Pembaruan dari Desa-desa di Bantul

JANGAN anggap remeh forum kajian demokrasi yang dibentuk warga Desa Mulyodadi, Kabupaten Bantul. Meski tanpa keterlibatan orang-orang kampus, politisi, organisasi nonpemerintah, ataupun lembaga dana, Forum Kajian Demokrasi Desa Mulyodadi telah berhasil mengawali pembaruan politik di tingkat akar rumput.

PRODJO Sukardi bukanlah seorang politikus. Sehari-hari ia mengajar di SMP Negeri Bambanglipuro di Bantul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. Peserta Sekolah Pembaharuan Desa (SPD) Bantul itu merasa prihatin dengan pemilihan kepala desa yang tidak pernah lepas dari pertarungan uang.

Politik uang merupakan hal yang lumrah dalam pemilihan kepala desa di Bantul maupun desa-desa lain di seluruh Jawa. Seseorang yang mau bertarung dalam pemilihan lurah harus menyiapkan uang puluhan juta rupiah. Bahkan di daerah basah di DI Yogyakarta, dana yang harus disediakan bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Suatu angka yang sangat fantastis!

Meski bukan daerah basah, uang yang disiapkan seorang calon bisa mencapai ratusan juta rupiah. Uang itu dipergunakan untuk uang bensin tim sukses yang jumlahnya puluhan orang, selamatan, dan amplop yang dibagikan kepada masyarakat menjelang hari pemilihan.

"Praktik politik uang dalam pemilihan kepala desa menyenangkan bagi rakyat. Namun, sesudahnya rakyat yang harus menebusnya dengan risiko politik yang mahal. Prinsip akuntabilitas kemudian terabaikan. Keuangan desa yang menjadi milik publik dan akhirnya hanya menjadi bagian dari manajemen kantong kepala desa," kata Prodjo Sukardi.

Bukan itu saja, politik uang dalam pemilihan kepala desa menjadi sumber pertengkaran antarsesama warga desa yang sulit didamaikan. "Kekerasan lumrah terjadi setelah pemilihan lurah. Calon yang kalah kecewa karena kehabisan modal. Permusuhan dan perang dingin bisa berlangsung sampai pemilihan lurah berikutnya," kata Prodjo Sukardi, yang terpilih menjadi Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Desa Mulyodadi sejak tahun 2003.

Keprihatinan itu tidak berhenti menjadi keprihatinan. Ia berinisiatif mengajak sejumlah tokoh desa membentuk forum kajian demokrasi. Agenda utamanya mengantisipasi pemilihan kepala desa. Bagai pembicara dalam sebuah seminar resmi, Sukardi secara khusus menulis makalah "Upaya Penegakan Demokrasi dalam Menghadapi Pemilihan Lurah dan Pamong Desa secara Efektif dan Efisien" dalam sebuah forum diskusi.

Di tengah kekhawatiran suara sumbang yang beredar di masyarakat, peserta forum kajian demokrasi mendatangi kelompok-kelompok masyarakat untuk meyakinkan manfaat membersihkan pemilihan kepala desa dari praktik politik uang. Menjelang pemilihan lurah, spanduk dan poster berisi seruan untuk memilih calon yang jujur dan bersih dipasang di jalan-jalan desa.

Hasilnya, pemilihan lurah Desa Mulyodadi yang berlangsung 19 Januari 2005 benar-benar bersih dari politik uang. Pemilihan itu dimenangi oleh lurah lama, Nursanto (40). Tidak ada kekerasan ataupun pertengkaran. Dari 8.000 pemilih terdaftar, 60 persen di antaranya memberikan suaranya. Kekhawatiran masyarakat tidak datang ke tempat pemilihan karena tidak ada uang ternyata tidak terbukti.

JAUH di sudut selatan, di Desa Mangunan yang berada di wilayah perbukitan seribu di Kabupaten Bantul, semangat pembaruan dalam mengelola desa sangat terasa. Setelah lama tertidur, dalam tiga tahun terakhir Mangunan berkembang pesat. Tidak seperti jalan-jalan di pinggiran Jakarta, Banten, ataupun Jawa Barat, yang hancur tak terurus, jalan- jalan kecil di lereng-lereng bukit di wilayah Desa Mangunan itu beraspal mulus. Kebutuhan jalan, listrik, dan air bersih yang mendasar bagi warga hampir tuntas dipenuhi.

