|
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0505/06/opi02.html
Revitalisasi Agama dan Sains Oleh Yayat Dinar N Dalam kehidupan saat ini, peranan agama masih diperlukan, ketika kita berhadapan dengan masalah-masalah ketuhanan dan norma-norma atau nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Akan tetapi, sains juga sangat diperlukan bagi "perubahan" peradaban manusia, peningkatan kualitas hidup manusia, seperti kemakmuran, kesejahteraan, demokra-tisasi, serta peningkatan intelektual. Pada dasarnya, agama tidak pernah melarang umatnya menggunakan akal pikiran. Penggunaan akal pikiran dalam memahami, mencermati serta meneliti sesuatu, menjadi dasar atau landasan serta pijakan bagi kemajuan sains. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan sains (ilmu) terutama yang berhubungan dengan ekonomi dan teknologi, sangat berperan dalam menata dan meningkatkan kualitas hidup dan peradaban manusia. Kita ambil contoh negara Jepang, Rusia, dan Cina, maupun negara-negara Eropa, yang nota bene bukan menganut negara "teokrasi", mengalami kemajuan yang pesat, baik di bidang ekonomi maupun teknologi. Bagi negara-negara tersebut, sains sudah menjadi "ikon" di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, akan tetapi masalah agama, terutama masalah spirit atau nilai-nilai masih tetap dipegang teguh oleh masyarakatnya. Perkembangan aktivitas berpikir atau aktivitas akal manusia sangat cepat dan dinamis, hal ini dibuktikan dengan kemajuan sains, yang mampu membuat manusia menembus batas-batas nalar, dan bahkan mampu menguak tabir misteri yang ada dijagat raya ini. Pertanyannya, mampukah sains menggantikan agama? Paul Davis (1993) menjelaskan, sains adalah sebuah pencarian mulia, yang mempertanyakan dan membantu kita membuat pengertian tentang dunia, dengan cara objektif dan metodis. Di mana sains menuntut standar-standar ketat tentang prosedur dan diskusi yang menempatkan rasio di atas kepercayaan irasional. Dengan kata lain, sains merupakan hasil dari olah pikir atau aktivitas pikir manusia, baik melalui kajian atau metode rasional maupun metode ilmiah, secara terus-menerus. Menurut Taqiyuddin an-Nabani (1973), aktivitas berpikir bisa terwujud jika ada fakta, otak manusia yang normal, panca indera dan informasi terdahulu. Sementara menurut Auguste Comte, perkembangan intelektual manusia meliputi: teologi, metafisik, dan terakhir sains. Halal dan Haram Comte sendiri menjelaskan bahwa pada tahap pertama teologi akal membahas esensi, asal, dan tempat berakhirnya segala yang ada dengan berpatokan pada imajinasi atau khayalan. Pada tahap kedua, metafisika, di mana kemampuan akal manusia bertambah, di sini akal mulai mengesampingkan sesuatu yang tidak tampak, untuk mengembalikan zahir pada sebab-sebab absolut yang tersembunyi yang diduga berada dalam bagian terdalam dari sesuatu, kemudian penarikan kesimpulan berdasarkan teori deduktif yang menggantikan posisi khayalan atau imajinasi. Tahap ketiga, positivistik atau sains, akal mulai meninggalkan pencarian esensi dan tempat kembalinya mahluk dan sebab-sebab tersembunyi. Pada tahap ini, segala sesuatu yang tampak dinilai berdasarkan eksperimen dan penglihatan, bukan melalui imajinasi atau khayalan. Di dalam konsepsi Islam, menurut Yusuf Qardhawi (1995), agama adalah sains (ilmu) dan begitu juga sebaliknya sains adalah agama, karena hukum menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Jika kita melihat fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa agama dan sains adalah sejajar, menuntut ilmu (sains) bisa diketegorikan sebagai fardhu kifayah ataupun fardhu ayn, hal itu tergantung dari kebutuhan