Ass.Wr.Wb.
Menyikapi perbedaan pemikiran memang susah ya, tapi sekedar mengharap
ekspresi penghargaan sebuah ide juga bukan main susahnya. Mungkin
individualisme jawabannya.

Wass / Jaerony.-

----- Original Message -----
From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]


 http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/22/opini/2455509.htm

 Kembalinya Tukang Stempel
 Toto Sugiarto

 Dalam peringatan HUT Ke-5 Soegeng Sarjadi Syndicate, Rabu (15/2), mantan
Ketua MPR Amien Rais menyatakan, DPR sekarang menjadi seperti "tukang
stempel" bagi pemerintah.

 Pernyataan itu dibantah dua pemimpin Partai Golkar, Wapres Jusuf Kalla
serta Ketua DPR Agung Laksono, dan Ketua Fraksi Partai Demokrat Soekartono
Hadiwarsito. Di sisi lain, pernyataan itu dibenarkan elite PKS.

 Fenomena "tukang stempel" yang muncul kembali di Senayan menyiratkan
kecenderungan kembali ke gaya bernegara Orde Baru. Saat itu legislatif tidak
pernah menjadi penyeimbang eksekutif, hanya penguat legitimasi kebijakan
eksekutif. Maka, melekatlah label DPR sebagai "tukang stempel" pemerintah.

 Setelah DPR 1999-2004 mampu menunjukkan perannya dengan baik, bangsa ini
harus tercenung meratapi kenyataan buruknya kinerja DPR sekarang. Anggota
DPR 2004-2009 menampakkan dirinya tak lebih sebagai "tukang stempel".
Bahkan, hubungan mereka dengan konstituen pun mungkin sudah terputus. Apa
penyebabnya? Apa yang harus dilakukan agar fungsi legislatif bisa berjalan
dengan benar?

 Fraksi

 Salah satu jawaban atas masalah ini didapat dari Dr Daniel Dhakidae, Kepala
Litbang Kompas. Dikatakan, salah satu perbaruan parlemen adalah jika
keberadaan fraksi dibubarkan. Segala masalah langsung dibicarakan dan
diselesaikan di komisi.

 Alasannya, seperti dijelaskan Daniel dalam tulisannya di buku Partai-partai
Politik Indonesia (2004, 19), "Partai-partai semakin menjadi birokrasi dalam
dirinya dan untuk dirinya sendiri. Sedangkan pejabat partai di luar dan di
dalam parlemen semakin menjadi birokrat. Karena parlemen terdiri dari
fraksi-fraksi dan fraksi-fraksi adalah partai itu sendiri, maka birokrasi
partai masuk ke birokrasi parlemen. Pada saat yang sama parlemen menjadi
dirinya sendiri pula". Dengan demikian, parlemen terputus hubungannya dengan
rakyat.

 Keberadaan fraksi membatasi kebebasan anggota DPR. Ruang gerak mereka harus
selalu dalam garis partai. Celakanya, partai- partai kita masih melaksanakan
mekanisme recall jika ada anggota DPR dari partainya yang bertindak di luar
garis partai.

 Akhirnya para anggota DPR amat berkepentingan untuk terus "menggantung"
pada partai. Kepentingan ini muncul semata demi keamanan karier politiknya.
Sebaliknya, anggota DPR tidak memiliki beban jika harus putus hubungan
dengan rakyat, mereka tidak merasa harus bertanggung jawab kepada
konstituen.

 Padahal, wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat seharusnya tidak
boleh di-recall oleh partai. Kalaupun ada mekanismenya, mereka hanya bisa
di-recall oleh pemilihnya.

 Namun, karena hal itu tidak memungkinkan, mereka terbebas dari recall
sampai akhir masa jabatannya. Satu-satunya "hakim" bagi mereka adalah pemilu
mendatang. Jika mereka mengecewakan konstituen, akan tersingkir dari gedung
wakil rakyat.

 Jadi, fraksi dan mekanisme recall harus dihapus. Dengan dihapusnya recall,
anggota DPR tak akan takut menyuarakan aspirasi rakyat. Dengan dihapusnya
fraksi, dominasi kepentingan partai atas kebebasan anggota DPR dapat
diperkecil. Perhatian anggota DPR akan langsung tertuju ke berbagai masalah,
bukan kepentingan partai. Akhirnya, langkah ini akan menyambung kembali
hubungan wakil rakyat dengan konstituennya.

 Oligarki

 Penyebab lain fenomena "tukang stempel" adalah adanya daftar urut calon
anggota legislatif saat pemilu. Sistem urut memunculkan kepentingan bagi
tiap calon untuk dekat elite partai. Kesuksesan seorang calon untuk duduk di
legislatif lebih ditentukan oleh kedekatan dengan elite partai daripada
kedekatan dan popularitas di mata pemilih.

 Selain itu, sistem urut memunculkan money politics. Sering kali calon harus
menyetor sejumlah uang kepada elite partai jika ingin ditempatkan di urutan
atas. Akhirnya, sistem ini menyuburkan oligarki dalam partai politik. Arah
kebijakan partai hanya ditentukan segelintir elite.

 Oligarki berakibat pada putusnya hubungan partai dengan rakyat. Mereka
menjadi semacam organisme tertutup. Para kader dan caleg menggantung kuat
pada elite partai. Sementara elite partai mendominasi arah kebijakan partai,
termasuk lewat fraksi di parlemen, tanpa ada kontrol masyarakat, terutama
konstituen.

 Catatan akhir

 Semakin lirihnya suara anggota DPR dalam mengawasi pemerintah bukan karena
mereka telah kecapaian bersuara dan berdebat, tetapi terbungkam oleh sistem.
Adanya sistem daftar urut calon anggota legislatif dan suburnya oligarki
dalam partai politik merupakan penyebab pertama munculnya fenomena anggota
legislatif yang lebih bergantung ke atas, yaitu pada pimpinan partai,
daripada memperkuat hubungan dengan rakyat. Inilah momen pengaderan "tukang
stempel".

 Solusinya adalah menghilangkan daftar urut caleg saat penentuan calon di
pemilu, menghapus fraksi, dan recall di parlemen. Langkah ini merupakan
syarat perlu bagi hilangnya "tukang stempel" dari Senayan.

 Selama ketiga hal itu belum dihilangkan, "tukang stempel" akan muncul
kembali setiap saat. Anggota DPR akan cenderung membela kepentingan partai
atau pemerintah daripada membela kepentingan rakyat.

 Toto Sugiarto
 Peneliti pada Soegeng Sarjadi Syndicate, Peserta Program Pascasarjana
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara


 [Non-text portions of this message have been removed]
*************


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke