|
sebuah hadiah buat mereka-mereka yang baru
memperoleh keturunan baik untuk yang pertama maupun yang kedua, dan
seterusnya.
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, February 22, 2006 7:50 AM
Subject: FW: Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu
Aku Ingin Anak Lekakiku Menirumu Neno Warisman :
Ijinkan Aku Bertutur
Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar
kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip
denganmu ya!" Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin
seperti aku." Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
Ketika
bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan
mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi
penghafal Kitabullah ya,Yah." Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh
ya. Ide bagus itu."
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti
panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami
berdua: Ammaa. Apppaa.
Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad.
Kami berdua Sangay bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak
cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah
dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di
bidang Matematika.
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang
keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan
agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang
menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah
terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia
kelelahan.
Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah,
tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia
tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.
Aku coba
mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya
dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah
selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu
dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa
lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"
Ahmad
menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang
ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"
Di tanganku, terajut
ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.
Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.
Kami, nenek dan kakeknya, datang
bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad
anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih
pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku
membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera
membersihkan dirinya di kamar mandi.
Aku, wanita tua, ruang dan waktu
kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi
menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku
menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
"Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat?
Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki,
kau bilang kau sibuk sekali. Kau
dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan
anaknya sendiri!"
Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi
wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong
cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan
menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang
berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini
bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di
kepalanya?"
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku
yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah
begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia
mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh
tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.
Dada Ahmad
berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah
ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan
apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan
menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di
rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian
selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan,
sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang
kalian pahami. Kegagahan tanpa
perasaan.
Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua
laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah
untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku.
Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."
Dua laki-laki
dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan
popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua,
membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa
sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan
yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.
Kini tawa
mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah!
Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah
cahaya di ujung keputusasaanku.
Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan
mereka di tangan-Mu. Kelak, jira aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin
sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk
mengajak mereka semua menirumu!
Amin, alhamdulillah.
-- Ada tiga hal yang seandainya
ada dalam jiwa kita maka kita akan dibawa melangkah ke jalan kemuliaan dan
kemenangan yang telah terjadi pada generasi zaman Rosululloh SAW, yaitu keimanan
yang sempurna, cinta dan pengorbanan. --Hasan Al Banna--
-- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG
Free Edition. Version: 7.1.375 / Virus Database: 267.15.9/261 - Release Date:
2/15/06
|