Warga Mangunan sangat antusias ketika Pemerintah Kabupaten Bantul menawarkan bantuan lima drum aspal untuk setiap kelompok masyarakat yang mau membangun jalan. Selama tiga tahun swadaya masyarakat untuk pembangunan jalan aspal sepanjang 40 kilometer itu mencapai lebih dari Rp 8 miliar. Tiap keluarga menyumbang Rp 200.000 sampai Rp 500.000 untuk pembangunan jalan. Mereka yang memiliki peternakan, industri rumah tangga, mobil atau truk menyumbang lebih banyak. Keluarga yang tidak mampu dibebaskan sama sekali. "Kadang-kadang ada donatur besar yang tiba-tiba menyumbang 10 rit batu. Masyarakat tidak keberatan mengeluarkan uang asal hasilnya bagus dan tidak dikorup," kata Slamet Pamudji (37), Ketua Badan Permusyawaratan Desa Mangunan.

Sejumlah warga yang ditemui menyatakan tidak keberatan dengan sumbangan sebesar itu. Alasannya, mereka membutuhkan jalan yang baik untuk memudahkan transportasi. "Dulu kami harus jalan kaki lewat jalan becek. Sekarang roda empat bisa masuk sampai ke pelosok-pelosok sehingga usaha bisa lancar," kata Tugimin (50), ketua kelompok usaha mebel kayu di Mangunan. Tugimin yang berpenghasilan Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per hari itu mengeluarkan dana Rp 500.000, ditarik tiga kali, untuk pembangunan jalan di desanya.

Jerih payah warga dalam membangun jalan justru menjadi peristiwa yang tidak pernah mereka lupakan. Siang- malam ratusan orang turun ke jalan membelah batu, mencangkuli lereng-lereng bukit, meratakan tanah, dan mengaspal jalan. Tanpa dikomando, ibu-ibu membuat dapur umum. Puluhan ayam dipotong setiap hari untuk hajatan besar itu.

Ketika jalan, air bersih, dan listrik tersedia, tiba-tiba saja peluang desa itu untuk berkembang menjadi tidak terbatas. Industri rumah tangga, kerajinan kayu, peternakan ayam, sampai industri makanan khas tiwul yang dibuat dari tepung singkong berkembang. Bahkan, seorang warga yang membuka industri kerajinan kayu tahun ini mulai memasok barang untuk diekspor. Tak ada penganggur di daerah itu. Bekerja sama dengan pemerintah daerah, tanah seluas 23 hektar mulai ditanami buah- buahan untuk agrowisata.

PERUBAHAN di Desa Mangunan terjadi tidak lepas dari trio orang muda yang memimpin masyarakat desa itu. Eling Purwanto (40), yang sehari-hari bekerja di bagian tata usaha SMP Negeri 1 Mangunan, merupakan kolega Slamet di sekolah itu. Jiyono (30), yang terpilih menjadi lurah dua tahun lalu, merupakan bekas murid Slamet. Ketiganya peserta Sekolah Pembaharuan Desa di Bantul. Mereka itulah pelopor pembaruan dimulai di Desa Mangunan.

Saat sang murid hendak maju menjadi lurah pada tahun 2002, Slamet dan Eling mengundang Jiyono untuk diberi wejangan. Berdua, mereka menguji Jiyono apakah niatnya maju menjadi lurah itu benar- benar untuk memajukan desa.

"Kalau cari harta tidak bisa dengan menjadi lurah. Penghasilan dari tanah bengkok untuk lurah tidak lebih dari Rp 2 juta setahun," kata Eling.

Dulu, ketika proyek datang, lurah membentuk timnya sendiri dan tidak pernah memberikan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Kini semua hal mesti dibicarakan bersama warga, dikelola secara transparan, dan dipertanggungjawabkan kepada warga. Di luar pamong desa, tokoh-tokoh yang menggerakkan masyarakat itu tidak memperoleh imbalan apa-apa kecuali melihat desanya semakin maju.

Pembaruan ternyata tidak selalu datang dari gegap gempita para aktivis, kaum cerdik pandai, atau politisi Senayan. Mereka bahkan harus belajar banyak dari warga biasa, para pembaru dari desa-desa di Bantul. (P Bambang Wisudo)



===========================================================
*Milis Alumni TF-ITB: http://groups.yahoo.com/group/alumnitfitb/
*Situs hebohnya IA~TF-ITB: http://www.iatf-itb.org/         

* self service - kirim ke :
a. [EMAIL PROTECTED] -> kalau mau ikutan milis 
b. [EMAIL PROTECTED] - > kalau udah bosen dari milis
c. [EMAIL PROTECTED] -> kalau mau cuti dari milis
d. [EMAIL PROTECTED] -> kalo merasa capai ngeliat
banyak email
e. [EMAIL PROTECTED] -> kalo sudah kangen lagi
pingin dapat update yang cepat
f. Sutanto Hadisupadmo, BNI ITB Acc No.: 0028644387 -> kalo mau transfer untuk mbantu mhs kurang mampu
===========================================================


Kirim email ke