|
Artikelnya realistis sekali.
Saya kerap mengatakan "ayam" dengan keyakinan bahwa
itu memang bebek tapi sambil menunggu waktu bahwa nanti isteri juga tahu bahwa
itu adalah bebek. Nah, "menunggu waktu" inilah yang harus "diisi" oleh
LINGKUNGAN, ya keluarga, ya tetangga, dan juga kawan dalam bentuk "wa tawa
shoubil haq, wa tawa shoubi shshobri" (saling menasehai dalam kebenaran dan
kesabaran).
Oleh karena itu, marilah pem-"bebek"-an atas "ayam"
itu dilakukan dengan sangat bijaksana dan tidak memasukkan virus flu
burung.
Wass / Jaerony.-
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, March 08, 2006 3:13
PM
Subject: [Ar-Royyan-3742] Ayam dan Bebek
( about marriage )
FYI
Ayam
dan Bebek
Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan
di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan
malam.
Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala
mereka mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"
"Dengar," kata si
istri, "Itu pasti suara ayam." "Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si
suami. "Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras. "Mustahil.
Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! kuek!' Itu bebek,
Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala
awal kejengkelan.
"Kuek! Kuek!" terdengar lagi. "Nah, tuh! Itu
suara bebek," kata si suami. "Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul,"
tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.
"Dengar ya! Itu a...
da... lah... be... bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata
dengan gusar. "Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras. "Itu
jelas-jelas bue... bek, kamu... kamu...."
Terdengar lagi suara, "Kuek!
Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak
dikatakannya. Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam...." Si
suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan
akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya.
Wajahnya melembut dan katanya
dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara
ayam kok." "Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan
suaminya. "Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka
berjalan bersama dalam cinta.
Maksud dari cerita bahwa si suami
akhirnya sadar adalah: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang
lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat
menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.
Berapa banyak
pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak
perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"? Ketika kita memahami
cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas
kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar
tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa
yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan
ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang
direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!
Sumber: Unknown
(Tidak Diketahui)
Aiiiiiihhhh...........indahnya dunia kalau semua suami di dunia
spt itu...mau memahami
istri.............
|