|
dari milis sebelah.
sumbang saran mengenai manajemen masjid
dll.
=========================================================
Ass. wr.
wb.
Akhirnya wacana ini mulai dibuka kembali.. Ana mo coba ikut sumbang saran.. Bisnis TV itu bisnis bakar duit, artinya untuk memproduksi 1 episode program acara minimal 10jt sampai ratusan jt tergantung formatnya. Dan ini salah satu kendala tv2 islam yg ada (mqtv & arrahman channel) susah untuk bertahan. Jgnkan u/ bayar izin frekuensi u/ bayak ongkos produksi berat. Jadi u/ bikin tv baru, nanti dulu deh, pikir2 dulu ... Yg ada juga, kenapa tdk kita dukung saja 2 tv yg ada, dengan kondisi spt skrg yg hanya bisa dinikmati melalui parabola. Kita bisa bantu memberi kemudahan akses kepada umat islam yg ada dimana2 u/ bisa nonton. Salah satunya mungkin kita bisa membangun semacam penerima/receiver yg terdiri dari parabola yg kita pasang di lingkungan perumahan kita, kemudian dari parabola kita share kerumah2 yg ada, semacam konsep RTRW NET. Mungkin kita bisa libatkan pendirian reciver ini dgn masjid2/mushalla2 setempat, agar pendirian receiver di area masjid/mushalla, u/ maintain teknis kita bersama2 tangani dgn urungan dana u/ gaji teknisi atau, di masjid/dimushalla kita adakan training maintain kepada pemuda2 masjid u/ bisa memaintain sendiri (ini bisa jadi lahan pekerjaan bagi pengangguran). Trainernya sendiri kita bisa kumpulkan teknisi2 muslim yg ada, mungkin MIFTA bisa mengkoordinir ini. Kondisi hidupnya masjid/mushalla jelas berbeda2, karena itu kita juga hrs mulai membantu management masjid2/mushalla u/ bisa lebih hidup. Kita bisa adakan bedah buku islam/ diskusi islam di mushalla/masjid2 diperumahan, jgn hanya dimasjid2 besar saja. Karena semakin byk kegiatan semakin hidup dan dlm kegiatan ada pendanaan, dan pengumpulan dana di mushalla bisa lebih ditingkatkan krn byk kegiatan yg melibatkan umat disekitarnya Ada saran untuk membuat model MLM (multi level management) Masjid/Mushalla. Jadi masjid/mushalla yg yg ada didesa2 itu punya upline masjid/mushalla yg ada dikabupaten, dan masjid/mushalla yg ada dikabupaten punya upline masjid2 raya dipropinsi dstnya. Jadi misalnya cukup 1 masjid raya di propinsi membantu management 2 ato 5 masjid dikabupaten dalam hal kegiatan2, jd misal u/ acara bedah buku, diskusi dll bisa diadakan juga di masjid kabupaten, dan 1 masjid dikabupaten membantu 2 sampai 5 masjid/mushala yg ada didesa/perkampungan dstnya. Klo jaringan ini sudah terbentuk, kita juga bisa tahu klo ada mushalla2 yg ditutup krn digusur atou tdk ada jamaahnya. Jaringan informasi terbentuk, ada informasi yg mo disebaran dari pusat, bisa disebarkan sampai ke mushalla2 didesa. Ini juga bisa digunakan u./ jaringan pendidikan umat, kita membuat system training berbagai software ato hardware sampai ke mushalla2 diperkampungan, dan ini bsa meningkatkan skill umat islam yg masih byk tdk bisa sekolah krn biaya mahal atao menganggur. Jadi jgnkan u/ mendirikan receiver u/ membangun yg lainpun insyaallah bisa dilaksanakan. Klo sudah terbentuk seperti itu, akan mendorong berdirinya rumah2 produksi yg islami krn skrg sudah ada jaringan tv islam yg sudah bisa hadir ditiap rumah. Acara2 islami bisa dibangkitkan dari jaringan masjid/mushalla tadi. Kegiatan2 bedah buku, training linux ato peringatan maulid, ceramah dakwah ataou bahkan lika-liku kehidupan masyarakat islam disuatu desa bisa menjadi program acara tv. Lama2 dua tv islam yg ada akan kaya akan program acara. Tapi kaya program juga tdk menjamin tv itu akan ditonton, krn itu tertantang pula u/ hadirnya para creative director muslim yg bisa membuat acara2 islami yg menarik, klo masalah ini ana pikir ini masalah selera yg terbentuk dari kondisi yg ada. Kondisi skrg byk acara2 sinetron, tayangan misteri, berita2 yg menyebarkan paham sekuler dan merendahkan moral agama yg disodorkan ke rumah2 melalui tv2 yg ada. Tapi klo kita bs membuat acara2 yg menyejukkan hati, meningkatkan keimanan dan kedekatan kita kpd ilahi, insyaAllah akan byk yg tonton (seperti suksesnya acara rahasia ilahi di TPI), krn skrg orang sudah pada jenuh dgn kondisi dan acara2 yg ada srg. Klo acara2 islami yg menarik sudah byk bermunculan dan byk penontonnya, akan menarik iklan yg dipasang. Disini juga akan mendorong hadirnya iklan2 produk islami. Ini juga kan mendorong berkembangnya produk2 islami yg ada. Dan dgn iklan inilah tv2 Islam bisa hidup. Dan ana pikir ini semua bisa kita mulai rilis skrg dan mungkin bisa dimulai dari MIFTA... InsyaAllah ... Thx & wassalam Budi Imam ----- Original Message ----- From: Harry Sufehmi To: Dhani Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, April 28, 2005 9:04 AM Subject: [mifta-perjuangan] Re: Kenapa berbagai TV Islam harus pakai parabola Terimakasih mas Dhani atas informasinya. Pak Nizami, ini ada informasi tambahan yang mungkin bisa bermanfaat, trims. Wassalam, Harry At 11:41 27/04/2005 -0500, Dhani wrote: >New comment on your post #888 "Kenapa berbagai TV Islam ?" > >Author : Dhani (IP: 61.94.213.12 , 61.94.213.12) >URI : http://dhani.blogspot.com/ >Comment: >Masih ada alternatif lain koq :). Izin TV komerisal itu beda dg izin TV >komunitas, makanya saya usulkan sebagai TV komunitas saja. Tapi sebagai >konsekuensinya, daya pancar untuk TV komunitas itu dibatasi. Alternatif >lain, kita bisa melakukan 'blocking time' di stasiun yg sudah ada, mirip >seperti MTV yg nebeng di Global TV atau VH1 yg mengudara via Jak TV. Jadi >tinggal cari TV lokal atau nasional yg bisa diajak kerjasama. Sekarang >saja banyak TV lokal yg dibangun dg modal cekak (dibawah 2 milyar), tapi >mampu siaran. Saya yakin, somehow, ada cara untuk 'mengakali' kendala dana >untuk sewa frekuensi. > >You can see all comments on this post here: >http://harry.sufehmi.com/archives/2005-04-21-888/#comments |

