Toko Gunung Agung: Akrobat Bisnis Seorang Anak
Jalanan
Keberadaan Toko Gunung Agung hingga di
usianya yang ke-50 saat ini tidak lepas dari akrobat bisnis yang dilakukan
seorang bekas anak jalanan, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung.
Sejarah keberadaan Toko Gunung Agung yang 8 September
lalu genap berusia 50 tahun, tidak lepas dari akrobat-akrobat bisnis yang
dilakukan tokoh kuncinya, Tjio Wie Tay alias Haji Masagung. Terlahir sebagai
anak keempat dari lima bersaudara pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio,
Wie Tay sebenarnya bisa menikmati masa kecil yang indah. Ayahnya seorang ahli
listrik tamatan Belanda, sedangkan kakek seorang pedagang ternama di kawasan
Pasar Baru, Bogor. Tapi kebahagiaan itu tidak dikecapi terlalu lama, karena
kala dia berusia empat tahun, sang ayah meninggal dunia. Sejak saat itu
kehidupan ekonomi mereka menjadi sangat sulit.
Dalam buku Bapak Saya Pejuang Buku yang ditulis
putranya, Ketut Masagung dan disusun kembali oleh Rita Sri Hastuti dikisahkan
bahwa Wie Tay tumbuh sebagai anak nakal yang suka berkelahi. Ia juga punya
kebiasaan suka mencuri buku-buku pelajaran kakak-kakaknya untuk dijual di
pasar Senen guna mendapatkan uang saku. Karena kenakalan ini, ia tidak bisa
menyelesaikan sekolah, meski sudah dikirim sampai ke Bogor dan sempat masuk di
dua sekolah berbeda.
Justru karena kenakalannya, Wie Tay tumbuh sebagai anak
pemberani. Ia tidak takut berkenalan dengan siapa saja, termasuk dengan
tentara Jepang yang kala itu mulai masuk ke Banten. Bahkan dari tentara
Jepang, ia mendapatkan satu sepeda. Modal berani ini
yang kemudian dia bawa masuk ke dalam dunia bisnis, dan tidak bisa dipungkiri,
menjadi salah satu senjata andalannya dalam menggerakkan roda bisnisnya.
Setelah diusir pamannya dari Bogor dan harus kembali ke
Jakarta saat berusia 13 tahun, Wie Tay menemukan kenyataan bahwa keadaan
ekonomi ibundanya belum membaik jua. Tak ada jalan lain baginya kecuali harus
mencari duit sendiri. Awalnya, ia kembali ke kebiasaan lama mencuri buku
pelajaran kakaknya untuk dijual guna mendapatkan 50 sen. Setelah stok buku
pelajaran habis, ia mencoba menjadi manusia karet di panggung pertunjukkan
senam dan aerobatik. Tapi penghasilannya ternyata tidak seberapa
banyak.
Pedagang Asongan
Ia kemudian banting setir menjadi pedagang rokok keliling. Di sinilah sifat beraninya mulai
terlihat. Wie Tay yang digambarkan sebagai anak yang banyak kudis di kepala
dan borok di kaki ini nekat menemui Lie Tay San, seorang saudagar rokok besar
kala itu. Dengan modal 50 sen, ia memulai usaha menjual rokok keliling di
daerah Senen dan Glodok. Di sini ia mulai rajin menabung, karena sudah
merasakan betapa susah mencari uang. Hasil tabungannya kemudian dibelikan
sebuah meja sebagai tempat berjualan di daerah Glodok. Karena belum memiliki
kios sendiri, meja tersebut dititipkan pada sebuah toko onderdil di Glodok,
sampai akhirnya ia mampu membuka kios di Senen.
Menjadi pedagang rokok keliling membuka mata Wie Tay
remaja bahwa ada tempat partai rokok besar selain Lie Tay San, yaitu di Pasar
Pagi. Maka, setelah membuka kios dia mulai membeli
rokok di Pasar Pagi. Selanjutnya, Wie Tay juga berkenalan dengan The Kie Hoat,
yang bekerja di perusahaan rokok Perola, salah satu merek rokok laris kala
itu. The Kie Hoat kemudian akrab dengan Wie Tay dan Lie Tay San. Suatu hari,
The Kie Hoat ditawari relasinya untuk mencarikan pemasaran.
