Ilmu dan kebahagiaan
 
"Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi dan dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal". (Q.S. Ali Imran :190)
 
Manusia dalam hidupnya selalu merindukan kabahagiaan, oleh karenanya dalam untaian do'a seringkali bermohon kepada Allah dengan mengucap "Ya Allah, Anugrahkan bagi kami kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat dan jauhkan kami dari siksa neraka". Kerinduan akan kebahagian hanyalah sebuah impian yang jauh dari kenyataan bilamana manusia tidak memamahi jalan untuk mencapainya.
 
Ilmu adalah jawaban yang dapat mengantarkan manusia kepada pintu kebahagiaan, sebab dengan ilmulah apa yang diinginkan dari kebahagian dapat diraih. Dengan ilmu manusia akan mendapatkan apa yang diinginkan dari kehidupan dunia ini dan dengan ilmu pula kehidupan dan kenikmatan yang abadi diakhirat akan tercapai. Begitu pentingnya ilmu sampai Allah meninggikan posisi orang yang berilmu beberapa derajat lebih tinggi dari orang awam.
"Allah akan meninggikan orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (Q.S. Al Mujaadalah:11).
 
Ketika manusia ingin mencapai kebahagian yang abadi dan hakiki diakhirat maka ia harus memahami dan mendalami ilmu yang terkait dengan ajaran islam yang meliputi hubungan seseorang hambanya dengan Allah dan hubungan hamba dengan hamba yang lain. Saat manusia menginginkan kebahagian didunia, maka ia pun harus memiliki ilmu pengetahuan yang menunjang keberhasilan dalam mencapai tujuannya. Hanya orang yang mengerti ilmu tentang dagang yang dapat keuntungan dari usahanya dan hanya orang yang menguasai teknologi yang dapat menciptakan pesawat dengan ilmu pulalah manusia dapat menunaikan tugasnya sebagai khalifah dimuka bumi ini.
 
Ilmu yang diperlukan oleh manusia hanya dapat diperoleh dengan perjuangan dan kesungguhan dalam mempelajarinya. Dia akan datang dengan sendirinya. Dalam hadits Rasulullah : "Ilmu itu diperoleh melalui belajar, siapa dikehendaki oleh Allah SWT kebaikan, maka ia memberi orang tersebut pemahaman tentang Agama" (H.R. Bukhari).

Keistimewaan ilmu tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir dari setiap aktivitas, tetapi ilmu hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Dari sekian banyak kebodohan manusia adalah ketidakmampuan membedakan sarana dan tujuan akhir, akan lebih berbahaya lagi, jika sara berubah menjadi tujuan dan tujuan menjadi sarana. Kalau manusia menjadikan ilmu sebagai tujuan maka ilmu yang ia miliki tidak dijadikan landasan untuk beramal, karena mereka belajar tujuannya hanya untuk mendapatkan ilmu. Sehingga ilmu yang ia kuasai tidak diamalkan, maka dengan demikian ilmu akan menjadi sia-sia dan tidak bermanfaat.
 
Orang bijak mengatakan; "Ilmu tanpa alam bagai pohon yang tidak berbuah". Ada juga seorang ahlil hikmah yang mengatakan bahwa ilmu itu ibarat baterai (aki) mobil. Semakin sering mobil digunakan, maka akan semakin besar pula muatan listriknya, sebaliknya jika mobil itu tidak digunakan, maka baterainya akan manjadi lemah dan akhirnya benar-benar rusak.
 
Kita bisa mengambil kesimpulan dari uraian diatas :
  1. Setiap manusia memiliki tujuan yang sama yaitu menggapai kehidupan yang bahagia
  2. Ilmu adalah saraan yang akan menyampaikan kita untuk mencapai kebahagiaan
  3. Ilmu tidak akan bermanfaat jika tidak dijadikan landasan dalam beramal.
  4. Ilmu yang dimilik akan bertambah jika diamalkan
  5. Ilmu bukanlah tujuan akhir akan tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai tujuan
  6. Ilmu adalah MILIK Allah yang akan diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki karenanya sudah salayaknyalah memohon kepada-Nya agar dianugrahkan ilmu yang bermanfaat yang dapat menghantarkan kebahagiaan didunia dan diakhirat.
 
Semoga Allah membimbing diri dan keluarga untuk menuntuk ilmu-Nya Allah SWT, yang kelak akan menghantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin
 
"Barangsiapa memperdalam agama Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya dan memberinya rizki dari jalan yang tidak pernah terduga". (Abu Hanifah dari Abdullah Hasan Az-Zubaidi)

Kirim email ke