Note: forwarded message attached.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
AGAMA, TEROR, KEBUASAN DAN KETAKUTAN
Oleh;
AUDIFAX
 
Teror memiliki implikasi pada keterteroran, suatu kondisi yang mendekatkan manusia pada rasa takutnya. Dalam teror, manusia yang satu berusaha menimbulkan ketakutan pada manusia yang lain. Manusia yang satu menunjukkan kebuasan pada manusia yang lain. Ini adalah salah satu konteks di mana pemikiran Thomas Hobbes mengenai Manusia satu menjadi serigala bagi manusia lainnya (Homo Homini Lupus) menemui realitanya. Teror dengan demikian membawa kesadaran bahwa manusia memiliki ketakutan dan kebuasan dalam dirinya. Ketakutan dan kebuasan ini, kerap luput dari cermatan karena orang terbuai begitu saja dengan kalimat yang sering kita temui dalam agama: “manusia diciptakan baik adanya”.
Manusia, tak diciptakan baik adanya, jika manusia sudah baik adanya, maka tak perlu menjalani kehidupan, langsung saja masuk surga. Manusia, justru terlahir dengan kebaikan dan keburukan, sisi baik dan sisi jahat, termasuk kebuasan seperti halnya binatang, juga ketakutan akan berbagai hal yang dapat membuat manusia berpikir lebih dalam terhadap hidupnya. Manusia lahir tak utuh karena terdiri dari berbagai hal dalam dirinya yang mesti mampu ia satukan. Perjalanan hidup manusia, adalah perjalanan penyatuan berbagai hal, bahkan yang bertentangan seperti kebaikan dan kejahatan, untuk mencapai suatu keutuhan diri. Kebuasan dan ketakutan ini, kerapkali justru ditolak atau dianggap tidak ada pada diri manusia. Padahal, dalam diri, saya, anda, kita semua, kebuasan dan ketakutan itu ada bersama berbagai karakter lain yang seringkali juga dilabel sebagai hal-hal baik seperti keinginan merawat, menolong, dan sejenisnya.
Perjalanan sejarah manusia membuktikan bahwa kebuasan dan ketakutan memegang peran penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Membicarakan kebuasan terorisme serta ketakutan yang ditimbulkannya, dengan demikian tak bisa dilepaskan dari sinkronisitas dengan kebuasan dan ketakutan dalam berbagai konteks lainnya, termasuk di antaranya agama, budaya, dan teknologi tontonan. Kadang, bahkan manusiapun menyukai menonton kebuasan, coba saja lihat film-film atau acara tertentu seperti gulat Amerika, bahkan reality show macam Fear Factor pun menawarkan unsur kebuasan dan ketakutan sebagai tontonan. Inilah suatu titik di mana kita bisa memahami, ketika seorang Azahari atau Noordin M Top, melakukan aksinya sebenarnya ada suatu landasan pemikiran, bahwa apa yang dilakukannya akan menyebar luas melalui teknologi tontonan. Ada keyakinan bahwa kebuasan yang dilakukan, akan menyebarkan rasa takut melalui bantuan teknologi tontonan. Terlepas dari mereka menyetujui atau tidak menyetujui, ada daya tarik tertentu ketika sebuah peristiwa pengeboman dikemas dalam berbagai bentuk penyajian berita oleh berbagai media.
Yasraf Amir Piliang menjelaskan bahwa sejumlah aksi teror yang terjadi mulai dari hancurnya menara Kembar WTC hingga sejumlah aksi pengeboman, menciptakan efek persepsi, psikologis, dan simbolik yang berskala global. Ini karena bersamaan dengan peliputan peristiwa teror itu, ratusan juta lebih manusia di dunia menyaksikan imaji mengenai peristiwa tersebut[1]. Kepanikan, kerusakan, ketegangan, bahkan heroisme pelaku dibingkai dalam suatu teater simlakrum untuk menghasilkan tontonan global (Global Spectacle) yang juga berimplikasi pada kemungkinan timbulnya berbagai bentuk persepsi pada benak manusia ketika imaji itu bertemu dengan berbagai latar belakang psikologis. Bisa Unfavourable bisa pula Favourable. Bagi yang favourable, akan memudahkan orang-orang macam Noordin M. Top memperoleh pengikut. Dan percayalah, itu sangat mudah, terutama di tengah himpitan berbagai krisis dan permasalahan yang mendera pula masyarakat kita. Tontonan rangkaian peristiwa pengeboman hingga VCD Noordin M Top, sebenarnya bermain sebagai pisau bermata dua yang disebut kebebasan memperoleh informasi.
