Penghancur-binasaan Internasional
Tingkap : Sekitar Tembok Berlin (24)
Oleh : A. Kohar Ibrahim
Lagu-lagu perjuangan adalah lagu perjuangan. Disebut demikian lantaran kelahirannya dalam perjuangan kehidupan masyarakat manusia yang tak kunjung padam dari zaman ke zaman. Apakah kelahir-hadirannya secara lokal, nasional, regional ataukah internasional. Seperti contoh tipikalnya lagu « Internasional ».
Akan tetapi, bisakah manusia menghancur-binasakan lagu-lagu perjuangan yang sebenar benarnya ? Bisakah juga manusia menghancur-binasakan lagu-lagu yang tiada lain kecuali kisah-kisah hidup dan kehidupan bersejarahnya sendiri ?
Lantas apa pula makna pribahasa : Patah tumbuh hilang berganti ? Mati satu tumbuh seribu ? Hilang sekali datng mengulang lagi? Tenggelam di sini timbul di sana sini ?
Ketika suatu ketika dalam rangkaian tukar pikiran dengan mahasiswa-mahasiswi progresip di Sprengelstrasse sebelah barat kota Berlin, Françoise lah yang paling antusias menyambut variasi petatah-petitih yang aku utarakan itu. Elke Herold dan Luth pun tambah antusias ketika aku kembali menyebut kasus komponis Subronto K Atmodjo. Komponis antara lain lagu-lagu
« Nasakom Bersatu » dan « Resopim » yang pernah mengiktui pendidikan seni musik di Jerman Timur itu, meski pun dijebloskan dalam penjara sampai di buang ke Pulau Buru pun semangat juangnya tak pernah patah. Begitu juga para musisi dan seniman serta sastrawan lainnya.
Akan tetapi memang sejak komunistofobi mendominasi Indonesia dengan tegaknya kekuasaan Orba pimpinan kaum militer, semua lagu-lagu yang bernada irama progresif revolusioner telah dibungkam. Apalagi lagu yang merupakan pemupuk tradisi revolusioner rakyat yang universal dan bersejarah seperti lagu Internasional.
Dalam sejarah seni musik, tak ada yang bisa mengungguli Internasional baik dari segi jumlah yang membawakannya maupun segi kemasyhurannya di seluruh dunia. Lagu tersebut benarbenar lagu rakyat yang diciptakan oleh penyair dari kalangan rakyat sendiri dalam gelora perjuangan rervolusioner.
« Saking terkenalnya, kebanyakan orang tak peduli lagi siapa pencipta lagu Internasional itu, » ujar Françoise.
« Mungkin juga Eugene Pottier, penyair yang menyusun sajak Internasional itu sendiri tak pernah memperkirakan kedahsyatan pengaruhnya, » sambut Elke.
Lantas Françoise menyitir sebagian dari baris-baris kata puitis Internasional dalam bahasa aslinya sebagai berikut :
Cest la lutte finale / Groupons nous et demain / LInternationale / Sera le genre humain.
Debout ! lâme du proletaire ! / Travailleurs, groupons-nous enfin / Debout ! les damnes de la terre ! / Debout ! les forçats de la faim ! / Pour vaincre la misères lantre / Foule esclave, debout ! debout ! / Cest nous le droit, cest nous le nombre / Nous qui nétions rien, soyons tout.
Sest la lutte finale / Groupons-nous et demain / LInternationale / Sera le genre humain.
Selanjutnya, lagu yang pada dasarnya mengumandangkan semangat Revolusi Perancis, khususnya mengapresiasikan penegakan Komune Paris itu dinyayikan di segenap penjuru dunia. Seiring dengan itu juga menjadi momok kaum reaksioner. Lebih-lebih lagi sejak dikobarkannya Perang Dingin yang Panas. Maka dari itulah lagu perjuangan tersebut pun menjadi sasaran untuk diberangus-binasakan pula. Bersama kekuatan yang memang menjadi sasaran bidikannya. Di mana-mana. Termasuk di Indonesia.
Demikianlah, selagi Internasional berkumandang di belahan terbesar bola dunia, di kawasan-kawasan tertentu lainnya lagu tersebut diberangus. Pembawa lagunya pun diberangus-binasakan dalam beragam cara dari upaya pelumpuhan sampai pencabutan nyawa.
Segala taktik-trik dilancarkan oleh pengobar peperangan yang secara hipokrit disebut sebagai
Perang Dingin di bawah pimpinan kaum nekolim Amerika Serikat itu. Segala macam cara pelancaran aksi subversi dan campurtangan untuk mengubah arah politik serangkaian negeri itu semata-mata demi penegakan imperium skala global. Secara kongkret dilakukan di Tiongkok (1945-1949). Italia (1947-1948). Yunani (1947-1949). Filipina (1945-1953). Korea Selatan (1945-1953). Albania (1949-1953). Jerman (1950-an). Iran (1953). Guatemala (1953). Timur Tengah (1956-1958). Indonesia (1957-1958 ; 1965). Guyana (1953-1964). Vietnam (1950-1973). Kamboja (1955-1973). Kongo (1960-1965). Brasil (1961-1964). Republik Dominika (1963-1966). Kuba (sejak 1959). Chili (1964-1973). Timor Timur (1975-1999). Nikaragua (1978-1989). Grenada (1979-1984). Libya (1981-1989). Panama (1989). Afghanistan (1979-1992). Elsavador (1980-1992). Haiti (1987-1994). Irak (1990-an dan 2003).