Kie Hoat lalu merundingkan dengan kedua sahabatnya tadi.
Saat Lie Tay San masih ragu, Wie Tay yang masih sangat belia dalam bisnis itu
malah langsung setuju. Ia yakin bisa cepat dijual dan mendatangkan keuntungan
besar. Ternyata benar! Sayang buntutnya tidak enak. The Kie Hoat akhirnya
dipecat dari Perola karena dinilai melanggar aturan perusahaan, menjual rokok
ke pihak luar yang bukan distributor.
Ketiga sahabat ini kemudian bergabung dan mendirikan
usaha bersama bernama Tay San Kongsie, tahun 1945. Di sinilah awal pergulatan
serius Wie Tay dalam dunia bisnis. Mereka memang masih menjual rokok, tapi
melebar ke agen bir cap Burung Kenari. Pada saat bersamaan mereka juga mulai
serius berbisnis buku. Atas bantuan seorang kerabat, mereka bisa menjual
buku-buku berbahasa Belanda yang diimpor dari luar. Buku-buku ternyata laku
keras. Mereka berjualan di lapangan Kramat Bunder, tidak jauh dari rumah Lie
Tay San. Setelah itu mereka membuka toko 3x3 meter persegi, kemudian diperluas
menjadi 6x9 meter persegi. Lantaran keuntungan dari penjualan buku sangat
besar, mereka lalu memutuskan berhenti berjualan rokok dan berkonsentrasi hanya menjual buku dan alat tulis menulis.
Tahun 1948, mereka sepakat mengukuhkan bisnis mereka
dalam bentuk firma, menjadi Firma Tay San Kongsie. Saham terbesar dimiliki Lie
Tay San (6/15%), The Kie Hoat (4/15%) dan Wie Tay (5/15%). Masagung ditunjuk
memimpin perusahaan ini. Mereka kemudian membuka toko di
kawasan Kwitang. Ketika orang-orang Belanda hendak meninggalkan
Indonesia, Wie Tay mendatangi rumah orang-orang Belanda tersebut dan meminta
buku-buku bekas mereka untuk dijual dengan harga murah.
Membangun Toko Gunung Agung
Pada 13 Mei 1951, Wie Tay menikahi Hian Nio. Setelah
menikah, Wie Tay berpikir untuk mengembangkan usaha menjadi besar. Dia
mengusulkan kepada kedua rekannya untuk menambah modal. Lie Tay San keberatan.
Dia memutuskan mundur dan tetap dengan toko bukunya di lapangan Kramat Bunder,
(kini Toko Buku Kramat Bundar). Sementara Masagung alias Tjio Wie Tay bersama
The Kie Hoat membangun toko sendiri di Jln Kwitang No 13,
sekarang menjadi Gedung Idayu dan Toko Walisongo. Saat itu, Kwitang
masih sepi. Jangankan kios buku, toko lainnya pun belum ada. Baru ketika Wie
Tay membuka toko di sana, keramaian mulai tercipta. Sejumlah gerobak buku
mulai kelihatan. Sejak saat itu Kwitang menjadi ramai.
Cukup lama Tjio Wie Tay mencari nama untuk toko barunya.
Kemudian baru muncul ide untuk menerjemahkan namanya sendiri ke dalam bahasa
Indonesia. Tjio Wie Tay dalam bahasa Indonesia berarti Gunung Besar atau
Gunung Gede tapi Wie Tay mengubahnya menjadi Gunung Agung. Toko buku mereka
berkembang pesat. Pesanan dari luar Jakarta berdatangan, tidak hanya buku tapi
juga kertas stensil, kertas tik dan tinta. Melihat perkembangan ini,
tercetuslah ide untuk membina usaha dengan kalangan yang dekat dengan buku,
antara lain kalangan wartawan dan pengarang. Sejumlah wartawan senior kala itu
ikut bergabung, termasuk sejumlah saudagar tingkat atas. Tidak heran kalau
buku-buku yang diterbitkan pada awal berdirinya adalah buku-buku sastra
tulisan tangan para orang dalam tersebut. Bentuk usaha firma lalu diubah
menjadi NV.
