Usaha yang Di ridhai Allah
[09/01/2006, 13:18:18]

Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

JIWA wirausaha atau entrepreneurship adalah salah
satu kekuatan yang dikembangkan oleh Rasulullah.
Entrepreneur secara sederhana adalah kemampuan kita
untuk mengkreasi atau mendesain manfaat dari apa
pun yang ada dalam diri dan lingkungannya.

Apa pun yang dia lihat dapat dia kemas menjadi sesuatu
yang bermanfaat. Seorang entrepreneur tidak pernah
mengenal situasi rumit kecuali situasi itu bisa
diatasi dan menghasilkan manfaat.

Seseorang yang berjiwa entrepreneur memandang situasi
bangsa seperti ini sebagai tantangan yang paling
menarik untuk diatasi, diselesaikan dengan karya
yang nyata dan bermanfaat.

Mengutuk itu paling mudah, tetapi menjadikan situasi
sulit menjadi kondisi menantang yang akan membangkit-
kan potensi kita, itulah yang paling baik untuk
dilakukan. Jika hal itu dilakukannya, maka itulah
ciri-ciri orang yang akan gemilang.

Oleh karena itu, bangsa yang carut-marut dan hiruk-
pikuk begini membutuhkan umat yang memiliki jiwa
entrepreneur. Sayangnya, kita sering kalah oleh diri
kita sendiri. Belum memulai sesuatu, kita sudah
menyerah duluan, tidak ada motivasi dalam diri
untuk bangkit dari keterpurukan.

Demikian jelas Nabi telah memberikan kepada kita
umatnya tentang bagaimana cara berbisnis yang benar.
Untuk menerapkannya di perusahaan agar beroleh
kesuksesan serupa, kuncinya sederhana, di samping
manajemen yang profesional, faktor yang utama adalah
usahakan suasana dan seluruh aturan serta segala
aktivitas perusahaan sesuai dengan aturan yang diridai
Allah.

Berjuanglah sekuat tenaga untuk menjadikan perusahaan
kita sebagai ladang untuk membuat diri, keluarga,
karyawan plus keluarga karyawan, rekan usaha kita
agar menjadi semakin dekat dengan Allah. .

Kajilah sistem usaha agar disukai Allah (sesuai dengan
syariat), juga pembinaan karyawannya tidak hanya
dididik agar terampil dan profesional dalam bidang
pekerjaannya saja tetapi sangat diutamakan agar seluruh
karyawan dan keluarganya terbina keimanan dan ketaatan-
nya pada Allah.

Caranya dengan pemberian ilmu agama Islam yang
sistematis dan berkesinambungan, plus kesempatan
dan fasilitas beribadah yang layak.

Kepada karyawan selalu diyakinkan bahwa perusahaan
tempatnya bekerja adalah amanah dari Allah untuk
dikelola bersama, tiada yang menggaji semuanya
kecuali hanya Allah, bekerja adalah beramal saleh,
beribadah, dan berjihad di jalan-Nya, bukan semata
mata hanya mencari uang.

Andaikan bekerja hanya mencari uang, bagaimana kalau
mati sebelum gajian? Niscaya sangat rugi, uang tidak
didapat, pahala amal pun lepas. Tentu saja semua ini
harus diawali dan dibarengi dengan suri tauladan yang
baik, serta kejujuran dan keadilan para managernya,
khususnya pemilik usahanya tersebut. Niscaya Allah
tidak mengecewakan pengusaha yang menjadikan bisnis
yang dilakukannya sebagai ladang jihad..

Contoh lain yang harus kita evaluasi, dan orang
banyak menganggapnya sepele adalah waktu salat.
Kita harus hati-hati jangan sampai karyawan lalai
apalagi melupakan salat. Jelas sekali, produktivitas
yang dihasilkan karyawan yang tidak melakukan salat
tidak akan membawa berkah baik untuk dirinya maupun
untuk pemilik perusahaan.

