Mengasuh Pebisnis Cilik      
Ditulis oleh hri   
Jumat, 24 Juni 2005

Republika Online, Minggu, 19 Juni 2005  16:58:00

Berbisnis sejak kecil banyak manfaatnya. Intinya, harus dengan senang hati, bukan paksaan orang tua. Suatu hari, Dina (8 tahun) siswi kelas III sebuah sekolah dasar membawa pensil baru ke sekolahnya. Seorang temannya, menaksir pensil itu. ''Pensilnya bagus ya. Kamu beli di mana? Aku juga mau,'' tutur temannya itu. Dengan spontan naluri bisnis Dina pun langsung muncul.

''Boleh aja. Aku beli harganya Rp 900. Kalau kamu mau, besok aku bawain, tapi harganya Rp 1.000, ya!'' tutur gadis cilik itu. Begitu sampai di rumah, Dina pun segera bercerita kepada ibunya. ''Bu, besok beliin aku pensil ya. Soalnya temanku banyak yang mau. Dina mau jual harganya Rp 1.000.''Sang ibu, Yona, langsung merespons inisiatif sang anak. ''Saya menganggap hal itu sebagai potensi,'' tutur karyawan di sebuah perusahaan swasta itu. Yona mengaku sangat mendukung minat dan inisiatif Dina. ''Saya sangat senang. Buat saya, inisiatif dari anak itu perlu dipupuk.''

Ia tak pernah membebani apa pun pada anaknya. ''Saya malah menganggapnya hanya sebagai sarana bermain bagi Dina,'' tuturnya. Bila pensil dan penghapus yang dijualnya belum laku, Dina pun biasanya bicara pada sang ibu. ''Bu, pensil dan skipnya masih banyak,'' ucapnya. Sambil tersenyum sang ibu pun berkata, ''Ya, nggak apa-apa. Kalau nggak habis, pakai aja sama Dina.''Anda mungkin kaget ketika mendengar si buah hati tiba-tiba berinisiatif untuk bisnis kecil-kecilan di sekolah. Tak cuma itu, Anda juga mungkin sedikit bingung dan khawatir. Sebagai orang tua tentu ada saja kekhawatiran bila pelajaran si buyung dan si upik di sekolah bisa terganggu. Bagaimanakah seharusnya sikap orang tua?

Kecerdasan finansial
Menurut psikolog anak, Dr Seto Mulyadi, bila ada seorang anak yang memiliki inisiatif untuk belajar berbisnis di usia dini, orang tua perlu memberi apresiasi gagasan itu. Inisiatif itu, tutur Kak Seto -- begitu ia akrab disapa -- menunjukkan bahwa anak sudah mulai memiliki kecerdasan finansial. Yakni, kecerdasan untuk mengelola uang. ''Menambah penghasilan dengan usaha seperti itu, bukanlah hal yang negatif. Justru, hal itu disarankan untuk dikenalkan kepada anak sejak dini,'' kata Ketua Komnas Perlindungan Anak itu. Mengajarkan anak soal menabung dan menambah penghasilan merupakan suatu cara yang efektif untuk menumbuhkan jiwa enterpreneurship pada si kecil.

Kecerdasan finasial dan jiwa wirausaha, papar Kak Seto, bisa dikenalkan orang tua kepada anaknya. Caranya, imbuh dia, sekali-kali ajaklah anak ke bank. Begitu sampai di bank, orang tua bisa menjelaskan kepada mereka bahwa sebenarnya uang bisa ditabung. Jelaskan pula kepada mereka, untuk bisa membeli sesuatu yang diinginkan, maka uang harus ditabung dulu. ''Bisa juga mengajak mereka ke supermarket,'' imbuh Kak Seto. Anda bisa menjelaskan istilah harga, keuntungan, mahal, dan murah. Bila ada sebuah barang yang harganya Rp 1.000, Anda bisa memberi penjelasan kepada si anak bahwa harga barang itu asalnya lebih murah, yakni Rp 900, misalnya. ''Harganya jadi lebih mahal, karena supermarket perlu mengambil untung.'' Orang tua bisa menjelaskan, nilai selisih atau keuntungan itu digunakan supermarket untuk membayar karyawan, listrik, sewa gedung, dan keperluan lainnya. Menurut Kak Seto, hal-hal seperti itu perlu dikenalkan sejak dini dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Semacam ekstrakurikuler
Bila sang anak sudah mulai memiliki inisiatif untuk berbisnis, orang tua tinggal membuat semacam rambu-rambu yang tentu saja harus dipahami sang anak. ''Salah satu hal yang perlu ditanamkan adalah soal kejujuran,'' ungkapnya. Orang tua bisa menjelaskan bahwa dalam berbisnis tak boleh berbohong. ''Orang tua juga perlu memberi penjelasan bahwa kegiatan sang anak hanyalah semacam kegiatan ekstrakurikuler,'' tandasnya. Dengan begitu, tugas utama adalah tetap belajar. Berbisnis atau jualan kecil-kecilan di sekolah hanyalah kegiatan tambahan.

Menurut Kak Seto, inisiatif bisnis kecil-kecilan itu harus muncul dari si anak. Jangan pernah orang tua memaksanya. Anda tak bisa memaksa si anak untuk berbisnis kecil-kecilan. Namun, Anda bisa merangsang mereka agar jiwa kewirausahaan dan kecerdasan finasialnya tumbuh. Caranya, kata Kak Seto, bisa dikembangkan dengan cara bercerita. Misalnya saja, Anda bisa menceritakan kisah tentang teman yang dulu sejak kecil sudah bisa mencari uang dengan berbisnis kecil-kecilan. ''Selain itu, orang tua juga bisa bercerita soal kisah sukses dan masa kecil para pengusaha ternama,'' imbuhnya. Setelah bercerita, yakinkan pula pada sang anak, bahwa dirinya juga bisa sukses seperti itu. Sehingga, anak akan menjadi tertantang untuk mengikuti kisah sukses itu.

Atau, kata konsultan bisnis Ir Sri Bramantoro Abdinagoro, orang tua bisa memancing sang anak. Caranya, ajaklah anak berjalan-jalan, ke toko atau pedagang stiker. Orang tua bisa menanyakan, '' Di sekolah lagi rame stiker Sponge Bob, nggak? Bisa nggak kamu jualan? Bisa untung, lho! Kalo mau, Papa modalin kamu. Untungnya, bisa kamu tabung, lho.'' Sampaikan tawaran itu dengan penuh keakraban. Satu hal yang penting dicatat, Bramantoro mengingatkan, orang tua tak bisa membebani anak. ''Orang tua tak boleh membebani apa pun. ''Pokoknya, anak harus senang,'' katanya.

Baik Kak Seto maupun Bram secara terpisah sependapat tentang manfaat belajar berbisnis dan mengelola uang sejak dini. ''Saat ini sangat banyak orang yang bergelar master dan doktor, namun kemampuan mengelola uangnya sangat rendah. Itu karena mereka tak memiliki kecerdasan finasial,'' tutur Kak Seto.Selain itu, kata dia, anak yang sejak dini diajarkan cara mengelola uang, juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang kreatif dan mandiri. Tak cuma itu, mereka pun bisa memiliki jiwa kewirausahaan. ''Hal seperti itu memang harus dipersiapkan sejak dini.''

www.icmi.or.id

Kirim email ke