DENGKI DAN DENDAM
Oleh Abbas Shofwan Matla'il Fajr
 
 

Dendam dalam bahasa Arab di sebut hiqid, ialah "Mengandung permusuhan
didalam batin dan menanti-nanti waktu yang terbaik untuk melepaskan
dendamnya, menunggu kesempatan yang tepat untuk membalas sakit hati dengan
mencelakakan orang yang di dendami".

             Berbahagialah orang yang  berlapang dada, berjiwa besar dan pema
'af. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan pandangan mata
seseorang, kecuali hidup dengan hati yang bersih dan jiwa yang sehat,  bebas
dari rasa kebingungan dan bebas dari rasa dendam yang senantiasa menggoda
manusia.

             Seseorang yang hatinya bersih dan jiwanya sehat, ialah mereka
yang apabila melihat sesuatu nikmat yang diperoleh orang lain, ia merasa
senang dan merasakan karunia itu ada pula pada dirinya. Dan apabila ia
melihat musibah yang menimpa seseorang hamba Allah, ia merasakan sedihnya
dan mengharapkan kepada Allah untuk meringankan penderitaan dan mengampuni
dosanya.

             Demikianlah seorang muslim, hendaknya selalu hidup dengan hati
yang bersih dan jiwa yang sehat, rela terhadap ketentuan Allah dan terhadap
kehidupan. Jiwanya bebas dari  perasaan dengki dan dendam. Karena perasaan
dengki dan dendam itu merupakan penyakit hati, yang dapat merembeskan iman
keluar dari hati, sebagaimana merembesnya zat cair dari wadah yang bocor.

             Islam sangat memperhatikan kebersihan hati karena hati yang
penuh dengan noda-noda kotoran itu, dapat merusak amal sholeh, bahkan
menghancurkannya. Sedang hati yang bersih, jernih dan bersinar itu dapat
menyuburkan amal dan dorongan semangat untuk meningkatkan amal ibadah, dan
Allah memberkahi dan memberikan segala kebaikan kepada orang yang hatinya
bersih.

             Oleh karena itu, jamaah muslimin yang sebenarnya, hendaknya
jamaah yang terdiri dari orang-orang yang bersih jiwanya dan sehat hatinya,
yang terdiri di atas saling cinta mencintai, saling kasih mengasihi, sayang
menyayangi, yang merata, di atas pergaulan yang baik dan kerjasama yang
saling menguntungkan timbal balik, di dalamnya tidak ada seorang yang untung
sendiri, bahkan golongan yang semacam ini, sebagaimana di gambarkan dalam
Al-Qur'an yang artinya: "Yang orang-orang yang datang sesudah mereka
(Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa 'Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan
janganlah Engkau biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
beriman, Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau maha penyantun lagi maha
penyayang". (Al-Hasyr: 10).

             Apabila rasa permusuhan telah tumbuh dengan suburnya, sampai
berakar, dapat mengakibatkan hilangnya rasa kasih sayang dan hilangnya kasih
sayang dapat mengakibatkan rusaknya perdamaian. Dan jika sudah sampai
demikian, maka dapat menghilangkan keseimbangan yang pada mulanya menjurus
kearah perbuatan dosa-dosa kecil, dan akhirnya dapat mengarah kepada
dosa-dosa besar yang  mengakibatkan turunnya kutukan Allah.

             Perasaan iri hati karena orang lain memperoleh nikmat kadangkala
dapat menimbulkan khayalan yang bukan-bukan sampai membuat-buat kedustaan.
Islam membenci perbuatan demikian dan memperingatkan jangan sampai
terjerumus kedalamnya. Mencegah adanya ketegangan dan permusuhan, menurut
Islam merupakan ibadah yang besar, sebagaimana sabda Nabi saw yang artinya:
"Maukah aku beritahukan kepadamu perkara yang lebih utama dari puasa, shalat
dan shadaqoh?, Jawab sahabat: "Tentu mau". Sabda Nabi saw: "yaitu
mendamaikan di antara kamu, karena rusaknya perdamaian di antara kamu adalah
menjadi pencukur yakni perusak agama". (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

             Syaitan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk
menyembah berhala, tetapi syaitan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan
manusia, melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak perdamaian
diantara mereka itu sendiri, sehingga dengan hawa nafsunya yang tidak
terkendalikan, mereka tersesat dan tidak mengetahui hak-hak Tuhannya,
bagaikan menyembah berhala. Di sinilah syaitan mulai menyalakan api
permusuhan di hati manusia dan jika api permusuhan itu telah menyala, ia
senang melihat api itu membakar manusia dari zaman ke zaman, sehingga turut
terbakarnya hubungan dan segi-segi keutamaan manusia.

             Kita harus mengetahui bahwa manusia itu berbeda-beda tabiat dan
wataknya, berbeda-beda kecerdasan akal dan daya tangkapnya. Karena itu dalam
pergaulan dan pertemuan di lapangan kehidupan, kadangkala mereka membuat
kesempatan yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan. Maka Islam telah
memberikan cara penanggulangan mensyari'atkan penepatan akhlak yang baik,
yang membuat hati mereka luluh dan sarat berpegang kepada kasih sayang. Dan
Islam melarang memutuskan hubungan dan berbantah-bantahan.

             Memang kita sering merasakan seolah-olah kejelekan itu di
lemparkan kepada kita, sehingga kita sering tidak mampu mengendalikan
perasaan dan kejengkelan kita, yang apabila fikiran kita sempit, maka
timbullah niat untuk memutuskan hubungan dengan si pemeluknya. Tetapi Allah
tidak rela perbuatan yang demikian. Memutuskan hubungan sesama muslim
dilarang, sebagaimana sabda nabi saw yang artinya: "Janganlah kamu putus
hubungan, belakang membelakangi, benci membenci, hasut menghasut. Hendaknya
kamu menjadi hamba Allah yang bersaudara satu sama yang lain (yang muslim)
dan tidaklah halal bagi (setiap) muslim mendiamkan saudaranya lebih dari
tiga hari". (HR. Bukhori dan Muslim).

             Dalam hadits ini dinyatakan batas tiga hari, karena pada waktu
tiga hari kemarahan sudah bisa reda, setelah itu wajib bagi seorang muslim,
untuk menyambung kembali hubungan tali persaudaraannya dengan
saudara-saudaranya sesama muslim, dan membiasakan perilaku yang utama ini.
Karena putusnya tali persaudaraan ini tak ubahnya seperti awan hitam atau
mendung apabila telah di hembus angin, maka hilanglah mendungnya dan
cuacapun menjadi bersih dan terang kembali.

             Ringkasnya, hendaknya orang-orang yang mempunyai penyakit hati,
seperti rasa dendam, iri hati, dan dengki selalu ingat bahwa kekuasaan Allah
mengatasi segala kekuasaan. Dan hendaklah ia ingat, bahwa harta benda dan
kedudukan yang bersifat duniawi itu selamanya tidak kekal. Paling jauh dan
lama, sepanjang hidupnya saja, bahkan mungkin sebelum itu.

Dalam Al-Quran Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu iri hati
terhadap apa yang di karuniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari
sebagian yang lain. (karena) bagi seorang laki-laki ada bagian daripada apa
yang mereka usahakan, dan  bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang
mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah yang maha mengetahui segala
sesuatu. (An-Nisa: 32).


Wallohu a'lam bish-showab,-

Kirim email ke