Note: forwarded message attached.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---

WITH OR WITHOUT YOU

Oleh:

AUDIFAX

 

 

Through the storm we reach the shore

You give it all but I want more

And I'm waiting for You

 

With or without You

With or without You

I can't live

With or without You

 

And You give Yourself away

And You give Yourself away

And You give

And You give

And You give Yourself away

 

(dikutip dari lagu “With or Without You” dari U2)

 

Dewasa ini, begitu banyak orang menyatakan diri ateisme. Entah memang menganutnya sebagai ideologi atau sekedar mengambilnya sebagai pembenaran untuk kemalasan beribadah. Banyak dari mereka, bergenit-genit dengan menyitir “God is Dead”-nya Nietzche, meski ironisnya hanya kalimat itu yang mereka tahu dan diambil secara parsial begitu saja. Mereka yang seperti ini tak pernah membaca dan memahami Nietzche kecuali bergenit-genit dengan kata “God is Dead”. Kemudian lebih parah lagi saya baru-baru ini baca di salah satu milis ada yang bergenit-genit dengan kata “kastolik” yang diartikannya sebagai “bekas Katolik”.

Friedrich Nietzche meski menggiring ke nihilisme, namun pemikirannya tak bermaksud meniadakan Tuhan. Nietzche justru mengkritik pengetahuan manusia tentang “tuhan” yang justru merupakan reduksi terselubung terhadap Tuhan yang maha besar. Manusia sebenarnya tak akan pernah mampu berbicara mengenai Tuhan, karena Tuhan yang Maha itu, mustahil dipahami oleh otak manusia.

Ini seperti mite Santo Agustinus yang ingin memahami Tuhan dan kemudian disadarkan oleh pertemuannya dengan seorang anak kecil di tepi pantai. Anak itu membawa dengan tangannya air laut dan memasukkan ke dalam lubang kecil yang digalinya di tepi pantai. Anak itu berkata bahwa ia ingin memasukkan seluruh air laut ke dalam lubang itu. Sesuatu yang tak mungkin. Persis keinginan Agustinus memahami Tuhan. Peristiwa itu membawa refleksi bagi Agustinus mengenai ketidakmungkinannya memahami Tuhan.

Dengan kata lain, Tuhan bukanlah yang ada dalam definisi-definisi di berbagai agama itu. Tuhan yang Maha agung dan maha besar, jutru harus tertunda terus kehadiran, manifestasi, serta pemahamannya sehingga selalu berada dalam kondisi pencarian. Tuhan tak mungkin didefinisikan manusia, karena pendefinisian hanya akan membuat Tuhan yang besar itu teredusir dan mati. Perkataan Nietzche ‘God is dead’ dapat ditafsirkan dalam kerangka ketidakmungkinan ini.

Lantas bagaimana dengan manusia dan hubungannya dengan Tuhan?

Manusia sebenarnya adalah entitas yang terlempar dalam dunia. Ia tak tahu di mana ia berada sebelumnya, juga tak tahu akan ke mana setelah kehidupan di dunia. Manusia lahir ke dunia dalam ketakutuhan dan kesementaraannya, terombang-ambing dalam samudera pencarian yang tak akan pernah berakhir selama hidupnya. Namun, hanya dalam pencarian dan pencarian itulah manusia dapat hidup. Dalam pencarian itulah lantas manusia menemukan label-label agama, ateis, dan sebagainya. Termasuk label psikolog, dukun, guru besar, dosen dan sejenisnya itu. Tetapi, intinya bukan pada label-label itu tapi pada pencariannya. Label-label itu sebenarnya tak lebih dari teks-teks kosong tentang sebuah identitas diri yang tak pernah mampu membuat seorang manusia merasa purnama.

Dalam setiap pencarian itu, apa yang menjadi kunci adalah keputusan. Orang bisa “mengambil” atau “membuat” keputusan, dan di situlah letak otentisitas dan kualitas manusia. Manusia bisa sekedar bergenit-genit dengan “mengambil” apa yang sudah ada tanpa memahami esensinya, namun bisa juga ia “membuat” sesuatu yang benar-benar mencerminkan orisinalitas dan kualitas dirinya sebagai manusia. Menjadi ateis, bisa jadi merupakan sesuatu yang sekedar “mengambil” tapi bisa juga dengan segala kesadaran akan otentisitas dan kualitas diri ditempatkan sebagai “Membuat”. Jadi keputusanlah yang penting dalam hidup dan kelangsungan hidup manusia.

Manusia, sebenarnya adalah entitas yang tak dapat hidup tanpa keputusan-keputusan. Jika kuncinya pada keputusan, maka seperti kata U2 dalam lagu “With or Without You” yang bagiannya saya kutip sebagai pembuka esei ini: “With or without You, I can’t live”. Dengan atau tanpa Tuhan (You), manusia tetap berada dalam ketakmampuannya untuk hidup. Bukan Tuhan yang menjadi kunci hidup, melainkan keputusan manusialah kuncinya. Maka, jelas ngawur berat kalau orang sering ngomong: “Manusia berusaha, Tuhan menentukan”. Lha kalau sudah ditentukan buat apa berusaha? Lagipula, ungkapan itu rawan dijadikan alasan lari dari tanggung jawab sebagai manusia dalam setiap usaha yang dilakukan. Kegagalan lantas dilemparkan pada Tuhan.

Yang betul adalah: “Manusia menentukan, Tuhan mengusahakan”. Manusia memutuskan sesuatu dulu, baru Tuhan ‘mengusahakan’ jalan bagi berjalannya keputusan itu, atau justru memberi peringatan akan keputusan itu. Jika Tuhan menentukan, maka tak ada koruptor, kemiskinan, kematian, kejahatan, dan sebagainya. Jika Tuhan menentukan, maka membunuh, memperkosa, mengkorupsi, dan berbagai perilaku sejenis bukanlah dosa, karena pada dasarnya itu sudah ditentukan dan diluar kuasa manusia. Padahal, itu semua adalah keputusan-keputusan manusia. Keputusan untuk menjadi apa melalui perilaku, adalah mutlak ada di tangan manusia. Manusia yang menentukan!. Tuhan, hanya akan menjadi jalan setelah manusia memiliki keputusan. Inilah titik pemahaman akan berbagai mite mengenai penyelamatan, penebusan, jalan kebenaran yang ada pada agama, yang sayangnya justru seringkali didefinisikan untuk kepentingan kekuasaan. Tuhan, hanya akan menyatu, memberikan totalitas diri-Nya dan menjadi jalan bagi manusia setelah manusia memutuskan. Dalam konsep Jawa kuno, kita mengenal ini dalam manunggaling kawulo gusti, di mana Manusia berada di dalam Tuhan, Tuhan berada di dalam manusia. Tapi itupun terlebih dulu harus ada keputusan dari manusia. Inilah pentingnya keputusan dan tanggung jawab atas keputusan, bukannya bersembunyi dan melemparkan tanggungjawab pada Tuhan.

Dalam perjalanan hidup manusia yang mengarungi samudera ketiadaan ini, keputusan manusia adalah yang utama, baru bisa bicara kehadiran Tuhan dalam perjalanan itu. Seperti saya sering kutip perkataan Albus Dumbledore: “It is our choices, that show what we truly are, far more than our abilities”; dan akan terasa pas pula jika saya sandingkan dengan lirik “With or Without You” berikut ini:

And You give Yourself away

And You give Yourself away

And You give

And You give

And You give Yourself away  

 

 

 

© Audifax – 19 Oktober 2005

 

NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun untuk berdiskusi dengan saya di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)

 


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
--- End Message ---

Kirim email ke