diposting oleh Bung Anton ke milis KRL dan KOTA BOGOR. Sudah tidak ada rasa malunya si ibu berbicara masalah suap menyuap dan peradilan.
----- Original Message ----- From: "Anton" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, September 14, 2005 8:12 AM > Kemarin , Selasa 13 September 2005 , saya pulang naik KRl Ekonomi jurusan > Gondangdia - Bogor . Sama dengan yang telah saya lakukan selama hampir 10 > tahun ini . Ditunggu dari jam 17.00 sampe akhirnya baru datang jam 17.30 .. > wuaah mangkel tapi daripada capek ngomel mendingan diem ..minimal hemat > tenaga > > > > Waktu kereta datang .. padat banget , sampe ada yang naik ke atas , seperti > biasa . Dengan susah payah akhirnya saya berhasil naik . Begitu sampe di > bagian tengah .. ada seorang ibu / wanita sedang sibuk berbicara di HP-nya , > padahal lagi padet banget , saat itu . > > > > Eh mau nggak mau saya jadi nguping juga pembicaraan apa yang dia lakukan > sehingga nggak bisa ditunda sampe turun kereta . Cuplikannya seperti ini > > > > Si wanita : .. iya bu , biasanya orang yang kerja kantoran , bakalan nggak > mau repot soalnya , sidang itu bisa makan waktu . Kita harus dua tiga kali > datang . > > > > (diam sejenak mendengarkan lawan bicaranya .. ) > > > > Si wanita : kalo gitu saya ada hakim yang enak .. biayanya 5 juta buat > hakimnya . Jadi biayanya 7.5 juta buat bikin prospek (?) , terus 5 juta buat > hakimnya . Itu sudah minim banget lho bu .. perhitungannya 7.5 juta itu kan > buat nyiapin segala macam , terus buat biaya sidang .. > > > > (pembicaraan berlangsung terus berkisar harga , seperti tawar menawar) sampe > akhirnya > > > > Si wanita : iya dech , ibu pertimbangkan saja nanti telpon saya saja kalau > sudah diputuskan . Tapi jangan lupa lho ibu siapkan dua saksi untuk sidang > itu . > > > > Bukanlah berita baru bahwa hakim Indonesia bisa dibeli dan keputusan sudah > dibuat diluar sidang , tapi mendengarkannya secara langsung sendiri tawar > menawar seperti itu , ternyata membuat bikin dada lebih sesak . Yang membuat > saya sedih ternyata tidak adanya rasa malu untuk membicarakan hal yang > sebenernya melanggar etika dan hukum itu di tempat umum , didengarkan oleh > puluhan orang .. Dimana rasa malunya yach , padahal malu karena berbuat > kesalahan itu penting dan merupakan rem bagi kita untuk memperbaiki diri , > kalau udah nggak ada rasa malu , kapan kita bisa memperbaiki diri . > > > > Juga saya jadi membayangkan bahwa sidang kecil aja (kasus perceraian > kayaknya) sudah 5 juta , jadi berapa yang si hakim itu dapat kalau menangani > kasus besar kayak korupsi .. waah nggak kebayang dech . Tapi memang jelas > bahwa moto " ada uang ada barang" ternyata berlaku juga di dunia peradilan > .. makin ruwet ini negara > > > > Akhirnya saya turun di Cilebut , Bogor sambil terbengong - bengong.. > > > > Salam > > > > anton > -------------------------------------------------------------- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com

