Tiga cerita tentang sedekah. Semoga bermanfaat.
 
------------------------------------------------------------------------------------ 
Ketika Tsunami Datang...
 
Pagi itu, Fahmi tengah duduk santai di rumahnya. Menikmati udara pagi yang sejuk dan menikmati secangkir teh dan roti yang telah disediakan istrinya. Maklum saja ia sedang menganggur sehabis keluar dari tempatnya kerja dulu. Jadi ia bisa menikmati hari-hari di rumahnya, meski pusing juga memikirkan nafkah bagi istri dan dua anaknya yang masih kecil-kecil.
"Belum ada order motret lagi, Pa? Atau kerjaan?" istrinya bertanya hati-hati.
Fahmi hanya menggeleng. Tabungannya mulai menipis. Ia harus mencari kerjaan kalau asap dapurnya mau ngebul, apalagi... ia masih tinggal di rumah mertuanya.... malu rasanya.
Istrinya kembali ke dalam dan menyalakan televisi, saat itulah berita yang menyentak terpampang.
"Pa... lihat deh, sini!" panggil istrinya. Malas-malasan Fahmi bangkit dan menghampiri istrinya.
"Apaan, sih?"
"Tuh, lihat aja." Istrinya menunjuk televisi. Pandangan Fahmi beralih ke teve dan...
"Astaghfirullah...." desisnya berkali-kali. Bencana tsunami telah menghadang Aceh dan sekitarnya, bahkan menjadi bencana dunia.
"Ya ampun, bukan cuma Indonesia, ya..." istrinya menggeleng-gelengkan kepala.
"Lihat tuh, ya Allah... ombaknya tinggi banget, ya Allah..." masih kata istrinya. Fahmi tak bersuara. Tatapan matanya nanar dan mulai berkaca-kaca.
Lihatlah para manusia tak berdaya itu, mereka berupaya menyelamatkan diri dari terjangan tsunami, memanjat pohon, bertengger di atap, tergulung ombak. Lihatlah ribuan mayat yang hancur dan tak dikenal itu. Benar-benar Maha Besar Allah yang bisa melakukan semua ini. Benar-benar manusia tak bisa menolak kuasaNya.
Aceh hancur, hanya masjid yang maish berdiri tegak. Lihatlah Serambi Mekkah itu, lihatlah kota yang dikenal religius itu. Kini porak-poranda. Mengapa Aceh ya Allah, mengapa? Kasihan mereka. Fahmi tak habis pikir.
Namun, sejurus kemudian ia beristighfar... pasti ada skenario tertentu yang dibuat Allah dibalik bencana ini. Allah menjadikan sesuatu bukan tanpa sebab.
Fahmi mengusap perlahan titik air mata yang mulai menganak sungai di pipinya.
"Kita beri bantuan yuk buat mereka," katanya kemudian pada istrinya.
"Iya, berapa?"
"Sekarang kita kumpulin aja dulu pakaian layak pakai, yuk!" mereka berdua beraksi. Kemudian Fahmi mengambil sejumlah uang simpanannya.
"Pa... nggak kebanyakan? Nanti kita gimana?" istrinya mengingatkan.
"Udahlah, Ma, mereka lebih butuh dari kita. Cobaan yang kita hadapi sekarang nggak ada artinya dibandingkan kesusahan mereka, nanti pasti ada rezeki buat kita. Yakin aja, deh," hibur Fahmi.
Istrinya mengalah. Memang jumlah uang yang mereka sumbangkan tak sampai 500 ribu rupiah, namun terasa juga karena Fahmi masih menganggur. Tapi mereka ikhlas membantu saudara mereka yang kesusahan di tanah rencong sana.
Melalui sebuah yayasan, mereka menyalurkan bantuan itu. Kemudian Fahmi dan keluarganya setia mantengi televisi untuk melihat perkembangan situasi di Aceh.
Suatu hari, saat Fahmi sedang di depan tv, telepon rumahnya berbunyi.
"Assalamu’alaikum..." sapanya ramah.
"Wa’alaikum salam, Fahmi, ya?" sahut suara di ujung sana.
"Fah, selamat ya.... foto ente menang juara harapan."
"Alhamdulillah... yang bener, lo?" Fahmi tidak percaya.
"Bener. Hadiahnya dua juta!"
Mendengar berita itu tak urung Fahmi langsung sujud syukur. Kemudian ia mengabarkan berita gembira itu pada istrinya.
"Ma, Alhamdulillah, foto yang Papa ikutin lomba jadi juara harapan. Hadiahnya dua juta..."
Ia memeluk erat istrinya, "Betul kan Papa bilang. Kalau udah rezeki nggak bakalan ke mana, deh..."
Rupanya, Allah masih menyimpan kejutan lain buat mereka. Beberapa hari kemudian, kembali telepon rumahnya berdering, "Ya hallo... Assalamu’alaikum?" sapa Fahmi lagi.
"Fah... masih nganggur lo?" tanya temannya di ujung sana.
"Ya... gitu deh, kenapa? Ada gawean?" Fahmi bertanya penuh harap.
"Bukan gawean sih, ada order motret kawinan, buat kita berdua, lumayan 7 juta, bo! Mau nggak?"
"Pake nanya lagi, ya mau dong!" Fahmi tertawa senang. Kembali ia sujud syukur dan mengabarkan berita itu pada istrinya.
"Alhamdulillah....ya Pa... Allah baik banget."
"Makanya... Papa bilang juga apa, nggak usah takut nyumbang agak banyak buat Aceh kemarin..."
Mereka berdua bertatapan penuh makna.
(Dikisahkan seorang teman, 15 Agustus 2005)
 
