Date: Wed, 28 Dec 2005 03:11:05 +0700 (ICT)
From: jay sanjaya <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: kata teman kita begini
 
 
B R R
 
BERBICARA soal kinerja BRR, memang tidak pernah putus-putusnya. Hana Keumah (Ngga Jelas) adalah rumor yang berkembang di masyarakat, khususnya di Aceh. Mulai dari soal bantuan rumah, sampai membersihkan sampah BRR disorot. Menjadi pihak yang disanjung dan dikritik saban waktu. Beragam respon kemudian kita baca di surat kabar, kita dengar di Radio, kita lihat ditelevisi.
 
Lupakan BRR. Karena Aceh adalah lapangan permainan bola, Aceh memberi ruang yang luas bagi para pemain dan penonton untuk berteriak, bertepuk tangan, dan menjagokan kesebelasan masing-masing. Bahkan Aceh yang seolah-olah lapangan bola itu, disesaki oleh puluhan keseblasan, jutaan penonton, minus wasit dan tanpa gawang. Kita melihat permainan terus berjalan, tanpa peluit yang mesti didengar, tanpa wasit yang menyodorkan peringatan.
 
Lapangan bola tanpa tribun, lapangan bola tanpa si kulit bundar. Telah lama permainan bola digelorakan, setelah bertahun-tahun Aceh kalah dan merasa selalu menang. Kekalahan merekomendasikan perlu kepada pemain asing yang handal, perlu kontrak dan bayaran tinggi. Dengan satu harapan akan memenangkan permainan. Ghalibnya, Aceh hanya mendapatkan hasil semu: merasa menang saja.
 
Jutaan penonton saban hari bertaruh, berjudi atas permainan yang tak jelas wasit, sengkarutnya strategi pemain. Lalu, lihatlah beratus-ratus bola ditendang kegawang sendiri. Para pemain puas padahal bola tersundul ke gawang tanpa penjaganya. Siapa yang tak bisa?.
 
Di luar lapangan bola gersang, Aceh, para pengamat berbuih-buih dimulut berkomentar. Hatta, para komentator terlanjur mengambil izin prinsip kepada pemain: Saya komentator yang bergaji, komentator yang cukup gizi. Jadi hargai profesi saya.
 
Yang luih-nya, kemungkinan-kemungkinan dalam permainan bola cenderung diabaikan. Tanpa pemain cadangan, tanpa bola cadangan, tanpa penonton yang bertepuk tangan adalah satu dua  kemungkinan itu. Kita membayangkan bola yang meledak ditengah kaki yang beradu, kita membayangkan kaki pemain yang cedera, penonton yang tertidur, komentator mendadak pingsan, apa yang akan terjadi?. Tsunami lagi !
 
Maka wahai pegiat dan simpatisan sepakbola berhentilah bermain pura-pura. Aceh bukan tempat untuk bertaruh untuk prestasi, demi gengsi dan harga diri. Ini negeri selepas tsunami.
 
 
 
 
S i t h o e n
 
SETAHUN sudah kita berada dalam alam ingatan dan bayang Tsunami. ketakutan, sedih bercampur aduk. Hari berlalu, bulan berganti, tahun berikutnya segera datang. Setahun, ada yang datang lalu pergi. Semua merasa harus peduli, semua merasa prihatin sebelum kejenuhan menjadi keluhan, menjadi alasan. Semua bilang: “ Dampak bencana begitu besar”.”Jangan mengharap hasil secepat membalik telapak tangan”, dan entah apalagi.
 
Setahun itu pula kita lupa belajar dari yang kurang. Kita selalu puas dengan kerja diri dan kelebihan diri. Semua tak mau diukur dengan iman dan kejujuran. Tuhan dianggap sepi. Anak yatim dianggap pembawa sial, si miskin dianggap sampah. Pendidikan hanya semboyan dan diukur dengan berapa anggaran, sikap tauladan menjadi musuh. Lalu semua orang berteriak pendidikan kita runyam. Para Imam saban hari menghembus busuk bau kentut, para imam menganggap tak ada jama’ah. Saf-saf terlanjur sepi dan tak terisi. Lalu, jadilah setahun semacam menghayal dalam parade, semacam perayaan, semacam kenduri.  
 
Bantuan sepertinya pelan-pelah berubah wujud, membelah diri menjadi petaka. Seperti kepompong. Siklus yang lambat laun akan menjadi. Setiap orang juga seperti kepompong, tak peduli dengan yang lain. Setiap diri membelah, berevolusi, bersiasat melepaskan diri untuk menjerat yang lainnya.
 
Setahun ini, ada panggang yang menjauh dari api. Semua seperti terkubur dengan secupak beras, dengan setampi indomie. Solidaritas atas nama Islam, Aceh, Indonesia hanya menjadi pidato kebudayaan. Angka kemiskinan terus saja disesuaikan. Tergantung kepentingan. Kemiskinan sangat tidak terukur. Jumlah pengungsi seperti bilangan air dalam tempayan. Lalu jadilah Aceh ini sebagai mega proyek atas nama angka-angka. Atas nama kemanusiaan.
 
Ada yang asyik berkhotbah dan berdebat, “Bek lale Ngon Peng Griek, (Jangan lalai dengan uang receh)”. Katanya itu pepatah dari orang tua kita. Entah siapa yang mengambil makna darinya. Yang lainnya berkata: generasi yang kadung lahir dari masyarakat “mencret” dan kurang “gizi” tak paham dengan pepatah-petitih. Bukankah pepatah telah lama tak dipercaya?.
 
 
Lucu jadinya: Sudah setahun, kita seolah-olah telah kehilangan segalanya. Tak ada lagi tugu yang dibangun dengan breuh sijumpet ( beras sejumpit ). Jangan tanyakan kenapa kita mampu dan mau membeli pesawat terbang yang menjadi cikal bakal GARUDA AIRLINES. Seolah-olah kaki kita puntung semua. Berjejer berhala dikaryakan, kemudian kampak-kampak diayunkan. Semua sudah searah: Berpijak diatas angin mengharap bersua dikaki langit. Tak mungkin polem. Ini zaman gila, maka rayakanlah kegilaan.
 
Maka sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi manusia lainnya. Dan jangan lupa: Sejahat-jahatnya kerbau adalah yang tidak  berguna bagi kerbau lainnya. Semoga tahun berikutnya lebih berguna.
 


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65click: http://www.progind.net/  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




SPONSORED LINKS
Corporate culture Organizational culture Culture change
Cell culture Organization culture Culture


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke