assl.wr.wb.
Masih menyambung dengan 2 postingan sebelumnya, berikut ini cikal bakal Kampung Bulak Santri dimana ustadz Yusuf Mansur dan program Wisata Hatinya berada.
Semoga bermanfaat dan tidak bosan dengan postingan dari saya ( apalagi panjang ). Sarannya jika belum sempat baca disimpan saja dulu.
wassalam / agus rasidi.
 
-----------------------------------------------------------------
Metamorfosis Bulak Santri
Laporan: Darso Arief B
 

Awalnya, Kampung Bulak itu tak dikenal orang. Namun, setelah ada "gerakan sosial" dari beberapa anak muda, kampung ini mulai ramai dikunjungi dan makin identik dengan wisata spiritual.

Kampung Bulak. Demikian nama Demukiman ini dikenal selama ni. 'BulakĀ’ sendiri adalah sebutan untuk sebuah pemukiman kecil yang terpisah dengan perkampungan lainnya, di tengah sawah misalnya. Demikian halnya dengan Kampung Bulak yang berada di Kelurahan Pondok Pucung, Karang Tengah, Kota Tangerang, Banten. Meski tidak lagi dikelilingi oleh persawahan, Kampung Bulak ini sekarang diapit oleh beberapa kompleks perumahan dan jalan tol Jakarta-Merak.

Dihuni oleh penduduk asli Betawi, Kampung Bulak terlihat masih asri. Di sini, udara segar masih bisa dinikmati karena pepohonan masih rimbun seantero kampung ini. Kesegaran makin bertambah karena hampir semua penghuni kampung ini memanfaatkan halaman rumahnya untuk berdagang bunga dan tanaman hias. Ke-indahan kampung ini masih dihiasi dengan sebuah situ di sebelah baratnya. Masyarakat Kampug Bulak sering mengisi waktu luangya dengan memancing di situ ini.

Agama menjadi perekat yang kuat bagi masyarakat Kampung Bulak. Ini bisadilihat dari keberadaan sebuah masjid tua yang berdiri di tengah kampung. Masjid ini dibangun pada bagian kampung paling tinggi, seolah menj'adi "pengontrol" aktifitas masyarakat kampung. Karena termakan usia dan tak lagi bisa menampung aktifitas masyarakat, sebuah masjid yang lebih besar dibangun tak jauh dari lokasi masjid tua ini. Masjid Nurul Amin, demikian nama masjid baru itu bisa menampung seribu jamaah. Sedangkan masjid lama tetap dipelihara dengan baik.

Peranan Ustazd Muda

Seiring dengan perkembangan zaman, degradasi moral, terutama pada kalangan orang muda, juga melanda masyarakat Kampung Bulak. Apalagi, letak kampung ini yang cuma selemparan batu dari Jakarta. Hal ini tentu meresahkan masyarakat setempat, terutama kalangan orang tua. Seiring dengan itu, timbull ide untuk "menyelamatkan" akhlak generasi muda. Sayangnya, di Kampung Bulak sendiri belum ada satu pun lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai penjaga gawang akhlak.

Sebuah rencana akhirnya di-susun, yakni mendirikan sebuah lembaga pendidikan berciri khas agama, semisal madrasah atau pesantren. Untuk menaungi proses pendirian dan operasional lembaga pendidikan itu, masyarakat mem-bentuk Yayasan Nurul Amin, sama seperti nama masjidnya.

Kebetulan Kampung Bulak sendiri sudah memiliki beberapa pemuda jebolan pesantren ternama di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dan sudah sarjana. Kepada merekalah harapan itu dibebankan. Yang menonjol di antara pemuda Kampung Bulak adalah Rohimuddin, alumni Pesantren Attaqwa, Bekasi dan sarjana dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Syahid) Jakarta.

Masyarakat Kampung Bulak kemudian mengamanahkan Rohimuddin bersama beberapa rekannya untuk mendirikan madrasah diniyah dengan beberapa ruang belajar untuk murid usia SD. Sedangkan bagi pelajar setingkat SMP dan SMA dibuatkan Pesantren Terpadu Sabtu Ahad (Petuah). Kegiatan belajar pesantren ini dipusatkan dalam masjid dan berlangsung sejakzuhur pada hari Sabtu hingga ashar pada hari Ahad. Di malam hari, santri laki-laki tidur di masjid sedangkan santri perempuan menginap pada rumah kontrakan yang sengaja dibuat untuk mereka. Kurikulum yang diberikan belum banyak, baru sebatas baca tulis Al Quran, ilmu fikih, akhlak dan muhadharah (latihan berceramah).

Seiring dengan program di atas, masyarakat di sini juga sepakat mengganti nama kampungnya menjadi 'Kampung Bulak Santri'. "Perubahan nama ini diharapkan menjadi sebuah motivasi agar masyarakat di sini, terutama generasi mudanya, dapat memperbaiki kepribadiannya seperti santri," jelas Ustadz Rohimuddin yang juga sebagai ketua yayasan sekaligus kepala madrasah yang ada.

Belum setahun berjalan, tepatnya pada akhir tahun 2003, Ustadz Rohimuddin dan masyarakat Kampung Bulak Santri meminta Ustadz Yusuf Mansur, yang kebetulan tinggal tak jauh dari Kampung Bulak Santri, untuk membantu mengembangkan yayasan dan madrasah yang sudah ada. "Masyarakat di sini menilai, Ustadz Yusuf itu futuristik dan punya konsep-konsep untuk mengelola sebuah pesantren," kata Ustadz Rohim tentang alasan mereka memilih Ustadz Yusuf.

Ustadz Yusuf kemudian diminta menjadi pembina Yayasan Nurul Amin. Oleh Ustadz Yusuf juga, madrasah diniyah dan Petuah yang ada ditingkatkan eksistensinya menjadi sebuah pesantren sungguhan, sedangkan jenjang pendidikan yang dipilih adalah SMP Pesantren ini kemudian mengambil spesifi-kasi pada hafalan Al Quran, sesuai dengan kelebihan Ustadz Yusuf sendiri. Sehingga pesantren ini kemudian dinamai Pesantren Daarul Qur'an Tahfidzul Qur'an.

Kini, setahun sudah pesantren itu berjalan. Belum besar memamg. Santrinya juga masih berbilang puluhan. Namun, gaung pesantren ini sudah menggema ke mana-mana. Pasalnya, Ustadz Yusuf menjadikan pesantren ini sebagai awal dari sebuah program nasional bernama 'Gerakan 1000 Pondok'. Gerakan ini bertujuan untuk melahirkan penghafal-penghafal Al Quran yang menguasai teknologi informasi serta bahasa-bahasa internasional.

Kini, Kampung Bulak Santri makin dikenal orang. Itu karena sudah empat bulan terakhir ini kampung itu menjadi tujuan wisata, tepatnya wisata spiritual. Semua itu bermula dari, Wisatahati, sebuah brand dakwah yang melekat dengan Ustadz Yusuf dipusatkan pada Masjid Nurul Amin.

Setiap Sabtu dan Ahad, masyarakat dari berbagai kota membanjiri Kampung Bulak Santri guna mengikuti program-program Wisatahati. Mereka datang dengan mengenakan busana serba putih. Ratusan sepeda motor dan mobil se-panjang akhir pekan membanjiri kampong ini, sehingga terlihat penuh sesak. Kampung yang sebelumnya 'adem ayem' kini menggeliat. Kegiatan ekonomi pun makin hidup. Usaha bunga dan tanaman hias makin laris, beberapa rumah makan baru mulai muncul.

Masjid lama yang hampir kehilangan fungsi, oleh Ustadz Yusuf, Ustadz Rohim dan para ustadz lainnya, kembali direnovasi dan dijadikan pusat studi Wisatahati. Dari dalam masjid ini, jamaah masih bisa menikmati kesejukan udara. Itu karena letaknya yang agaktinggi dan dikelilingi oleh kolam-kolam ikan dan hamparan sawah; satu keadaan yang sangat langka di Jakarta dan sekitarnya.

www.amanah.or.id

Kirim email ke