Title: Samsung Enterprise Portal mySingle

 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, March 09, 2006 7:08 AM
Subject: [ Annahl ] Bahkan, Malam Pertama Belum Pun Usai

Kamis, 09 Maret 2006 / Thn V

Seri : Kisah dan Hikmah
Penulis: Abu Aufa (http://abuaufa.multiply.com/)

Bahkan, Malam Pertama Belum Pun Usai

Langit begitu memesona. Kerlip gemintang bagaikan
menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Suguhan
orkestra dari penghuni malam laksana simfoni indah.
Seketika romansa pun tercipta. Hingga, sepasang
manusia itu semakin dimabuk kepayang.

Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu
segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga
bahtera tak akan karam walau kelak badai garang
menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua.
Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai
dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi
segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah.
Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.

Namun...
Sayup terdengar seruan. Semakin lama kian lantang,
"Haiya 'alal jihad... haiya 'alal jihad...!!!"

Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam
pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena
ghirah. Ia bergegas bangkit dari pangkuan belahan
hatinya. Cepat pula tangan meraih sebilah pedang dan
perisai.

Kekasih sesaat tercekat. Melagukah hati karenanya?
Tidak! Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan
tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan
do'a-lah yang mengantar kepergiannya ke
medan jihad.
Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin
RasuluLlah.

Perang berkobar. Takbir bersahut-sahutan. Lantang
membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak
ke segenap penjuru langit. Setindak kemudian ia ikut
melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedang
berkelebatan. Suaranya melenting-lenting. Kilap
mengintai. Deras menebas.

Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar,
ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang
kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di
badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin
berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang.
Nyawa gembong kaum musyrikin itu ada di ujung pedang.
Tapi ia lengah. Dari belakang musuh yang lain menusuk.
Memerih. Ia tercenguk. Terjengkang.

Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap
perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia
syahid di
medan Uhud.

Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah,
jasadnya terbujur. Padahal sedari tadi hujan tak
mengguyur, setetes-pun.
Para sahabat yang menyaksikan
tak urung heran. Mereka menemui istrinya yang kemudian
menjawab,

"Ketika mendengar panggilan untuk berperang, suamiku
langsung menyambut. Padahal ia dalam keadaan junub."

RasuluLlah lalu bersabda,

"Ia telah dimandikan oleh malaikat."

Benar. Bagi sang syuhada, menyongsong seruan tersebut
adalah perwujudan cinta sucinya. Walaupun malam
pertama belumlah usai diarungi bersama kekasih yang
juga dicintainya.

Majulah sahabat mulia / Berpisah bukan akhir segalanya
Lepas jiwa terbang mengangkasa / Cita kita tetap satu
jua
(Izzatul Islam: Untukmu Syuhada)

ALlahu a'lam bish-shawaab.

Catatan:
Ide tulisan ini adalah sebuah kisah tentang Handzalah
bin Abu Amir, yang dijuluki Ghasilul Malaikat.

 

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
----------[DKM-ANNAHL; PT.SEIN]-------------
E-mail : [EMAIL PROTECTED]
          : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------------------
Situs  : http://annahl-sein.blogspot.com/
milist : [EMAIL PROTECTED]
Kirimkan artikel ini ke saudara2 anda,
ajak mereka untuk gabung dengan milis kami.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke