Saya
pernah dengar di radio JIL udah dimasukkan sebagai aliran sesat oleh MUI. Ada
confirmasi mengenai masalah ini? Sukur2 ada edaran resminya diattach.
-----Original
Message-----
From: IHB Jakarta - Jaeroni
Setyadhi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 13, 2005
1:37 AM
To: [email protected]
Subject: [Ar-Royyan-2320] Terapi
Gangguan JIL
Ass.Wr.Wb.
Ooppsss
... ternyata gangguan JIL lebih berbahaya daripada gangguan JIN lho!
Buat
Pengurus Ar-Royyan, jika nanti dibuat Tim Ruqyah (lanjutan) untuk Gangguan JIN,
saya usulkan juga membentuk Tim Ruqyah Gangguan JIL.
Soalnya, adanya gangguan ini sudah mulai tercium, termasuk ingkar terhadap
As-Sunnah. Naudzubillah!
Wass /
Jaerony.-
-----
Original Message -----
Terapi Gangguan JIL
Kerasukan JIL lebih berbahaya dari kerasukan jin. Karena orang yang kerasukan
jin, rufi'al qalam, pena diangkat atas mereka, yakni amal buruknya tidak
akan dicatat. Akan tetapi orang yang kerasukan paham Jaringan Islam
Liberal, bisa murtad. Lihat saja statemen-statemen yang muncul dari orang
yang kerasukan paham liberal: nyeleneh, berani, dan sesat. Seperti
statemen: 'Nabi Muhammad pun menikmati goyang'; atau menyuarakan dzikir
'anjinghu akbar'; atau mengomentari seorang artis yang murtad dari Islam
dikatakan pindah agama karena hidayah; atau kalimat 'Tuhan semua agama
sama'; dan statemen mengerikan lainnya. Bukankah apa yang mereka ungkapkan
itu seperti ungkapan orang yang hilang akal?
Tindakan Preventif
Meski demikian ketara kesesatan mereka, tidak sedikit yang terpengaruh dan
silau dengan apa yang mereka miliki. Untuk itu, sebagaimana penyakit
badan, pencegahan lebih utama dari pada pengobatan. Maka perlu upaya
pencegahan terhadap penyakit kronis yang bisa meracuni iman manusia ini.
Tidak mendengarkan ocehan mereka, atau menjauhi tulisan-tulisan orang yang
diindikasikan sebagai penganut JIL adalah pencegahan yang jitu. Kecuali
bagi yang memiliki kapabiltas ilmu syar'i yang cukup, akidah yang kuat dan
hendak menunjukkan kesesatan mereka kepada umat.
Cara ini mungkin dianggap kekanak-kanakan. Akan tetapi, anggapan itu akan
sirna ketika kita menyimak hadits Nabi saw,
"Sesungguhnya di antara penjelasan itu ada sihirnya." (HR. Bukhari)
Berapa banyak orang yang tadinya netral, lalu membaca tulisan
seorang Doktor penganut JIL, dengan sistematika yang tampak ilmiah dan masuk akal
hingga ia tersihir dan tertarik dengan pemikiran JIL?
Untuk itulah, seorang ulama tabi'in al-A'masy pernah memerintahkan anaknya
untuk memasukkan jarinya ke telinga ketika ada orator penganut Jahmiyah
berbicara. Beliau berkata, "Rapatkanlah penutup telingamu wahai
anakku, karena hati ini lemah."
Gejala 'Kerasukan' JIL
Gejala ini perlu untuk kita ketahui. Siapa tahu di antara kita
ada yang menolak pemikiran global aliran JIL, tetapi mengidap
sebagian penyakit yang diakibatkan oleh virus yang mereka sebar. Atau
setidaknya kita bisa mendeteksi para pembicara dan penulis, pengikut JIL
ataukah bukan.
Di antara gejala yang tampak pada orang yang kerasukan JIL
adalah mendahulukan akal dari pada dalil syar'i. Inilah gejala yang
paling ketara. Seringkali dalil al-Quran dan al-Hadits ditolak dengan
dalil akal. Mereka tinggalkan tafsir para ulama salaf dan condong
kepada tafsir hermeuneutika, tafsir 'semau gue' yang diadopsi dari
para filosof Yunani yang kafir. Sesuatu yang telah baku dan qath'i
dalam al-Quran pun kerap kali mereka tolak dengan dalih
'kontekstual'.
Mereka juga menjadi penganut yang paling berani dalam mengkritik al-Quran
dan as-Sunnah yang shahih, juga berlaku sinis terhadap para ulama salaf.
Mereka tidak mengenal definisi bid'ah, syirik atau murtad. Isu
pluralisme, bahwa semua agama sama menjadi titik tekan.
Maka mereka adalah kaum yang paling kebablasan dalam hal 'toleran'.
Jika ada yang tertarik dengan pemikiran seperti yang telah penulis sebut
di atas, berarti dia tengah mengidap gejala 'kerasukan'
JIL. Maka hendaklah segera dicarikan penawarnya.
Terapi Kerasukan JIL
Jika Anda merasakan adanya gejala 'kerasukan JIL' pada
orang-orang yang didekat Anda, maka segeralah Anda menepis sihir JIL
dengan penjelasan berikut.
Pertama, mengingat bahwa orang-orang JIL itu belajar
Islam kepada para musuh-musuh Islam, dan para orientalis barat. Maka
mungkinkah kebenaran berada di pihak mereka sedangkan kesalahan
berada di pihak para ulama yang belajar dari para ulama dan bersambung
hingga Nabi Muhammad saw? Alangkah bagusnya nasihat seorang ulama tabi'in
Muhamad bin Sirin, "Ilmu itu adalah agama, maka lihatlah kepada siapa
kamu menuntut ilmu (agama)." Kalau seseorang menimba ilmu agama
kepada orang kafir, sudah barang tentu yang didapat adalah cara pandang
orang kafir terhadap Islam, atau penafsiran al-Quran dan as-Sunnah menurut
musuh Allah dan Rasul-Nya. Maka apakah fikih madzhab Aristoteles yang
mereka banggakan itu lebih lurus dari fikihnya empat madzhab? Demi Allah,
TIDAK!
Kedua, hendaknya memperhatikan kondisi mereka dalam
beragama. Semakin tinggi tingkat liberalnya, semakin berani meninggalkan
ibadah, terutama yang khusus, seperti shalat, shaum dan yang lain.
Apalagi dalam hal sunnah, mereka adalah kelompok yang paling bersih
dari sunnah Nabi. Ibadah orang muslim yang sangat awam, jauh lebih
mending daripada mereka.
Ketiga, keberpihakan mereka kepada orang-orang kafir
melebihi keberpihakan orang kafir atas agama mereka sendiri. Apalagi bila
dibandingkan dengan keberpihakan mereka kepada Islam, amat jauh. Majalah
Syir'ah misalnya, ketika melukiskan perilaku Yahudi,
kalimat yang dipakai adalah 'Yahudi Pejuang Damai.' Tetapi ketika
menggambarkan orang Islam, dipakai kalimat, "Harus diakui,orang Islam
itu suka plin-plan." Bahkan ketika ada seorang ibu berkonsultasi
tentang anaknya yang mau keluar dari Islam, 'pendekar JIL' Abdul Muqsith
malah menjawab, "Tidak ada pilihan lain kecuali bahwa ibu harus
mengikhlaskan kepergiannya ke agama lain itu."
Sedikit penjelasan ini mudah-mudahan bisa menyadarkan 'pasien'
yang kerasukan JIL.
Wallaahu a'lam.
--- End
forwarded message ---
*************