 
Tersebutlah seorang lelaki asal Jawa Tengah, yang terbelit hutang kurang lebih Rp. 126jt. Dan dia mengaku sudah dalam keadaan tidak lagi punya harapan. Seisi rumah barang-barangnya satu demi satu habis dijual. Baik untuk bayar hutang, maupun untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Tertinggal hanya rumah, yang itu pun belum lunas kreditannya.
 
Suatu hari dia menemui Ustadz Sedekah, yang menyarankan kepada dirinya untuk bersedekah di jalan Allah, dengan sedekah terbaik. Supaya apa? Supaya dapat ridho Allah. Kalau Allah sudah ridho, maka usahanya untuk membayar hutang kemungkinan akan berhasil. Kata si Ustadz tersebut, mengapa dia begitu sulit membayar hutang, bisa jadi Allah belum ridho dan belum memberikan izin. Nah, bersedekah, adalah salah satu upaya untuk mendatangkan ridho Allah.
 
Singkat cerita, rumah tersebut dia jual! Dengan harga 18 juta rupiah. Harga ini bahkan di bawah standar. Dia harusnya bisa mengover kredit rumahnya ini seharga 23jt rupiah. Tapi si Ustadz mendorong, sudahlah, jangan menunggu harganya menjadi 23jt rupiah. Jual saja dengan harga yang ditawar dan dibayar paling cepat. Insya Allah di mata Allah, harga jualnya tetap 23jt rupiah. Setelah dapat uang 18jt rupiah, orang ini kemudian mengambil 3jt untuk mengontrak rumah dan sekedar untuk bertahan hidup selama beberapa pekan. Dia bismillah, akan berusaha yang terbaik.
 
Allah menjawab doanya. Orang ini bersedia bersedekah yang terbaik. Tidak gampang bersedekah seperti yang dia lakukan. Menjual rumahnya, dan mengambil hanya beberapa rupiah, lalu menyedekahkan sisanya. Dan orang ini pun meninggalkan pekerjaannya. Dia marketing sebuah perusahaan farmasi yang kebetulan pimpinannya mengharuskan dia bermain kotor. Menyuap dengan uang dan memberikan perempuan untuk para dokter, adalah sebagian dari caranya mengejar target perusahaan. Kelak kemudian dia menyadari bahwa cara inilah yang membuatnya terbenam dalam lautan hutang!
 
Ya, Allah menjawab doanya. Ketika dia bersedekah dan meninggalkan lingkungan pekerjaan kotornya, dia kemudian berniaga, mandiri. Usahanya membuahkan hasil, kali ini, justru dari bidang yang selama ini dia tidak pernah geluti. Bidang advertising. Dia berhasil meng-close iklan layanan masyarakat dan iklan produk untuk sebuah agency periklanan besar milik seorang kawan kenalannya. Dan dalam satu bulan usaha dia meng-close iklan tersebut, dia dapat komisi yang tidak tanggung-tanggung besarnya. 157jt! Bersih! Subhanallah, dia kemudian bisa membayar hutangnya yang 126jt, dan bahkan dia bisa membeli lagi rumah yang lain sebagai pengganti rumah yang dia jual untuk disedekahkan kemaren dulu.
 
Allah memang Maha Menepati Janji-Nya. Siapa saja yang mencintai sedekah, Allah akan mengulurkan Tangan-Nya membantu.
 
