Note: forwarded message attached.


Yahoo! Personals
Single? There's someone we'd like you to meet.
Lots of someones, actually. Yahoo! Personals

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




SPONSORED LINKS
Corporate culture Organizational culture Culture change
Cell culture Organization culture Culture


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
HARRY POTTER VS JOSEPH RATZINGER
Oleh:
Audifax[i]
 
Joseph Cardinal Ratzinger
Vatican City
March 7, 2003
 
Esteemed and dear Ms. Kuby!
 
Many thanks for your kind letter of February 20th and the informative book which you sent me in the same mail. It is good, that you enlighten people about Harry Potter, because those are subtle seductions, which act unnoticed and by this deeply distort Christianity in the soul, before it can grow properly.
I would like to suggest that you write to Mr. Peter Fleetwood, (Pontifical Council of Culture, Piazza S. Calisto 16, I00153 Rome) directly and to send him your book.
 
Sincere Greetings and Blessings,
 
+ Joseph Cardinal Ratzinger[ii]
 
Kutipan di atas adalah surat dari Paus Josep Ratzinger ketika ia masih menjabat Kardinal. Dalam surat itu terbersit pemikiran Ratzinger bahwa Harry Potter adalah ‘subtle seduction’ dan mendistorsi Kristianitas. Tak ayal, apa yang dipikirkan Ratzinger itupun tampaknya juga memperoleh respon dari kalangan Kristiani. Seperti saya temukan dalam salah satu majalah Kristiani berikut:
Gereja Katolik dan orang sebesar Kardinal Ratzinger, ikut campur tangan dan repot dengan isapan jempol ‘anak-anak’ seperti Harry Potter. Apa ini tidak berlebihan? Apa lembaga dan orang sepenting mereka ini kurang kerjaan?
Nanti dulu, jangan menganggap enteng kemeriahan Harry Potter ini. Dengan lebih dari 250 juta eksemplar buku terjual, tak pelak lagi, sadar atau tidak, pesan dan mentalitas yang disampaikan di dalamnya akan membentuk wajah generasi yang akan datang[iii].
 Ratzinger, bisa jadi adalah satu dari sejumlah orang dari kalangan agama yang menganggap Harry Potter mendistorsi Kristianitas. Setidaknya itu saya temukan pula pada beberapa teman yang emoh menonton filmnya atau membaca bukunya karena dilarang oleh Gerejanya.
Imajinasi dan Kontroversi
Kontroversi Harry Potter sebenarnya merupakan imbas dari kekuatan imajinasi dari kisah itu. Harry Potter, adalah sebuah mitologi baru yang hadir dengan kekuatan imajinasi yang dimilikinya di jaman posmodern yang penuh silang-sengkarut pemaknaan. Sebuah imajinasi yang luar biasa sehingga mampu meresahkan pihak-pihak yang biasa berada dalam pemikiran yang ketat oleh batasan dan tatanan.
Inilah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan saya melakukan penelitian terhadap buku novel Harry Potter, untuk mengungkap apa yang berkemungkinan dan berkemampuan mempengaruhi dalam pembacaan kisah-kisah Harry Potter. Hasilnya, sungguh menarik karena justru dalam kisah itu, terdapat pesan-pesan moral yang ditampilkan dalam bentuk yang lebih bisa diterima di jaman ini.
Kuncinya, memahami Harry Potter yang imajinatif, tak bisa dilakukan secara tekstual, melainkan kontekstual. Caranya adalah merasakannya langsung pesan-pesan simbolis itu dalam kehidupan personal masing-masing pembacanya. Memahami Harry Potter, berarti membaca ‘something between the lines’ dan bukan memahami secara an sich. Ketika kita mampu melakukan itu, maka kita akan menemukan bahwa Mite Harry Potter sebenarnya menyampaikan pesan-pesan moral yang berguna bagi kehidupan manusia. Saya akan memberi contoh pada scene “ruang datang dan pergi”, sebuah ruang tersembunyi di Hogwarts yang bisa muncul ketika seseorang menginginkannya:
Karena ini kamar yang hanya bisa dimasuki..kalau orang benar-benar membutuhkannya. Kadang-kadang kamar ini ada dan kadang-kadang tidak, tapi kalau muncul, kamar ini selalu dilengkapi dengan apa yang dibutuhkan pencarinya...kebanyakan orang tak sengaja menemukannya ketika mereka membutuhkannya...tapi mereka sering kali tak pernah menemukannya lagi, karena mereka tak tahu kamar itu selalu di sana[iv].
Jika kita tak punya imajinasi lebih, maka apa yang tertangkap hanyalah sekedar ruang ajaib atau bahkan mungkin okultisme yang menyesatkan. Namun, jika kita mau lebih reflektif dan imajinatif, maka scene itu sebenarnya menceritakan tentang doa dan pentingnya doa dalam kehidupan manusia. Ya. Bukankah manusia juga seringkali lupa berdoa (tak menemukannya lagi) dan lupa bahwa dalam doa selalu ada harapan (tak tahu bahwa kamar itu selalu ada di sana).
Alkitab sebenarnya juga merupakan kumpulan mite yang dipilih dan disusun oleh manusia. Sama juga pada sejumlah Kitab Suci lain. Mite, baik yang ada dalam Kitab Suci, dongeng maupun kultur di berbagai masyarakat, semuanya menyampaikan pesan-pesan moral yang mengingatkan manusia selama perjalanan hidupnya. Dalam perkembangannya, mite-mite itu, seringkali justru dipahami tekstual, sehingga teredusir dalam masalah benar-salah, baik-buruk, dan berbagai dikotomi-dikotomi yang menghilangkan pesan moral sebenarnya.
Jika kita mau juga reflektif dan mencermati sekeliling, termasuk gereja, maka kita akan menyaksikan juga bahwa dalam sejarahnya, Gereja sendiri tidak cukup konsisten mempersoalkan masalah-masalah yang jauh lebih berat dibanding mite Harry Potter. Beberapa waktu lalu di milis psikologi transformatif (ketika kita membahas juga Nietzche) juga sempat didiskusikan Kemana Gereja ketika Holocaust terjadi? Bahkan ada yang menanyakan siapa Kardinal di Jerman ketika itu?
Lebih jauh, saya sendiri melihat indikasi bahwa hampir setiap komoditi non-Amerika yang mampu menguasai pangsa pasar dunia, selalu “dihadapkan” dengan masalah agama atau masalah norma-norma (misalnya mengajarkan menjadi gay). Dalam catatan saya setidaknya ada fenomena serupa yang terjadi pada Pokemon (Jepang), Digimon (Jepang), Gundam (Jepang), Dragon Ball (Jepang), Meteor Garden (Taiwan), Lagu Asereje (Spanyol), Teletubbies (Inggris). Sementara, dengan logika yang sama semestinya produk-produk Amerika seperti sejumlah kisah dongeng Walt disney (Peter Pan, Cinderella, Pinokio, dll), Tokoh komik Spawn, dan sejumlah karakter lain, bisa juga dipsersoalkan. Namun, kita tak mesti melihat dengan cara neurotis seperti ini. Bagaimanapun, itu semua adalah mite yang menyampaikan pesan yang sebenarnya sangat berguna bagi perjalanan hidup manusia. Permasalahannya adalah bagaimana menguraikan pesan itu.
Imajinasi dan bagaimana membaca simbol adalah kuncinya. Dalam penelitian saya tentang Mite Harry Potter, berbagai temuan tentang imajinasi dan simbol banyak dikupas dengan pendekatan psikoanalitik Jungian yang banyak mengeksplorasi simbol beserta spiritnya, penjelasan psikoanalisa Lacanian mengenai nirsadar yang terstruktur layaknya bahasa, serta pembacaan semiotis yang mengombinasikan semiotika Saussure dan Pierce. Hasil penelitian itu akhrinya mampu menyingkap bahwa kisah Harry Potter kental dengan simbol-simbol arkais yang memiliki kesejajaran dengan mite lain, tak terkecuali mite-mite dalam Kitab Suci atau kepercayaan. Ada pesan-pesan mengenai doa, cinta, esensi kematian dan kehidupan, keputusan dan berbagai hal-hal menarik lainnya yang sama sekali tak bertentangan dengan agama. Penelitian ini juga mengungkap bahwa kemiripan Harry Potter dengan mite-mite tertentu itulah yang membuatnya begitu disukai.
Poskrip:
Harry Potter adalah mitologi yang sangat kompleks yang tak bisa hanya dipahami secara tekstual. Simbol-simbol arkais yang ada dalam mite ini mengajak pembacanya keluar dari penjara rasionalitas untuk mengembara menyusuri temaram lorong-lorong misteri di ranah nirsadar kolektif. Sebuah petualangan dan perjumpaan dengan berbagai simbol arkais yang menyampaikan pesan-pesan moral kehidupan. Jika dilakukan pemahaman secara tepat, Harry Potter justru dapat secara efektif menyampaikan pesan-pesan moral bagi pembacanya[].
 


