-----Original Message-----
From:   Aisyah, Yovie  
Sent:   Wednesday, February 22, 2006 3:03 PM
Subject:        Pemaksaan Tafsir Hermeneutika di UIN

Pemaksaan Tafsir Hermeneutika di UIN    
    
"Islam Ragu-ragu" versi Rektor UIN Yogya Rektor IAIN mengajak mahasiswa 
mencurigai agamanya
sendiri. Metode ini bisa melahirkan sarjana yang tadinya belajar ushuluddin 
menjadi  ucul-din (agamanya lepas). 
Baca CAP (catatan akhir pekan) Adian Husaini ke-120

Senin, 31 Oktober 2005
Oleh: Adian Husaini

Di kalangan akademisi muslim Indonesia, nama Prof. Dr.M. Amin Abdullah tidak 
asing lagi. Selain menjabat
sebagai rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta (dulunya IAIN Yogya), dia 
juga pernah menjabat posisi
penting di PP Muhammadiyah, sebagai Ketua Majlis Tarjih dan Pemikiran Islam. 
Tetapi, dalam Muktamar
Muhammadiyah ke-45 di Malang, tahun 2005, namanya terpental dari jajaran 
pimpinan pusat Muhammadiyah.

Dia berlatarbelakang pendidikan bidang filsafat Islam.Lulus PhD dari Department 
of Philosophy, Faculty of
Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki, tahun 
1990.

Sebagai akademisi dan penulis, tulisan Amin Abdullah tersebar di berbagai buku, 
jurnal, dan media massa.

Bidang yang sering ditulisnya terutama masalah filsafat dan epistemologi Islam. 
Tapi, karena sangat
gencar mempromosikan penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur'an, dia 
kadang kala juga dijuluki
Bapak Hermeneutika Indonesia.

Komitmennya dan kegigihannya dalam mempromosikan hermeneutika sebagai metode 
tafsir baru pengganti
metode tafsir al-Quran yang klasik, tampak dalam berbagai tulisannya tentang 
hermeneutika.

Di UIN Yogyakarta, penggunaan metodologi hermeneutika dalam tafsir 
Al-Qur'anmemang sangat digalakkan,
sampai-sampai seorang mahasiswa yang bermaksud mengritik metode ini mengaku 
akan membentur  tembok.

Disamping mempromosikan hermeneutika, Amin Abdullah tentu saja harus melakukan 
kritik terhadap metode
tafsir Al-Qur'an. Ia menulis dalam sebuah pengantar untuk buku tentang 
hermeneutika, bahwa tafsir-tafsir
klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan 
umat Islam.

Penulis buku itu pun dengan semena-mena mengecam tafsir-tafsir  klasik, tanpa 
data dan analisis yang
memadai, dimana letak kekurangan dan ketidakberesan tafsir-tafsir klasik.

Ditulis dalam buku ini: Apalagi sebagian besar tafsir dan ilmu penafsiran yang 
diwarisi umat Islam selama
ini, sadar atau tidak, telah turut melanggengkan status quo, dan kemerosotan 
umat Islam secara moral,
politik, dan budaya. (Lihat, Ilham B. Saenong,Hermeneutika Pembebasan, 2002, 
hal. xxv-xxvi, 10).

Kecurigaan terhadap mufassir dan para ulama Islam juga tak luput dari goresan 
tangan Abdullah. Di dalam
tulisannya yang lain, Amin Abdullah mengajak pembaca untuk mencurigai ilmu-ilmu 
keagamaan, tanpa membedakan
antara ilmu keagamaan dalam Islam, dengan ilmu keagamaan yang muncul dalam 
tradisi peradaban Barat
yang berlatar belakang sejarah Yahudi dan Kristen. Ia tulis, misalnya:

Dari studi empiris-historis terhadap fenomena keagamaan diperoleh masukan bahwa 
agama sesungguhnya
juga sarat dengan berbagai kepentingan yang menempel dalam ajaran dan batang 
tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu
sendiri. (Pengantar buku Metodologi Studi Agama,2000, hal. 2)

