Ass.WW
Kiamat, padang mahsyar, hisab yang berupa penimbangan amal baik dan buruk,
jembatan siratal mustaqim dll adalah hal-hal yang belum terjadi
dan bisa diperbincangkan. Proyeksi keuntungan, pertumbuhan perusahaan di
tahun depan juga hal-hal yang belum terjadi dan dapat diperbincangkan.
Beberapa minggu sebelum badai Katrina, badai Rita dll orang sudah
memperbincangkan dan dengan perbincangan itu banyak orang diselamatkan.
Gaya-gaya dalam pada elemen struktur seperti balok dan kolom pada bangunan
40 lantai sudah lama diperbincangkan sebelum bangunan itu ada dan
bahkan dengan perbincangan itu didapatkan dimensi-dimensi elemen-elemen
struktur yang ekonomis. Jika alasan penolakan suatu pendapat didasari oleh
ilmu pengetahuan yang kita tidak tahu justru kita dapat mengambil pelajaran
bahwa kita memang masih banyak harus belajar dari orang lain.
Kalau pun pendapat orang itu benar dan membuat kesohor itu sih sudah hukum
alam dan Allah memang akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.
Bahwa Allah akan memusnahkan orang kafir itu memang sudah diisyaratkan oleh
Hadits Nabi Muhammad SAW kurang lebih 1400 tahun yang lalu.
Saya rasa tidak perlu takut berbicara asalkan punya dasar-dasar yang jelas.
Wassalam.
Djarot
"Dedi Supendi"
<[EMAIL PROTECTED] To: <[email protected]>
diri.co.id> cc:
Subject: [Ar-Royyan-3501]
Adab Berbicara, Mendengar dan Berdebat dalam ISLAM
02/14/2006 09:18 AM [bcc][faked-from][heur]
Please respond to
jamaah
Subject: ADAB BERBICARA, MENDENGAR dan BERDEBAT dalam ISLAM
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH
SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga
dicatatoleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari
Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT
yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang
demikian itu sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan
shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
ADAB BERBICARA
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan
QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:
"Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari
akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam." (HR Bukhari
Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam
hadits Aisyah ra:
"Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu
jelas sehingga biasdifahami oleh semua yang mendengar." (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi bertele-tele, berdasarkan
sabda nabi SAW:
"Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan
paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan
berlagak dalam berbicara." Maka dikatakan: Wahai Rasulullah kami telah
mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna
al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: "Orang2 yang sombong." (HR Tirmidzi
dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena kuatir
membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh
Abu Wa'il:
Adalah Ibnu Mas'ud ra senantiasa mengajari kami
setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN
(gelar Ibnu Mas'ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka
jawab Ibnu Mas'ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi
keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah
meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan
kami (HR Muttafaq 'alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan,
dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW
mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan
apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun
mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan
hadits nabi SAW:
"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata
yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan
demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut
sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang
dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT
mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat." (HR Tirmidzi dan ia
berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits
nabi SAW:
"Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan
hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat." (HR Ahmad
dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:
"Aku jamin rumah didasar surga bagi yang
menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga
bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di
puncak surga bagi yang baik akhlaqnya." (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat,
berdasarkan hadits nabi SAW:
"Bukanlah seorang mu'min jika suka mencela,
mela'nat dan berkata-kata keji." (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi
SAW:
"Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT
di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa." (HR
Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling
memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits
nabi SAW:
"Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu
ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya." (HR
Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:
"Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara
berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat."
(HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan
hadits nabi SAW:
"Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah
kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan
janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling
meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang
bersaudara." (HR Muttafaq 'alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan
hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang
tersebut, maka kata nabi SAW: "Celaka kamu, kamu telah mencelakakan
saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!" (2 kali), lalu kata beliau
SAW: "Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka
katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak
mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai
kenyataannya." (HR Muttafaq 'alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma'mar berkata: Berdiri
seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara
berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah
orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir
di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)
ADAB MENDENGAR
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak
memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara
dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia
sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu
dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat
perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta
tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi
benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang
penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan
tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara
yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan
bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com