Ass.Wr.Wb.
 
Kejadian di bawah ini persis yang saya temui pagi ini. Yaitu sebuah keluarga kecil (suami, istri dan anak perempuan mereka umur 4 tahun) yang keluar dari Stasiun Beos (Kota) kemudian melanjutkan perjalanannya dengan Mikrolet M-15A jurusan Tanjung Priok.
Ketiganya duduk di depan, si suami berkopiah ala Ustadz Jeffrey setengah merangkul istrinya yang berjilbab dan anaknya duduk di tengah "ramai-ramai" makan buah segar yang dibeli dari gerobak kaki lima di luar stasiun. Duh, mesranya mereka .....
 
Wass / Jaerony.-
sumber: milisnya penumpang sepur (krl-mania)
 
----- Original Message -----
 

Just Do It !!!

 

 Agaknya hakikat perkawinan kini makin tak mudah dipahami, menyusul banyaknya pasangan gampang menceraikan diri. Padahal kalau kita buat daftar alasan mengapa orang memutuskan untuk menikah dan daftar alasan mengapa mereka bercerai, pasti akan ditemukan banyak Overlaping pada kedua daftar tesebut.

 

           Ketika mejemput teman di bandara sore tadi, tak sengaja saya mendapat pelajaran berharga arti sebuah perkawinan. Di ruang kedatangan, seorang pria paruh baya menenteng koper dan tas kecil tergopoh menemui keluarga yang datang menjemputnya.

 

            Sambil berjongkok ia memeluk anaknya yang kecil, perempuan usia lima tahun. Dari hangatnya pelukan erat anak-bapak ini tercermin betapa masing-masing amat rindu. “Apa kabar Dik? Papa kangen nih !.” sang anak tersipu-sipu “adik juga kangen Pa”. Kemudian ia memandang si Sulung, bocah lelaki usia 10 tahun. “wah, Dion sudah gede sekarang!” ujarnya sambil merangkulnya. Mereka saling mengelus kepala. Adegan selanjutnya, adalah ciuman kasih si pria terhadap ibu kedua anaknya, layaknya pengantin baru.

 

            Rasa iri terbesit di hati melihat adegan tersebut. “sudah berapa tahun usai perkawinan Anda?” tanya saya kepada si

pria. “Kami sudah menikah selama 17 tahun.” Jawabnya tanpa melepaskan gandengan tangan istrinya.

 

            “Omong-omong, Anda pergi berapa lama sih?” “Dua hari,” jawabnya singkat. Saya terkejut mendengar jawaban itu. Betapa tidak. Melihat kerinduan masing-masing dalam penyambutannya yang mesra itu, saya pikir pria tadi sudah meninggalkan keluarganya selama berbulan-bulan.

 

            “Mengapa Anda tanyakan hal itu?” tanya si pria melihat wajah saya termangu. “Well semoga saya bisa seperti anda.”

 

            “Jangan hanya berharap. Just Do It!“ ujarnya berlalu. Barangkali memang benar pernyataan Mignon McLaughlin jurnalis Amerika terkenal, sebuah perkawinan yang berhasil menuntut jatuh cinta berkali-kali tapi selalu kepada orang yang sama.

 

Di Sadur dari Majalah Intisari No. 506 edisi bulan September 2005

Di rubrik Lentera hal.184.

 

Semoga bisa jadi bahan perenungan.

“Saya pun setelah membaca artikel ini lalu meminta istri saya membacanya juga. Dan kami sepakat dengan apa yang di tulis di bagian akhir artikel ini.” Bisa Jadi salah satu cara untuk menhindari perselingkuhan.

 

Best Regards,

 

Luther Olivier

Kirim email ke