----- Original Message -----
Sent: Thursday, December 15, 2005 7:51
AM
Subject: [Ar-Royyan-3033] Carilah Iman
yang Separuh Lagi
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Sahabat,
Ketika salah
seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida'ah al-Hilali menemui Rasulullah saw dan
mengatakan bahwa ia belum menikah, beliau bertanya, "Apakah engkau sehat dan
mampu?" Ukaf menjawab, "Ya, alhamdulillah." Rasulullah saw bersabda, "Kalau
begitu, engkau termasuk teman setan. Atau engkau mungkin termasuk pendeta
Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau (bila) engkau termasuk bagian dari
kami, maka lakukanlah seperti yang kami lakukan, dan termasuk sunnah kami
adalah menikah. Orang yang paling buruk diantara kamu adalah mereka yang
membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang
membujang." Kemudian Rasulullah saw menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi.
(HR Ibnu Atsir
dan Ibnu Majah)
Anas bin Malik ra berkata, telah
bersabda Rasulullah saw, "Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi
separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara
yang separuhnya lagi." (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim)
Pernah
suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri2 Nabi saw
tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing ingin
meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata, "Adapun saya, akan
puasa sepanjang masa tanpa putus." Yang lain berkata, "Adapun saya akan
menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya." Ketika hal itu didengar
oleh Nabi saw, beliau keluar seraya bersabda, "Benarkah kalian telah berkata
begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa
diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku
juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak
menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku." (Hadits Riwayat Bukhari
dan Muslim)
Ibnu Mas'ud ra pernah berkata, "Jika umurku tinggal
sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui
Allah swt sebagai seorang bujangan." (Ihya Ulumuddin hal. 20)
Dalam
suatu kesempatan Imam Malik pernah berkata, "Sekiranya saya akan mati beberapa
saat lagi, sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan segera menikah."
Demikian rasa takut pengarang kitab al-Muwatha' ini kepada Allah kalau ia
meninggal dalam keadaan membujang. (30 Pertunjuk Pernikahan dalam Islam, Drs.
M. Thalib)
Lalu kenapa kita masih menahan diri untuk menikah?
Pengalaman
mengajarkan bahwa ternyata kita dapat menjadi semacam tempat
penyalur rejeki (dari Allah) bagi orang2 yang lemah diantara kita (istri dan
anak2, bahkan orangtua dan mertua sekaligus). Itu dapat terjadi manakala kita
telah buat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas mereka. Se-akan2
Allah mengatakan bahwa Dia akan membantu kita untuk mewujudkan setiap niat
baik dan tangung jawab kita.
Allah swt menyukai orang2 yang dapat
'mewakili'-Nya dalam hal pembagian rejeki. Salah satu kesukaan-Nya adalah
bahwa Dia akan berikan lebih banyak lagi rejeki kepada wakil2-Nya agar hal itu
dapat bermanfaat bagi hamba2-Nya yang ada dibawah tanggung-jawab mereka. Dan
Allah (yang menyenangi orang2 yang berbuat baik) menyukai mereka yang
mengambil tanggung-jawab atas urusan2 yang disukai-Nya.
Percayalah
bahwa ketika kita buat keputusan untuk menikah, itu berarti bahwa kita sedang
menyenangkan Allah. Pada saat yang sama, kita menjadikan setan stress dan
'uring2-an'. Pada gilirannya nanti, Allah akan memperlihatkan bahwa hanya
kepada-Nyalah semua makhluk bergantung dan mendapatkan rejekinya. Sementara
itu, setan bekerja lebih keras lagi untuk menanamkan rasa takut terhadap
segala resiko (yang mungkin timbul) dari pernikahan, sekaligus dia menampakkan
'kebaikan2' hidup sendiri (membujang).
Bila kita menikah, padahal saat
ini kita (misalnya) seperti 'tulang
punggung' bagi keluarga orangtua, maka
Allah yang maha pengasih dan maha penyayang tidak akan menambah berat beban
yang harus kita pikul, bahkan Dia akan meringankannya melalui pernikahan.
Nampaknya hal ini tidak bisa masuk akal, akan tetapi demikianlah ketetapan
Allah dalam memelihara ciptaan-Nya. Akal kita memang sangat terbatas, bahkan
sekedar untuk memahami ciptaan-Nya saja hampir2 kita tidak mampu.
Bila
kita menikah, sedangkan kita tidak sedikitpun punya niatan untuk meninggalkan
bakti kepada orangtua dan hubungan baik dengan
sanak-saudara, niscaya
Allah akan memberi jalan keluar bagi masalah2 yang mungkin timbul terhadap
mereka. Segala sesuatu datang dari Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya.
Keadaan seberat apapun, pasti tidak akan menyusahkan-Nya sedikitpun dalam
menyelesaikan masalah2 keseharian kita.
Bila kita menikah, maka kita
akan (segera) masuk ke dalam orang2 yang beruntung yang akan diakui sebagai
ummat Rasulullah saw. Begitu besarnya perhatian Rasulullah saw akan hal nikah
sehingga seseorang seperti Julabib, (maaf) yang punya wajah jelek, hitam,
miskin dan tidak punya keberanian untuk nikah (karena keadaannya) pun 'digesa'
dan didorong untuk menikah. Seakan Rasulullah marah kepada mereka yang sudah
masuk dalam kategori layak nikah namun dia mengabaikannya.
Untuk itu,
hendaknya tidak seorangpun merasa kecil hati dengan
keadaannya saat ini.
Banyak keadaan dimana orang2 memandang bahwa keadaan kita jauh lebih baik
daripada mereka. Barangkali orang2 di luar kita tidak sepenuhnya memahami
keadaan kita, akan tetapi pada kenyataannya memang selalu ada orang2 yang
posisinya jauh dibawah kita dan selalu ada orang2 yang keadaannya lebih buruk
daripada kita.
Lalu dari mana kita mulai? Orang2 tua yang
arif-bijaksana selalu
mengingatkan agar kita selalu memperbaharui niat
kita, menguatkannya
hingga kita berazam untuk mewujudkan sesuatu yang kita
hajatkan. Dengan ijin Allah, niat yang kuat (azam) akan dapat mengaktifkan
fikir, menggerakkan anggota2 badan dan melibatkan segala sesuatu di sekitar
kita untuk merealisasikan apa yang kita niatkan. Untuk perkara2 yang tidak
baik saja Allah memberinya ijin, lalu bagaimana pula bila niat itu sesuatu
yang Allah sukai?
Langkah selanjutnya adalah doa. Dengan menguatkan
niat, doa kita akan terasa lebih berkesan. Ada masa2 tertentu setiap hari
ketika Allah merespon doa secara 'cash' (tunai). Tidak seorangpun tahu rahasia
ini, sehingga orang yang ber-sungguh2 (dengan urusan doa yang diijabah ini)
tidak akan me-nyia2-kan masanya, sehingga tidak ada masa kecuali selalu dalam
berhubungan dengan Sang pengijabah doa.
Langkah berikutnya, yakni
seiring dengan doa yang sedang kita
panjatkan, adalah ikhtiar. Kita boleh
menyukai siapa saja, yang agama kita membenarkannya untuk kita menikahinya.
Akan tetapi ketetapan pasangan kita adalah hak Allah. Kita boleh memilih dan
memilah, tapi yakin kita adalah bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik buat
kita. Allah mengetahui sedangkan kita tidak tahu kecuali sebatas pada apa yang
diberitahukan-Nya kepada kita.
Bila kita menyukai seseorang untuk
menjadi pasangan (suami atau istri) kita lalu hal itu sesuai dengan keinginan
dan ilmu kita, akan tetapi Allah (dengan keluasan ilmu-Nya) tidak
menghendakinya terjadi, maka pernikahan itu tidak akan dapat diwujudkan meski
seluruh jin dan manusia membantu kita. Bila kita menyukai seseorang dan Dia
sendiri telah menetapkannya untuk kita, maka pernikahan akan terwujud meskipun
seluruh jin dan manusia menghalanginya.
Bila kita tidak suka kepada
seseorang sedangkan Allah suka agar kita
menyenangi dan menikahinya, ini
adalah suatu pertanda bahwa Allah
menyimpan banyak kebaikan yang (sebagian
besarnya) dirahasiakan-Nya agar menjadi 'surprise' bagi kita pada saat yang
ditentukan-Nya sendiri kelak, baik di dunia ataupun di akhirat. Dan kesukaan
Allah yang lain adalah bahwa Dia mecurahkan kebaikan yang semakin ber-tambah2
dan ber-lipat2 kepada hamba2 yang diridhoi-Nya.
Dari banyak
pengalaman, saat2 menjelang pernikahan (setelah kita buat keputusan untuk itu)
adalah masa2 yang sering dipenuhi dengan kecamuk 'perang bathin'. Se-olah2 ini
adalah perang antara kebaikan dan keburukan. Bila kita terus maju dengan
segala resikonya, kita akan menang lalu sampailah kita ke gerbang pernikahan.
Sebaliknya, bila kita ragu2 dan menjadi terhalang dengan 'hal2 kecil', kita
akan kalah dan kita tidak akan sampai ke gerbang itu. Maka bila kita sudah
buat keputusan, kita mesti buang jauh2 segala bentuk ke-ragu2-an dan kita
mesti belajar untuk menjadi tidak peduli dengan segala rintangan. Subhanallah.
Subhan ibn Abdullah
Pattaya, 29/09/03