|
Ass.Wr.Wb.
293 Penguasa Mesir Kuno yang Bukan Fir'aun
Seri 288 yang berjudul "Mimpi", yang ditutup dengan
mengemukakan mimpi Raja Mesir, mengundang tanggapan. Bahwa dalam sejarah yang
dipelajari di sekolah-sekolah dan dalam Perjanjian Lama penguasa Mesir Kuno
disebut Fir'aun. Sebenarnya ulasan ini telah dipersiapkan untuk Seri 291, akan
tetapi ditunda dua pekan, karena ada yang lebih aktual yaitu musibah Makassar
dan musibah gempa bumi.
Karena dalam Al Quran (ayat qawliyah) disebutkan
bahwa penguasa Mesir yang bermimpi kemudian mengangkat Nabi Yusuf AS menjadi
Menteri Urusan Logistik, Khaza-inu lArdh (S. Yusuf, 55), adalah Malik (Raja),
maka ummat Islam wajib mengimani bahwa pada zamannya Nabi Yusuf AS penguasa
Mesir tidak bergelar Fir'aun. Tiga generasi sebelumnya tatkala Nabi Ibrahim AS
datang ke Mesir, Nabi Ibrahim AS dinikahkan dengan Sitti Hajar, puteri Raja
Mesir.
Marilah kita kaji penemuan arkheologis Mesir Kuno (ayat kawniyah).
Sekitar tepi danau Manzala terdapat reruntuhan kota Tanis. Kota ini pernah
menjadi kota pelabuhan yang makmur. Tidak jauh dari daerah ini terletak situs
Avaris, markas angkatan perang yang dibangun oleh Hyksos, Raja Gembala atau Raja
Tanah Atas (Hyk = gembala, tahan atas, turatea, dan Sos = raja). Dinasti
Raja-Raja Hyksos, sebagai dinasti XV dan XVI mendapatkan legitimasi dalam
Dokumen Hieroglyph yang tertera dalam Daftar Penguasa Mesir di Turin.
Disebutkannya pernah penguasa Mesir Kuno tidak bergelar Fir'aun (Per-Ah,
Phar-Aoh) melainkan Raja dalam Dokumen Hieroglyph di situs Turin itu menunjukkan
mu'jizat Al Quran, oleh karena hieroglyph baru dapat dibaca dalam tahun 1824
atas jasa Jean Francois Champollion (1780 - 1832).
Asal-usul Hyksos
dari qabilah 'Ad, kaum terkuat bangsa Semit, penghuni asli Arabia, menguasai
padang pasir luas Arabia Tenggara dari pantai teluk Parsi sampai perbatasan
Iraq. Al Quran menyebutkan daerah yang dikuasai kaum 'Ad itu dengan Al Ahqaf
(46:21), yang juga menjadi nama surah. Karena merasa dirinya kuat, kaum 'Ad
menyombongkan diri dengan mengatakan: "Siapakah yang lebih unggul dari kami
dalam kekuatan?" Itulah yang dikatakan mereka tatkala Allah SWT mengutus Nabi
Hud AS kepada mereka. Mereka dihancurkan Allah dengan angin kencang dan dingin
selama 7 malam 8 hari terus-menerus lalu mereka mati terguling seakan-akan
tunggu-tunggul pohon kurma yang keropos (69:6-7). Kaum 'Ad yang dibinasakan
Allah ini adalah kaum 'Ad yang terdahulu. WANH AHLK 'AADN ALAWLW (S. ALNJM, 50),
dibaca: Wa annahu- ahlaka 'a-danil u-la- (s. annajm), artinya: Sesungguhnya Dia
telah membinasakan (kaum) 'Ad yang awwal (53:50).
Nabi Hud AS beserta
semua pengikutnya pindah ke Hijaz sebelum angin itu datang. Mereka ini disebut
kaum 'Ad yang akhir menurunkan seorang yang terkenal yaitu Luqman alHakim. Kaum
'Ad yang akhir ini dikenal dalam sejarah sebagai bangsa Finiqy (Phunicia), atau
kaum Al 'Ibriyah Al Qadimah (Proto 'Ibriyah). Kata 'Ibriyah berasal dari 'Ain,
Ba, Ra, 'Abara artinya penyeberang. Dalam dokumen hieroglyph orang Mesir
menamakan bangsa 'Ibriyah ini dengan nama Khabiru. Mereka menyeberang
(beremigrasi) dan mendirikan kerajaan-kerajan di Babilonia, di Kan'an, kemudian
ke Mesir mendirikan Dinasti Hyksos setelah menundukkan Dinasi Fir'aun. Bangsa
Al'Ibriyah Al Qadimah ini disusul kemudian dengan emigrasi gelombang kedua yaitu
kaum Al 'Ibriyah Al Jadidah (Deutro 'Ibriyah), di bawah piminan Nabi Ibrahim
AS.(*)
Pada tahun 1894 di situs Tell el Amarna didapatkan mula-mula oleh
Arab (perempuan) tua beberapa keping alwah (tablet) tanah liat bertuliskan
tulisan paku. Di situs itu dilanjutkan dengan penggalian arkheologis sehingga
didapatkan sekitar 300 keping bersurat tulisan paku yang dikenal dengan Dokumen
Amarna, yaitu sejumlah arsip surat-menyurat diplomatik antara Fir'aun dengan
kerajaan-kerajaan Asyiria, Babylonia, Anatolia, Palestinia dan Syria. Menurut
Dokumen Amarna, bangsa Khabiru banyak terlibat dalam politik
lokal.