Terorisme sebenarnya hanyalah satu fenomena saja dari tontonan kebuasan dan ketakutan di antara parade fenomena lain seperti holiganisme, kebrutalan, genocide, pemerkosaan massal dan lain sebagainya itu. Dari yang global seperti kamar-kamar gas Hitler, Palestina, Irak  hingga yang lokal seperti Peristiwa Mei, Aceh, Timor-Timur, atau yang lebih personal seperti kematian Munir. Belum terhitung berbagai peristiwa lain yang lekat dengan keseharian dan bisa dibaca di sejumlah koran-koran kuning. Di antara itu semua, terorisme hanyalah sebuah persoalan kecil yang menjadi bagian dari persoalan lain yang lebih besar. Tak ada causa prima lain yang bisa diletakkan selain manusianya sendiri.
Inilah temaram panggung drama yang mementaskan kebuasan dan ketakutan yang mengorbankan nyawa demi nyawa demi pementasan itu sendiri. Kekerasan menjadi bagian dari sebuah epik kepahlawanan semu yang membawa kenikmatan puncak (jouissance) bagi sang pemeran, yang di dalamnya kegembiraan berbaur dengan kebencian. Manusia-manusia yang larut dalam banalitas ekstasi kekerasan. Sebuah penikmatan akan kesia-siaan dan ketakbermaknaan. Manusia yang tak menyadari bahwa dalam dirinya ada kebuasan dan ketakutan, sehingga kebuasan dan ketakutan itu kemudian muncul dan mengendalikan kehidupan manusia.
Manusia-manusia di atas panggung ini lenyap dalam silang-sengkarut pemaknaan yang membuat tak menyadari lagi siapa dirinya. Kebanggaan berlebihan sebagai manusia yang membuat lupa bahwa manusia pada dasarnya juga menempati tubuh dengan kefanaan biologis yang sama dengan binatang. Bahwa manusia juga memiliki insting-insting yang sama dengan binatang. Kebanggaan berlebihan yang berdasar pada premis: ”manusia diciptakan baik adanya” membuat hal-hal hewani seperti ‘kebuasan’ ditekan ke bawah sadar, hal-hal yang menunjukkan kelemahan seperti ‘ketakutan’ dihindari bukan dihadapi. Padahal, apa yang ditekan dan dihindari ini, tak pernah bisa lepas dari diri manusia. Ia tetap terus menyertai, membayangi, dan suatu ketika menunjukkan eksistensinya untuk memengaruhi manusia.
Carl Gustav Jung, menyebut hal-hal yang ditekan dan dihindari ini sebagai shadow. Shadow adalah sebuah arketipe atau bayangan purba, yang eksis dalam diri kita semua. Shadow mengandung segala hal yang diingkari, dipandang rendah, segala yang diyakini dosa dan segala yang kita temukan janggal atau mengerikan. Meski shadow adalah sesuatu yang menjadi sisi gelap individu yang mesti dicatat bahwa shadow juga bisa merupakan bagian positif yang tak berkembang. Jung meyakini bahwa shadow juga bisa sesuatu yang inferior dan primitif alamiah. Lebih jauh merupakan hal instingtif yang bisa kita pahami sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh mengganggu pada personalitas individu jika tidak dikonfrontasi. Shadow adalah bagian dari personalitas yang tak kita rekognisi, sebuah bagian yang tak sadar. Ini bisa pula menjadi hasrat dalam bentuk mentah dan emosi atau pikiran serta pengalaman yang terlalu memalukan untuk diakui. Ini menyerupai aspek gelap karakter kita yang telah ditolak (rejected) atau direpresi agar tak muncul ke permukaan atau karena tak disetujui masyarakat.[2]
Shadow bukan untuk ditekan atau dihindari, melainkan untuk dihadapi. Inilah kefanaan dan inferioritas manusia yang mesti diterima, bukannya ditolak atau dianggap sepi. Segala kejahatan yang manifes dalam perilaku adalah akibat dari penolakan, penghindaran atau penekanan ke alam bawah sadar dari shadow. Menempatkan penyebab kebuasan terorisme sebagai implikasi dari agama tertentu, sama saja dengan menghindari kenyataan bahwa kebuasan itu ada dari dalam diri manusia. Bahkan saya, anda, kita punya peluang yang sama untuk melakukan kebuasan dalam taraf yang sama dengan Azahari atau Noordin M Top, meski tak selalu berwujud pengeboman. Apa yang penting bukan mencari causa prima dari luar manusia, baik itu dengan menyalahkan pihak lain, ataupun berusaha menjelaskannya dengan menyitir ayat-ayat Kitab Suci yang tak ada relevansinya dengan penyadaran bahwa pada dasarnya manusia memiliki kebuasan, memiliki berbagai keburukan, kejahatan, kelemahan yang eksis bersama kebaikan, kemurahan dan kelebihan.
