|
Niat Sebagai Kunci Amal Sholeh
Oleh M. Shodiq Ahmad, Lc Dalam Islam, segala syariat dan perbuatan seseorang berpusat pada niat. Makanya, baik itu Iman, Islam dan Ihsan tidak lepas dari keberadaan hati manusia. Sehingga sangat tepat bila para ulama menempatkan posisi niat ini pada posisi yang sangat penting dalam kelangsungan ibadah dan amal perbuatan seseorang. Dari segi bahasa, niat berarti menyengaja. Niat juga sering diartikan sebagai keinginan hati untuk menjalankan sebuah aktifitas tertentu, sesuai dengan motif yang diinginkan, baik itu untuk memperoleh kebaikan atau menghidarkan kemungkaran. Dalam pengertian yang lebih spesifik, niat berarti sebuah keinginan kuat untuk mengerjakan suatu aktifitas tertentu dalam rangka mencari ridla Allah SWT, dan untuk memenuhi panggilan dan perintah-Nya. Pada dasarnya, aktifitas setiap orang itu berkisar pada tiga komponen utama, yaitu; hati (batin, yang berupa niat dan keyakinan), lisan (ucapan), dan sejumlah anggota tubuh (aksi atau amal perbuatan). Hanya saja, terkadang niat bisa menjadi suatu amalan (ibadah) yang tersendiri, sementara yang lain pasti melibatkan niat dan tak bisa lepas darinya[1]. Maka dari itu, dalam sebuah hadits disebutkan, Niat seorang mukmin jauh lebih utama (penting) dari pada perbuatan yang akan dilakukannya[2]. Karena niat mampu menggerakkan, sekaligus menentukan gerak langkah anggota seluruh tubuh untuk melakukan sesuatu, baik itu yang terpuji maupun yang tercela. Semuanya berjalan atas perintah dan intruksi yang diberikan hati tersebut. Hal ini bisa dipahami, karena niat merupakan faktor pendorong atas sukses dan tidaknya perbuatan apapun. Seseorang bisa serius dan tidak adalah sangat terpengaruhi oleh sebuah niat. Demikian juga, rajin dan malasnya seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan sangat bergantung pada seberapa kuat niat (motifasi) yang dimilikinya. Apapun kondisi dan rintangannya, bila niatnya telah kuat dan mantap, maka segalanya akan bisa terselesaikan dengan mudah. Maka dalam Islam, Seorang yang telah berniat (bertekad kuat) untuk menjalankan suatu ibadah, namun tidak terlaksana karena suatu hal, maka ia masih tetap terhitung mendapatkan satu kebaikan (pahala) yang sempurna. Karena niat merupakan pusat lurus-bengkoknya amal perbuatan, disamping ia sebagai faktor penentu sah tidaknya ibadah. Dimana bila niatnya itu baik dan benar, maka pelaksanaan ibadahnya pun menjadi sah dan benar. Demikian juga, bila niatnya itu kacau dan menyimpang, maka amal dan perbuatanya pun akan menjadi amburadul. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, yang mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sah serta terkabulnya amal sholeh, itu sangat ditentukan oleh niatnya. Sehingga seseorang yang melaksanakan sebuah aktifitas, juga sangat bergantung pada motif dari niat yang disengajakannya[3]. Maka dari itu juga, niat diterapkan untuk menentukan apakah perbuatan itu bernilai ibadah atau tidak. Dan dengan niat pula sebuah aktifitas bisa dikatagorikan sebagai ibadah yang berpahala, atau hanya sekedar perbuatan biasa. Contohnya; orang yang sedang masuk masjid dan berdiam di dalamnya. Maka orang tersebut bisa jadi hanya duduk-duduk beristirahat, sehingga yang didapat adalah sekedar melepaskankan kelelahan. Berbeda kalau misalnya, ketika masuk masjid ia berniat Itikaf, maka diamnya tadi telah masuk katagori ibadah yang berpahala. Contoh lain, mandi di hari Jumat; apakah ia bertujuan hanya untuk menyegarkan badan, yang berarti hanya amalan biasa; atau disertai niat untuk melaksanakan fdlilah (keutamaan) di hari Jumat, sehingga ia meraih kesunatan ibadah jumat yang berpahala tentunya. Disamping itu, niat juga diperuntukkan untuk membedakan antara ibadah yang yang satu dengan yang lainnya. Contohnya, seorang yang sedang sholat dua rekaat. Maka hanya dengan niat bisa diketahui, bahwa orang tersebut sedang melaksanakan sholat Rawatib (sholat yang mengikuti sholat fardu, baik itu sebelum atau sesudahnya), atau sedang sholat sunnat lain. Dari sini bisa disimpulkan, bahwa hanya melalui niatlah yang bisa menentukan kwalitas amal perbuatan seseorang. Dan sebesar itu kekuatan hati (niat) dalam mendorong anggota sekujur badan untuk mengerjakan ibadah dan amal sholeh. Maka dari itu, kita selalu berdoa semoga hati kita tetap bekerja dengan aktif, sehingga akan lebih bersemangat untuk beramal lebih banyak. Amien, Ya Rabbal Alamin! ---------------------------------------------------------------------------- ---- [1] - Lihat Syarah Matan Al-Arbain Al-Nawawiyyah, hal. 25. [2] - HR. Baihaqy, dalam kitab Syuab Al-Iman, No. Hadits: 6859. [3] - HR. Bukhari, dalam kitab Al-Shohih al-Jami, terletak pada Kitab: Trunnya wahyu, Bab: Bagaimana wahyu pertama kali turun kepada Rasululllah SAW, Hadits No: 1. |