Demikianlah bangsa 'Ad yang kemudian, atau bangsa Al'Ibriyah
alQadimah, atau bangsa Khabiru datang di Mesir sebagai emigran yang akhirnya
menempati posisi seperti orang-orang Yunani memegang peranan dalam percaturan
politik di Kerajaan Romawi, atau seperti Daeng Mangalle (adik Sultan Hasanudin)
di Kerajaan Siam yang menjabat sebagai Docda Pacdi (semacam jabatan Khaza-inu
lArdhi dari Nabi Yusuf AS di Mesir). Tatkala dalam pemerintahan Dinasti Fir'aun
terjadi dekadensi yang melahirkan anarkhi para emigran Khabiru ini, yang
menempati posisi dalam percaturan politik mengambil alih mekanisme pemerintahan
Fir'aun dengan bantuan kekuatan dari pasukan kaum Al'Ibriyah Al Qadimah dari
Kan'an mendirikan Dinasti Hyksos. Maka tumbang dan berakhirlah Dinasti Fir'aun
XIV.
Dinasti Hyksos membangun kota-kota di daerah perbatasan
sebelah Timur delta s. Nil dengan Avaris sebagai ibu kota. Daerah taklukan
Hyksos meliputi seluruh Kerajaan Utara hingga Memphis. Raja-raja Hyksos yang
membentuk Dinasti XV dan XVI seperti yang dikemukakan di atas, menuliskan
namanya dalam Dokumen Hieroglyph tidak memakai nama-nama Mesir, melainkan nama
asli mereka seperti Anath-Her, Khyan, Jacob-El, Apophis.
Dalam abad ke-17
sebelum Miladiyah terbinalah situasi politik seperti berikut: Di lembah s.Nil,
yaitu yang dahulu merupakan Kerajaan Mesir Utara atau Mesir Bawah (Northern or
Lower Egypt) diperintah oleh kekuasaan garis keturunan Dinasti Raja-raja Hyksos
yang merebut warisan kemegahan dan tanggung jawab para Fir'aun Mesir. Mereka
mengontrol daerah yang meliputi Kerajaan Mesir Utara, delta kuala s.Nil,
semenanjung Sinai, Palestina; ke selatan yaitu Kerajaan Mesir Selatan, mulai
dari Elephantine hingga ke Cusae sebelah utara Asyut, yang dahulunya berpusat di
Thebes. Penguasa Thebes turun derajatnya dari Fir'aun menjadi vazal bergelar
Pangeran (Karaeng Palili') yang membayar upeti kepada penguasa
Hyksos.
Dari Elephantine ke selatan hingga Nubia dan Sudan bagian utara
tetap merdeka sebagai kerajaan-kerajaan kecil diperintah oleh para Pangeran
Kush. Berbeda dengan para Pangeran Thebes yang membayar upeti, para Pangeran
Kush ini merupakan sekutu Raja-raja Hyksos, yang menurut sebagian pakar sejarah,
persekutuan Hyksos dengan para Pangeran Kush berbentuk konfederasi. Dinasti
XIV dan sebelumnya, serta Dinasti XVIII dan sesudahnya adalah dinasti para
Fir'aun. Dinasti XIV dengan Dinasti XVIII diselingi oleh Dinasti XV dan XVI dari
Raja-raja Hyksos dan Dinasti XVII dari para Pangeran Thebes. Dinasti XIII -
XIV dari para Fir'aun (1785 - 1580) sebelum Miladiyah, dengan perincian sebagai
berikut: Dinasti XIII dan XIV dari para Fir'aun (1785 - 1730) seb.
Miladiyah. Dinasti XV dan XVI dari Raja-raja Hyksos (1730 - 1580)
seb.M. Dinasti VII dari para Pangeran Thebes (1680 - 1580) seb.
M.
Seken-En-Ra yaitu pangeran kedua yang terkahir dari Dinasti XVII
enggan membayar upeti lagi, lalu melakukan perlawanan. Namun ia tidak berhasil
dalam perjuangannya melawan Apophis, Raja Hyksos. Mumi dari Seken-En-Ra yang
mempunyai luka pada beberapa tempat di kepalanya menunjukkan hal itu. Rupanya ia
tewas dalam pertempuran. Putera sulung Seken-En-Ra, kaitu Ka-Mose, pangeran
terakhir dari Dinasti XVII meneruskan peperangan melawan Apophis. Baik Ka-Mose
maupun Apophis semasa hidupnya tidak dapat menyaksikan hasil peperangan itu.
Adik Ka-Mose, yaitu Ah-Mose meneruskan perjuangan kakaknya. Ia berhasil merebut
Avaris ibu kota penguasa Hyksos, setelah pengepungan yang lama. Ah-Mose ini
membangun Dinasti XVIII dan menjadi Fir'aun yang pertama dari dinasti tersebut.
Maka berakhirlah kedaulatan Dinasti Hyksos atas Mesir dalam tahun 1580 sebelum
Miladiyah.
Dinasti XVIII dari para Fir'aun (1580 - 1340) sebelum
Miladiyah Dinasti XIX dari para Fir'aun (1340? - 1224) sebelum
Miladiyah Nabi Musa AS berhadapan dengan kedua Fir'aun yang terakhir dari
Dinasti XIX, yaitu Ra-Mose II (1298 - 1232) sebelum Miladiyah dan Mern-Ptah
(1232 - 1224). Fir'aun Mern-Ptah inilah yang ditenggelamkan Allah SWT di Laut
Merah. Sepeninggal Mern-Ptah terjadi khaos selama 24 tahun (1224 - 1200) sebelum
Miladiyah. Seti Nekth berhasil menertibkan keadaan dan Fir'aun ini adalah
pendiri Dinasti XX (1200 - 1085) sebelum Miladiyah, dan inilah dinasti terakhir
dari The New Kingdom Of The Nile. WaLlahu A'lamu bi shShawa-b.
***
Makassar, 12 Oktober 1997 [H.Muh.Nur Abdurrahman]
|