Saat peresmian NV Gunung Agung, Wie Tay membuat gebrakan
dengan menggelar pameran buku pada 8 September 1953. Dengan modal Rp 500 ribu, mereka berhasil memamerkan sekitar 10
ribu buku. Tanggal ini yang kemudian dianggap sebagai hari lahirnya
Toko Gunung Agung yang juga menjadi hari kelahiran Wie Tay sendiri. Menggelar
pameran buku, seolah menjadi trade mark bentuk promosi yang dilakukan Gunung
Agung. Tahun 1954, Wie Tay mengadakan lagi pameran buku tingkat nasional
bertajuk Pekan Buku Indonesia 1954. Pada acara inilah Wie Tay bertemu dan
berkenalan dengan dua tokoh nasional yang sangat dikaguminya, yakni Bung Karno
dan Bung Hatta. Bagi dia, pertemuan dengan Bung Karno adalah hal yang
menakjubkan. Selain sebagai presiden, Bung Karno adalah tokoh yang sangat
dikaguminya sejak dia masih kecil.
Peran Bung Karno
Sukses menyelenggarakan Pekan Buku Nasional dan
kedekatannya dengan Bung Karno, membuat Gunung Agung dipercaya membantu
pemerintah menyelenggarakan Pameran Buku di Medan dalam rangka Kongres Bahasa
Indonesia pada tahun yang sama. Dari sana dilanjutkan dengan pembukaan Cabang
Gunung Agung di Yogyakarta, 1955. Tahun 1956, kembali Gunung Agung diminta
pemerintah menyelenggarakan pameran buku di Malaka dan Singapura. Tahun 1963,
Toko Gunung Agung sudah memiliki sebuah gedung megah berlantai tiga di Jln
Kwitang 6. Acara ulang tahun ke-10 tersebut yang diikuti dengan peresmian
gedung tersebut dihadiri langsung Bung Karno. Pada tahun itu juga, tepatnya 26
Agustus 1963, Wie Tay berganti nama menjadi Masagung.
Kalau padanya ditanyakan tokoh siapa yang paling
berpengaruh dalam bisnis penerbitan dan toko buku, maka Masagung pasti akan
menyebut nama Bung Karno. Ia pun selalu teringat akan pesan Bung Karno
padanya. Masagung, saya ingin saudara meneruskan kegiatan penerbitan. Ini
sangat bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa, jadi jangan ditinggalkan, ujar
Bung Karno. Seraya memeluk Masagung, Bung Karno menyerahkan kepercayaan kepada
Masagung untuk menerbitkan dan memasarkan buku-bukunya semacam Di Bawah
Bendera Revolusi (dua jilid), Biografi Bung Karno tulisan wartawan AS, Cindy
Adams, buku koleksi lukisan Bung Karno (lima jilid), serta sejumlah buku
tentang Bung Karno lainnya. Penerbitan buku-buku Bung Karno inilah yang
membawa Gunung Agung menanjak.
Bantuan Bung Karno tidak berhenti di situ. Bung Karno
juga meminta Gunung Agung mengisi kebutuhan buku bagi masyarakat Irian Barat
saat Trikora. Masagung lalu kemudian mengadakan pesta buku di Biak, Marauke,
Serui, Fak Fak, Sorong, dan Manokwari. Tugas yang sama kembali diemban untuk
masyarakat Riau dalam rangka Dwikora. Bukan cuma di Indonesia. Masagung juga
agresif membangun jaringan di luar negeri. Tahun 1965, dia membuka cabang
Gunung Agung di Tokyo, Jepang. Lalu mengadakan pameran buku Indonesia di
Malaysia awal 1970-an.
Ternyata, kepak sayap bisnis Masagung tidak sebatas toko
buku dan penerbitan. Ia juga merambah bisnis lain.
Ia tercatat mengelola bisnis ritel bekerjasama dengan
Departement Store Sarinah di Jln MH Thamrin, lalu masuk ke Duty Free Shop,
money changer, dan perhotelan. Itulah akrobat bisnis yang dilakukan
seorang mantan anak jalanan. Si anak nakal yang tidak
tamat SD itu ternyata mampu mem-bangun kerajaan bisnis yang kokoh hingga
kini.
JOSEPH LAGADONI HERIN
dari wartabisnisdotcom