----- Original Message -----
Subject: FYI: Buletin Jum'at Al Islam edisi 276

MEWASPADAI PENCITRABURUKAN ISLAM
Buletin al-Islam Edisi 276
Jum'at, 14 Oktober 2005

Pada 1 Oktober lalu, sekitar pukul 19.30 WITA, kita dikagetkan oleh kejadian ledakan bom di Jimbaran dan Kuta, Bali. Bom itu menyebabkan 27 orang meninggal dan 125 orang mengalami luka-luka. Peledakan bom itu merupakan tindakan zalim luar biasa. Kita tentu sepakat untuk mengutuk pelakunya.

Seperti biasa, pihak luar negeri langsung melemparkan tuduhan. PM Australia Jhon Howard dan Rohan Gunaratna (seorang yang dianggap pakar terorisme di Singapura yang dikutip CNN dan Frank Gadner koresponden keamanan BBC) segera menuduh bahwa peledakan bom itu dilakukan dan diotaki oleh Jamaah Islamiyah (JI). Bahkan Menlu Australia Downer segera terbang ke Indonesia untuk mendesak Pemerintah RI agar bertindak tegas melarang JI.

Pemerintah dan pihak dalam negeri sendiri masih berhati-hati dan tidak segera menuduh sembarangan. Menurut Ketua PB NU Hasyim Muzadi, tindakan teror tersebut tidak dapat dibenarkan dan diharamkan dalam agama. Hasyim meminta semua pihak untuk tidak gampang menuduh dan memberikan label berbau Islam terhadap pelaku peledakan. Masyarakat diminta tidak mengaitkan pelaku peledakan dengan umat Islam. Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menegaskan, bom yang meledak di Bali tidak berkaitan sama sekali dengan persoalan agama. Karena itu, Muhammadiyah meminta aparat keamanan maupun masyarakat untuk tidak mengaitkan tindakan terorisme tersebut dengan masalah keagamaan (Tempo Interaktif, 2 dan 3/10/05). Menurut wakil Ketua MUI Pusat Prof. Umar Syihab, MUI juga mengecam keras tindakan biadab tersebut. Pelaku pengeboman itu dinilai tidak memiliki kepedulian terhadap nyawa manusia. Peristiwa itu juga dinilai bisa mengguncang kerukunan umat beragama (Republika Online, 5/10/05).

Dari sekian banyak pihak luar negeri, AS, Australia, dan Singapura tampak memberikan respon paling menonjol. Australia segera saja mengirim tim respon ke Bali. Downer juga menyatakan bahwa kepolisian federal Australia siap bekerjasama dengan kepolisian Indonesia untuk menyelidiki ledakan bom itu. Bahkan dari tayangan tv nasional beberapa saat setelah terjadinya ledakan, sudah tampak kehadiran polisi federal Australia di tempat kejadian.

Bagaimana bisa investigator Australia sedemikian cepat berada di lokasi? Apakah mereka sudah siap sebelum terjadinya peristiwa? Singapura juga segera menggunakan kejadian ini untuk meningkatkan pembicaraan tentang kerjasama pemberantasan aksi terorisme di kawasan Asia Tenggara, termasuk masalah ekstradisi. Pihak AS juga tidak kalah sigapnya. Menlu AS Condoleeza Rice dalam pernyataannya yang disiarkan Deplu AS pada Sabtu siang waktu setempat atau Sabtu malam waktu Bali, sesaat setelah terjadi ledakan, seperti yang dikutip CNN, menyatakan bahwa AS siap membantu dalam cara apapun, termasuk mengejar pelaku (Kompas.com, update 2/10/2005).

Besarnya "perhatian" AS bahkan sudah diperlihatkan sejak Bom Bali I. AS bahkan pada 6 Oktober lalu menawarkan hadiah 10 juta dolar AS (sama dengan "harga" Mullah Omar) bagi setiap informasi yang dapat membantu menangkap atau menewaskan Dulmatin yang dituduh menjadi otak Bom Bali 2002 (Hidayatullah.com, 10/05).

Sementara itu, hasil penyelidikan Polri, seperti diakui Irjen Made Mangku Pastika, sampai 9 Oktober 2005, belum ada kemajuan. Belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka (Tempo Interaktif, 9/10/05). Kesimpulan yang dikeluarkan pihak berwenang barulah bahwa peristiwa itu merupakan "bom bunuh diri". Namun, kesimpulan ini disangsikan oleh mantan komandan BAIS, Brigjen (purn) Abdus Salam, ''Ingat, kemungkinannya tidaklah tunggal. Itu bisa saja dilakukan oleh orang-orang suruhan. Pelakunya sekadar membawa barang saja tanpa tahu apa isinya.''