sumber:www.wisata hati.com
 
 
Bisa Berbagi dengan Anak Yatim, Akibat Sedekah
Minggu sore itu sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Suasana mulai terasa adem, menggantikan teriknya matahari yang memancar sesiang tadi. Nampaklah segerombolan remaja tengah bersenda gurau di sebuah rumah, di kawasan Depok.
Seorang di antaranya terlihat sedang mencuci mobilnya. Beberapa lainnya duduk-duduk di lantai sambil ngobrol dan berkelakar. Tiba-tiba senda gurau mereka terhenti. Sesosok anak kecil, dengan pakaian kumel dan lusuh sudah memasuki perkarangan rumah itu.
"Minta... Kak... saya minta uang..." sapanya dengan wajah memelas. Pemuda yang sedang mengelap mobil mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya.
"Eh, ada yang bawa seribuan, nggak?" tanyanya mendesak.
Semua temannya merogoh kantong dan dompet.
"Nggak ada gue," jawab seseorang.
"Iya.... gue juga nggak ada, Cek!"
Pemuda yang kerap dipanggil Bucek itu ganti memandang pengemis kecil dan berkata,"Maaf, Dek... lain kali aja, ya..."
Tapi omongannya terhenti ketika Leka, temannya mendadak beranjak dari tempatnya duduk dan memanggil Bucek.
"Apaan?"
"Ini.... kasih ini aja..." kata gadis itu seraya menyerahkan selembar uang lima ribuan."
Bucek menggeleng, "Nggak usah, eh Man, cari gih di dalam uang seribuan..." serunya pada Arman, temannya yang lain.
"Nggak usah, ini aja lagi...." desak Leka kemudian.
"Kegedean, lagi...." tolak Bucek.
"Nggak apa-apa... gue cuma ada lima ribu uang kecilnya. Gue ikhlas, kok. Kasihan lagi..."
Sementara pengemis kecil itu belum beranjak, ia masih berada di perkarangan, memperhatikan perdebatan sepasang remaja itu.
"Iya gue ngerti, tapi takut kebiasaan dia, nanti ke sini melulu. Belum tentu buat dia, kan ada yang koordinir..." Bucek masih berusaha membujuk Leka.
"Ah, udahlah, Cek. Gue lagi pingin beramal, nih. Biarin deh."
Tapi karena Bucek tak juga mengambil uang itu dari lengannya. Leka lalu meminjam sendal pemilik rumah dan bergegas ke halaman.
"Ngapain, loh Ka... becek lagi...." tanya teman-temannya. Gadis itu tak menghiraukan panggilan mereka. Segera ia mengejar pengemis kecil yang telah meninggalkan perkerangan itu.
"Dek... sini.... nih, buat kamu..." ia menyerahkan selembar lima ribuan padanya. Pengemis kecil itu menerima dengan senyum ceria.
"Jadi ngasih?" tanya temannya begitu Leka kembali. Gadis itu hanya mengangguk singkat.
"Biarin, kasihan..."
Tak ada hal lain dalam pikirannya selain ingin membantu gadis pengemis itu. Beberapa hari kemudian, Leka berpikir kalau sweet seventeennya semakin dekat. Sesampainya di rumah, ia bertanya pada tentenya.
"Tante... tabungan Leka ada berapa?"
"Emang kenapa?" tantenya balik bertanya.
"Gue cuma ingin tahu. Kan dikit lagi ulang tahun 17. Rencananya gue mau ngerayain sama anak yatim di Jambi nanti." Jelasnya. Ulang tahunnya memang bertepatan dengan masa kenaikan kelas. Rencananya liburan nanti ia akan pulang kampung.
"Di sini kamu juga ngadain pesta nanti?"
"Pengennya sih... kalau duitnya cukup. Makanya gue mau itung-itungan. Tabungan gue di Tante berapa?"
Akhirnya mereka berhitung,"Ka... tabungan kamu kan 400 ribu. Nah, selain itu kamu dapat sangu 500 ribu dari Mbak Ven di Batam." Jelas tantenya, menyebutkan nama tante yang lain, yang tinggal di Batam dan termasuk orang kaya.
Mata Leka bersinar, "Beneran? Berarti uang gue ada..." ia berhitung lagi.
"Tapi masih kurang kalau mau ngadain pesta di sini juga." Keluhnya.
"Ka... sekarang kamu prioritaskan aja deh, kamu ngejar pahala atau duniawi aja. 17 tahun nggak selalu harus pesta kan?"
Leka masih menerawang. "Kalau gue minta tambahan lagi sama Tante Ven di Batam gimana, ya? Kan untuk merayakan sama anak yatim. Niat gue ada empat nih..." ia lalu menjabarkan keempat niat baiknya.
"Coba, aja...." kata tantenya lagi.
Takut-takut Leka mencoba mengirim sms pada tantenya di Batam. Alhamdulillah sang tante bersedia menambahi lagi satu juta.
"Alhamdulillah.... ah gue pesta di Jambi aja ama anak yatim, di Depok nggak usah," putusnya kemudian.
Dua minggu kemudian, sekembalinya dari Jambi, gadis remaja itu berbagi cerita kalau ulang tahunnya sukses. Mengundang sekitar 50 anak yatim dan juga teman dan kerabat dekatnya.
"Alhamdulillah sukses, sampe rumah nggak muat." Jelasnya ceria. Kemudian ia berkisah lagi. Akibat menyenangkan anak yatim itu, ia mendapat uang 500 ribu dari seorang kaya di kampungnya, yang merupakan teman dekat ayahnya.
"Ka nggak nyangka, padahal baru ketemu. Eh dapat 500 ribu."
Gara-gara sedekah 5000, remaja itu mendapat ganti sebesar satu setengah juta rupiah dalam beberapa hari. Uang itu dipergunakannya untuk merayakan ulang tahun bersama anak yatim. Selanjutnya ia mendapatkan bonus sebesar 500 ribu lagi. Leka meyakini sedekah memang mampu memancing rezekinya.
***

Kirim email ke