Bagi mahasiswa baru dalam bidang studi Islam,pernyataan-pernyataan profesor dan 
rektor sebuah
kampus berlabel Islam semacam itu, bisa jadi melenakan. Sebab, kata-kata yang 
ditebar cukup halus.
Para ulama dan ilmuwan keagamaan, apa pun agamanya,adalah manusia biasa. Karena 
itu, mereka pasti punya 
kepentingan dengan ilmu-ilmu nyang disusunnya.

Sepintas, kata-kata Amin Abdullah itu logis. Padahal,jika didalami, ada 
kekeliruan mendasar dalam cara
berpikir, karena metodologi gebyah uyah (serampangan) dalam menyamakan antara 
tradisi keilmuan
Islam dengan tradisi keilmuan Barat.

Di dalam Islam, ada tradisi penyatuan antara ilmu dengan amal. Ada konsep 
fasiq, dimana seorang yang
meskipun berilmu tinggi tetapi berbuat jahat, dapat terkena ketegori fasiq, dan 
karena itu, periwayatan
dan beritanya perlu diklarifikasi. Jika dia fasiq,maka sebagian ulama 
melarangnya menjadi saksi di dalam
pernikahan atau pengadilan.

Di dalam ilmu hadis, ada ilmu Jarah wa Tadil, yang secara terbuka membeberkan 
sifat-sifat buruk perawi
hadits, seperti pembohong, dan sebagainya. Karena itu,di dalam tradisi  
keilmuan Islam, kita akan menjumpai
ilmuwan-ilmuwan yang sangat tinggi ilmunya, sekaligus juga sangat shalih dalam 
beragama. Itu bisa kita
jumpai pada Imam-imam mazhab, Imam Bukhari, Imam al-Ghazali, Ibnu Taymiyah, dan 
sebagainya. Mereka
bukan hanya ilmuwan, tetapi juga mujahid dan ahli ibadah.

Tradisi seperti itu tidak terjadi dalam sistem keilmuan di Barat yang sekular. 
Di dalam tradisi ilmu
yang berakar pada tradisi keilmuan Yunani, ada pemisahan antara orang pintar 
dan orang saleh.

Banyak ilmuwan pintar dan dihormati oleh masyarakatnya, meskipun amalnya bejat. 
Seorang ilmuwan
di Barat, tetap dianggap sebagai ilmuwan yang dihormati, meskipun tidak jelas 
agamanya dan
amalan-amalan agamanya.

Paul Johnson, dalam bukunya Intellectuals (1988),  memaparkan kehidupan dan 
moralitas sejumlah ilmuwan
besar yang menjadi rujukan keilmuan di Barat dan dunia internasional saat ini, 
seperti Ruosseau, Henrik
Ibsen, Leo Tolstoy, Ernest Hemingway, Karl Marx,Bertrand Russel, Jean-Paul 
Sartre, dan beberapa
lainnya. Ruosseau, misalnya, dicatatnya sebagai manusia gila yang menarik (an 
interesting madman).

Pada tahun 1728, saat berumur 15 tahun, dia bertukar agama menjadi Katolik, 
agar dapat menjadi peliharaan
Madame Francoise-Louise de Warens.  Ernest Hemingway, seorang ilmuwan jenius, 
tidak memiliki agama yang
jelas. Kedua orang tuanya adalah pengikut Kristen yang taat. Istri pertamanya, 
Hadley, menyatakan, ia hanya
melihat Hemingway sembahyang selama dua kali, yaitu saat perkawinan dan 
pembaptisan anaknya.

Untuk menyenangkan istri keduanya, Pauline, dia berganti agama menjadi Katolik 
Roma. Kata Johnson, dia
bukan saja tidak percaya kepada Tuhan, tetapi menganggap organized religion 
sebagai ancaman
terhadap kebahagiaan manusia. (He not only did not believe in God, but regarded 
organized religion as a
menace to human happiness).

Sebagai ilmuwan, seyogyanya Rektor UIN Yogya itu memberikan klarifikasi dan 
penjelasan yang bertanggung
jawab terhadap tulisannya, bahwa Dari studi empiris-historis terhadap fenomena 
keagamaan diperoleh
masukan bahwa agama sesungguhnya juga sarat dengan berbagai kepentingan yang 
menempel dalam ajaran dan
batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri.  

Jika dia katakan, agama ?termasuk Islam adalah sarat dengan berbagai 
kepentingan yang menempel pada ajaran
dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan, maka dia harus menjelaskan, apa 
kepentingan Sayyidina Utsman
menghimpun Mushaf Al-Qur'an, apa kepentingan Imam Bukhari mengumpulkan dan 
menyeleksi hadits-hadits
Nabi, apa kepentingan Imam Syafii menulis Kitab Risalah? Apakah kita harus 
mencurigai tindakan
keilmuan sahabat-sahabat Rasululullah dan ulama-ulama Islam yang begitu besar 
jasanya terhadap pengembangan
keilmuan Islam, sehingga kita harus menyatakan, bahwa mereka semua pasti punya 
kepentingan.

Apakah kita tidak bisa berprasangka baik terhadap mereka, dan mengakui 
keikhlasan dan jasa mereka yang
luas biasa dalam menyusun ilmu-ilmu agama (ulumuddin)?

Metode studi Islam yang maaf, sok bersikap kritis ini bisa pada akhirnya 
berdampak kepada
keragu-keraguan pada para pelajar dan mahasiswa.

Mereka yang belajar Islam dengan cara-cara seperti ini, bukan tidak mungkin 
akan terjebak pada keraguan
dan ketidakyakinan terhadap ajaran agamanya sendiri.

Akhirnya, dari metode ini bisa lahir sarjana-sarjana yang justru rajin 
menghujat agamanya, ragu dengan
kebenaran agamanya, dan bahkan memusuhi agamanya.Orang yang belajar ushuluddin 
(dasar-dasar agama),
bukannya semakin yakin dengan agamanya, tetapi bisa jadi malah ucul-dinnya 
(agamanya lepas).

Tidak sedikit para sarjana syariah lulusan perguruan tinggi Islam, yang 
akhirnya justru gigih menentang dan
aktif menulis artikel yang menghancurkan dan menghina syariat Islam.

Kita sungguh tidak habis mengerti, misalnya, bagaimana dari sebuah kampus 
berlabel Islam, seperti UIN Yogya,
bisa muncul tesis master yang justru menghujat Al-Qur'an, dan menyatakan, bahwa 
Mushaf itu tidak
sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel.Yang sakral dan absolut 
hanyalah pesan Tuhan yang
terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian.

Karena itu, kini kita diperkenankan bermain-main dengan Mushaf tersebut, tanpa 
ada beban sedikitpun,
beban sakralitas yang melingkupi perasaan dan pikiran kita. (Lihat buku: 
Menggugat Otentisitas Wahyu
Tuhan (2004), hal. 123)

Penulis tesis itu dan juga para dosen serta rektor kampus itu seolah-olah 
tenang-tenang saja dengan
fenomena semacam itu, dan tidak takut dengan akibat yang ditimbulkan jika ada 
orang yang terpengaruh
dengan ide sesat itu.

Apakah mereka tidak takut dengan dosa jika ada yang kemudian  meragukan 
kebenaran Al-Qur'an, karena
membaca tesis yang sudah dibukukan itu? Jika orang sudah meragukan kebenaran 
Al-Qur'an, lalu bagaimana
dia bisa beriman dan meyakini rukun iman yang disebutkan dalam Al-Qur'an, 
seperti Malaikat, Hari
Kiamat, dan sebagainya?

Penanaman keragu-raguan terhadap Islam bagi mahasiswa Muslim tampaknya kini 
banyak dilakukan oleh para
dosen-dosennya sendiri. Dan itu bukan hal yang aneh,jika kita menyimak tulisan 
lain dari Amin Abdullah,
Sang Rektor. Dalam pengantarnya untuk sebuah buku berjudul Hermeneutika 
Al-Quran (2005), Amin secara
gamblang menulis, bahwa:

Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapa 
pun orangnya,
kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah terbatas, 
parsial-kontekstual
pemahamannya, serta bisa saja keliru.

Cara berpikir Amin seperti itu sama saja dengan membongkar sistem keilmuan 
dalam Islam. Sebab, tidak
ada lagi pemikiran yang bersifat pasti dan qathiy.

Tidak ada tafsir yang tetap dan pasti kebenarannya.Semua terbatas dan bisa saja 
keliru. Juga, tidak ada
lagi konsep tawatur, berita yang dipastikan kebenarannya. Kita bisa 
mempertanyakan kepada Rektor
UIN Yogya itu, bagaimana dengan konsep keadilan para sahabat dan ijma sahabat? 
Pengumpulan Mushaf Utsmani
adalah berdasarkan ijma sahabat.

Dengan cara berpikir Amin Abdullah, maka bisa saja pengumpulan Al-Qur'an itu 
keliru. Sebab, para sahabat
Rasulullah itu adalah manusia dan kumpulan manusia.Dan selama mereka pada level 
manusia, maka mereka
bisa saja keliru.

Jadi, ijma para sahabat Rasululullah saw itu menurut cara berpikir Rektor UIN 
Yogya  bisa sajakeliru.

Cara berpikir semacam itu bisa kita katakan sebagai bentuk Islam ragu-ragu. 
Islam yang serba tidak
pasti. Tidak ada kebenaran yang pasti. Itulah tugas hermeneutika. Malah, lanjut 
Sang Rektor lagi, tugas
hermeneutika itu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk 
Selalu Benar.

Tidak mengherankan, katanya, jika kemudian kehadiran hermeneutika sebagai salah 
satu disiplin kajian yang
mencermati proses epistemologis-ontologis pemahaman manusia banyak mendapat 
tantanan. Dan tentangan paling
keras terhadap hermeneutika muncul dari ranah agama-agama yang harus diakui 
merupakan ladang paling
subur bagi lahirnya Klaim Kebenaran.  

Itulah kata-kata Sang Rektor UIN Yogya, yang sangat membanggakan hermeneutika 
sebagai metodologi pemahaman
Al-Qur'an, yang menurutnya mampu membongkar hal-hal yang selama ini dianggap 
sebagai satu bentuk kepastian.

Dengan cara berpikir Rektor seperti itu, maka kita tidak heran, jika dari 
kampus berlabel Islam itu lahir
sarjana-sarjana versi Islam ragu-ragu, alias golbin (golongan bingung) yang 
tidak pernah meyakini kebenaran Islam.

Tentu kita patut kasihani manusia-manusia seperti ini.Meskipun, kita tidak 
perlu risau dengan ulah mereka.  

Biarlah yang bingung bangga dengan kebingungannya sendiri. Kita ingatkan 
mereka, mudah-mudahan mereka
sadar. Kita yang sudah menemukan kebenaran, kewajiban kita adalah meyakini 
kebenaran itu, dan berusaha
menegakkannya. Dan Allah SWT sudah mengingatkan kita:

?Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau menjadi golongan orang-orang 
yang ragu. (QS Al
Baqarah:147). Wallahu a?lam. (Jakarta, 28 Oktober 2005/hidayatullah.com).

Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini hasil
kerjasama Radio Dakta 107 FM 
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
<http://mail.yahoo.com> 

Kunjungilah www.swaramuslim.net untuk mengetahui berita-berita serta 
artikel-artikel terbaru tentang Islam



--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke