Catatan laluta:
...Sebagai prajurit saya patuh pada atasan, dan hingga kini tak ada perintah dari komandan untuk bertindak....Tuan, politik itu berwajah seribu. Tuan bisa membuat seribu satu alasan untuk menghantam komunisme, untuk kemudian berkuasa di negeri ini....[Kisah lengkap, silahkan baca Coup '65: 30 September oleh Coen Husain Pontoh] Juga kusajikan Ekspresi dan Refleksi diri penyair Fadjar Sitepu berjudul "Kisah Pejuang Klayaban".
La Luta Continua!
***
KISAH PEJUANG KLAYABAN
Dia pejuang klayaban
Waktu muda belajar keluar negeri
Dengan harapan murni
Bisa menyumbang sesuatu bagi ibu pertiwi
Ditinggalkannya ayah ibu yang sudah tua
Ditinggalkannya sanak saudara yang tercinta
Ditinggalkannya kawan seperjuangan sehidup semati.
Waktu muda belajar keluar negeri
Dengan harapan murni
Bisa menyumbang sesuatu bagi ibu pertiwi
Ditinggalkannya ayah ibu yang sudah tua
Ditinggalkannya sanak saudara yang tercinta
Ditinggalkannya kawan seperjuangan sehidup semati.
Jauh, jauh dari seberang lautan
Bisikan kabar sedih dari surat surat selundupan
Mendera hatinya
Bagai hujaman pisau
Menyelinap kelubuk hati yang dalam
Tanah airnya telah menjadi lautan darah
Kekasih dan kawan kawannya dibantai dipersekusi
Oleh diktatur militer Suharto yang keji.
Bisikan kabar sedih dari surat surat selundupan
Mendera hatinya
Bagai hujaman pisau
Menyelinap kelubuk hati yang dalam
Tanah airnya telah menjadi lautan darah
Kekasih dan kawan kawannya dibantai dipersekusi
Oleh diktatur militer Suharto yang keji.
Dia pejuang klayaban
Dia mengubah kesedihan jadi kekuatan
Dia belajar dia bekerja
Dia pergi merantau kemana mana
Menyumbangkan segala bagi kebajikan rakyat tertindas diseluruh dunia.
Dia pejuang klayaban
Dia menunggu, menunggu
Dalam mimpi yang menunjang hari
Kesedihan yang tak pernah berhenti
Kapan saatnya tiba
Dia bisa melihat sendiri dengan sepasang mata
Tempat kekasih dan kawan kawannya
Sebelum dibantai dengan kejam dianiaya
Dia bisa mendengar sendiri
Cerita dari kawan kawan yang lolos dari kejamnya pembunuhan pembunuhan
Yang tiada bandingnya didunia dan sepanjang jaman.
Dia menunggu, menunggu
Dalam mimpi yang menunjang hari
Kesedihan yang tak pernah berhenti
Kapan saatnya tiba
Dia bisa melihat sendiri dengan sepasang mata
Tempat kekasih dan kawan kawannya
Sebelum dibantai dengan kejam dianiaya
Dia bisa mendengar sendiri
Cerita dari kawan kawan yang lolos dari kejamnya pembunuhan pembunuhan
Yang tiada bandingnya didunia dan sepanjang jaman.
Ketika Suharto dilorot dari kuasa
Dia pulang kekampung halaman
Dari sekian banyak kawan kawan seperjuangan
Hanya dua tiga yang tinggal
Yang berhasil merangkak dari tumpukkan mayat mayat
Berpindah pindah meninggalkan keluarga pergi kehutan hutan yang sunyi
Lengang lengang melewati hari demi hari
Bertahun tahun bersembunyi
Menyelamatkan diri.
Dia pulang kekampung halaman
Dari sekian banyak kawan kawan seperjuangan
Hanya dua tiga yang tinggal
Yang berhasil merangkak dari tumpukkan mayat mayat
Berpindah pindah meninggalkan keluarga pergi kehutan hutan yang sunyi
Lengang lengang melewati hari demi hari
Bertahun tahun bersembunyi
Menyelamatkan diri.
Akhirnya pejuang klayaban bertemu kawan lama
Seorang pejuang tamatan sekolah tinggi
Meyembunyikan diri menjadi buruh tani
Buku buku tak pernah dirabanya
Surat kabar tak pernah dibacanya
Dua sahabat saling berpelukan setelah berpisah begitu lama
Bercucuran mengalir air mata
Dikedua wajah mereka
Sebelum mengawali kisah kisah duka.
Seorang pejuang tamatan sekolah tinggi
Meyembunyikan diri menjadi buruh tani
Buku buku tak pernah dirabanya
Surat kabar tak pernah dibacanya
Dua sahabat saling berpelukan setelah berpisah begitu lama
Bercucuran mengalir air mata
Dikedua wajah mereka
Sebelum mengawali kisah kisah duka.