CATATAN-CATATAN:
 
[i] Peneliti; Penulis buku “Mite Harry Potter” (diterbitkan Jalasutra, 2005).
[ii] Online Documents: http://kered.mindsay.com/?entry=34
[iii] Sajian Utama: “Mania Harry Potter”; Majalah Hidup No 32 Thn ke 59 7 Agustus 2005; hal. 7
[iv] J.K. Rowling; (2004) Harry Potter and The Order of The Phoenix; saduran Listiana Srisanti; Jakarta:Gramedia Pustaka Utama; hal.712-714
 
 
 
 
© Audifax – 6 Desember 2005
 
 
 
Penjelasan lebih lengkap mengenai Harry Potter, ada pada penelitian saya yang telah diterbitkan Penerbit Jalasutra dalam buku berjudul: “Mite Harry Potter – Psikosemiotika dan Misteri Simbol di balik Kisah Harry Potter”, lengkap beserta detil tafsirnya, ikon demi ikon, scene demi scene.
 
Afirmasi, sanggahan, atau Diskusi dengan penulis mengenai penelitian Harry Potter atau esei ini, bisa dilakukan di forum milis Psikologi Transformatif di: www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif.
 
Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
 
 


Yahoo! Personals
Single? There's someone we'd like you to meet.
Lots of someones, actually. Try Yahoo! Personals
--- End Message ---

Kirim email ke