----- Original Message ----- 
From: "Ummu Ja'far" <[EMAIL PROTECTED]>


Puji-pujian Menjelang Shalat Berjamaah
Publikasi: 23/08/2005 09:04 WIB

Kalau kita melakukan sholat jama'ah sebelum iqomah kita membaca
puji-pujian kepada Rosul sembari menunggu imam, menurut ustadz bid'ahkah
itu? Perlu diingat bahwa mengagung-agung kan rosul itu hukumnya sunnah.

Budi Prasetyo

Jawaban:

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa ba'du

Mengucapkan puji-pujian kepada Rasulullah SAW adalah sebuah ibadah yang
dianjurkan. Termasuk juga membaca shalawat dan salam kepadanya. Sebab
Allah SWT pun telah bershalawat kepadanya, demikian juga para malaikat,
ikut juga bershalawat kepada beliau. Maka Allah SWT pun memerintahkan
umat Islam untuk banyak-banyak menyampaikan shalawat kepada nabi dan
rasul termulia itu. 

Dalam salah satu ayat Al-Qur'an, perintah Allah SWT kepada orang-orang
beriman untuk bershalawat dan memberi salam kepada beliau sangat jelas.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab: 56)

Masalahnya tinggal waktu pengucapannya serta bagaimana tata cara
mengucapkannya. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Apalagi bila
selalu diucapkan pada saat menjelang shalat, yaitu antara azan dan
iqamat dalam shalat berjamaah. Kekhususan seperti ini terus terang
memang tidak ada tuntunannya, baik di dalam Al-Qur'an maupun di dalam
As-Sunnah. Maksudnya, tidak ada dalil secara khusus yang memerintahkan
kita untuk membaca shalawat atau puji-pujian menjelang shalat berjamaah.

Oleh karena itu, sebagian ulama yang berhati-hati dalam masalah
penerapan sunnah, sangat menjaga agar jangan sampai kita membiasakan
diri melakukan sesuatu yang tidak ada anjuran atau perintahnya, di mana
hukum asalnya boleh-boleh saja, namun karena selalu dibaca dan
dibiasakan, dikhawatirkan nantinya akan ada orang yang beranggapan bahwa
hal itu bagian dari tata cara ibadah shalat.

Rupanya, kekhawatiran seperti itu sedikit banyak memang sudah menjadi
kenyataan. Ada beberapa orang awam yang lantas beranggapan bahwa antara
azan dan iqamat harus dibacakan pujian kepada Rasulullah SAW. Bahkan
sampai kepada pemahaman bahwa bila tidak diucapkan pujian itu, maka
ibadah shalat itu kurang benar atau kurang afdhal. Berangkat dari
kenyataan seperti itu, sebagian kalangan lantas memfatwakan untuk
melarang membaca pujian menjelang shalat, sebagai langkah saddan
li-adzdzari'ah. Malah sebagian sampai mengatakan bahwa hal itu adalah
bid'ah yang diada-adakan.

Kalau kita meminjam jalan berpikir kalangan ini, rasanya memang ada
benarnya. Tinggal bagaimana kita bisa membahasakan kembali kepada
masyarakat, agar tidak timbul keresahan. Kami yakin, bila kita
menjelaskan dengan baik, sambil menerangkan duduk persoalannya, tanpa
ada kesan menggurui, apalagi menghakimi, banyak orang yang bisa dengan
mudah mengerti.

Sebaliknya, bila cara menyampaikannya terkesan arogan, merasa benar
sendiri, sambil memaki, mencela atau menyakiti hati yang mendengarnya,
wajar pula bila timbul resitansi dari mereka yang terlanjur terbiasa
melakukannya. Maka seni berdakwah itu penting untuk dipahami, sebab
berdakwah itu memang butuh seni tersendiri. Sederhananya, kita ditantang
untuk bisa mengail ikan dengan cerdas, agar bisa dapat ikannya tanpa
membuat keruh airnya. Sedangkan pengail ikan yang kurang cerdas, bisanya
hanya membuat air menjadi keruh, sementara satu pun ikan tak didapatnya.

Wallahu a'lam bish-shawab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wa
barakatuh
Ahmad Sarwat, Lc.

-----------------------


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke