|
assl.wr.wb.
Tausyiyah dari AA GYM berikut ini mengingatkan saya
akan tayangan sinetron di TV7 tadi malam yang bertajuk "RIDHO" yang berjudul Pak
Umar Naik Kelas, dimana diceritakan seorang guru bernama Pak Umar yang telah
ditinggal oleh istri ( meninggal ) dan anaknya, tetapi tetap punya semangat
hidup ( berdagang dan mengajar anak-anak yatim ) dan ada satu lagi Pak Hanafi
yang sebelumnya diceritakan baru memasuki usia pensiun namun merasa dikucilkan
oleh anak dan menantunya. Ketika keduanya bertemu, banyak kisah yang mengharukan
dan mengandung nilai semangat dari kedua karakter tersebut ( dimainkan oleh
Amoroso Katamsi dan Didi Petet masing-masing sebagai Pak Hanafi dan Pak Umar ).
Akhir cerita, Pak Umar mendapat anugerah sebuah rumah untuk ditempati sekaligus
sebagai tempat mengajar anak-anak tersebut, termasuk Pak Hanafi juga belajar dan
mengajar.
Adakah jamaah lain yang melihat sinetron tersebut
?
wassl.wr.wb
Agus Rasidi
--------------------------------------------------------------------------------
Zuhud
oleh KH Abdullah Gymnastiar
Ada empat tipe manusia berkaitan dengan harta dan
gaya hidupnya :
Pertama, orang berharta dan memperlihatkan hartanya. Orang seperti ini biasanya mewah gaya hidupnya, untung perilakunya ini masih sesuai dengan penghasilannya, sehingga secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Hanya saja, ia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia. Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah. Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan. Kedua, orang yang tidak
berharta banyak, tapi ingin kelihatan berharta. Gaya hidup mewahnya
sebenarnya diluar kemampuannya, hal ini karena ia ingin selalu tampil lebih
daripada kenyataan. Tidaklah aneh bila keadaan finansialnya lebih besar pasak
daripada tiang. Nampaknya, orang seperti ini benar-benar tahu seni menyiksa
diri. Hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan
menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang
sebenarnya.
Ketiga, orang tak berharta tapi
berhasil hidup bersahaja. Orang seperti ini tidak terlalu pening dalam
menjalani hidup karena tak tersiksa oleh keinginan, tak ruwet oleh pujian dan
penilaian orang lain, kebutuhan hidupnya pun sederhana saja. Dia akan hina kalau
menjadi beban dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun tetap
juga berpeluang menjadi mulia jikalau sangat menjaga kehormatan dirinya dengan
tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, tegar, dan
memiliki harga diri.
Keempat, orang yang berharta
tapi hidup bersahaja. Inilah orang yang mulia dan memiliki keutamaan. Dia
mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk
hidup seperlunya. Dampaknya, hidupnya tidak berbiaya tinggi, tidak menjadi bahan
iri dengki orang lain, dan tertutup peluang menjadi sombong, serta takabur plus
riya. Dan yang lebih menawan akan menjadi contoh kebaikan yang tidak
habis-habisnya untuk menjadi bahan pembicaraan. Memang aneh tapi nyata jika
orang yang berkecukupan harta tapi mampu hidup bersahaja (tentu tanpa kikir).
Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya yang lebih kaya
dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya,
subhanallaah.
Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan
berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda dan
kekayaan lainnya, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di tangan Allah
daripada apa yang ada di tangan makhluk. Bagi orang yang zuhud terhadap dunia,
sebanyak apapun harta yang dimiliki, sama sekali tidak akan membuat hatinya
merasa tenteram, karena ketenteraman yang hakiki adalah ketika kita yakin dengan
janji dan jaminan Allah.
Andaikata kita merasa lebih tenteram dengan
sejumlah tabungan di bank, saham di sejumlah perusahaan ternama, real estate
investasi di sejumlah kompleks perumahan mewah, atau sejumlah perusahaan multi
nasional yang dimiliki, maka ini berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun
uang tabungan kita, seberapa banyak saham pun yang dimiliki, sebanyak apapun
asset yang dikuasai, seharusnya kita tidak lebih merasa tenteram dengan jaminan
mereka atau siapapun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali
ijin Allah. Dia-lah Maha Pemilik apapun yang ada di dunia ini.
Begitulah. Orang yang zuhud terhadap dunia melihat
apapun yang dimilikinya tidak mejadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah
karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala
kebutuhan kita, dan bahkan, lebih tahu dari kita sendiri.
Ada dan tiadanya dunia di sisi kita hendaknya
jangan sampai menggoyahkan batin. Karenanya, mulailah melihat dunia ini dengan
sangat biasa-biasa saja. Adanya tidak membuat bangga, tiadanya tidak membuat
sengsara. Seperti halnya seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yang
menarik untuk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa
mereka tidak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis
mobil yang ada di pelataran parkirnya? Bahkan, walaupun berganti-ganti setiap
saat dengan yang lebih bagus ataupun dengan yang lebih sederhana sekalipun,
tidak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa
saja.
Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang
parkir yang petantang petenteng memamerkan mobil-mobil yang ada di lahan
parkirnya. Lain waktu, ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan
parkirnya, bahkan sampai kosong ludes sama sekali, tidak menjadikan ia stress.
Kenapa sampai demikian? Tiada lain, karena tukang parkir ini tidak merasa
memiliki, melainkan merasa dititipi. Ini rumusnya.
Seharusnya begitulah sikap kita akan dunia ini.
Punya harta melimpah, deposito jutaan rupiah, mobil keluaran terbaru paling
mewah, tidak menjadi sombong sikap kita karenanya. Begitu juga sebaliknya,
ketika harta diambil, jabatan dicopot, mobil dicuri, tidak menjadi stress dan
putus asa. Semuanya biasa-biasa saja. Bukankah semuanya hanya titipan saja?
Suka-suka yang menitipkan, mau diambil sampai habis tandas sekalipun, silahkan
saja, persoalannya kita hanya dititipi.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Melakukan
zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan
pula dengan memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak
menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada
Allah. Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang sedang
menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu." (HR.
Ahmad).***
|

