Oleh Drs. Achyar
Zein, M.Ag
Keinginan sebagian masyarakat untuk
melaksanakan ibadah haji kadang-kadang terkesan berlebihan tanpa pernah
mengukur kemampuan yang ada. Sejuta harapan dan angan-angan selalu
dipasang dan bahkan ada yang tidak segan-segan meminta kepada orang kaya
untuk diberangkatkan naik haji.
Cerita-cerita yang bernuansa statis dari
orang-orang yang sudah melaksanakan ibadah haji semakin menambah kredit
point panjangnya angan-angan masyarakat karena yang ditekankan adalah
nuansa kekuasaan Tuhan bukan upaya yang maksimal. Kekhawatiran kita dalam
angan-angan ini adalah terjadinya pembelokan niat yang seharusnya menuju
Tuhan menjadi menuju haji.
Sinetron "Maha Kasih" yang diputar di stasiun
RCTI menggambarkan prilaku sebagian masyarakat yang terkesan 'mabuk' untuk
melaksanakan ibadah haji sehingga menjadi bahan tertawaan orang lain.
Ironisnya hasrat yang menggebu ini tidak pula diiringi dengan usaha yang
cukup signifikan sehingga nuansa khayalan lebih tinggi dari kenyataan.
Sekilas Tentang Sinetron 'Maha
Kasih'
Persyaratan istitha'ah yang dikemukakan oleh Al-Qur'an
menunjukkan bahwa kewajiban haji jangan disahuti dengan takalluf
(memaksakan diri) karena cara seperti ini termasuk menurutkan hawa nafsu.
Niat yang tidak pernah putus untuk melaksanakan ibadah haji memang penting
dan bahkan usaha yang serius untuk dapat melaksanakannya juga termasuk
penting akan tetapi yang lebih penting lagi adalah mempertahankan esensi
nilai ibadah haji dalam kehidupan.
Perintah Al-Qur'an untuk menyempurnakan
ibadah haji memberikan kesan bahwa ibadah ini harus dihayati secara
lengkap mulai dari kebersihan dana yang dibawa, niat yang ikhlas,
melaksanakan ritual dengan baik sampai kepada penghayatan dan penerapan
dalam kehidupan selanjutnya. Dengan demikian kasak-kusuk untuk berangkat
haji belum merupakan penilaian baiknya haji seseorang akan tetapi
kasak-kusuk pasca pelaksanaan ibadah ini tentu itulah yang diharapkan.
Inilah makna yang paling mendasar dari haji
mabrur yaitu adanya perubahan sikap kepada yang lebih baik bila dibanding
dengan sebelum haji. Ironisnya prilaku sebagian masyarakat tidak
menggambarkan seperti ini dimana kesibukan selalu muncul sebelum berangkat
haji dan bahkan ada yang nekad bunuh diri gara-gara keberangkatannya
ditunda. Hasrat yang menggebu-gebu ini telah diaudiovisualkan dalam sebuah
sinteron berjudul "Maha Kasih' yang disiarkan stasiun RCTI.
Sinetron ini mengisahkan hasrat seorang ibu
(Nani Wijaya) yang terlalu menggebu-gebu untuk melaksanakan ibadah haji
sementara kemampuan dananya untuk melakukan ibadah ini sangat terbatas.
Hasrat seorang ibu ini membuat anaknya Sulam (Mat Solar) yang hanya
penjual bubur ayam terbebani sehingga sang ibu hampir tidak dapat lagi
diajak untuk berdiskusi karena prilakunya sudah agak aneh sehingga sewaktu
mengiris bawang saja selalu mengucapkan labbaik dan bahkan selalu bermimpi
tentang haji di waktu tidur.
Prilaku sang ibu ini membuat bahan ledekan
jiran tetangga yang otomatis menyeret anak dan menantunya (Hana Hasyim)
sebagai keluarga 'saraf' termasuk pak Haji yang berkedai sampah membuat
statement bahwa kehajiannya hanya dapat dilakukan karena faktor
keturunannya yang memang sudah lama berhaji. Hasrat sang ibu kemudian
tercapai karena anaknya Sulam (Mat Solar) mendapat undian berhadiah dari
sebuah Bank dengan memenangkan sebuah mobil mewah yang harganya dapat
menaikkan warga satu RT naik haji meskipun Sulam sempat pingsan yang
hampir saja diikuti oleh ibunya.
Sinteron ini pada awalnya memiliki nilai
dakwah yang sangat signifikan karena menggambarkan prilaku orang-orang
yang terlalu menggebu-gebu ingin naik haji dan meninggalkan kewajiban
sosialnya. Alur cerita sinetron ini pada awalnya menggambarkan bahwa
prilaku yang seperti itu sangat tidak baik karena Sulam hanya mementingkan
naik haji sementara musholla dan anak yatim yang di kampungnya tidak
dibantu. Selanjutnya Sulam menghajikan orang yang menulis huruf 'H' di
gerobaknya (Salim Bungsu) karena berkeyakinan bahwa ini adalah doa padahal
jika uang ONH tersebut diberikan kepada Salim Bungsu.
Para donatur haji juga seharusnya berpikir
dengan membawa konsep mashlahat (kebaikan). Maksudnya, daripada
menghajikan ustadz-ustadz dan ulama-ulama maka lebih baik menghajikan para
preman dan pejabat yang memiliki wewenang. Alasannya adalah bahwa para
ustadz dan para ulama sudah memiliki moral yang baik sekalipun belum haji
sementara para preman dan pejabat tentu saja diharapkan agar mereka
bermoral setelah mengerjakan haji sehingga preman tidak lagi mengkompas
dan pejabat tidak lagi korupsi karena malu sudah bertitel haji dan kondisi
sosial masyarakat akan berangsur aman.
Wacana ini hanya dapat terwujud bilamana para
ustadz dan ulama berlapang dada memberikan jatah hajinya kepada para
preman dan pejabat. Sebaliknya bila para ustadz dan ulama tetap saja
ngotot melakukan haji sementara preman dan pejabat terabaikan maka kondisi
kerawanan sosial masyarakat akan tetap seperti ini padahal mendorong para
preman dan pejabat untuk naik haji adalah termasuk dakwah yang paling
efektif.
Sinetron ini sangat menarik untuk disimak
selain alur ceritanya jelas dan para pemainnya memang sudah kawakan.
Ironisnya judul sinetron ini "Maha Kasih" yang tentu saja dimaksud adalah
kasih sayang Tuhan diterjemahkan dalam format yang statis yaitu menang
melalui undian bukan karena usaha yang keras. Sebaiknya sinetron ini
menunjukkan bagaimana jenius dan gesitnya Sulam mengelola usaha bubur
ayamnya sehingga memiliki omset yang sangat besar seperti Wong Solo.
Interpretasi semacam ini dikhawatirkan akan membuat masyarakat hanya
berharap tanpa pernah berusaha secara maksimal.
Tujuan yang statis dari judul sinteron "Maha
Kasih" ini semakin jelas lagi ketika Ustadz Yusuf Mansur memberikan
ulasan-ulasan bahwa kasih sayang Tuhan dapat terwujud dalam bentuk menang
undian dengan mengutip penggalan Q.S. Yasin kun fayakun. Padahal
pengertian dari kun fayakun ini masih mengalami proses sebagai sunnatullah
yang sudah ditentukan oleh Allah seperti penciptaan langit dan bumi selama
enam masa dan sebagainya. Sekalipun makna kata kun fayakun ini diartikan
seperti itu namun Tuhan tetap saja menciptakan sesuatu melalui proses
tidak seperti Sulam yang mendapatkan sesuatu tanpa proses.
Penutup
Sinetron di atas
pada prinsipnya menggambarkan keyakinan sebagian masyarakat yang
menganggap bahwa nilai keislamannya kurang karena belum melaksanakan
ibadah haji sehingga terkesan memaksakan diri dan menggebu-gebu.
Menggebu-gebu dan bahkan terkesan hampir 'gila' tidak dianjurkan dalam
niat pelaksanaan ibadah haji akan tetapi terkesan 'gila' dalam
mempertahankan nilai-nilai ibadah haji yang sudah dilakukan merupakan
tuntutan yang sangat fundamental.
* Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU