Sebuah pelajaran bagaimana sebuah Tim Kerja saling berbagi tugas dan tanggungjawab dalam sebuah kerja kelompok, dimana diambil dari sirah Nabi Muhammad s.a.w., ketika Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya melakukan hijrah. Bagi yang pernah menyaksikan film "The Message" mungkin akan teringat kembali.
 
Semoga bermanfaat.
 
=========================================
 
Hikmah Tahun Hijriyyah
Oleh : Ahmad Zahran
(Sekretaris Redaksi Majalah Risalah, Kairo)

Dalam hijrahnya Rasulullah, saw membentuk kelompok kerja yang dikenal dengan sebutan fariq amal ‘Tim Kerja’ sukses yang terdiri dari sejumlah sahabat dan sahabiyyah. Sejarah hijrah benar-benar memiliki pengaruh yang cukup besar dalam perjalanan dakwah Islam. Dalam hijrahnya, Rasulullah, saw telah memberdayakan seluruh potensi, kemampuan dan spesialisasi tim kerja sukses ini. Masing-masing mereka menempati posisinya yang sesuai. Dengan tim kerja inilah Rasulullah, saw otomatis membangun manusia yang handal dan tidak tergoyahkan, meluruskan penyimpangan dan tidak malah mematahkannya. Beliau adalah sosok yang tidak mungkin menyia-nyiakan berbagai kelebihan yang dimiliki para sahabatnya. Bahkan memberdayakan potensi itu untuk kepentingan masyarakat banyak.1

Sebagai contoh beliau menyerahkan pedangnya pada perang Uhud kepada Abu Dujanah karena dia dikenal dengan keberanian dan ketangkasannya dalam berperang, memilih Muaz bin Jabal menjadi duta ke Yaman karena banyak mengerti masalah halal dan haram, menunjuk Nu’aim untuk membantu kaum muslimin dalam perang Ahzab dan mempercayakan sahabat Hudzaifah untuk memata-matai kaum Quraisy. Selain itu beliau juga memilihnya menjadi pemegang rahasianya dan daftar nama orang-orang munafik.

TIM KERJA HIJRAH

Kelompok kerja Hijrah ini terdiri dari:
1. Rasulullah sendiri sebagai pimpinan,
2. Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai pengawal,
3. Ali bin Abi Tholib sebagai tebusan,
4. Abdullah bin Abu Bakar sebagai intel (pencari informasi),
5. Amir bin Fahiroh sebagai penghilang jejak,
6. Asma binti Abu Bakar sebagai penyuplai logistik, dan
7. Abdullah bin Ariqith sebagai penunjuk jalan.

Tak diragukan lagi semua sosok tim kerja hijrah di atas adalah orang-orang yang kompeten. Masing-masing memiliki keterikatan kekerabatan dan terikat dengan satu tugas sehingga mau tidak mau semua berada dalam satu kesatuan yang saling memegang prinsip tolong-tolong untuk mensukseskan sebuah tujuan besar
.2

MANAJEMEN KERJA:

Setelah dibentuk tim sukses hijrah, masing-masing dari mereka lalu bekerja sesuai posisinya dengan aktif.
Berikut profil anggota tim sukses hijrah, sosok dan tugasnya.

A. Pemimpin Tim, Rasulullah, saw.

Dalam sebuah ayat Allah, swt berfirman: “..maka bantulah aku oleh kalian dengan sebuah kekuatan..”(QS Al-Kahfi: 95). Meskipun Rasulullah adalah orang sudah dijamin pertolongannya oleh Allah, swt, akan tetapi beliau masih tetap memegang prinsip amal jama’i (kerja kolektif) yang terstruktur dan terorganisir seperti yang disinyalir Dzulqornain pada ayat di atas. Di antara hikmah ayat di atas tersebut keharusan adanya kesatuan kemampuan, potensi, spesialisasi dan kekuatan. Nah, pemimpin yang berpengaruh adalah orang yang memiliki kemampuan berkoordinasikan antara potensi dan kemampuan.3

Dalam pelaksanaan kerja hijrah ini tentunya Rasulullah sudah membuat sebuah perencanaan yang sangat matang dan mustahil beliau serampangan dalam kerjanya itu. Namun saat melakukannya beliau juga terus mengadakan konsolidasi secara intensif setiap harinya.

Nabi dalam mengurusi umatnya tidaklah seperti kepemimpinan seorang bos yang menindak bawahannya dengan sabetan atau menyemprot mereka dengan marah dan kekerasan lainnya. Akan tetapi Rasulullah dalam kepemimpinannya lebih mengedepankan pendekatan hati dan mental sebelum yang lainnya. “Hanya dengan kepemimpinan yang baik, maka anggota-anggotanya pun otomatis akan membaik. Hanya dengan pengorbanan yang dikerahkan, maka rasa cinta akan tumbuh dari para bawahan. Dan beliau adalah orang yang sangat penyayang dan kasih kepada pengikut-pengikut dan pendukung-pendukungnya. Beliau tidak mau berhijrah, kecuali setelah semua para sahabatnya berhijrah dan tidak ada lagi yang tersisa selain daripada mereka yang tertindas, teraniaya dan orang-orang yang memiliki peran strategis dalam perjalanan hijrah.”4

Sungguh, orang yang sulit bergaul dengan rasa cinta akan sulit memperoleh keberhasilan.

B.Abu Bakar Ash Shiddiq, ra sebaik-baik pendamping.

Inilah sosok kedua tim sukses hijrah Rasulullah, saw. Rasulullah sendiri pernah berkata kepada Abu Bakar saat beliau diizinkan hijrah oleh Allah, swt: “Jangan terburu-buru, mudah-mudahan saja Allah menjadikanmu sebagai pendampingku.” Abu Bakar sebenarnya tahu bahwa detik-detik hijrah pasti akan tiba, ketika ia menyaksikan satu-persatu kaum muslimin yang berada di sekitarnya berhijrah, sementara ia adalah satu-satunya sahabat yang demikian dekat dengan Rasulullah, saw.

Melihat kondisi demikian mulailah kecerdasan Abu Bakar nampak. Ia sama sekali tidak menunggu-nunggu datangnya instruksi dari Rasulullah, saw untuk bergerak. Tetapi ia langsung aktif bekerja. Inilah di antara faktor mengapa kecerdasannya bisa menuai hasil yang baik dengan cepat. Apa yang dilakukan Abu Bakar selanjutnya?

· Ia langsung membeli dua kendaraan tunggangan kemudian diikat di depan rumahnya lalu diberi makan untuk digunakan berhijrah,

· Mengerahkan semua anggota keluarganya untuk membantu perjalanan hijrah Rasulullah, saw,

· Mencamkan semboyan untuk dirinya dengan “Bersiap-siagalah kamu”, sehingga ia selalu siap bekerja.

Dalam Raudhul Anfi karangan Suhaili, sebagian penyair bersenandung tentang sikap yang diambil Abu Bakar, ra:

Ketika surat datang kepadaku, bahwa dia akan menemuiku, meneteslah air mataku
Saking gembiranya
Aku selalu dibuatnya menangis
Wahai mata, biasakanlah air matamu, selalu
Menangis di kala senang dan sedih

Sahabat Abu Bakar mengajarkan kepada kita semua bagaimana seorang jundi menebus dirinya demi pemimpinnya jika memang itu dibutuhkan. Suhaili pernah mengatakan: “Ketika Abu Bakar melihat sekelompok kafilah membuntuti Rasulullah, saw, ia semakin sedih atas keselamatan beliau, saw seraya berkata: Kalau aku yang terbunuh, itu tak jadi masalah karena aku hanya seorang. Tapi apabila anda (wahai Rasulullah) yang terbunuh, maka berarti hancurlah umat ini. Mendengar Abu Bakar berkata demikian Rasulullah langsung menghiburnya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”5

Sungguh, jiwa yang matang dengan tarbiyyah (pengkaderan) tidak akan pernah merasa gentar ketika menghadapi rintangan dan tidak akan akan lari di saat mengalami kesulitan. Saat itu Abu Bakar bukanlah orang yang merasa takut dengan kematian. Kalau Abu bakar takut tentunya ia tidak akan berani menemani Rasulullah dalam hijrahnya yang sangat berbahaya itu, sedangkan ia sendiri sadar bahwa resikonya minimal adalah kematian apabila ia dan Rasulullah ditangkap orang-orang musyrik. Namun Abu Bakar merasa khawatir dengan nyawa Rasulullah, saw dan masa depan Islam jika beliau ditangkap musyrik Quraisy.6

Penilaian yang lebih tepat untuk inisiatif yang diambil Abu Bakar beserta seluruh anggota keluarganya adalah bahwa ia telah merubah semuanya menjadi gurfatul qiyadah atau pusat pengambilan keputusan. Selanjutnya setiap manuver hijrah yang akan diambil harus bertolak dari rumahnya dengan melalui anak-anaknya dan hamba sahayanya.

C. Ali bin Abi Tholib sebagai tebusan.

Sedangkan sahabat Ali bin Abi Tholib ditugaskan Rasulullah, saw untuk tidur di ranjang beliau dan berselimut dengan selimut beliau yang berwarna hijau. Dan itu ia laksanakan. Maka tatkala kaum musyrikin diam-diam ingin membunuh orang yang dikiranya Rasulullah itu, ternyata mereka hanya mendapatkan Ali yang terlelap tidur diranjang beliau. Mereka lalu bertanya: “Mana kawanmu itu?” Dengan datar Ali menjawab: “Mana aku tahu”. Kemudian merekapun berlalu untuk mencari jejak nabi.7

Tidak lupa Rasulullah memerintahkan Ali untuk mengembalikan semua amanat dan titipan yang pernah mereka titipkan kepada Rasulullah. Kelihatannya Ali bin Abi Tholib ini adalah salah seorang tim khusus yang memiliki cukup kemampuan, pelatihan, kekuatan dan keberanian di samping kecerdasan, kepintaran, pandai mengkondisikan segala sesuatunya dengan rapi, tenang dan konsisten yang ia miliki. Ini terbukti ketika suatu ketika orang-orang musyrik memukuli Ali dan menjorokinya ke sudut Baitullah, kemudian membekapnya sejenak agar ia mau buka mulut perihal kabar Rasulullah dan sahabatnya Abu Bakar, ra.9

Mungkin itulah sekelumit cobaan yang berhasil dilalui oleh Ali dengan mulus dan atas pertolongan-Nya. Ini karena Ali adalah salah seorang yang hidup bersama Rasulullah dan terdidik dengan didikannya langsung. Sehingga banyak kalangan sahabat yang sangat menyukainya lantaran kepribadiannya yang mulia.10

D. Abdullah bin Abu Bakar.

Ia adalah seorang pemuda yang cerdik dan tanggap terhadap informasi. Inilah kriteria yang tepat untuk memikul tugas berat seperti:

1. Menguping setiap issu yang beredar di kalangan penduduk Mekkah, seperti yang diriwayatkan Imam Bukhori: Tidaklah Ali bin Abi Tholib mendengar informasi yang isinya ingin mencelakakan nabi dan Abu Bakar kecuali ia cerna info itu kemudian ia sampaikan kepada Rasulullah, saw.11

2. Ikut bermalam bersama Rasulullah dan Abu Bakar di gua Tsur saat malam tiba untuk memberikan perkembangan informasi kepada keduanya. Kemudian kembali pada waktu sahur dan pagi harinya membaur lagi dengan musyrik Quraisy.

Makanya siapa saja yang ingin mentransfer informasi musuh hendaknya yang bersangkutan memiliki sifat cerdas, pandai mencerna apa yang didengar, kemudian menyampaikannya persis seperti yang ia dengar tidak dikurangi ataupun ditambah-tambah, itupun sebisa mungkin.

Terhadap pribadi Abdullah bin Abu Bakar mungkin bisa kita katakan bahwa ia adalah orang yang pandai mensensor setiap berita, mencerna dan kemudian melaksanakannya. Andai saja ia adalah orang yang rada-rada takut dengan kejadian-kejadian yang menimpa atau menyepelekan kadar bahaya, sudah barang tentu Rasulullah akan tinggal lama di dalam gua atau mungkin lebih singkat lantaran informasi yang diterimanya kurang akurat.

V. Asma dan Aisyah.

Dalam hijrah ini kedua sahabiyyah, yakni Asma dan saudara kandungnya Aisyah bertugas sebagai pembantu nabi dan Abu bakar di gua di saat-saat upaya penangkapan yang dilakukan kaum musyrikin. Aisyah sendiri pernah menuturkan: Kami siapkan semua kebutuhan keduanya, kami buatkan segala kebutuhan logistik safarnya dalam sebuah kantong kulit. Sementara Asma memotong ikat pinggangnya untuk mengikat kantong kulit tersebut. Sehingga Asma disebut dengan perempuan yang memiliki dua ikat pinggang. 12

Asma adalah sahabiyyah yang kompeten, memiliki kesabaran, tabah menanggung cobaan dan pandai menjaga rahasia. Ia sama sekali tidak membuka mulut (tentang keberadaan ayahnya, Abu Bakar) ketika Abu Jahal bertanya kepadanya: Mana ayahmu? Asma menjawab: Sungguh aku tidak tahu di mana ia? Mendengarnya, Abu Jahal –yang dikenal bengis dan jahat- langsung mengangkat tangannya dan menampar wajah Asma sampai anting-anting yang dipakaianya lepas.13

Wanita bukanlah makhluk yang begitu saja bisa diremehkan dalam dakwah ini. Bahkan ia mampu melakukan peran vital yang belum tentu bisa dilakukan oleh kaum laki-laki pada tahapan-tahapan dakwah yang kritis dan penuh resiko, seperti menghadapi pemboikotan, intaian dan pencekalan.

Kisah kepahlawanan Asma lainnya adalah ketika kakeknya, Abu Quhafah –yang saat itu tuna netra- datang kepadanya dengan mengatakan: “Sungguh saya melihat ayahmu telah merisaukan kalian dengan menafkahkan harta dan jiwanya.” Asma menyergah: “Sekali-kali tidak, wahai kakek. Coba pegang harta ini.” Asma melanjutkan: Lalu kakeknya memegang harta tersebut sambil berkata: “Oh kalau begitu tak apa-apa apabila ayahmu meninggalkan harta ini untuk kalian, bagus itu.” Asma mengatakan: “Sebenarnya Abu Bakar tidak meninggalkan apa-apa untuk kami. Kami berbuat demikian hanya untuk menenangkan hati kakek.”14

Perhatihkan, seorang wanita ketika imannya tegar dan keyakinannya kuat, maka ia akan kelihatan teduh, percaya diri dan tenang. Tidak seperti wanita zaman sekarang yang apabila harta salah seorang mereka, harta ayahnya, suaminya dikeluarkan untuk kepentingan dakwah mereka akan terlihat sedih dan meratapinya. Setiap kita pasti terpukau..Bagaimana ceritanya seorang wanita muda berani melakukan perbuatan yang mengancam dirinya itu. Dari mana kira-kira hikmah ini terjadi; Asma hanya berpikir yang penting bagaimana ia bisa menenangkan kakeknya itu dan tidak memikirkan tentang makanan dan minuman. Sungguh semua ini tidak akan pernah terjadi kalau bukan tarbiyyah ayahnya, Abu Bakar yang sangat dekat dengan keluarga nabi. Tidak heran jika Asma kelihatan intelek, penuh hikmah, menatap tujuan-tujuan jangka panjang, membuang jauh-jauh segala urusan duniawi dan senantiasa ingat akhirat.15

F.Amir bin Fahiroh.

Ia adalah seorang penggembala yang sangat sederhana sekaligus budak Abu Bakar. Imam Bukhari menceritakan tentang dirinya dari Aisyah, ra: “Amir bin Fahirah kerjanya mengurusi binatang ternak yang digunakan Rasulullah dan Abu Bakar dan mengandangkannya setelah Isya...”(Hadits). Dari sini kita bisa lihat tugas Amir bin Fahirah, yaitu:

1. Mengantarkan susu dan daging kepada Rasulullah dan Abu Bakar,

2. Menghilangkan jejak langkah orang-orang yang berjalan ke arah gua agar tidak tercium kafilah Quraisy. Kalau kita perhatihkan Amir merangkap dua tugas berat. Pertama ia membantu perjalanan nabi dan Abu Bakar –dengan koordinasi Asma binti Abu Bakar. Dan kedua- ini yang lebih berbahaya dan beresiko menurut ukuran kita- ia harus menghilangkan jejak langkah agar tidak diketahui kaum.

Hikmah dakwah di baliknya adalah memanfaatkan semua potensi individu-individu dakwah. Terkadang ada seserang yang nampak sederhana memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

G. Abdullah bin Arqith sebagai penunjuk jalan.

Dialah orang terakhir dalam kelompok kerja perjalanan hijrah ini. Tugasnya, seperti yang diceritakan Imam Bukhori, ra: “Rasulullah dan Abu Bakar menggunakan seorang laki-laki dari bani Diil –dari bani Abd bin Addy, seorang yang tenang, penunjuk jalan. Masih menganut agama kuffar Quraisy. Lalu nabi dan Abu Bakar memakainya sebagai penunjuk jalan dengan menggunakan jalan jalur pantai.

Meskipun Amir musyrik, tetapi Rasulullah tetap meminta bantuannya dalam hijrahnya. Walaupun begitu, Amir adalah sosok penunjuk jalan yang jujur dan pengawas padang pasir yang mengerti jalan.

Sebagian ulama berpendapat, boleh-boleh saja para dai meminta bantuan kepada orang yang tidak menerima dakwahnya selama mereka masih tetap percaya kepada para dai dan ada jaminan atas bantuannya itu. Rasul sendiri menyewa orang musyrik ini sebagai penunjuk jalan hijrah menuju gua Tsur. Kalau kita perhatihkan, sungguh ini adalah urusan yang sangat berbahaya. Namun nabi dan Abu Bakar masih menyimpan kepercayaan dan merasa aman padanya...”

Demikianlah Rasulullah, saw melakukan perjalanan hijrahnya yang penuh berkah ini. Perjalanan yang penuh pertolongan Allah. Inilah perjalanan yang agung sepanjang sejarah manusia dan historis Islam. Wallahu A’lam Bish Showab. (Mjt edisi Muharram 1425 H).

Catatan: sumber dari www.ikadi.org

Kirim email ke