|
----- Original Message -----
From: masjid_annahl
Sent: Wednesday, February 08, 2006 12:04 PM
Subject: [ Annahl ] Larangan Menggambarkan Nabi Muhammad
SAW source : rubrik ustadz menjawab eramuslim
Larangan Menggambarkan Nabi Muhammad SAW Assalamu
'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz yang terhormat, Terkait gencar-gencarnya protes terhadap pemuatan
gambar/ karikatur Nabi Muhammad oleh surat kabar di Denmark,
bagaimana Islam memandang hal ini? Bagaimana dasar hukum larangan
menggambarkan sosok Nabi yang mulia ini. Apakah ini berdasarkan kesepakatan atau
ijtihad ulama atau memang Al-Quran telah melarang penggambaran Nabi
Muhammad? Maafkan atas kebodohan saya. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh Wahyu Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi
wabarakatuh Apa yang terjadi di Denmark, Norwegia dan negeri
lainnya bukan semata- mata masalah larangan melukis nabi Muhammad SAW.
Melainkan sudah masuk ke wilayah penghinaan. Sebab gambar itu
memang dibuat sengaja untuk menghina beliau SAW. Penghinaan atas nabi Muhammad SAW oleh media massa
di Denmark, Norwegia dan beberapa negeri lainnya memang sudah
keterlaluan. Sebelumnya tidak pernah terjadi penghinaan seperti
ini. Penghinaan kepada nabi umat Islam itu selama ini hanya dilakukan
secara sembunyi-sembunyi dan terselubung. Bahkan ketika dikonfrontir ulang
kepada pelakunya, umumnya pelaku penampik dan
berkelit. Salman Rushdie pernah menghina Rasulullah SAW dan
keluarganya dalam bentuk novel. Namun hinaan itu boleh dibilang
masih agak malu-malu, karena tidak secara vulgar menyebutkan nama beliau
SAW. Sebegitu pun, kepala Salman Rushdie telah dihargai dengan nilai
uang tertentu oleh pemerintah Iran, karena mereka merasa nabi yang
suci itu dihina. Adapun yang dilakukan media massa di Denmark,
Norwegia dan beberapa negara lainnya yang ikut-ikutan menampilkan gambar
itu sekarang ini, adalah sebuah gelombang penghinaan yang bersifat
terbuka, resmi dan tanpa malu-malu. Nada penghujatan dan penghinaan seakan
dilakukan secara massal dan siap menantang. Nabi Muhammad SAW
sebagai nabi yang suci dan mulia itu digambarkan bersurban dengan bom
waktu. Seakan menggambarkan bahwa Islam adalah agama haus darah
dan siap meledakkan bom di mana saja. Bahkan pemerintah Denmark dengan
amat congkak dan bersembunyi di balik kebebasan pers menolak untuk
meminta maaf kepada 1,5 Milyar umat Islam. Padahal di dalam syariah Islam, jangankan membuat
gambar yang bersifat menghina, sekedar melukis sosok Rasulullah SAW
sendiri pun sudah haram hukumnya. Bahkan meski pelukisnya melukis dengan
niat baik dan lukisan yang indah. Namun umat Islam sejak awal telah
diajari untuk menghormati nabi mereka bukan dengan membuat lukisan atau
gambar, apalagi patung. Islam datang justru menghancurkan gambar-gambar
para nabi serta patung- patung mereka yang terlanjur
disembah. Sebuah bentuk kejahilan yang diperangi agama Islam
adalah melukis, menggambar dan mematungkan para nabi dan orang
shalih di masa lalu. Dan kelakuan umat terdahulu memang selalu demikian.
Para nabi yang telah wafat itu mereka buatkan lukisannya, meski dengan
niat untuk mengagungkannya, mensucikannya atau
menghormatinya. Namun di balik niat lugu itu, syetan telah selalu berhasil
menyelewengkan dan memasukkan bisikan jahatnya. Sehingga pada akhirnya gambar
dan patung para nabi menjadi sesembahan selain
Allah. Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu
meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan
wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr."(QS. Nuh:
23) Para ahli tafsir menyebutkan bahwa nama berhala
itu yaitu Wadd, Suwwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nashr sebenarnya nama orang
shalih dan mereka bukan tuhan. Namun sepeninggal mereka, orang-orang ingin
mengenang jasa dan keagungannya, sehingga kemudian dilukislah wajar
mereka, sehingga akhirnya dibuatkan patung. Dari generasi ke
generasi akhirnya patung mereka sudah menjadi tuhan sesembahan selain
Allah. Di dalam syariah Islam, melukis nabi dan para
shahabat telah diharamkan secara total. Meski pun niatnya baik dan
lukisannya indah. Tetapi hukumnya tetap haram. Sedangkan yang dilakukan sekarang ini memang
melebihi batas kewajaran. Sebab melukis nabi Muhammad SAW saja sudah haram,
apalagi sambil membuatnya menjadi karikatur yang menghina dan
merendahkan. Gambar itu sendiri dimuat di media massa secara terbuka,
bahkan di-copy oleh media lain untuk diterbitkan lagi. Karuan saja umat Islam sedunia meradang.