Semua kawan kawannya tak pernah menyangka
Setelah g 30 s mereka pergi bekerja seperti biasa
Karena mereka tak tahu apa apa
Hanya guru, buruh atau petani biasa
Tiba tiba datang truck truck tentara
Kawan kawannya ditangkapi semua
Dengan tuduhan yang mengada ada
Pukulan, siksaan, pemerkosaan
Awal mula dari segala kekejaman
Truck truck menderu deru ditengah malam
Satu hari giliran dia dipindahkan
Disitu dia menyaksikan pembantaian dan pembunuhan
Untung dia tertumpuk dibawah tubuh tubuh yang mati berebahan.
Ditengah sungai kampung halaman nan indah
Dipulau kecil sepi berselimut embun
Darah para pejuang setia negeri berhamburan
Air sungai bermerahan
Air sungai penuh dengan darah dan dendam
Pejuang klayaban menggeram penuh kemarahan
Kapan, kapan penjahat penjahat berdosa diadili?.
Fadjar Sitepu 8 Oktober 2005.
Stockholm - Swedia.
Stockholm - Swedia.
***
September, 30 2005 @ 08:04 am
Coup '65: 30 September
Oleh Coen Husain Pontoh
Samudera perpolitikan Indonesia, makin hari makin bergelombang. Tapi sesungguhnya, gelombang itu lebih terasa di kalangan elite. Maklum, mayoritas rakyat Indonesia, yang baru merdeka 20 tahun lamanya itu, masih buta huruf, masih mengandalkan radio sebagai alat komunikasi. Padahal alat komunikasi utama ini jangkauannya sangat terbatas.
Kisruh politik makin memanas. Lebih-lebih dengan kondisi sang pemimpin besar revolusi, paduka yang mulia, panglima tertinggi angkatan bersenjata,yang telah jatuh sakit. Semua kekuatan politik siap berhadap-hadapan, menunggu saat tepat untuk bergerak.
Saat itu sudah lama diperkirakan olehnya. Pasti akan terjadi, cepat atau lambat. Informasi yang berkaitan dengan kondisi politik ini sudah ada di tangannya melalui pembicaraan-pembicaraan rahasia. Dia sudah lama gemas, namun menunggu momen memang membutuhkan kesabaran. Sebagaimana kesabaran prajurit yang akan membidik sasaran. Dan bidikan itu sudah lama ia tengarai. Pembicaraan-pembicaraan itu menjadi bekal.
Ini saatnya bagi tuan untuk bergerak. Jika tuan terlambat, maka negeri ini akan jatuh ke tangan komunis.
Jangan sampai komunisme berkuasa. Katakan, tindakan apa yang harus saya lakukan? Sebagai prajurit saya patuh pada atasan, dan hingga kini tak ada perintah dari komandan untuk bertindak.
Tuanlah yang harus bertindak. Bukan komandan tuan. Mereka selalu akan menunggu perintah panglima tertinggi. Dan ingat, dia sedang sakit parah. Tuan tidak lihat bahwa komunisme semakin gencar merengkuh semua kekuatan politik untuk berada di bawah pengaruhnya?
Saya tahu itu. Tapi saya juga tahu tidak ada yang salah dengan itu, karena mereka menjalankan bagian daripada strategi dan taktik politik.
Tuan terlalu naif. Politik itu berwajah seribu, hari ini menjadi kawan besok sudah dijadikan lawan.
Saya prajurit, bukan politisi. Tugas saya adalah mengamankan negeri ini daripada ancaman, gangguan, dan hambatan yang terjadi.
Di situlah maksud saya. Tuan tahu, komunisme adalah ancaman yang nyata bagi negeri tuan. Mereka ingin menjadikan Indonesia sebagai bagian dari gerakan komunis internasional yang dipimpin oleh Beijing. Jika itu terjadi, maka tuan tidak punya keleluasaan dalam membangun negeri tuan, karena semuanya nanti akan tergantung pada arahan dan persetujuan Beijing.
Saya mengerti.
Dia terdiam sejenak. Memahami benar bagaimana Partai Komunis Indonesia adalah ancaman nyata baginya. Namun, dia juga paham, bahwa PKI berjalan di koridor yang telah ditentukan. Mereka ikut pemilu, mengakui Pancasila sebagai dasar negara, dan tidak menentang Angkatan Darat secara langsung.
Dia menatap lawan bicaranya yang masih duduk sambil menghisap sebatang rokoknya. Terbersit di benaknya, sebuah kalimat pancingan yang bernada lugu namun diarahkan untuk membuatnya tahu apa isi benak lawan bicaranya.
Saya mengerti, namun, soal politik, itu bukan urusan saya.
Ah lagi-lagi tuan terlalu naif. Tuan tentunya tahu bahwa dalam komunisme, militer harus tunduk pada arahan dan perintah partai.
Jangan sampai itu terjadi. AD bukan alat kekuatan apapun, AD bukan pemadam kebakaran. Bahkan AD, seperti kata Panglima Besar Jend. Soedirman, adalah satu-satunya kekuatan yang tetap utuh dan solid. AD adalah tentara rakyat, ia berjuang bersama rakyat merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik. Karena itu, AD harus terlibat dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan negara.
Itulah yang saya maksud mengapa komunisme dan PKI merupakan ancaman nyata.
Tapi apa yang harus saya lakukan? PKI adalah sebuah partai politik yang sah, yang berjuang dengan cara-cara legal. Mereka tidak menabrak konstitusi kami.
Tuan, itu hanya salah satu aspek dari strategi politik PKI. Mereka mengenal perjuangan legal dan ilegal, mekanisme atas-bawah. Yang di atas tidak mencerminkan realitas yang sesungguhnya. Tuan tahu bahwa mereka juga menggarap prajurit-prajurit Angkatan Bersenjata?
Saya lebih tahu daripada mereka. Saya tahu mereka menyusup ke tubuh angkatan bersenjata. Saya tahu betul agen-agen mereka. Berikan kepada saya, apa alasan legal saya untuk menindak PKI ? Mereka tidak melakukan pemberontakan, mereka tidak menentang angkatan bersenjata secara terbuka. Mereka berbeda dengan Masyumi atau PSI yang terkait dengan PRRI dan Permesta.
Si lawan bicara tersenyum.
Tuan, politik itu berwajah seribu. Tuan bisa membuat seribu satu alasan untuk menghantam komunisme, untuk kemudian berkuasa di negeri ini.
Yang saya butuhkan alasan legalnya, saya ingin kelak ketika berkuasa hal itu dicapai dengan cara-cara legal. Soal bagaimana melakukan, Anda tak perlu mengajari saya.
Tuan, alasan bisa dicari dan dibentuk. Yang paling penting adalah tindakan. Dalam politik, mereka yang berhasil memanfaatkan momentum adalah yang memenangkan pertarungan. Politik bukanlah matematika. Politik adalah seni. Seni berkuasa. Kadang tuan harus tampil gagah, kadang lemah, kadang lembut, kadang abstrak, tapi juga harus berani bersikap tegas dan keras. Jangan seperti Nasution, yang gagah tapi tidak berani bersikap tegas. Atau Yani, yang hanya cukup puas mengabdi pada pemimpin besar revolusi.
Lalu apa momentum itu?
Tuan, inilah saatnya momentum yang terbaik. Panglima besar sedang jatuh sakit, semua kekuatan politik saling bersiaga, menunggu siapa yang mulai bertindak. Tapi mereka hanya menunggu, mereka tak berani mulai bertindak. Itulah kesalahan utama mereka.
Saya mengerti, tapi tindakan apa yang harus diambil? Saya kira semua elite itu berpikiran seperti saya, tindakan apa yang harus diambil yang menguntungkan kedudukannya?
Si lawan bicara mengerti, mata kail telah bergoyang.
Tuan, untuk memenangkan pertempuran saat ini, tuan harus menyerang kekuatan yang paling kuat. Kekuatan yang paling kuat itu adalah Soekarno, panglima besar revolusi, pemimpin tertinggi angkatan bersenjata.
Itu saya mengerti, tapi sekali lagi apa alasan legalnya?
Tuan bertindaklah, jangan dulu memikirkan alasan legalnya. Kalau tuan sudah berkuasa, tuan bisa membuat sendiri alasan legal itu. Hukum itu produk politik, orang sejak awal berkuasa dulu baru membuat aturan, karena dengan demikian barulah aturan itu bisa ditegakkan. Bukan sebaliknya.
Tapi, kalau itu saya lakukan, pasti akan ada pertumpahan darah yang luar biasa, akan ada perang saudara. Saya tidak mau sebagai prajurit, dituduh mengobarkan perang saudara.
Tuan, untuk kepentingan umum, terkadang kita harus mengorbankan kepentingan orang per orang atau golongan per golongan. Untuk kepentingan jangka panjang, tidaklah soal jika kepentingan jangka pendek dibatalkan.
Itulah yang saya pikirkan, kepentingan jangka panjang itu. Saya tak ingin disebut sebagai pemimpin yang berlumuran darah, saya tak ingin dunia internasional takut berhadapan dengan saya karena kekejaman yang terjadi.
Tuan, masa depan ditentukan oleh tindakan tuan hari ini. Masa depan ada dalam buku-buku sejarah, dan sejarah ditulis oleh mereka yang menang. Soal dunia internasional, tuan dunia tidak seterbuka yan tuan kira, juga tidak sesantun yang tuan sangka. Dunia luar penuh warna, dan warna itu tergantung pada kepentingan mereka. Apalagi saat ini, setiap negara sibuk dengan urusannya masing-masing.
Tapi pasti mereka akan tahu, dan saya tidak ingin terasing dari pergaulan internasional.
Tuan jangan khawatir soal itu. Kami adalah kawan dan sahabat tuan, jika tuan berkuasa kelak. Kami justru lebih takut dengan pemerintahan yang ada saat ini, karena mereka membiarkan komunisme bersimaharajalela.
Sang prajurit menghela nafas panjang-panjang.
Malam kian larut, dan dingin semakin menusuk tulang.
***
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
SPONSORED LINKS
| Corporate culture | Organizational culture | Culture change |
| Organization culture | Culture | Culture shock |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

