|
----- Original Message -----
From: masjid_annahl
Sent: Thursday, February 16, 2006 8:57 AM
Subject: [ Annahl ] Mewaspadai Empat Perkara Kamis, 16 Feb 2006 /
Thn-IV
Seri : Kisah dan
Hikmah
Mewaspadai Empat
Perkara
Setiap
manusia mencari kebahagiaan di dunia ini. Ada yang mencari bahagia di kantor, di
sekolah, di warung kopi, di mal, di pasar, atau di mana saja. Mungkin ada yang
bahagia saat membeli perhiasan baru, dan ada yang merasa bahagia ketika baru
menerima gaji. Bahkan ada pula yang memiliki rasa bahagia hanya karena sepucuk
surat dari orang yang tercinta.
Kebahagiaan adalah
milik siapa saja, baik yang kaya maupun yang miskin, yang berpangkat ataupun
tidak, yang memiliki jabatan tinggi atau rendah, yang memiliki gelar ataupun
tidak, dari seorang bocah yang masih ingusan hingga yang renta. Semua berhak
mendapatkan sesuatu yang bernama bahagia, karena inti kebahagiaan adalah
mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Itulah bahagia.
Tetapi
cobalah tengok aktifitas keseharian kita. Usai bangun tidur dan salat subuh ,
telpon mulai berdering, radio berbunyi membeberkan bursa efek dan valuta asing,
sementara televisi sudah menyuguhkan berita terhangat bahkan gambar yang kadang
tak layak dilihat anak-anak kita. Sementara al-Qur'an nyaris kita tinggalkan.
Kita lupa terhadap perintah Rasulullah: sinarilah rumahmu dengan bacaan
al-Qur'an.
Kalau hak
Allah tersisihkan, kata Rasulullah, maka Allah akan menumbuhkan empat perkara.
Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang pada pagi harinya menjadikan dunia
sebagai konsentrasi yang utama, dan sama sekali tidak memperhatikan hak Allah,
niscaya Allah akan menumbuhkan empat perkara kepadanya. Pertama, keinginan yang
tidak pernah habis-habisnya. Kedua, kesibukan yang tidak pernah terselesaikan
olehnya. Ketiga, kebutuhan yang tidak berujung. Dan keempat, angan-angan yang
tidak pernah tercapai. (HR Dailami)
Hal
tersebut terjadi karena konsenstrasi kita belum seimbang. Ada cara yang efektif
untuk menghindari dari penyakit tersebut. Ketika kita makan, seyogyanya niatkan
untuk mengisi ulang energi dalam rangka beribadah kepada Allah. Manakala kita
hendak bekerja, lakukan niat bahwa bekerja adalah perintah Allah yang wajib
dilaksanakan untuk menafkahi isteri dan keluarga. Dengan demikian, bekerja atau
aktifitas apapun untuk kepentingan keluarga dan masyarakat akan bernilai ibadah
di sisi Allah swt.
"
.Bekerjalah kamu,
maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perkerjaanmu
itu..." (QS 9:105)
Bekerja
itu sendiri adalah nikmat Allah yang wajib disyukuri. Salah satu mensyukuri
nikmat itu diaplikasikan dengan menyumbangkan sebagian kecil harta kita kepada
orang yang berhak menerimanya. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa mendermakan
harta merupakan salah satu upaya untuk membersihkan harta dari hal-hal yang
mengandung syubhat, menolak malapetaka dan penyakit, serta mendatangkan
rezeki yang lebih berkah disamping menggembirakan orang miskin (idkhalus
suruur lil-mu'minin).
Dengan
demikian keempat macam penyakit tadi dapat dihindari; segala keinginan pasti
terbatas karena hanya karena Allah semata, kesibukan akan terselesaikan karena
Allah senantiasa memberi inayah (pertolongan), kebutuhan akan terpenuhi
karena Allah swt memberkahi, dan tentunya tidak ada angan-angan yang lebih mulia
selain mengharap ridha Allah swt (eramuslim2005)
|