Keuntungan memang harus dikejar semaksimal mungkin,
tetapi apa artinya keuntungan yang melimpah apabila
membawa malapetaka.
Karenanya, jikalau sudah sampai waktu salat,
hentikanlah seluruh aktivitas pekerjaan. Berikanlah
waktu luang kepada seluruh karyawan untuk mendirikan
salat dan memanjatkan doa.

Sekali-kali jangan takut akan mengurangi keuntungan,
justru sebaliknya, karena dengan doa yang tulus dari
karyawan-karyawan yang diberi keluangan waktu salat
tadi, doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Siapa tahu
salah seorang dari karyawan kita ada yang sangat dekat
kepada Allah sehingga doanya sangat di-ijabah guna
kemajuan perusahaan..

Yakinlah, bahwa yang memberi rezeki hanya Allah.
Jikalau Allah menakdirkan untuk mendapat rezeki
pasti tiada satu pun dapat menolaknya, dan tentu
saja yang sangat penting adalah keberkahan dalam
rezeki yang diterima, maslahat bagi dunia dan akhirat.

Saya termasuk orang yang tidak mau pusing dengan
keadaan sekarang kalau hanya memperlemah kemampuan
kita. Situasi sesulit apa pun pilihannya cuma satu,
kita harus bangkit bersama-sama! .

Tidak ada waktu untuk mengeluh dan mencela.
Akan tetapi sadarlah, kita tidak punya waktu untuk
itu semua. Waktu kita sangat terbatas. Satu-satunya
pilihan, kita harus bangkit! Allah Mahakaya.

Mau seperti apa pun keadaan, rezeki Allah tidak akan
pernah berkurang. Bagi yang muda ini adalah kesempatan.
Kita disiapkan untuk sukses oleh Allah. "Faalhamaha
fujuraha watakwaahaa," kita sudah diilhami potensi
positif dan potensi negatif.

Jadi, jiwa wirausaha ini benar-benar harus ditanamkan
sejak kecil. Jika tidak, potensi apa pun tidak bisa
dibuat menjadi manfaat. Orang yang jahil, ketika dia
melihat batu, mungkin hanya akan dia pakai untuk
melempar orang. Tetapi seorang wirausahawan, ketika
melihat batu, bisa dikemasnya dengan kreatif sehingga
punya nilai tambah. Inilah bedanya.

Kita harus mulai merindukan anak-anak kita tumbuh tdk
sekadar menjadi pekerja, tapi menjadi orang yang mampu
menciptakan pekerjaan. Ini penting, karena begitu
banyak potensi yang ada di negeri ini tidak tergali.

Repotnya, kita suka ingin "untung ladang enteng",
kerja sedikit untung besar. Ini yang salah! Bagi
seorang entrepreneur, keuntungan tidak selalu bermakna
besarnya laba. Sebab dengan memperoleh ilmu saja sudah
merasakan keuntungan yang luar biasa.

Di sisi lain, persoalan bisnis tampaknya masih menjadi
salah satu kelemahan umat Islam. Sebabnya tiada lain
karena urusan bisinis dianggap sebagai urusan duniawi.
Padahal bisnis menjadi urusan duniawi jikalau niat dan
caranya salah, tetapi jika niat dan caranya benar maka
bisnis adalah jihad.

Kriteria bisnis sebagai ladang jihad adalah pelurusan
akan pemahaman makna jihad itu sendiri. Jihad tidak
selalu identik dengan pertempuran, bersimbah keringat
berkuah darah, tapi harus kita lihat apa yang menjadi
titik lemah umat, yang ternyata ada pada bidang
perekonomian.

Artinya, kalau kita berjuang dengan sungguh-sungguh
untuk kemaslahatan umat di bidang ekonomi, maka insya
Allah upaya seperti ini juga adalah jihad.

http://www.pikiranrakyat.com .

Kirim email ke