individu maupun masyarakat. Dengan kata lain sains dan agama, berdiri sendiri dan keduanya saling mendukung serta saling membantu dalam kemaslahatan umat manusia. Dilihat dari segi urgensi kepentingan dan keberfihakan terhadap umat manusia, agama dan sains tidak ada bedanya. Keduanya berperan dan mempunyai tujuan mulia, yakni memajukan dan membimbing umat manusia, baik secara jasmani maupun rohani, ke arah peradaban baru. Hal yang membedakan antara sains dan agama adalah pertama terletak pada prinsip dasar, dalam sains tidak mengenal halal dan haram, tidak mengenal istilah tabu, tidak mengenal batasan-batasan, sehingga jika segala sesuatu bisa dibuktikan secara logika (rasio) dan didasarkan kajian metode empiris serta ilmiah, hukumnya menjadi sah. Sementara dalam agama, kita dibatasi oleh halal dan haram, pantas dan tidak pantas, boleh dan tidak boleh, baik dan buruk. Agama Memerlukan Sains Dari asal-muasal juga terdapat perbedaan antara agama dan sains. Agama berasal dari wahyu yang diturunkan oleh Tuhan melalui para nabi dan rasul, sementara sains (ilmu) merupakan proses perenungan atau olah pikir dan aktivitas berpikir otak manusia. Namun jika dilihat dari segi kewajiban penuntutan dan atau proses pencarian, agama dan sains dalam Islam memiliki kesamaan derajat, hal ini dibuktikan dengan mewajibkan umat Islam (kaum muslim) dalam menuntut dan mencarinya. Kewajiban menuntut ilmu, sebetulnya diharapkan dapat meningkatkan intelektual umat manusia, sehingga mampu menjadi khalifah yang baik di muka bumi, seperti tujuan awal diciptakannya manusia. Sains identik dengan pemenuhan kebutuhan jasmani atau yang berhubungan dengan kehidupan duniawi, seperti teknologi, intelktual, kemakmuran, dan demokratisasi. Agama diharapkan lebih fokus terhadap pemenuhan kebutuhan rohani dan tata cara pergaulan hidup, seperti dalam Islam mengenal Hablumminallah (berhubungan dengan tuhan) dan Hablumminannas (berhubungan dengan manusia). Yusuf Qardhawi mengatakan agama memerlukan sains, dan begitu juga sebaliknya. Maka alangkah lebih baiknya jika agama memanfaatkan dan mempersenjatai diri dengan sains. Demikian pula dengan sains, harus memberikan kesempatan pada agama untuk mengisi dan menyempurnakan kekosongan jiwa manusia dengan esensi nilai-nilai spiritual. Mampukah sains menggantikan agama? Ini hanya bisa dilihat dari aspek "kepentingan". Pertama, jika kita lebih memperhatikan kepentingan keduniaan (duniawi), seperti pengentasan kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan. Kita bisa menempatkan sains menjadi "ikon" dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, artinya sains ditempatkan sebagai lokomotif dalam membangun peradaban dan kemaslahatan (kesejahteraan) umat manusia, sementara agama dijadikan pendorong secara spiritual yang akan mengontrol dan mengawasi kegiatan sains tersebut. Kedua, jika kita menginginkan keadaan seperti "sekarang" (kemiskinan merajalela, intensitas kebodohan cukup tinggi), kita bisa menafikan peranan sains dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Akan tetapi, semuanya merupakan suatu pilihan, kita tidak bisa memaksakan kehendak, harus ada kompromi-kompromi untuk memutuskan sesuatu, sehingga bisa menjadi pijakan dan landasan bagi seluruh lapisan masyarakat. Karena apa yang kita putuskan bersama, akan ditanggung oleh seluruh umat manusia, baik selama di dunia maupun di akhirat kelak Penulis adalah staf eksekutif Nuri Lestari Foundation, Indonesia Copyright � Sinar Harapan 2003 [Non-text portions of this message have been removed] |
[Ar-Royyan-1416] Revitalisasi Agama dan Sains
IHB Jakarta - Jaeroni Setyadhi Sun, 08 May 2005 19:50:50 -0700

