|
STRATEGI PEMASARAN TAHUN
2006
Kalau Anda diajukan pertanyaan: bagaimana prospek usaha di
tahun 2006, apakah Anda optimis bahwa bisnis atau usaha Anda akan bertumbuh
positif, sama saja atau lebih pesimis? Dari observasi yang saya lakukan terhadap para pelaku
bisnis, sebanyak 60% menyatakan bahwa 2006 adalah tahun yang lebih suram;
sekitar 30% menyatakan akan sama saja dengan tahun 2005; dan sisanya sekitar 10%
masih memperlihatkan optimisme. Ada dua hal yang membuat
perbedaan dari para pelaku bisnis dalam menjawab hal ini. Pertama, karena mereka
memang berada di industri yang berbeda prospek pertumbuhannya di tahun 2006.
Mereka yang merupakan pelaku bisnis dalam industri telekomunikasi, kesehatan,
pendidikan, jasa, pengacara, pertanian, pertambangan atau yang banyak
mengandalkan ekspor, besar kemungkinannya termasuk yang berada di kategori
optimis. Mereka yang berada dalam
industri consumer goods seperti makanan, minuman, obat-obatan, rokok, kosmetika
dan peralatan rumah tangga, memperlihatkan keyakinan akan kestabilan. Ini adalah
kebutuhan pokok yang tetap harus dipenuhi. Sampai tahun 2004, total pengeluaran
keluarga yang dibelanjakan untuk makanan dan minuman masih berkisar 53%. Di
tahun 2006, angka ini tidak akan banyak mengalami perubahan.
Para pelaku bisnis yang
masuk industri seperti properti, otomotif, tekstil, media, pembiayaan,
perdagangan kecil, peralatan dan mesin untuk investasi, termasuk yang pesimis
memasuki tahun 2006. Pesimisme ini tentu dipicu
oleh banyak faktor. Bagi yang bergelut di bidang manufaktur, kenaikan BBM di
awal Oktober 2005 benar-benar membuat mereka harus mencari cara-cara efisiensi
atau bahkan lebih radikal, yaitu dengan mengkaji kelayakan bisnis. Tingkat
inflasi tahun ini yang diperkirakan mencapai 12% dan tahun depan sekitar 8%,
serta kenaikan suku bunga kredit yang disertai dengan perlambatan pertumbuhan
kredit, akan menjadi faktor penghambat pula.
Hal kedua yang mempengaruhi
jawaban pelaku bisnis ini tergantung dari sikap mereka dalam menghadapi
setiap perubahan. Mereka yang memberikan jawaban optimis, biasanya
memang memiliki keyakinan yang besar bahwa dalam setiap masalah atau krisis,
akan tetap menyisakan sesuatu yang memberikan ruang untuk munculnya kesepakatan.
Kalau BBM naik, bisnis batu bara menjadi primadona. Kalau banyak perusahaan
terpuruk oleh karena kenaikan BBM, maka jumlah pemain dalam industri tersebut
akan berkurang dan akhirnya justru mengurangi tingkat kompetisi. Jadi,
krisis juga menyisakan peluang.
Kita tentunya sudah banyak
belajar dari krisis di tahun 1997. Saat krisis melanda, memang banyak perusahaan
yang sangat tidak siap. Akibatnya, banyak sekali yang harus gulung tikar,
mereduksi skalanya atau menjual usahanya ke pihak lain, baik ke perusahaan
pesaing atau perbankan untuk mengambil alih hutang-hutang perusahaannya.
Kalau melihat
besaran-besaran angka yang terjaditerutama dalam hal fluktuasi nilai tukar
rupiah, tingkat pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekspor, tingkat suku bunga dan
tingkat inflasisampai akhir bulan Oktober 2005, rasanya sungguh jauh
membandingkan situasi sekarang ini dengan yang terjadi tahun 1997. Pada tahun
1998, pertumbuhan ekonomi negatif 15%, sedangkan tahun ini, masih di atas 5%.
Tahun depan bila ternyata nilai tukar rupiah melesat hingga Rp12 ribu dan
inflasi sekitar 12%, pertumbuhan ekonomi sebesar 3%, pun masih sangat
memungkinkan. Selain masih mencerminkan
banyak aspek positif dibandingkan tahun 1997, perusahaan-perusahaan juga sudah
dalam kondisi lebih baik dan sebagian juga sudah lebih siap, misalnya dalam hal
menghadapi perubahan nilai tukar yang drastis, karena sebagian perusahaan besar
sudah melakukan hedging. Dari pengalaman berjuang
mengatasi krisis, kita juga bisa melihat, betapa elastisnya sebuah perusahaan.
Banyak perusahaan yang, menurut ukuran saat itu, sudah negatif ekuitasnya atau
sudah bangkrut, beberapa tahun kemudian bisa bangkit dari keterpurukannya. Astra
Internasional, United Tractor, Kalbe Farma, Tempo Scan, BCA, Indofood adalah
sederet contoh perusahaan yang hampir kandas karena besarnya hutang dan kecilnya
permintaan pasar, akhirnya menjadi perusahaan yang bersinar kembali hari ini.
Seandainya tahun depan
adalah tahun yang suram, asumsikan misalnya karena eskalasi keamanan dan politik
akibat pengangguran yang meningkat dan terorisme yang semakin liar, yang
kemudian menjatuhkan nilai rupiah, meningkatnya inflasi dan meredupkan
pertumbuhan ekonomi mendekati 0%; apa yang perlu dipersiapkan oleh perusahaan
untuk menghadapi semua ini? Sekali lagi, kita bisa belajar dari
perusahaan-perusahaan yang keluar dari krisis dan kemudian bangkit atau justru
pemain baru yang kemudian mampu menjadi pemain besar dalam hitungan singkat.
Krisis bisa memberikan kesempatan kepada pemain baru yang sebelumnya menjadi
penonton untuk menjadi pemain inti dari industri tersebut.
Menggalang Kompetensi
Peluang bisnis, di luar
rezeki dan keberuntungan, hanya akan diberikan kepada mereka yang memang siap
menangkap peluang. Oleh karena itu, hanya perusahaan yang memang mempersiapkan
strategi dan kompetensi dengan baik dan sistematislah yang kemudian dapat
menangkap peluang. Kalau ada bola peluang yang datang menghampiri mereka, tanpa
didukung kompetensi, peluang tersebut juga akan berlalu begitu saja.
Inilah sebabnya, ketika
nilai rupiah anjlok di tahun 19971998, pertumbuhan ekspor ternyata juga tidak
cepat. Dibutuhkan 34 tahun agar ekspor bertumbuh dengan signifikan. Inilah
sebabnya, BCA yang memang lebih siap dalam teknologi, bangkit kembali kurang
dari 2 tahun terutama saat peran teknologi mulai penting dalam persaingan
industri perbankan. Itulah sebabnya, Astra yang mempunyai reputasi yang baik dan
pelanggan yang loyal, akhirnya bisa berdiri dengan kinerja yang sangat bagus
setelah 5 tahun kemudian. Itulah sebabnya, perusahaan seperti Telkomsel melesat
jauh meninggalkan pesaingnya. Mereka lebih siap dalam hal produk dan
coverage-nya. Ketika pertumbuhan telekomunikasi mencengangkan, perusahaan ini
dapat menangkap peluang lebih cepat. Dalam perspektif marketing,
kompetensi seperti apakah yang perlu dipersiapkan? Paling tidak, ada tiga hal.
Pertama, perusahaan yang siap menangkap peluang atau siap menghadapi badai
krisis adalah mereka yang memiliki kemampuan market sensing.
Perusahaan ini mampu membaca tren dengan jeli dan selalu mengikuti perkembangan
pasar, baik faktor makro, pesaing maupun pelanggannya.
Perusahaan yang memiliki
market sensing adalah perusahaan yang biasanya memiliki top manajemen yang paham
akan pentingnya informasi, memiliki strategi untuk mencari informasi yang
efisien dan efektif serta membangun infrastruktur untuk membuat informasi
mengalir secara terus-menerus. Informasi ini kemudian diolah, disebarkan,
diintepretasikan sehingga menjadi proses pembelajaran yang efektif. Jadi,
kesemuanya ini dimulai dari top manajemen terlebih dahulu untuk membangun
kompetensi sebagai perusahaan yang memiliki market sensing. Setelah itu,
tergantung kepada struktur organisasi untuk mendukung hal ini dan tentunya
diperlukan teknologi informasi yang memadai.
Market sensing jugalah yang
menciptakan wirausaha lincah. Mereka memiliki radar yang sensitif. Ini semuanya,
bisa dipelajari dan dilatih terus-menerus dan bukan berasal dari talenta atau
bakat alami. Mereka yang sudah mempunyai sikap outward looking, percaya bahwa
banyak hal yang menarik di pasar dan memiliki komitmen yang kuat untuk mengasah
market sensing mereka. Kompetensi kedua adalah
kemampuan untuk melakukan link dengan pelanggannya. Perusahaan
yang dekat dengan pelanggannya, perusahaan yang mengerti harapan pelanggan dan
mengerti dinamika pelanggannya, adalah perusahaan yang sangat siap untuk
menangkap berbagai peluang. Mayoritas peluang diciptakan dari pelanggan, karena
mereka yang memberikan revenue dan laba perusahaan. Tahun ini, pasar sepeda
motor tumbuh sebesar 40%. Peluang ini, tetap saja dinikmati oleh 3 pemain besar,
yaitu Honda, Yamaha, dan Suzuki. Perusahaan di luar tiga besar ini, tidak
memiliki pelanggan yang loyal dan tidak dekat dengan para pelanggannya.
Ketiga, pelaku bisnis
haruslah benar-benar membangun kompetensi inti. Kompetensi
semacam ini bisa berupa kekuatan jaringan distribusi, kualitas sumber daya
manusia, teknologi, pelayanan, variasi produk, pengalaman, dan lain-lain.
Membangun kompetensi inti, dibutuhkan waktu yang sungguh lama. Kalau perusahaan
tidak fokus, terlalu banyak melakukan diversifikasi, bukan hanya lama dalam
membangun kompetensi inti, tetapi bisa-bisa tidak memilikinya sama sekali.
Ketika krisis, perusahaan seperti inilah yang pertama tersapu. Perusahaan
seperti ini juga tidak akan mampu mengkaji peluang.
Ada banyak pelaku bisnis
atau perusahaan yang berhasil di sekitar kita tanpa memiliki ketiga hal ini.
Percayalah, itu hanya semata-mata keberuntungan. Memang, keberuntungan bisa saja
terjadi, tetapi yang jelas, tidak akan ada yang namanya sustainable luck.
**********************************
|
[Ar-Royyan-3474] Strategi Pemasaran tahun 2006
IHB Jakarta - Jaeroni Setyadhi Thu, 09 Feb 2006 00:56:25 -0800

