Note: forwarded message attached.
Yahoo! for Good
Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message --- --- In [EMAIL PROTECTED], Anwar Holid
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Note: Resensi ini dimuat di Media Indonesia pada
Jum'at, 09 September 2005.
Bebas Membuka Pikiran
---------------------
Kesadaran Plural: Sebuah Sintesis Rasionalitas dan
Kehendak Bebas
Penulis: Bagus Takwin
Penerbit: Jalasutra, 2005
Tebal: xxxvi + 281 hlm.; format: 15 x 21 cm
ISBN: 979-3684-12-7
>> Himawijaya
'HIDUP yang tak terperiksa tak layak dilakoni'. Sebuah
ujaran dari Socrates yang sampai sekarang masih
diingat orang, dipakai pijakan bagi pencarian
filosofis atas realitas kehidupan. Tindak filosofis
sendiri sering diartikan dengan cara berpikir yang
radikal, mengakar, dan mendasar. Tapi bagaimana
jadinya, seandainya pertanyaannya dibuat lebih
mendasar lagi, yakni dengan mempertanyakan apa itu
pikiran kita, atau apa itu kesadaran? Inilah tema yang
cukup menarik untuk dieksplorasi.
Adalah Bagus Takwin (dosen psikologi UI) yang mencoba
mengeksplorasi wilayah kesadaran manusia. Kapasitasnya
sebagai seorang yang berpijak di dua ilmu yang berbeda
tapi berhubungan ini, yakni filsafat dan psikologi,
layak dijadikan jaminan atas kajian yang dilakukannya.
Judul buku ini, Kesadaran Plural: Sebuah Sintetis
Rasionalitas dan Kehendak Bebas, merupakan tesis yang
diajukan pada sidang pascasarjananya.
Pertama kali membaca buku ini, memang ada sedikit
keraguan atas banyaknya karya tesis ataupun disertasi
dengan bahasa yang akademis: kaku dan sangat teknis.
Tapi anggapan itu pupus sudah. Saya merasa seperti
membaca sebuah buku pengantar filsafat, manakala
dengan bahasa yang renyah tapi padat, Bagus Takwin di
hampir setengah buku memaparkan teori-teori kesadaran
manusia yang diteorikan para filsuf Barat semenjak
masa Yunani Kuno sampai menjelang akhir abad ke-20.
Tidak sebatas itu, Bagus Takwin juga melakukan
analisis, terutama tinjauan atas kelemahan teori-teori
tersebut dalam menjawab persoalan yang hadir di zaman
ini.
Apa yang mendasari penulis melakukan telaah ini,
adalah berangkat dari keprihatinan pribadinya atas
situasi dan tantangan di era ini. Problem kemanusiaan
yang terjadi dalam pandangan Bagus Takwin, diakibatkan
adanya klaim kebenaran mutlak antar tiap cara dalam
memandang realitas (ideologi, keyakinan, filsafat).
Memang, manusia memiliki dua hal, yakni rasionalitas
sebagai perangkat dalam dirinya, dan kehendak bebas
yang memberikan sekian pilihan tak terbatas atas
tindakannya sendiri, yang keduanya terwadahi dalam
kesadaran manusia.
Ada yang problematis di sini, jika menggunakan
rasionalitasnya, manusia akan mengarahkan dirinya
dengan pertimbangan rasionalitasnya, sesuai dengan
hukum berpikir yang benar, menghindari dorongan
naluriah atau kehendak yang tidak memiliki penjelasan
logis. Pada sisi lain, jika berkehendak bebas, manusia
dapat menghendaki apa pun, apakah itu masuk akal atau
tidak, logis ataupun mistis.
Di sinilah penulis mencoba memadukan keduanya, antara
rasionalitas dan kehendak bebas-sekaligus menegaskan
adanya pluralitas kebenaran. Sepintas lalu, apa yang
ditawarkan Bagus Takwin sangat bernuansa
posmodernisme, yang menolak klaim-klaim keuniversalan
dan merayakan kemajemukan. Tapi ada hal yang berbeda,
jika penolakan posmodernisme bertitik tolak dari
pengumbaran hasrat tanpa batas dan tanpa kendali
(implikasi dari kehendak bebasnya), maka dalam buku
ini, penulis menawarkan sebuah dasar filosofis bagi
keragaman rasionalitas. Artinya, cara pandang dari
setiap manusia, kelompok, ideologi, aliran dll, akan
memiliki kebenarannya tersendiri, yang masing-masing
tidak berhak menghakimi, apalagi menghegemoni
pandangan yang berbeda dengan dirinya.
Syarat apakah yang dibutuhkan agar ada pertemuan
antara rasionalitas dan kehendak bebas? Dalam buku
ini, Bagus Takwin menawarkan konsep keterbukaan
pikiran, yakni sebuah kemampuan pikiran dalam menerima
pelbagai pandangan, pendapat, penilaian yang
berbeda-beda, serta kemampuan untuk memandang suatu
hal dari pelbagai sudut pandang yang berbeda-beda
sekaligus kesiapan untuk melakukan perbaikan terhadap
keadaan diri dan lingkungan berdasarkan pelbagai
pandangan yang diterimanya.[]
Sumber:
http://www.mediaindo.co.id/resensi/details.asp?id=184
Himawijaya, eksponen Komunitas Textour, Rumah Buku Bandung.
Stones taught me to fly
Love taught me to cry
Life taught me to die
© 2002, Damien Rice ('Cannonball')
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--- End forwarded message ---
--- End Message ---