Stephen Palmquist mengatakan bahwa agama kadang berfungsi sebagai samaran yang nyaris sempurna bagi kejahatan yang membodohi umat dengan kepercayaan bahwa mereka telah sempurna dan karenanya tidak perlu bercermin diri[3]. Kita dapat melihat kontekstualisasinya pada peristiwa Bali Blast dan sejumlah pengeboman lain; konsep mengenai kafir, ekslusifitas yang manifes dalam pelarangan menikah antar agama, dan sejumlah dogma-dogma lain yang membuih di mulut para pemuka agama. Ini adalah ilusi-ilusi akan diri yang sempurna, yang sudah baik adanya, apalagi jika telah menganut atau mengamalkan ajaran tertentu.
Inilah yang dijelaskan Freud bahwa agama tak lebih dari ilusi. Dalam bukunya, The Future of Illusion, Sigmund Freud mengatakan bahwa agama pada penyataannya merupakan sulap psikologis yang didasarkan pada hasrat kekanak-kanakan untuk mempunyai orangtua yang akan memenuhi kemauan setiap manusia. Lebih jauh Freud menjelaskan, bila diperiksa dengan akal yang tajam, maka ‘dongeng tentang agama’ bisa dilihat sebagai ilusi belaka. Ilusi bukanlah hal yang sama dengan kekeliruan, ilusi berasal dari keinginan manusia. Simbol-simbol keagamaan sekedar menyembunyikan kebenaran dengan cara yang tidak berbeda dari dongeng anak-anak bahwa bayi-bayi lahir dengan dibawa oleh bangau.
Agama-agama murni, sebenarnya mendorong manusia untuk merenungkan secara mendalam sisi-sisi jahat/buruk (yang memang selalu ada dalam diri manusia), sehingga muncul suatu refleksi yang mengarah pada perkembangan diri terus menerus[4]. Namun, sayang dalam perkembangannya justru terjebak dalam tafsir-tafsir yang menjauhkan dari upaya perenungan sisi-sisi jahat, buruk, baik, lemah, kuat dalam diri manusia. Agama dalam banyak hal justru ditafsir untuk melakukan eksklusifitas dengan menganggap bahwa agamanyalah yang paling memungkinkan mencapai Tuhan; itu tampak pada fenomena ‘menjaga’ umat suatu agama agar tak pindah agama lain sembari berusaha membujuk umat dari agama lain untuk berpindah pada agama tersebut. Bahkan agama kemudian bertemu dengan pemahaman-pemahaman lain yang memelencengkannya menjadi mesin-mesin kekuasaan. Ketika merasa bahwa dengan memeluk dan melaksanakan suatu agama maka manusia sudah baik adanya, maka inilah titik di mana kebuasan dan ketakutan makin terlupakan, tak terenungkan, dan tak terefleksikan keberadaannya dalam kehidupan manusia. Manusia sibuk dengan ‘agama’ dan [di]lupa[kan] akan apa yang ada dalam dirinya. Maka tak heran muncul berbagai peristiwa yang menunjukkan bahwa kebuasan dan ketakutan itu ada dalam diri manusia.  
 


CATATAN-CATATAN:
 
[1] Yasraf Amir Piliang; (2004); Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika; Yogyakarta: Penerbit Jalasutra:, hal. 209
[2] Kevin Wilson; Confrontation with the Shadow; Retrieved 5 November 2005; pukul 09.12 AM; online documents: http://www.insomnium.co.uk/text/jungshadow.htm
[3] Stephen Palmquist; (2005); Fondasi Psikologi Perkembangan-Menyelami mimpi, mencapai kematangan diri; saduran Muhammad Sodiq; Yogyakarta: Pustaka Pelajar; hal. 356
[4] Stephen Palmquist; (2005); Fondasi Psikologi Perkembangan-Menyelami mimpi, mencapai kematangan diri; saduran Muhammad Sodiq; Yogyakarta: Pustaka Pelajar; hal. 356
 
 
© Audifax – 30 November 2005
 
NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
--- End Message ---

Kirim email ke