|
Republika Online, Minggu, 19 Juni
2005 16:58:00
Berbisnis sejak kecil banyak manfaatnya. Intinya, harus dengan senang
hati, bukan paksaan orang tua. Suatu hari, Dina (8 tahun) siswi kelas III
sebuah sekolah dasar membawa pensil baru ke sekolahnya. Seorang temannya,
menaksir pensil itu. ''Pensilnya bagus ya. Kamu beli di mana? Aku juga
mau,'' tutur temannya itu. Dengan spontan naluri bisnis Dina pun langsung
muncul.
''Boleh aja. Aku beli harganya Rp 900. Kalau kamu mau, besok
aku bawain, tapi harganya Rp 1.000, ya!'' tutur gadis cilik itu.
Begitu sampai di rumah, Dina pun segera bercerita kepada ibunya. ''Bu,
besok beliin aku pensil ya. Soalnya temanku banyak yang mau. Dina
mau jual harganya Rp 1.000.''Sang ibu, Yona, langsung merespons inisiatif
sang anak. ''Saya menganggap hal itu sebagai potensi,'' tutur karyawan di
sebuah perusahaan swasta itu. Yona mengaku sangat mendukung minat dan
inisiatif Dina. ''Saya sangat senang. Buat saya, inisiatif dari anak itu
perlu dipupuk.''
Ia tak pernah membebani apa pun pada anaknya. ''Saya malah
menganggapnya hanya sebagai sarana bermain bagi Dina,'' tuturnya. Bila
pensil dan penghapus yang dijualnya belum laku, Dina pun biasanya bicara
pada sang ibu. ''Bu, pensil dan skipnya masih banyak,'' ucapnya. Sambil
tersenyum sang ibu pun berkata, ''Ya, nggak apa-apa. Kalau
nggak habis, pakai aja sama Dina.''Anda mungkin kaget
ketika mendengar si buah hati tiba-tiba berinisiatif untuk bisnis
kecil-kecilan di sekolah. Tak cuma itu, Anda juga mungkin sedikit bingung
dan khawatir. Sebagai orang tua tentu ada saja kekhawatiran bila pelajaran
si buyung dan si upik di sekolah bisa terganggu. Bagaimanakah seharusnya
sikap orang tua?
Kecerdasan finansial Menurut psikolog anak, Dr Seto
Mulyadi, bila ada seorang anak yang memiliki inisiatif untuk belajar
berbisnis di usia dini, orang tua perlu memberi apresiasi gagasan itu.
Inisiatif itu, tutur Kak Seto -- begitu ia akrab disapa -- menunjukkan
bahwa anak sudah mulai memiliki kecerdasan finansial. Yakni, kecerdasan
untuk mengelola uang. ''Menambah penghasilan dengan usaha seperti itu,
bukanlah hal yang negatif. Justru, hal itu disarankan untuk dikenalkan
kepada anak sejak dini,'' kata Ketua Komnas Perlindungan Anak itu.
Mengajarkan anak soal menabung dan menambah penghasilan merupakan suatu
cara yang efektif untuk menumbuhkan jiwa enterpreneurship pada si
kecil.
Kecerdasan finasial dan jiwa wirausaha, papar Kak Seto, bisa dikenalkan
orang tua kepada anaknya. Caranya, imbuh dia, sekali-kali ajaklah anak ke
bank. Begitu sampai di bank, orang tua bisa menjelaskan kepada mereka
bahwa sebenarnya uang bisa ditabung. Jelaskan pula kepada mereka, untuk
bisa membeli sesuatu yang diinginkan, maka uang harus ditabung dulu.
''Bisa juga mengajak mereka ke supermarket,'' imbuh Kak Seto. Anda bisa
menjelaskan istilah harga, keuntungan, mahal, dan murah. Bila ada sebuah
barang yang harganya Rp 1.000, Anda bisa memberi penjelasan kepada si anak
bahwa harga barang itu asalnya lebih murah, yakni Rp 900, misalnya.
''Harganya jadi lebih mahal, karena supermarket perlu mengambil untung.''
Orang tua bisa menjelaskan, nilai selisih atau keuntungan itu digunakan
supermarket untuk membayar karyawan, listrik, sewa gedung, dan keperluan
lainnya. Menurut Kak Seto, hal-hal seperti itu perlu dikenalkan sejak dini
dengan cara yang mudah dan menyenangkan.
Semacam ekstrakurikuler Bila sang anak sudah mulai
memiliki inisiatif untuk berbisnis, orang tua tinggal membuat semacam
rambu-rambu yang tentu saja harus dipahami sang anak. ''Salah satu hal
yang perlu ditanamkan adalah soal kejujuran,'' ungkapnya. Orang tua bisa
menjelaskan bahwa dalam berbisnis tak boleh berbohong. ''Orang tua juga
perlu memberi penjelasan bahwa kegiatan sang anak hanyalah semacam
kegiatan ekstrakurikuler,'' tandasnya. Dengan begitu, tugas utama adalah
tetap belajar. Berbisnis atau jualan kecil-kecilan di sekolah hanyalah
kegiatan tambahan.
Menurut Kak Seto, inisiatif bisnis kecil-kecilan itu harus muncul dari
si anak. Jangan pernah orang tua memaksanya. Anda tak bisa memaksa si anak
untuk berbisnis kecil-kecilan. Namun, Anda bisa merangsang mereka agar
jiwa kewirausahaan dan kecerdasan finasialnya tumbuh. Caranya, kata Kak
Seto, bisa dikembangkan dengan cara bercerita. Misalnya saja, Anda bisa
menceritakan kisah tentang teman yang dulu sejak kecil sudah bisa mencari
uang dengan berbisnis kecil-kecilan. ''Selain itu, orang tua juga bisa
bercerita soal kisah sukses dan masa kecil para pengusaha ternama,''
imbuhnya. Setelah bercerita, yakinkan pula pada sang anak, bahwa dirinya
juga bisa sukses seperti itu. Sehingga, anak akan menjadi tertantang untuk
mengikuti kisah sukses itu.
Atau, kata konsultan bisnis Ir Sri Bramantoro Abdinagoro, orang tua
bisa memancing sang anak. Caranya, ajaklah anak berjalan-jalan, ke toko
atau pedagang stiker. Orang tua bisa menanyakan, '' Di sekolah lagi
rame stiker Sponge Bob, nggak? Bisa nggak kamu
jualan? Bisa untung, lho! Kalo mau, Papa
modalin kamu. Untungnya, bisa kamu tabung, lho.''
Sampaikan tawaran itu dengan penuh keakraban. Satu hal yang penting
dicatat, Bramantoro mengingatkan, orang tua tak bisa membebani anak.
''Orang tua tak boleh membebani apa pun. ''Pokoknya, anak harus senang,''
katanya.
Baik Kak Seto maupun Bram secara terpisah sependapat tentang manfaat
belajar berbisnis dan mengelola uang sejak dini. ''Saat ini sangat banyak
orang yang bergelar master dan doktor, namun kemampuan mengelola uangnya
sangat rendah. Itu karena mereka tak memiliki kecerdasan finasial,'' tutur
Kak Seto.Selain itu, kata dia, anak yang sejak dini diajarkan cara
mengelola uang, juga bisa tumbuh menjadi pribadi yang kreatif dan mandiri.
Tak cuma itu, mereka pun bisa memiliki jiwa kewirausahaan. ''Hal seperti
itu memang harus dipersiapkan sejak dini.''
www.icmi.or.id
|