak ada hubungan dengan lembaga Psikologi. 4. Ilmupengetahuan yang kami gunakan dalam memberikan pelayanan kami kami peroleh dari pengalaman kami sebagai ahli konseling tidak resmi dan tidak berbadan hukum, pengembangan logika dasar kami sendiri, dan interaksi kami dengan sesama manusia dan yang bukan manusia di sekitar kami, bukan dari belajar teori Psikologi. Surat perjanjian ini perlu saya tulis dengan jelas karena kami tidak ingin melanggar hukum atau dikenali sangsi hukum. Kami adalah dukun, paranormal, konsultan yang memberikan layanan konsultasi mencari solusi yang sadar hukum. NOTE: Dalam hukum Indonesia seorang mahasiswa Psikologi baru boleh melakukan konseling dan praktek setelah 6-7tahun belajar teori saja sampai lulus S2 Psikologi. Selama menempuh pendidikan S1 dan S2 Psikologi seorang mahasiswa hanya boleh berkecimpung di hal pembahasan teori tanpa berhadapan dengan pasien manusia asli secara langsung. Bagi mahasiswa dan S1 Psikologi yang ingin mengikuti pilihan kami untuk menjadi orang lapangan (bukan hanya ngerti di teori dan punya ijasah doank) praktek langsung mencari uang sebagai dukun, paranormal, konsultan (yang memberikan layanan konsultasi mencari solusi dengan penjelasan-penjelasan menggunakan logika yang sederhana dan rasional disesuaikan dengan pemahaman pasien kami) silahkan bergabung dalam Paguyuban Vincent Liong http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/join ikuti diskusi yang berjalan secara aktif, lontarkan ide-ide anda secara bebas. Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/IotolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat) *************************************** sekretariat: JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia telp/fax: +62218292842 email:<[EMAIL PROTECTED]> People's Cultural Network "Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!" Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jaker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