Segala macam taktik-trik pembusukan dan penghancur-binasaan tersebut telah menalan pembiayaan yang luarbiasa dahsyatnya. Begitu juga korban manusianya baik yang tewas dan luka-luka serta mengalami berbagai penderitaan yang tak terperikan. Kobaran Perang Dingin yang Panas sudah tentu yang paling marak dan berkepanjangan adalah yang terjadi di Indochina, teristimewa sekali di Vietnam.
Betapa tidak. Selama 20 tahun lebih berlangsungnya peperangan yang biadab itu di Vietnam Utara korban dari kaum sipil yang tewas sebanyak 2.000.000 jiwa ; di Vietnam selatan 2.000.000 jiwa. Sedangkan kaum militer yang jadi korban sebanyak 1.100.000 jiwa dan 600.000 jiwa yang luka-luka.
Oleh karena itulah di berbagai pelosok dunia teristimewa sekali di Amerika Serikat sendiri berkobar pula ekspresi kemarahan seraya mengutuk Perang Vietnam itu. Protes yang berklanjutan berupa Gerakan anti-Perang Vietnam yang mengutuk agresi Amerika Serikat sekaligus pernyataan solidaritas terhadap rakyat Vietnam. Dari kancah perjuangan mana lahir dan menggema beragam ekspresi seni, terutama sekali lagu-lagur perjuangan anti-perang Vietnam seperti yang dikumandangkan oleh sederetan musisi dan penyanyi seperti Woodie Guthrie, Pete Seeger, Joan Base, Bob Dylan, Jimi Hendrix, John Lenon dans yang lainnya lagi.
Lagu-lagu berjudul « Blowin in the Wind », « Eve of Destruction », « Master of War », « Machine Gun », « Vietnam », « Give Peace a Chance » dan yang semacamnya telah lahir dan turut menghayati gerlora perjuangan massa luas dalam bentuk arak-arakan atau rapat-rapat raksasa maupun konser-konser memprotes peperangan demi tercapainya perdamaian.
Selang-seling slogan berbunyi : « Yankee Go Home », « Stop War », « Make Love not War » dan sebagainya lagi. Baik yang diucap-teriakkan maupun tertuliskan dengan huruf-huruf raksasa yang menghiasi dinding dan tembok kota-kota di berbagai penjuru dunia. Termasuk di kota Berlin. Termasuk di atas Tembok Berlin yang merupakan simbol Perang Dingin yang Panasnya luar biasa. Bukan hanya yang tertumpu di situ, melainkan di berbagai peloksok dunia. Seperti disebutkan di atas.
Sekalipun korban kebiadaban peperangan sudah sedemikian dahsyat, namun sampai pun usainya Perang Vietnam, ledakan-ledakan kekerasan senjata masih terus tejadi di berbagai negeri. Semua ragam macam tindakan pembusukan sekaligus penghancur-binasakan itu tak sudi kunjung henti.
Korban-korban satu dua yang tewas pada tiap insiden di sepanjang Tembok Berlin itu sepertinya hanyalah juga mempertandakan korban peperangan yang berlangsung di berbagai penjuru dunia. Yang jumlahnya puluhan, ratusan, ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan jiwa yang tewas maupun yang luka-luka. Ratusan juta jiwa pula yang jadi korban segala macam derita sengsara dalam menjalani kehidupan yang dibawah penindasan dan penghisapan kaum penguasa zalim negara mereka masing-masing. Ratusan juta yang pada hakekatnya juga hidup di dalam kurungan-kurungan tembok penjara raksasa yang ditegakkan oleh arogansi kekuasaan yang rangkai-berangkai dari suatu lingkaran-setan menggelobal. Lingkaran-setan dominatris dan hegemonis. Persis seperti makna tersurat lagi tersirat dalam baris lirik lagu « The Wall » Pink Floyd : « Al in all it was all just bricks in the wall / All in all you were all just bricks in the wall »
Sesungguhnya lingkaran-setan dominatris-hegemonis itu timbul-datangnya dari masing-masing blok Blok Barat maupun Blok Timur yang saling bersitegang dalam kebiadaban peperangan itu sendiri. Perang Dingin yang Panas.
Maka pada saat terjadi perubahan situasi dengan lepasnya mata-rantai mata-rantai lingkaran setan secara lokal, di mana dan kapan-kapan saja, segera disambut oleh opini dunia yang mencintai perdamaian dunia. Seperti usainya Perang Vietnam. Seperti juga lengsernya para penguasa diktator di berbagai negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin. Hingga pada evenement yang paling spektakuler di ujung tahun 1989 : Runtuhnya Tembok Berlin ! ***
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
| Corporate culture | Organizational culture | Culture change |
| Organization culture | Culture | Culture shock |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