Ia menambahkan, ''Ciri bom bunuh diri akibat indoktrinasi tidaklah seperti itu. Sebelum bom diledakkan mereka biasanya berteriak. Tapi, ini kan tidak,'' (Republika Online, 7/10/05).

Menurut Brigjen (purn) Abdul Salam dan juga banyak pihak lainnya, peristiwa itu memiliki banyak kemungkinan. Menurutnya, yang paling dikhawatirkan, pengusutan itu akan memberikan label kepada kelompok tertentu sebagai pelakunya, terutama kelompok Islam.

Oleh karenanya, sikap yang bijaksana adalah hendaknya semua pihak, khususnya media massa dan kepolisian, bersikap hati-hati menanggapi spekulasi yang mengaitkan bom itu dengan kelompok, gerakan, atau organisasi Islam. Dari sekian kemungkinan, bisa saja peledakan bom itu sengaja dilakukan oleh orang atau kelompok tertentu untuk mengacaukan masyarakat dan negara ini demi kepentingan politik mereka; bisa juga untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu kenaikan BBM. Kemungkinan ini bukan berarti lantas menuduh Pemerintah sebagai pelakunya, dan hal itu juga sudah dibantah oleh Menko Kesra. Banyak pihak, baik dalam negeri dan khususnya internasional, yang berkepentingan terhadap (menghendaki) kenaikan harga BBM dan agar kenaikan itu diterima masyarakat tanpa ada penolakan berarti. Secara faktual, karena peristiwa itu, aksi-aksi menolak atau mengkritisi kebijakan kenaikan harga BBM telah menjadi tidak populer. Semua itu masih ditambah kemungkinan lain. Bisa saja peristiwa itu didesain oleh pihak-pihak yang ingin mendiskreditkan organisasi Islam atau Islam itu sendiri; mereka juga melakukan rekayasa sistematis serta provokasi keji untuk terus menyudutkan Indonesia sebagai sarang terorisme.

Lebih dari itu, dalam peristiwa itu terdapat sekian kejanggalan yang mengisyaratkan peritiwa itu sebagai peristiwa yang berjalan sesuai desain dan ada pihak-pihak yang telah mengetahuinya sebelum peristiwa terjadi. Diberitakan, dua warga Australia yang tengah berlibur di Bali mengatakan, mereka diberitahu untuk menjauh dari pusat kawasan Kuta, yang menjadi lokasi peledakan Bom Bali I di tahun 2002 lalu dan satu dari dua lokasi ledakan bom 1 Oktober lalu. Kepada radio nasional, seorang pria asal Perth bernama Darren Humble mengatakan, seorang penjaga keamanan bar memberitahu seorang tamu hotel dimana dia tinggal, mengenai kemungkinan serangan teror. Seorang eksekutif periklanan, Mick Colliss, juga mengatakan kepada stasiun radio di Sydney bahwa seorang temannya yang memiliki jaringan dengan organisasi kriminal di Bali memperingatkannya untuk segera keluar dari Kuta (Hidayatullah.com, 4/10/05). Semua itu oleh pihak berwenang Australia hanya dianggap rumor yang tidak perlu ditanggapi serius.

Dalam acara To Days Dialogue Metro TV, juga terlontar beberapa kejanggalan. Pertama: berkaitan dengan rekaman video amatir yang menunjukkan pelaku bom. Kejanggalan yang ada adalah dengan keamatirannya itu si perekam mampu merekam detail tindakan pelaku yang saat ini diakui Polri sebagai tersangka-dari mulai duduk, berjalan sampai bom meledak-tanpa harus kehilangan fokus rekaman. Kedua: mengapa rekaman yang diberikan kepada pihak keamanan Indonesia itu justru datang dari Australia. Ketiga: beberapa hari sebelum terjadi ledakan, para pecalang (keamanan adat Bali) telah mengingatkan para turis akan ada ledakan. Keempat: beberapa hari sebelum kejadian beberapa masyarakat juga memperingatkan turis untuk tak memasuki daerah itu. Beberapa kejanggalan ini mengingatkan kita kepada banyak kejanggalan serupa yang meliputi Peritiwa WTC 2001. Perlu kita ingat, sampai saat ini tidak ada keputusan resmi dari pengadilan tentang pelaku peledakan WTC itu.

