FYI

Erdinal Nazir� �Project Management Department PT. Thames PAM Jaya Perkantoran Pulomas Satu Gd.I Lt.1, Jl. Jend Ahmad Yani No.2 Jakarta-13210 Phone (021) 47867941-42-45 Ext. 2104� fax. (021) 47867946 E-mail : [EMAIL PROTECTED]
  >--------------------------------------------------------|
 |                                                        |
 |       To:                                              |
 |       cc:     (bcc: Ela Sukandari/BSFM)                |
 |       Subject:     Pelajaran Berharga                  |
 >--------------------------------------------------------|




Selasa malam (1 Februari 2005),


Setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor
dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M
menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian membuat saya amat lelah
hingga di sekitar daerah Cijantung, mata saya sudah benar-benar tidak bisa
dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan membuat saya menghentikan
motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung.
Saya lihat jam sudah menunjukan pukul 10.25 malam. Keadaan jalan sudah lumayan
sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan
alasan saya berhenti sejenak. Setelah saya selesai menelpon baru saya menyadari
kalau di sebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil
berusia sekitar 2 tahun. Tampak jelas sekali mereka kedinginan. Saya terus
memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya
(Naufal) yang baru berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai,
"Bagaimana jadinya jika yang berada di situ adalah isteri dan anak saya?"

Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. " Ibu, mau
ibu boleh ambil jaket saya, mungkin
sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan." Saya
segera membuka raincoat dan jaket saya, dan langsung saya berikan jaket saya.
Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan langsung meraih jaket saya.
Pada saat itu saya baru sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan
giginya bergemeletuk. "Tunggu sebentar disini Bu!" pinta saya. Saya lari ke
tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat
padanya. Dan Alhamdulillah, saya justeru mendapatkan teh manis hangat dari
tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut.

"Ini Bu,.. kasih ke anak Ibu!" Selanjutnya mereka meminumnya berdua. Saya tunggu
sejenak sampai mereka selesai.  Saya hanya diam memandangi lalu lalang kendaraan
yang lewat "Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya," sesaat kemudian ibu
tersebut membuka percakapan. "Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong Ibu pulang
kemana?" tanya saya. "Saya tinggal di daerah Bintaro ... (dia menghentikan
bicaranya), Bapak pulang bekerja?" dia balas bertanya. "Ya," jawab saya singkat.

"Kenapa sampai larut malam Pak, memangnya anak isteri Bapak tidak menunggu?"
tanyanya lagi. Saya diam sejenak karena agak terkejut dengan pertanyaannya.
"Terus terang Bu, sebenarnya selama ini saya merasa bersalah karena terlalu
sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka adalah
bagian dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga
mereka ketika saya pergi."

Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. "Bu, maafkan saya
kalau saya salah omong."

"Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau Bapak berkenan?" pintanya
dengan sedih dan sopan. Air matanya
berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya. Karena perasaan
bersalah, saya segera keluarkan uang lima puluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan
padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat
saya lepaskan. "Ya sudah, Ibu ambil saja tidak usah dipikirkan!" saya berusaha
menjelaskannya.

"Pak, kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar
kedinginan dan kasihan anak saya," kembali ibu tersebut bertanya dan sekarang
membuat saya heran.

Saya bingung untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai
bertanya-tanya, "Apakah Ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang
ditampilkannya di hadapan saya?" Tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus
meng-ikhlas-kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya

tersenyum tidak berkata sepatahpun. Tiba-tiba anaknya menangis dan semakin lama
semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar
bingung sekarang harus berbuat apa?

Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit
terhibur dengan handphone tersebut, mungkin karena lampunya yang menyala. Saya
biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu
saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah
membuat saya benar-benar kembali tidak dapat berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10
menit saya hanya diam di shelter tersebut memandangi lalu lalang kendaraan.

Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya
tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf
kalau tidak bisa menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah
menunggu di rumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.
Dia meminta nomor telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar
lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya
lanjutkan perjalanan saya. Saya hanya diam dan konsentrasi pada jalan yang saya
lalui. Udara benar-benar terasa dingin, apalagi saat itu saya tidak lagi
mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan.

Dan ketika sampai di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke
isteri saya kalau saya sudah di depan rumah, saya baru sadar kalau handphone
saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal
dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah, saya berusaha menghubungi nomor
handphone saya, tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan.

"Gila. Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit, saya kehilangan
handphone dan semua di dalamnya," dengan suara tinggi, saya katakan itu kepada
isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan
pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya
agar meng-ikhlaskan semuanya. "Mungkin Allah memang menggariskan jalan seperti
ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya,
biar bisa lebih ikhlas," dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.
Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa mobil, padahal hal ini
saya tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu
terbuang jika bekerja membawa mobil ketimbang naik motor yang bisa lebih cepat
mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor, saya khawatir hujan karena
kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan
kepada ibu dan anak tadi malam.

Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar Depok,
saya langsung menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap
kejadian tadi malam. Saya belum benar-benar meng-ikhlaskan kejadian tadi malam
bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut di dalam hati
karena telah menipu saya. Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan
besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya
ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan
tersenyum kalau yang mengantar adalah supirnya ibu yang tadi malam, katanya
Bapak kenal dengannya setelah pertemuan semalam, bahkan dia menambahkan
kelihatannya dari orang berada karena mobilnya mercy yang bagus.

"Bapak selingkuh ya? Pagi-pagi sudah dapat hadiah dari perempuan..." tanyanya
sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah
dia ingat plat nomor mobil orang tersebut, office boy tersebut hanya
menggelengkan kepala. Segera saya buka kotak tersebut, dan "Ya Allah, semua
milik saya kembali." Jaket, raincoat, handphone, kartu nama, dan uangnya. Yang
membuat saya terkejut adalah uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah, jauh
melebihi uang yang saya berikan kepadanya.

Dan juga selembar kertas yang tertulis: " Pak, terima kasih banyak atas
pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan
semua yang saya pinjam dan maafkan jika saya tidak sopan. Kemarin saya sudah
tidak tahan dan mencoba lari dari rumah setelah saya bertengkar hebat dengan
suami saya, karena beliau sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan
pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang setelah saya berjalan-jalan dengan anak
saya di Mall Cijantung. Sebenarnya, saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke
rumah kakak saya di Depok, tetapi saya jadi bingung karena tidak ada lagi uang
untuk ongkos, makanya saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu
dan melihat Bapak tadi
malam, saya baru menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan adalah demi cinta
dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk Bapak. Salam
juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri Bapak di rumah. Suami saya berharap,
biarlah Bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi  pelajaran
kami berdua. Oh ya, maaf handphone Bapak terbawa dan saya juga lupa
mengembalikannya tadi malam karena saya sedang larut dalam kesedihan. Terima
kasih."

Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada di hadapan
saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta agar semua uangnya diserahkan
saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.





----------------------------------------------------
EMAIL DISCLAIMER

This email and any files transmitted with it is
confidential and intended solely for the use of
the individual or entity to whom it is addressed.
Any personal views or opinions stated are solely
those of the author and do not necessarily
represent those of the company.

If you have received this email in error
please notify the sender immediately.
Please also delete this message and
attachments if any from your computer.

Kirim email ke