Sampai-sampai Kedutaan besar Denmark di Libanon dan Syria dibakar dan diamuk
massa yang kalap. Peristiwa pembakaran kedutaan besar Denmar,
Norwegia di kedua negeri itu meski tidak sejalan dengan ajaran Islam, namun
sesungguhnya membuktikan bahwa kebebasan itu tidak pernah ada yang mutlak.
Kebesaaan seseorang itu terbatas dengan adanya kebebasan orang lain.
Tidak ada kebebasan di dunia ini yang bersifat mutlak, sehingga orang
boleh melakukan apa saja, sampai mengganggu orang lain, baik secara pisik
maupun psikis. Seorang yang membeli mobil dengan uang pribadinya
memang boleh memiliki mobil itu secara pribadi, namun di jalan
dia tetap harus taat peraturan lalu lintas. Tidak boleh seseorang
merasa bebas membawa mobil seenaknya di jalan raya dengan dalih kebebasan.
Bahkan kapal laut yang berjalan di laut pun tetap punya track tersendiri,
tidak mentang-mentang laut itu luas, lalu boleh berjalan seenaknya ke
sana ke mari. Pesawat udara yang kelihatannya terbang bebas di udara pun
sebenarnya punya jalur-jalur udara yang harus dipatuhinya. Tiap semaunya
terbang dan ugal-ugalan di angkasa. Sebab semua itu hanya akan membuatnya
mencelakakan diri sendiri. Maka dalih kebebasan pers yang dijadikan tameng
oleh pemerintah Denmark, Norwegia sesungguhnya memang semata-mata
membuktikan bahwa mereka punya maksud yang tidak baik kepada umat Islam,
khususnya kepada Nabi Muhammad SAW. Bab penghinaan agama seperti ini
seharusnya tidak boleh dianggap sepi. Apalagi mengingat umat Islam itu
selama ini sudah disakiti secara pisik, kini ditambah lagi disakiti secara
psikis. Sedangkan jumlahumat Islam di dunia ini lumayan banyak. Bahkan di
Denmark, Norwegia sendiri merupakan agama kedua terbesar. Tentu saja
kecongkakan pemerintah Denmark, Norwegia itu merupakan bentuk penghinaan
dan penghujatan yang nyata dan tidak bisa dimaklumi begitu
saja. Media massa Denmark, Norwegia dan negara lainnya
itu harus meminta maaf sebagaimana pemerintahnya juga harus meminta
maaf secara jujur, terbuka, penuh penyesalan dan dengan itikad baik.
Toh umat Islam pasti bisa memaafkannya, meski sempat terluka hatinya. Namun
sikap congkak dan menyembah berhala kebebasan pers adalah pilihan
konyol yang tidak pernah bisa meredakan ketegangan. Bangsa dan pemeluk
agama manapun akan marah bila tokoh suci mereka. Bisakah pemerintah
Denmar, Norwegia itu membayangkan bila yang dijadikan karikatur dan
objek penghinaan itu adalah Paus, misalnya. Atau presiden mereka
sendiri. Tentu wajar bila pendukungnya marah besar. Namun semoga penghinaan yang kita terima saat ini dijadikan Allah SWT sebagai momentum yang mengetuk hati jutaan umat
Islam sedunia, setelah selama ini terkesan kurang responsif terhadap
agamanya, juga kurang erat persatuan dan kesatuannya. Semoga hikmah di balik
peritiwa ini adalah semakin kompaknya umat Islam, dengan meninggalkan
segala bentuk pertikaian, pertentangan, caci maki antar sesama
dan juga saling menjelekkan. Semoga dengan adanya peristiwa ini,
umat Islam menyadari bahwa mereka punya lawan lebih besar, tantangan
lebih keras, masalah yang lebih penting dari semua keretakan yang
ada. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya."(QS. Al-Jumu'ah:
8) Wassalamu
'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat,
Lc. |