Untuk menghilangkan berbagai spekulasi dan kekaburan itu, tentu saja kita mendesak kepolisian untuk segera menangkap pelaku peledakan dan secara transparan mengungkap motif di balik tindakan itu. Lebih dari itu, kita juga meminta kepada Pemerintah agar menjamin keamanan dan ketenteraman masyarakat di negeri ini. Caranya dengan menindak tegas pengacau keamanan dan jaringan pengebom serta mengungkap kemungkinan konspirasi di balik berbagai pengeboman di Tanah Air beberapa tahun terakhir ini.

Pandangan Hukum Islam

Secara syar'i tindakan kekerasan seperti itu sangat jelas haram dilakukan. Syariat Islam dengan tegas melarang siapapun dengan motif apapun membunuh orang tanpa haq, merusak milik pribadi dan fasilitas milik umum, apalagi jika tindakan itu menimbulkan korban dan ketakutan yang meluas. Dalam peperangan saja, banyak nash yang melarang kaum Muslim membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua. Islam juga melarang membunuh warga sipil yang tidak ikut dalam peperangan. Shafwan bin 'Asal menuturkan, Nabi saw. pernah bersabda:

Janganlah kalian menyiksa, berkhianat, dan membunuh orang tua (HR Ahmad).

Ibn Umar juga menuturkan, "Rasulullah melarang tindakan membunuh wanita dan anak-anak." (HR Bukhari).

Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq, ketika memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid juga pernah berpesan, yang didengar dan disaksikan oleh para Sahabat dan tidak ada dari mereka yang mengingkarinya sehingga menjadi Ijma Sahabat. Pesan beliau adalah agar pasukan tidak membunuh anak-anak, wanita, dan orang tua; tidak melakukan aksi bumi-hangus; tidak menyembelih hewan kecuali untuk dimakan; tidak menebagi pepohonan, tidak menghancurkan bangunan, tempat peribadatan, dan sebagainya (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, VI/304).

Jika dalam peperangan saja semua itu tidak boleh, apalagi di luar peperangan atau bukan dalam kondisi perang (seperti di Bali). Karena itu, peledakan bom seperti di Bali itu jelas bertentangan dengan syariat Islam. Oleh karena itu, tindakan itu sangat kecil kemungkinannya atau bahkan mustahil dilakukan oleh mereka yang benar-benar terdidik dengan Islam dan berpegang teguh pada syariat Islam.

Intervensi Asing

Setelah peristiwa itu terjadi, saat ini kaum Muslim harus mencermati dan mewaspadai intervensi asing yang akan merugikan umat. Intervensi asing itu bisa saja dalam bentuk masuknya intelijen asing dan secara lebih leluasa memburu orang atau kelompok yang tidak mereka inginkan. Dalam hal ini AS sudah menawarkan diri untuk itu; juga dalam bentuk kerjasama kontra terorisme dalam berbagai bentuknya. Asing juga telah mempengaruhi berbagai kebijakan, hukum, dan perundangan-undangan negeri ini; khususnya dalam kaitannya dengan perang melawan terorisme. Apa yang dilakukan pihak Australia telah memperlihatkan hal itu.

Dalam aspek perundang-undangan, umat harus mencermati RUU Intelijen yang konon draft-nya telah mengalami perubahan puluhan kali. Setelah peristiwa Bom Bali II, dimunculkan ide menghidupkan kembali komando teritorial (koter) TNI. Ide ini kontan ditolak oleh banyak kalangan. Mayoritas kalangan justru mengusulkan penguatan peran dan fungsi intelijen. Boleh jadi, memang ini yang diinginkan. Itu akan melempangkan jalan bagi disahkannya RUU Inteleijen yang selama ini terganjal. Selama ini banyak pihak telah mengingatkan, RUU tersebut akan banyak membawa implikasi buruk bagi umat. Oleh karenanya, umat harus mencermati masalah ni sebaik-baiknya.

Wahai kaum Muslim:

Hendaknya seluruh umat Islam dan organisasi-organisasi Islam tetap bersikap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh siapapun yang akan merugikan nama baik Islam dan umat Islam. Hendaknya seluruh umat Islam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, apalagi di tengah bulan suci Ramadhan saat ini; mempererat ukhuwah Islamiyah, merapatkan barisan, serta tetap berjuang demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Wallâh a'lam bi ash-shawâb. []

KOMENTAR:
Gempa di Pakistan: Korban Terus Bertambah Menjadi 30.000 orang. (Kompas, 11/10/2005)
Innalillâhi wa inna ilaihi rooji'un

Kirim email ke